Geografi Unik Jelaga dan Debu Bersekongkol Melawan Gletser Himalaya

Tinuku

"Begitu banyak elemen berbeda, baik di alam maupun produksi manusia, berkumpul di Himalaya. Tidak ada tempat lain di dunia yang dapat menghasilkan pompa panas atmosfer yang sangat kuat," kata William Lau, klimatolog dari NASA Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Md. William mengacu pada hipotesis baru yang dia ajukan untuk menjelaskan kecepatan penyusutan dari gletser Himalaya dalam beberapa dekade terakhir.

Himalaya, kawasan gunung tertinggi di planet Bumi, mencakup lebih dari 110 puncak dan terentang di kawasan 2.500 kilometer (1.550 mil). Sebelah utara dibatasi oleh Dataran tinggi Tibet, ke barat oleh padang pasir, dan di selatan oleh mangkuk baskom padat manusia, pegunungan dengan 10.000 gletser.

Sungai-sungai besar menumpahkan es dari sisi gunung dan mengikis melalui lembah-lembah. Pada musim semi, ketika musim hujan membawa udara basah dari Samudera Hindia, gletser mulai mencair, mengisi danau, sungai, dan beberapa negara Asia dengan limpahan sungai-sungai di mana lebih dari satu miliar orang bergantung.

Di selatan Himalaya dengan formasi di tepi timur-barat seperti Tibetan Plateau (pegunungan yang mengirim air untuk aliran sungai Indo-Gangga), salah satu yang paling subur dan daerah padat penduduk di Bumi. Dataran telah menjadi kota yang besar termasuk kota Delhi, Dhaka, Kanpur, dan Karachi, juga sebagai hotspot polusi udara dengan pasokan jelaga industri bercampur dengan abu dan partikel lainnya di udara.

Bagian selatan yaitu barat laut dari benua India, Gurun Thar yang gersang terhampar seluas 200.000 kilometer persegi (77.000 mil persegi), tanah yang berdebu. Selama musim semi, angin barat mengangkat debu dan pasir dari Thar dan dilontarkan ke arah Indo-Gangga. Debu bergabung dengan massa polutan industri menciptakan awan cokelat besar yang tampak dari ruang angkasa. Di bawah awan cokelat sebagian radiasi matahari diblokir untuk mencapai permukaan, menyebabkan dataran di bawah permukaan tanah hingga dingin.

"Anehnya, awan aerosol cokelat ini tampaknya memiliki konsekuensi iklim kuat yang mempengaruhi seluruh kawasan," kata Lau. Tebal lapisan jelaga dan debu menyerap radiasi matahari dan memanaskan udara di sekitar kaki bukit Himalaya. Udara hangat yang naik ke utara meningkatkan aliran angin monsoon lembab, memaksa kelembaban dan udara menjadi panas di lereng Himalaya.

Partikel aerosol menghangat, convecting air, menghasilkan lebih banyak hujan di utara India dan kaki gunung Himalaya yang makin menghangatkan atmosfir dan mendorong "pompa panas" menarik lebih banyak udara hangat ke wilayah tersebut. "Fenomena perubahan waktu dan intensitas musim hujan, secara efektif mentransfer panas dari lahan dataran rendah di atas benua ke atmosfer di atas dataran tinggi Tibet yang pada gilirannya menghangatkan permukaan daratan yang lebih tinggi dan mempercepat glasial mundur," kata Lau. Hipotesis pemodelan menunjukkan bahwa aerosol (terutama karbon hitam dan debu) kemungkinan menyebabkan Es menyusut di wilayah itu sebagai gas rumah kaca melalui efek "pompa panas" ini.

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment