Astronom Saling Klaim Jarak Redshifts 10 Galaksi Big Bang

Tinuku
(KeSimpulan) Bidikan medan Hubble memicu laporan yang bersaing. Para astronom telah melihat sekilas galaksi pada 500 juta tahun setelah peristiwa Big Bang, lebih dari 13 miliar tahun yang lalu. Pada bulan Agustus lalu, teleskop ruang angkasa NASA, Hubble, menangkap objek terjauh alam semesta pada panjang gelombang inframerah menggunakan set lensa baru yaitu Wide Field Camera 3 (WFC3) yang dipasang oleh astronot di bulan Mei sebelumnya. Inframerah dapat mempersingkat jarak waktu astronom untuk mendeteksi galaksi yang sangat jauh dengan lebih cepat, cahaya ditarik lagi atau merah sehingga cahaya semakin tampak. Objek yang lebih jauh, cahaya semakin dialihkan menjadi merah dan semakin tinggi 'redshift'.

Selama beberapa bulan, para peneliti mendapat data baru untuk memetakan sebidang langit sekitar 1/12 diameter Bulan penuh, dilihat selama 173.000 detik lebih dari empat hari, mencari galaksi purba yang mungkin memperdalam pemahaman tentang bagaimana alam semesta berevolusi. Saat ini pemegang rekor untuk jarak adalah ledakan sinar gamma yang ditemukan pada bulan April dengan redshifts 8.2.

Kini, Garth Illingworth, astrofisikawan dari University of California, Santa Cruz, dan rekan-rekannya menemukan bukti sementara tiga galaksi dengan redshifts sekitar 10. Mereka akan mempunyai waktu semesta yang ada saat itu hanya 3-4% dari usia sekarang dan akan berada di antara urutan objek-objek tertua yang pernah dilihat. Temuan ini diumumkan di arXiv, Cornell University Library. "Meskipun tidak benar-benar terduga, menemukan galaksi di masa-masa awal seperti ini sangat menarik. Tidak ada senjata, tapi kami yakin bahwa ini adalah apa yang benar-benar kita lihat," kata Illingworth yang juga turut membantu untuk menciptakan data Hubble.

Laporan tim galaksi dengan redshifts 10 adalah bukan yang pertama. Sebagai contoh, Rogier Windhorst dari Arizona State University di Tempe dan rekan-rekannya telah melaporkan menemukan 20 galaksi dekat dengan redshifts 10 dalam kumpulan data yang sama, meskipun ke 20 tersebut tidak tercakup pada Illingworth. Windhorst dan rekan-rekannya mempublikasikan temuannya juga di arXiv pada bulan Oktober.

Berbagai tim yang tidak setuju atas ketepatan cara untuk menentukan galaksi jauh ini dan merupakan deteksi definitif. Illingworth berpendapat bahwa standar yang digunakan Windhorst tidak cukup ketat dan bahwa beberapa galaksi temuan tim lain yang terdeteksi pada posisi dekat dan besar, cahaya galaksi dapat mencemari temuan. "Itu bisa membingungkan dan menyebabkan mereka mendapatkan banyak benda yang bukan high-redshift galaxies secara nyata," kata Illingworth. Illingworth juga mencatat bahwa 20 galaksi dari redshifts 10 di ruang wilayah yang begitu kecil menunjukkan tingkat yang lebih tinggi daripada formasi bintang yang telah diprediksi untuk waktu itu. "Tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan secara teoritis dan secara logis," kata Illingworth.

Windhorst mengakui bahwa timnya "mungkin telah melampaui", tetapi kelompok Illingworth "terlalu konservatif". Windhorst mencatat bahwa dua dari galaksi yang dideteksi oleh tim Illingworth tidak memenuhi kriteria timnya sebagai redshifts tinggi dan yang ketiga tidak terdeteksi setelah data diproses. "Menjadi konservatif yang baik, tapi saya pikir mereka tidak mengurangi data sebaik yang mereka bisa," kata Windhorst.

Tapi tim Illingworth "tampaknya telah melakukan pekerjaan yang lebih hati-hati daripada Windhorst", kata Richard Ellis, astronom dari California Institute of Technology di Pasadena, yang pada tahun 2007 melaporkan calon galaksi dengan redshifts antara 8 dan 10 menggunakan teleskop Keck di Hawaii. Dia menambahkan bahwa tim Illingworth "bersusah payah untuk membenarkan temuannya", meskipun berhati-hati karena kamera mendeteksi benda-benda redshifts tinggi hanya dalam satu filter dan karena banyak klaim seperti itu, termasuk telah ditinjau oleh kelompok lain dengan analisis campuran. "Sejarah klaim untuk menemukan redshifts galaksi 10 adalah finish satu, tapi itu menyenangkan. Pada akhirnya, kita akan masih harus memverifikasi klaim ini," kata Ellis.

Kurangnya banyak cahaya galaksi redshifts 10 menawarkan petunjuk untuk memecahkan persoalan besar astronom tentang the Universe's "reionization epoch" yaitu periode antara 500 juta sampai 1 milyar tahun setelah Big Bang di mana benda-benda bercahaya seperti galaksi dan ionisasi quasar untuk intergalaksi menengah. Kurangnya galaksi terang pada awal jangka waktu ini menunjukkan bahwa mereka tidak memulai proses reionization. "Masih ada banyak pertanyaan. Ini sangat menggiurkan, tapi kita perlu memahami sifat-sifat galaksi tersebut," kata Illingworth.Referensi: 1. Bouwens, R. J. et al. arxiv.org. abs/0912.4263 (2009); 2. Yan, H. et al. arxiv.org. abs/0910.0077 (2009).
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment