Langsung ke konten utama

SK Nomor 327/Menhut II/2009 Tekenan Mantan Menhut MS Kaban adalah Pelanggaran Berat dan Harus Diusut oleh KPK

loading...
bisnis online

(KeSimpulan) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau dan Jaring Kerja Penyelamatan Hutan Riau (Jikalahari) melaporkan mantan Menteri Kehutanan MS Kaban terkait dugaan gratifikasi dan kolusi atas perizinan lahan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) di Riau.

Aktivis lingkungan dan hutan Riau menyebut izin yang diteken MS Kaban jelang lengser dari kursi Menhut, sarat penyimpangan. Walhi dan Jikalahari melalui suratnya yang bertepatan dengan peringatan Hari Antikorupsi, meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pengusutan.

Direktur Eksekutif Walhi Riau Hariansyah Usman menyebut, pihaknya meyakini izin yang ditandatangani MS Kaban yang sebagian besar diperuntukkan bagi HTI PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) di Semananjung Kampar Pelalawan Riau, melabrak sejumlah peraturan kehutanan.

Melalui SK Nomor 327/Menhut II/2009 Juni 2009, atau 3 bulan sebelum MS Kaban lengser sebagai Meteri Kehutanan RI, MS Kaban menambah izin dari 235.000 hektare yang sudah diteken sebelumnya, ditambah lagi 115.000 hektare, hingga toal menjadi 350.165 hektar.

“Izin pertama yang diteken saja sarat bermasalah dan masih pro-kontra, termasuk soal hukumnya, malah ditambah lagi luasannya. Benar benar keterlaluan. Kita minta KPK mengusut pihak-pihak pemberi izin. Mulai dari Kepala Dinas Kehutanan, Bupati, Gubenur hingga Menteri Kehutanan," kata Hariansyah Usman.

Walhi Riau menilai, izin dari MS Kaban itu, di samping telah melanggar ketentuan Keppres Nomor 32/2004 tentang Kawasan Lindung Gambut, juga sarat penyimpangan lainnya. Malah, perizinan yang dikeluarkan MS Kaban atas perluasan HTI Riau itu, ternyata sebagaian besar juga berada di atas lima kawasan lindung. Masing-masing yaitu Suaka Margasatwa Rimbang Baliung, Suaka Margasatwa Tasik Pulau Padang, Suaka Danau besar, Suaka Tasik Belat, dan Taman nasional Tesso Nilo. Izin menteri itu tumpang tindih. “Ini benar-benar pelanggaran yang sangat berat. Hutan konservasi juga diteken untuk HTI,” tegas Hariansyah.

Hebatnya lagi, ternyata izin perluasan Menhut Kaban Nomor 327/2009 itu ditandatanganii sebelum diukur. Izin diteken terlebih dahulu baru kemudian dilakukan pengukuran atas kawasan yang diberikan izinnya. Izin diteken dahulu, ukuran luas kemudian. Ini diterakan dalam surat keputusan itu, yang antara lain penggalannya bertuliskan, luasan areal pembukaan akan dilakukan pengukuran. Izin dahulu, ukur kemudian, itu hasilnya tentu saja amburadul. Setelah dilakukan pengukuran, ternyata terdapat selisih 7.000 hektare. Dari yang disebutkan penambahan 115.000 hektare, sebagaimana disebutkan dalam SK tekenan MS Kaban itu, ternyata luasan menjadi sekitar 122.000 hektare.

“Malah izin perluasan HTI Riau yang diteken MS Kaban jelang pengsiun itu, beralasan izin rekomendasi Gubernur Riau tertanggal 11 November 2004. Rekomendasi yang dikeluarkan Gubenur Riau Rusli Zainal itu, sesungguhnya sudah usang dan tidak relevan lagi,” tambah Hariansyah.

Betapa tidak usang. Kurun sejak dikeluarkannya Rekomendasi Gubenur Riau 2004 hingga keluarnya izin MS Kaban pada 2009, mestinya tidak berlaku lagi. Soalnya sepanjang kurun 2004–2009, itu telah terjadi sejumlah perubahan. Baik menyangkut perundangan, dinamika kehutanan, kondisi hutan hingga perubahan peruntukkan di dalam kawasan.

Koodinator Jikalahari, Susanto Kurniaan menyebut, izin yang diteken MS Kaban itu juga bertolak belakang dengan apa yang disebutkan MS Kaban sendiri. Kaban, selaku Menteri Kehutanan saat pencadangan Desa Konservasi pada 7 Mei 2008 di Jakarta, menyebut bahwa dia tidak akan mengeluarkan perizinan perubahan peruntukkan Hutan untuk HTI di Riau. ”Nyatanya, jelang lengser, MS Kaban ingkar atas ucapannya sendiri. Lalu apa namanya kalau sudah begini? Karena itu kita minta KPK turun tangan," kata Susanto. (www.tempointeraktif.com / Izin HTI Tekenan MS Kaban Jelang Lengser Diadukan ke KPK / Rabu, 09 Desember 2009)

bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Komentar