Virus Ebola VP35 Strategi Bimodal Mengikat dsRNA untuk Menekan Sistem Kekebalan

Tinuku

(KeSimpulan) Para ilmuwan dari The Scripps Research Institute telah menentukan struktur protein yang kritis dari virus Ebola yang meskipun jarang namun salah satu virus paling mematikan di planet Bumi, membunuh antara 50 hingga 90 persen orang yang terinfeksi.

Publikasi edisi terbaru jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), mengungkap bagaimana sebuah komponen kunci virus Ebola yang disebut VP35, memblok sistem kekebalan tubuh manusia yang memungkinkan replikasi virus menjadi tidak terkendali. Struktur merupakan langkah maju yang besar dalam memahami bagaimana virus mematikan bekerja dan mungkin berguna dalam pengembangan farmasi dan potensi perawatan bagi mereka yang terinfeksi.

"Setelah infeksi, virus dan sistem kekebalan tubuh berlomba. Jika virus dapat menyembunyikan jejak molekul akan menekan respon imun. Ini pemahaman baru tentang mekanisme virus Ebola dalam menghindari sistem kekebalan membuka pintu untuk mengembangkan terapi obat," kata Erica Ollmann Saphire, Ph.D., profesor di Scripps Research yang memimpin upaya tiga tahun untuk menyelesaikan struktur.

Jejak dari infeksi virus Ebola adalah keberadaan virus's double-stranded RNA (dsRNA), ketika terdeteksi oleh protein sistem kekebalan tubuh, memicu respon kekebalan penuh. Penelitian baru mendiskripsi bagaimana protein VP35 dari virus Ebola membendung dengan dsRNA untuk mencegah respon imun. Struktur protein (ditentukan oleh X-ray crystallography) memperlihatkan VP35 mengikat salinan lain dari dirinya sendiri dan pasangannya kerjasama melakukan tameng RNA (ibarat orang bermuka dua).

Christopher Kimberlin menjelaskan kejadian ini tidak biasa karena setiap anggota dari pasangan ikat RNA dengan cara yang berbeda, menunjukkan bahwa VP35 memiliki dua strategi yang unik untuk menutupi jejak virus. Antarmuka dua molekul VP35 menyediakan sasaran baru untuk obat yang akan menghentikan infeksi virus Ebola dan memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk membersihkan infeksi. Mengikat RNA tambahan, sebaran sinar-X sudut sempit, dan spectrometry deuterium ujicoba pertukaran massa mengkonfirmasi fungsi kerjasama molekul ini untuk supresi immuno.

Saat ini tidak ada obat terapi dan vaksin untuk demam Ebola. Virus menyebar ketika manusia kontak dengan cairan tubuh orang lain atau hewan yang terinfeksi. Kebanyakan kematian fatal dari kombinasi dehidrasi, perdarahan parah, dan shock. Workpaper berjudul "Ebolavirus VP35 uses a bimodal strategy to bind dsRNA for innate immune suppression," ditulis oleh Christopher Kimberlin, Zachary Bornholdt, lan MacRae, dan Erica Ollmann Saphire dari The Scripps Research Institute berkolaborasi dengan Sheng Li dan Virgil Woods, Jr . dari University of California San Diego. Didukung dana hibah dari National Institute of Health, Career Award dari Burroughs Wellcome Fund, dan The Skaggs Institute for Chemical Biology.

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment