KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Thursday, April 30, 2009

Bid-Ask Spread

(kesimpulan) Spread merupakan persentase selisih antara bid price dengan ask price. Ada dua model spread yaitu:

  1. Dealer spread, selisih antara harga di bid (harga beli) dengan harga ask (harga jual) yang menyebabkan individu dealer ingin memperdagangkan sekuritas dengan aktiva sendiri.

  2. Market spread, selisih antara highest bid (harga tertinggi yang diminta untuk menjual) dan lowest ask (harga terendah yang ditawarkan untuk menjual) yang terjadi pada saat tertentu.

Spread saham dalam perdagangan sekuritas, investor berkeinginan untuk membeli dan/atau menjual sesuai dengan harga dan jumlah yang diinginkan, tidaklah selalu memperoleh harapan tersebut secara simultan. Market maker (baik dealer maupun broker) berusaha untuk mengatasi adanya ketidaksamaan terhadap order (keinginan) yang dihadapi investor. Broker akan melakukan transaksi atas nama investor untuk mendapatkan komisi, sedangkan dealer melaksanakan transaksi untuk memperoleh keuntungan sendiri. Market maker tersebut memperoleh kompensasi karena aktivitas membeli dilakukan pada saat harga beli (bid price) lebih rendah daripada true price dan menjual saham pada saat harga jual (ask price) lebih tinggi daripada true price. Perbedaan antara bid price dengan ask price tersebut dikenal dengan bid-ask spread. Dalam kondisi terbentuknya spread demikian disebut efective spread.

Terdapat 3 alternatif pandangan mengenai proses perdagangan dan biayanya yang berhubungan dengan pembentukan spread, yaitu:

  1. Jika pembentukan spread merefleksikan biaya order processing, maka ask dan bid akan terletak pada seputar harga yang sesungguhnya (true price). Kondisi demikian dinamakan efective spread, dan dealer akan menutup biaya yang terjadi. Semakin lebar spread yang terbentuk maka biaya transaksi akan meningkat dan investor tidak lagi tertarik terhadap sekuritas tersebut.

  2. Jika spread merefleksikan biaya inventory holding, maka harga bid dan ask pada waktu t=1 akan diturunkan di bawah true price dengan tujuan menginduksi penjualan saham oleh dealer dan menghalangi penambahan kegiatan pembelian saham oleh dealer. Spread yang terbentuk berada di bawah true price sebesar 0,5 spread.

  3. Jika spread merefleksikan adverse information cost, kondisi yang terjadi sama seperti di atas, harga expected equilibrium menjadi rendah, di bawah true price semula. Hal ini diakibatkan oleh dampak informasi yang ada dan diasumsikan bahwa traders memiliki informasi tersebut. Selanjutnya kondisi demikian menyebabkan dealer dapat menawar dengan harga yang lebih rendah.

Misalkan kondisi matching orders dapat dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan bantuan pihak tertentu atau spesialis, maka kurva penawaran akan mengalami pergeseran ke atas. Pergeseran tersebut diakibatkan oleh adanya biaya yang harus dihadapi spesialis sebagai perantara investor yaitu cost of standing ready & cost of waiting. Perpotongan antara kurva permintaan semula dengan kurva penawaran baru akan menghasilkan harga Ask.

Apabila kemudian terdapat investor yang ingin membeli sekuritas tersebut, maka memotivasi spesialis untuk menetapkan harga beli di bawah harga keseimbangan. Kondisi ini menyebabkan kurva permintaan bergeser ke bawah menjadi kurva permintaan baru. Perpotongan antara kurva penawaran semula dengan kurva permintaan baru menghasilkan harga Bid. Perbedaan antara harga ask dengan harga bid dikenal dengan bid ask spread yaitu ukuran biaya kesediaan (price of immediacy) dalam transaksi sekuritas.

Besarnya bid ask spread dapat dikaitkan dengan besarnya biaya transaksi dan efisiensi pasar. Bila diasumsikan pasar modal adalah dalam keadaan efisien setengah kuat, maka informasi yang ada akan tercermin sesegera mungkin dalam harga saham. Dalam kondisi demikian bisa dipastikan antara pihak yang akan membeli ataupun menjual saham memiliki muatan informasi yang sama terhadap suatu peristiwa. Di sinilah kemampuan stock split dalam signalling bekerja, dan dapat dijadikan sebagai alat untuk menghilangkan information asymetry yang selanjutnya akan menurunkan biaya atas informasi tersebut.

Karena muatan informasi yang dimiliki antara calon pembeli dan calon penjual saham adalah sama, maka harga saham yang muncul dalam tawar menawar di transaksi diperkirakan hampir sama dan tercipta rentang transaksi atau spread yang kecil.

Berdasarkan kamus ekonomi bid atau tawaran harga mempunyai pengertian sebagai harga yang dinyatakan oleh seorang pembeli yang ingin membeli. Pengertian ask adalah harga yang diminta oleh seorang penjual. Dan pengertian spread adalah perbedaan antara harga penawaran dan harga yang ditawar oleh pihak pembeli.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa hasil bid-ask spread ini dapat menyesatkan. Mereka menunjukkan permasalahan bid-ask spread ini dengan membandingkan harga-harga sesungguhnya yang dibayar oleh investor institusi (termasuk komisinya) atas nilai-nilai tengah catatan bid-ask pada saat eksekusi.

Bid-ask spread sebenarnya mengukur informasi tidak simetris (asymmetric information) antara dealer dan investor. Pedagang saham mempunyai informasi lebih lengkap yang dapat mempengaruhi harga saham dibandingkan informasi yang dimiliki oleh pedagang lain. Perbedaan informasi yang dimiliki ini menunjukkan informasi tidak simetris (asymmetric information) antara satu pedagang dan pedagang yang lain. Besarnya tingkat informasi tidak simetris ini tergantung pada pola kedatangan informasi. Sebelum diumumkannya informasi baru yang spesifik dari suatu perusahaan, tingkat informasi tidak simetris besar. Contoh kejadian yang memberikan informasi yang spesifik dari suatu perusahaan adalah pengumuman merjer, pengumuman laba, dan pengumuman dividen. Secara khusus, dealer atau specialist, yang berhubungan dengan saham perusahaan ini dianggap sebagai pihak yang tidak mempunyai informasi (uninformed traders). Pihak-pihak yang tidak mempunyai informasi (uninformed traders) ini akan menderita kerugian yang besar karena mereka harus siap berdagang dengan informasi yang lebih sedikit. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa ketika dealer merasa tingkat informasi tidak simetris meningkat, mereka melebarkan bid-ask spread (sumber laba dari para dealer) untuk mengurangi kemungkinan kerugian dari pedagang yang mempunyai informasi (informed traders). Karena itu dapat diduga bahwa bid ask spread akan lebar sebelum pengumuman laba atau dividen.

Bid-ask spread didasarkan pada antisipasi biaya yang akan ditanggung oleh dealer sebagai pedagang yang tidak mendapatkan informasi (uninformed trader). Biaya yang akan ditanggung oleh dealer ini dapat berupa biaya kerugian karena informasi (information trading cost). Biaya kerugian karena informasi (information trading cost) berhubungan positif dengan tingkat informasi tidak simetris.

Sebagai penjual saham, dealer harus menyimpan saham sebagai persediaannya. Risiko harga saham yang berfluktuasi dan biaya kesempatan dari modal yang tertanam di persediaan tersebut menimbulkan biaya persediaan (inventory cost atau holding cost).

Penelitian dari data tentang harga penutupan bid dan ask dikumpulkan secara acak dari 75 perusahaan NYSE dalam publikasi Francis Emory Fitch pada periode 1 Janauri sampai 31 Desember 1973 yang meliputi 251 hari perdagangan. Nilai penutupan bid dan ask ini dicocokkan kembali dengan nilai bid dan ask yang ada di CRSP Daily Stock Master Files. Tanggal pengumuman laba dan dividen diambil dari Wall Street Journal. Tiga grup sampel berdasarkan pengumuman laba dan dividen dibentuk, yaitu (a) pengumuman-pengumuman join (joint announcements), yaitu laba dan dividen diumumkan bersamaan pada hari yang sama, (b) pengumuman-pengumuman awal (initial announcements) atau pengumuman-pengumuman pertama (first announcements), yaitu pengumuman laba atau dividen yang tidak didahului oleh pengumuman lainnya selama 30 hari, dan (c) pengumuman-pengumuman berikut (following announcements) atau pengumuman-pengumuman kedua (second announcements), yaitu pengumuman yang mengikuti pengumuman pertama paling sedikit setelah 10 hari tetapi tidak lebih dari 30 hari.

Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa bid-ask spread meningkat secara signifikan sebelum pengumuman-pengumuman kedua. Mereka menemukan peningkatan bid-ask spread yang sangat kecil sebelum pengumuman-pengumuman pertama dan pengumuman-pengumuman join. Hasil-hasil ini juga konsisten setelah mereka mengoreksi bid-ask spread dengan biaya memegang saham (holding cost).

Ang, Robert. (1997). Buku Pintar Pasar Modal Indonesia, Edisi satu. Mediasoft, Indonesia

Asri S. M. dan Setiawan F.A. (1998). Reaksi Pasar Modal Indonesia Terhadap Peristiwa Politik Dalam Negeri, Kelola.

Brigham, E.R., dan Gapheski (2006). Intermediate Financial Management. Orlando. The Didan Press.

Freud, William, dan Pagano, Michael, S. (2000). Market Efficiency in Specialist Markets and After Automation, The Financial Review 35.

Glosten, L.R. dan Milgrom, P.R. Bid-Ask and Transaction Price in a Specialist Market with Heterogeneously Informed Traders. Journal of Finance Economics 14.

Husnan, Suad. (1996). Dasar-Dasar Teori Portofolio. Yogyakarta: UPPAMP YKPN.

J.Supranto M.A. (2004). Statistik Pasar Modal. Jakarta: Rineka Cipta.

Jogiyanto. (1998). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. BPFE: Yogyakarta.

Jogiyanto. (2005). Pasar Efesien Secara Keputusan. Gramedia: Jakarta

Machfoedz, Mas’ud. (1994). Financial Ratio Analisys and The Prediction of Earning Changes of Indonesia. Kelola Gadjah Mada University Bussines Review No.7/III/1994.

Pariwayanti, Ambar, Hastusi, dan Edi S. (2000). Penggunaan Informasi Keuangan Untuk Memprediksi Keuangan Investasi Bagi Investor di Pasar Modal. Jurnal Riset akuntansi Indonesia. Vol.3 No.2 Juli 2002.

Sartono, Agus. (1998). Manajemen Keuangan: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: BPFE.

Sunarya. (2004). Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Yogyakarta: UUP. AMP YKPN.

Sutrisno, Wang, et.al. (2000). Pengaruh Stock Split terhadap Likuiditas dan Return saham di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol 2 N0.2.

Venkatesh, P.C, dan R. Chiang. 1986. Information Asumetry and the Dealer’s Bid-Ask Spread: A Case Study of Earnibngs and Devidend Announcements. The Journal of Finance 41.

Efektifitas e-Marketing Communication Pada Situs Jejaring Sosial

(kesimpulan) Internet terus berkembang bukan hanya menampilkan grafis yang menarik tetapi telah menjadi alat komunikasi yang interaktif, situs internet terus dikembangkan baik secara tampilan dan muatan isinya. Pengembangan tersebut diharapkan akan semakin banyak menarik pengunjung untuk selalu kembali ke situs tersebut. Salah satu alasan pengembangan itu adalah agar dapat digunakan sebagai media yang baik untuk kegiatan e-Business termasuk di dalamnya e-Marketing. Berbagai inovasi dan ide kreatif dilakukan untuk meningkatkan jumlah pengunjung, bermula dari sekedar sebuah web site statis menjadi situs dinamis yang banyak memberikan manfaat dan kemudahan bagi user. Salah satu inovasi yang fenomenal dalam perkembangan tersebut adalah situs jaringan sosial maya, di antaranya yang paling populer adalah Friendster.com dan facebook.com.

Situs jaringan sosial maya adalah sebuah situs internet yang memberikan kemudahan user untuk membentuk hubungan sosial dengan orang-orang yang diinginkannya, menemukan teman baru, bersosialisasi, dan terus dapat mengamati seluruh jaringan sosial yang telah dibentuknya secara online. Tak ada model bisnis yang pasti dalam awal pengembangan situs semacam ini, namun lambat laun pengembangan situs jaringan sosial maya mengarah pada e-Business. Model bisnis yang paling sederhana dalam memanfaatkan situs jaringan sosial maya ini adalah dengan memanfaatkan kepopuleran situs tersebut, dengan jumlah anggota dan pengguna mencapai puluhan juta, sebagai media e-Marketing communication terutama advertisement dan viral marketing.

Kepopuleran situs jaringan sosial maya dan kegiatan sosialisasi online yang sangat interaktif telah mulai menarik minat pemasar untuk melakukan kegiatan e-Marketing communication. Daya interaktif situs jaringan sosial maya tersebut diharapkan dapat menjadi media gate way untuk menuju situs atau web site suatu perusahaan atau organisasi.

Namun dalam jaringan sosial maya, pengguna sering kali mengalami apa yang disebut sebagai flow, suatu keadaan di mana pengguna akan terhanyut dalam aktivitas pada jaringan sosial mayanya, terlalu menikmati dan asyik dengan aktivitasnya mencari teman baru, mengamati anggota jaringan sosialnya atau terlalu menikmati interaksi secara online dan menelusuri setiap link jaringan sosial yang ada. Pengguna yang mengalami flow cenderung tidak memperhatikan atau sedikit ingin tahu tentang advertisment yang dipasang di web page yang dikunjungi. Salah satu dari beberapa permasalahan dalam tingkah laku pengguna jaringan sosial maya tersebut menimbulkan pertanyaan apakah melakukan kegiatan e-Marketing communication di jaringan sosial maya adalah efektif?

Selain itu e-Marketing communication yang dilakukan dengan memasang advertisement di media internet seringkali dilakukan hanya sebagai pelengkap komunikasi atau karena didasari adanya tren pesaing lain yang melakukan advertisement di media tersebut. Keputusan kegiatan e-Marketing communication, terutama melakukan advertisement, di media internet tidak didasari beberapa fakta ilmiah yang mengungkapkan seberapa besar keefektivannya, karena memang penelitian tentang masalah tersebut di Indonesia masih sangat sedikit. Kecenderungan seperti itu juga tampak pada kegiatan e-Marketing communication di beberapa web site baru yang memiliki kepopuleran luar biasa dilihat dari jumlah pengunjung dan lama kunjungannya.

Dunia internet memang sedang booming yang dibuktikan dengan semakin banyaknya pengeluaran e-Marketing communication dan penelitian tentang efektivitas e-Marketing communication akan sangat memberikan dasar ilmiah untuk membantu dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan tersebut. Alasan utama yang menjadikan situs jaringan sosial maya menjadi tujuan pemasar untuk melakukan e-Marketing communication adalah jumlah anggota yang sangat besar dengan trafik kunjungan tinggi, durasi kunjungan yang paling lama dibanding situs internet lain yang bukan jaringan sosial maya, fokus pada segmen yang spesifik dan adanya suatu komunitas pengguna. Dengan alasan tersebut maka proses selective attention, selective distortion, dan selective retention tidak lagi menjadi penghalang besar dalam komunikasi yang efektif. Sebuah advertisement berada pada sebuah media dalam durasi waktu dalam trafik kunjungan yang tinggi dan/atau kunjungan berulang memberi konsekuensi bahwa e-Marketing communication diharapkan menjadi semakin efektif. Analisis tersebut mengarah pada pertanyaan, apakah semakin tinggi kuantitas kunjungan berulang akan memberi pengaruh positif pada respon e-Marketing communication?

Pada tahun 2003 saat booming Friendster.com para pengguna internet yang berkunjung di situs tersebut rata-rata menghabiskan waktu dua jam, satu jam lebih lama dari pada situs lain yang sejenis dan situs internet lainnya yang tidak sejenis. Popularitas terus meningkat dan lama waktu yang dihabiskan cenderung mengalami peningkatan. Kepopuleran Friendster.com tersebut ditunjukkan dengan jumlah anggota yang terus tumbuh hingga mencapai 33 juta anggota pada tahun 2006. Kenyataan tersebut mengarah pada pertanyaan, apakah waktu kunjung pada Friendster.com atau Facebook.com yang lama akan memberi pengaruh positif pada respon e-Marketing communication?

Teori pertama adalah teori tentang model dasar komunikasi atau Basic Model of Communication, yang merupakan makro model dari proses komunikasi. Model ini sangat tepat menggambarkan proses komunikasi marketing dari perusahaan (pemasar) kepada target market atau publik secara umum. Teori tentang model dasar komunikasi memuat semua scope komunikasi marketing dengan cara konvensional maupun dengan e-Marketing communication dan viral marketing.

Dua komponen utama yang pertama dalam Basic Model of Communication adalah Sender’s Field of Experience, lingkup pengalaman pengirim dan Receiver’s Field of Experience, lingkup pengalaman penerima. Lingkup pengalaman tersebut memuat tentang pengalaman, persepsi, sikap dan nilai yang dibawa dalam proses komunikasi. Lingkup pengalaman ini memberi dampak besar pada pengirim dan penerima pesan dalam proses komunikasi yang berdampak pada sukses atau gagalnya sebuah proses komunikasi. Dalam hal ini termasuk juga lokasi di mana sebagian besar kegiatan dalam proses komunikasi berlangsung. Agar berlangsung suatu proses komunikasi, bidang pengalaman pengirim dan penerima pesan harus saling beririsan atau overlap sehingga proses komunikasi akan menjadi lebih efektif.

Proses komunikasi dimulai dengan mengirimkan informasi. Pengirim informasi disebut juga sebagai sumber informasi atau source, yaitu seseorang atau organisasi yang memiliki informasi atau pesan untuk dibagikan kepada seseorang atau ke banyak orang. Setelah source memutuskan untuk membagi informasi maka source akan melangkah ke proses selanjutnya yaitu pengkodean, encoding, suatu proses di mana source akan memilih kata-kata, simbol, gambar, diagram, grafik, dan sebagainya untuk merepresentasikan informasi yang akan disampaikan atau yang akan dibagi ke penerima. Hasil dari pengkodean adalah sebuah pesan yang berisi informasi atau suatu maksud yang ingin disampaikan oleh pengirim.

Pesan merepresentasikan dua lokasi pertama di mana lingkup pengalaman pengirim beririsan atau overlap dengan lingkup pengalaman penerima pesan. Pesan harus ditempatkan dalam suatu bentuk yang kondusif terhadap saluran komunikasi (channel of communication). Sebagi contoh, pesan harus dikirim dalam saluran komunikasi verbal jika pengirim dan penerima berkomunikasi dengan menggunakan telepon. Perlu diperhatikan bahwa pesan dapat berupa verbal maupun non verbal, terucapkan atau tertulis atau dapat juga berupa simbol-simbol.

Saluran komunikasi atau channel merepresentasikan lokasi di mana pertukaran informasi yang sesungguhnya berlangsung. Channel didefinisikan sebagai suatu metode di mana terjadi proses komunikasi, berpindahnya pesan dari pengirim ke penerima. Ada dua tipe dari saluran komunikasi yaitu personal communication dan non personal communication. Komunikasi personal adalah hubungan interpersonal secara langsung dengan target individu atau suatu kelompok, media internet merupakan contoh saluran komunikasi personal. Sedangkan komunikasi non personal adalah penyampaian pesan tanpa hubungan interpersonal antara pengirim dan penerima, misalnya spanduk-spanduk sponsor dalam suatu event. Penerima pesan didefiniskan sebagai siapapun yang mana pengirim pesan berbagi maksud, pemikiran, atau informasi kepadanya.

Sekali pesan telah terkirim ke penerima melalui saluran komunikasi, lingkup pengalaman kedua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi tidak lagi menjadi overlap. Pada titik ini penerima harus men-decode pesan pengirim menjadi sebuah informasi. Agar proses komunikasi menjadi efektif maka proses men-decode pesan oleh penerima haruslah sesuai dengan proses decode oleh pengirim pesan.

Gangguan (noise) merupakan penghalang utama terjadinya komunikasi yang efektif. Gangguan (noise) didefinisikan sebagai segala sesuatu yang menyebabkan terjadinya cacat-cacat pesan yang disampaikan dan noise dapat terjadi dalam setiap tahap dalam proses komunikasi. Gangguan (noise) akan lebih sering terjadi ketika tidak ada overlap antara lingkup pengalaman pengirim dan penerima, jika ini terjadi maka proses encoding dan decoding pesan tidak akan sesuai.

Suatu respon adalah reaksi penerima pesan terhadap pesan yang diterima dari pengirim pesan. Reaksi tersebut dapat berupa hanya mengingat pesan hingga berupa men-decode pesan yang diterima menjadi sebuah informasi yang bermakna bagi penerima. Ada kalanya respon dari penerima adalah mengirim balik sebuah pesan kepada pengirim, berupa sebuah feedback. Dengan demikian dapat dikatakan proses komunikasi telah selesai.

Tuntutan modern marketing lebih sekedar mengembangkan produk yang baik, memberi harga yang menarik dan membuat produk dapat diakses. Perusahaan harus juga berkomunikasi dengan stakeholder saat ini dan stakeholder di masa depan, juga kepada masyarakat umum. Bagi sebagian besar perusahaan, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya apakah perlu untuk berkomunikasi tetapi lebih kepada apa yang perlu dikomunikasikan, bagaimana mengkomunikasikan, kepada siapa dan seberapa sering. Namun dalam melakukan komunikasi pemasaran, marketing communication, kini semakin sulit dan semakin banyak perusahaan “berteriak keras” untuk merebut perhatian customer yang semakin terbagi, sehingga mereka hanya memberikan sedikit respon atau perhatiannya. Dari respon atau perhatian yang sulit didapatkan itu diharapkan terbentuk suatu persepsi terhadap produk atau merek yang dikomunikasikan.

Dalam marketing, persepsi menjadi lebih penting dari kenyataan karena persepsi akan mempengaruhi perilaku consumer yang sesungguhnya. Persepsi adalah proses di mana seseorang memilih, mengorganisasi, dan mengintepretasikan informasi yang diterima untuk membentuk gambaran berarti terhadap sesuatu. Setiap orang dapat memunculkan persepsi yang berbeda terhadap suatu object yang sama karena adanya tiga perceptual processes, yaitu: selective attention, selective distortion, dan selective retention.

Selective attention merupakan proses penyaringan informasi oleh consumer karena keterbatasan untuk menerima semua informasi yang terlintas di hadapannya. Ini berarti bahwa marketer harus bekerja keras untuk menarik perhatian consumer. Tantangan sesungguhnya adalah menemukan stimuli yang menyebabkan consumer memberikan perhatiannya terhadap pesan yang dikomunikasikan. Media komunikasi yang banyak menarik perhatian consumer adalah suatu stimuli yang penting.

Namun, sering kali stimuli tidak selalu menjamin bahwa pengirim pesan telah dapat menyampaikan pesannya melalui proses komunikasi. Ada sebuah selective distortion, yaitu sebuah kecenderungan bahwa penerima pesan akan mengartikan sebuah pesan yang diterimanya sesuai dengan sistem kepercayaannya (believe system). Sehingga penerima pesan sering kali menambahkan sesuatu yang tidak ada pada pesan yang diterimanya dan menghilangkan sesuatu yang merupakan bagian dari pesan yang tak terpisahkan. Cara yang dapat dilakukan untuk menghindari ini adalah dengan melakukan komunikasi secara sederhana, jelas, menarik dan berulang.

Yang terakhir dalam perceptual processes adalah selective retention, yaitu bahwa setiap orang akan menyimpan dalam ingatan jangka panjangnya hanya sebagian kecil dari pesan yang telah sampai kepadanya. Setiap orang akan menyimpan dalam ingatan jangka panjangnya tentang hal-hal yang positif ketika ia pertama kali menerima pesan dan akan melupakan hal-hal yang negatif ketika ia pertama kali menerima pesan. Cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini, menurut Kotler, adalah terus mengulang penyampaian pesan melalui proses komunikasi yang kontinyu.

Jika Basic Model of Communication merupakan makro model dari proses komunikasi, maka respon consumer terhadap pesan yang ia terima dapat dimodelkan dalam suatu Micro Model of Consumer Respon, yang berkonsentrasi pada respon consumer secara spesifik terhadap proses komunikasi. Ada empat model hirarki respon secara klasik, yaitu: AIDA model, Hierarchy-of-Effects model, Inovasion-adoption model, dan Communication model. Keempat model respon consumer terhadap pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi menggunakan asumsi bahwa penerima pesan akan melalui tahap cognitive, affective, dan behavior.

Tingkatan efektivitas suatu kegiatan marketing communication yang paling tinggi adalah pada penjualan produk. Namun demikian keefektivan marketing communication dapat didefinisikan oleh pemasar atau pengirim pesan disesuaikan dengan target apa yang ingin dicapai dalam kegiatan mengkomunikasikan pesan pemasarannya. Target komunikasi yang sederhana misalnya adalah untuk menciptakan consumer awareness tentang suatu produk atau merek dan kegiatan komunikasi marketing tersebut dapat dianggap efektif jika proses komunikasi tersebut mendapat respon, misalnya, hanya berupa attention dari target yang dituju.

Konsep komunitas online sudah ada sejak internet pertama kali dibuat, kini internet berkembang salah satu penggeraknya adalah untuk memfasilitasi pengguna untuk dapat berinteraksi dengan pengguna lain. Namun kira-kira baru tiga atau empat tahun lalu jaringan sosial maya mengalami booming. Setahun lalu salah satu situs jaringan sosial maya yang terbesar di Amerika serikat, MySpace.com diakuisisi oleh News Corporation senilai $580 juta, bahkan situs jaringan sosial maya yang sangat kecil di San Fransisco yaitu Bebo.com diakuisisi oleh British Telecom senilai $500 juta. Pemain-pemain besar seperti Microsoft, AOL, Google, dan Yahoo! juga berusaha untuk memiliki situs jaringan sosial maya mereka sendiri.

Situs jaringan sosial maya juga dibuat untuk menjaring pengguna atau target secara spesifik dengan latar belakang sama. Misalnya, jaringan sosial maya untuk pencari kerja, pencari rekan bisnis, atau perekrut pekerja yang dapat ditemui di jaringan sosial maya Linkedln.com, Ryze.com, dan Tribe.net. Target spesifik yang berlatar belakang umur misalnya pada Myspace.com, Facebook.com, Friendster.com menargetkan remaja dan pemuda. Dengan layanan yang bebas biaya situs jaringan sosial maya mampu menarik jutaan pengguna hanya dalam waktu yang singkat dari peluncuran perdana dengan trafik pengunjung tiap hari mencapai ratusan ribu bahkan jutaan pengunjung. Dengan demikian situs jaringan sosial maya menjadi media yang sangat potensial dan menarik bagi pemasar untuk melakukan kegiatan e-Marketing communication dengan target segmen yang lebih spesifik.

Belch, G.E, Belch, M.A, 2004, Advertising and Promotion: An Integrated Marketing Communications Perspective (6th ed.), New York, McGraw Hill.

Effendy, Onong Uchjana: Dinamika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002

Kotler, Philip. (2006). Manajemen Pemasaran. Jakarta: Inter Media.

Moe, Wendy W. and Peter S. Fader, 2004, Dynamic Conversion Behavior at e-Commerce Sites, Management Science.

Robins, Garry, Philippa Pattison and Peter Elliott 2001, Network models for social influence processes, Psychometrika.

Straus, Judy et al, 2006, e-Marketing, 4th ed, Upper Sadle River, NJ: Prentice Hall.

Wednesday, April 29, 2009

Ketrampilan Emosional Anak

(kesimpulan) Mengembangkan ketrampilan sosial dan komunikasi, dibutuhkan suatu landasan kuat yaitu berkembangnya ketrampilan emosional dengan baik. Hal itu dikarenakan emosi dapat mempengaruhi perkembangan pribadi dan sosial anak. Selain merupakan suatu bentuk komunikasi, emosi juga sangat mempengaruhi interaksi sosial. Melalui perubahan mimik wajah dan fisik yang menyertai emosi, anak-anak dapat mengkomunikasikan perasaan mereka kepada orang lain dan mengenal berbagai jenis perasaan orang lain. Semua emosi, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, dapat mendorong interaksi sosial. Melalui emosi, anak belajar cara mengubah perilaku agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan ukuran sosial. Perkembangan ketrampilan emosional dipengaruhi oleh peran pematangan taraf intelektual dan peran belajar.

Ketrampilan emosional yang sesuai pada setiap tahap perkembangan individu, dapat membantu mengembangkan kemampuan-kemampuan sosial, bahasa, ketrampilan motorik dan kesadaran akan diri. Ketrampilan emosional tersebut terdiri dari enam tonggak penting, yaitu: regulasi diri dan minat terhadap dunia sekitar; keakraban; komunikasi dua arah; komunikasi kompleks; gagasan emosional; dan berpikir emosional.

Pada anak tanpa kebutuhan khusus, seringkali dapat menguasai ketrampilan-ketrampilan emosional tersebut dengan relatif mudah. Anak dengan kebutuhan khusus seringkali tidak bisa demikian. Karena masalah biologis, menyebabkan penguasaan ketrampilan-ketrampilan tersebut menjadi lebih sulit. Demikian halnya yang terjadi pada anak dengan retardasi mental ringan, penguasaan ketrampilan emosional nampaknya belum dapat berkembang optimal sesuai dengan usia mentalnya.

Emosi merupakan keadaan yang terangsang dari organisme, mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan berkaitan dengan perubahan perilaku. Karena itu emosi lebih intens daripada perasaan sederhana dan biasa, dan mencakup pula organisme selaku satu totalitas. Sedangkan emosional berkaitan dengan ekspresi emosi, atau dengan perubahan-perubahan yang mendalam yang menyertai emosi, mencakup perubahan-perubahan dalam otot, kelenjar yang mendalam, dan tingkah laku. Seseorang dikatakan memiliki ketrampilan emosional apabila mampu menampilkan ekspresi emosi yang baik. “Baik” di sini berarti sesuai dengan stimulus afektifnya.

Ketrampilan emosional adalah ketrampilan yang berdasarkan pada interaksi emosional dini dan bertujuan membangun landasan untuk kecerdasan dan pemahaman mengenai diri (sense of self). Sedangkan interaksi didefinisikan sebagai satu pertalian sosial antar individu sedemikian rupa sehingga individu yang bersangkutan saling mempengaruhi satu sama lainnya.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETRAMPILAN EMOSIONAL

Faktor yang mempengaruhi ketrampilan emosional, yaitu:

  1. Masalah-masalah biologis. Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki berbagai masalah biologis yang merintangi kemampuan mereka untuk berfungsi di dunia ini. Meskipun banyak cara untuk menjelaskan masalah-masalah biologis tersebut, dengan tujuan untuk memperhatikan bagaimana masalah tersebut mempengaruhi perkembangan mereka. Ada tiga jenis: 1) Kesulitan dalam reaktivitas sensorik. Anak mungkin mengalami kesulitan dalam pengaturan (modulating) informasi yang diterima dari dunia melalui indera penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, pengecap dan kesadaran tubuh (body awareness), yaitu anak mungkin kurang reaktif atau terlampau reaktif. 2) Kesulitan pemrosesan. Anak mungkin mengalami kesulitan dalam memahami data sensorik yang terima. 3) Kesulitan dalam membuat dan mengurutkan atau merencanakan berbagai respon. Anak mungkin mengalami kesulitan menggerakkan tubuhnya sesuai keinginan.

  2. Pola-pola interaksi anak. Masalah-masalah biologis anak mempengaruhi interaksi anak dengan orang lain. Anak yang kurang reaktif terhadap suara tidak mungkin menoleh ke arah suara rayuan ibunya. Anak yang terlampau reaktif terhadap sentuhan mungkin akan menjauhkan diri, atau bahkan menjerit, bila ayahnya berusaha memeluk. Bila anak terus menerus menarik diri dari ibunya, bisa dimengerti bila ibunya mengurangi tingkat usahanya membujuk si anak ke dalam interaksi yang penuh kasih. Ibu mungkin merasa bingung dan percaya bahwa si anak lebih suka dibiarkan sendirian. Di sisi lain, pemahaman khusus mengenai kurang reaktifnya seorang anak, akan memungkinkan orang tua untuk bekerja di sekitar masalah biologisnya untuk menarik anak ke dalam suatu relasi dan memulai interaksi serta komunikasi. Jadi terdapat berbagai lintasan yang berbeda yang mungkin dilakukan.

  3. Pola-pola keluarga dan sosial. Semua orang tua membawa kecenderungan tertentu dalam mengasuh anak. Sebagian secara alami bersikap demonstratif dan penuh sentuhan, yang lainnya lebih penyendiri. Sebagian dari kita senang berbicara, yang lainnya pendiam. Kecenderungan-kecenderungan ini (sebagian bawaan, sebagian diperoleh melalui keluarga dan lingkungan budaya) mempengaruhi bagaimana berinteraksi dengan anak-anak. Kecenderungan-kecenderungan tersebut bisa memudahkan atau menyulitkan anak-anak untuk menguasai tonggak penting ketrampilan emosionalnya.

Penjelasan lain menyatakan, perkembangan emosional dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:

  1. Peran pematangan. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama, dan memutuskan ketegangan emosi pada satu obyek. Demikian pula kemampuan mengingat dan menduga mempengaruhi reaksi emosional. Dengan demikian anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda.

  2. Peran belajar. Bayi yang baru lahir tidak mampu mengekspresikan kemarahan kecuali dengan menangis. Dengan adanya pematangan sistem syaraf dan otot, anak-anak mengembangkan potensi untuk belajar tentang berbagai macam reaksi. Pengalaman belajar itu akan menentukan reaksi potensial mana yang akan gunakan untuk menyatakan kemarahan.

Peneliti lain menyatakan dua hal yang mempengaruhi perkembangan ketrampilan emosional:

  1. Badan individu (biologis). Badan dan jiwa bukan dua hal yang terpisah dan tidak berhubungan satu sama lain, tetapi sebaliknya bereaksi bersama dan menghasilkan belbagai perasaan, pikiran dan perbuatan. Dengan demikian emosi yang bermacam-macam itu tidak diakibatkan hanya karena cakap memberi nama atau sebutan, tetapi juga karena dalam keadaan tertentu sistem urat syaraf biasanya bereaksi secara biokemis. Jika dalam keadaan bahaya, jantung akan berdebar-debar, nafas pendek dan sikap penuh energi. Reaksi ini mungkin terjadi karena merasa ada suatu ancaman dari luar. Perubahan badaniah semacam itulah yang disebut reaksi emosional.

  2. Cara berpikir individu. Dalam hidup pasti pernah disesatkan oleh pikiran yang negatif, pikiran yang tidak realistis, pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan. Jika dapat membetulkan pikiran yang keliru itu, individu akan belajar untuk mengatur emosinya. Dengan demikian ketrampilan emosional dapat dikembangkan menjadi lebih baik lagi dengan kemampuan mengevaluasi diri.

ASPEK-ASPEK KETRAMPILAN EMOSIONAL

Menurut Hurlock (1980) suatu ketrampilan emosional dicirikan oleh beberapa aspek berikut:

  1. Ungkapan emosional melalui cara yang dapat diterima oleh lingkungan

  2. Individu dapat menilai situasi secara kritis sebelum bereaksi secara emosional

  3. Reaksi emosional stabil

  4. Katarsis emosi (individu mampu menyalurkan emosinya dengan baik)

  5. Penyesuaian pribadi dan sosial yang baik

ENAM TONGGAK PENTING KETRAMPILAN EMOSIONAL

Regulasi diri dan minat terhadap dunia sekitar

  1. Menunjukkan minat terhadap berbagai rangsang sedikitnya 3 detik

  2. Tetap tenang dan memusatkan perhatian sedikitnya 2 menit

  3. Menunjukkan minat pada orang lain

Keakraban

  1. Menanggapi tawaran orang lain

  2. Menanggapi tawaran orang lain dengan kegembiraan yang nyata

  3. Menanggapi tawaran orang lain dengan rasa ingin tahu dan minat yang asertif

  4. Mengantisipasi benda yang semula diperlihatkan kemudian dihilangkan

  5. Menjadi jengkel jika orang lain tidak menanggapi selama sedikitnya 30 detik ketika bermain

  6. Protes dan menjadi marah bila frustasi

Komunikasi dua arah

  1. Menanggapi gerak isyarat orang lain dengan gerak isyarat yang bertujuan

  2. Memprakarsai interaksi dengan orang lain.

  3. Menunjukkan emosi-emosi: kedekatan, senang dan gembira, rasa ingin tahu yang asertif, protes atau marah, takut.

Komunikasi kompleks

  1. Menutup sedikitnya 10 siklus komunikasi sekaligus

  2. Meniru perilaku orang lain secara bertujuan

  3. Menutup sedikitnya 10 siklus menggunakan: celotehan atau kata-kata, mimik wajah, sentuhan atau pelukan timbal balik, gerakan dalam ruangan, kegiatan motorik kasar, berkomunikasi lintas ruang.

  4. Menutup sedikitnya 3 siklus sekaligus ketika merasakan emosi-emosi: kedekatan, senang dan gembira, rasa ingin tahu yang asertif, takut, marah, penetapan batas.

Gagasan emosional

  1. Menciptakan drama pura-pura dengan sedikitnya dua gagasan.

  2. Menggunakan kata-kata, gerak isyarat untuk mengungkapkan sedikitnya dua gagasan pada saat bersamaan.

  3. Menyatakan keinginan, niat dan perasaan menggunakan: kata-kata, beberapa gerak isyarat sekaligus, sentuhan.

  4. Bermain permainan motorik sederhana yang memiliki aturan.

  5. Menggunakan permainan pura-pura atau kata-kata untuk menyampaikan emosi-emosi berikut yang mewakili sedikitnya dua gagasan: kedekatan, senang dan gembira, rasa ingin tahu yang asertif, takut, marah, penetapan batas.

Berpikir emosional

  1. Dalam bermain pura-pura, sedikitnya dua gagasan dihubungkan secara logis, meskipun gagasan itu tidak realistis

  2. Bermain pura-pura berdasarkan gagasan orang dewasa

  3. Dalam berbicara, gagasan dihubungkan secara logis

  4. Menutup sedikitnya dua siklus komunikasi verbal.

  5. Berkomunikasi secara logis, dengan menghubungkan sedikitnya dua gagasan mengenai niat, keinginan, kebutuhan atau perasaan dengan menggunakan: kata-kata, beberapa gerak isyarat sekaligus, sentuhan.

  6. Bermain permainan motorik dalam ruangan yang memiliki aturan.

  7. Menggunakan permainan pura-pura atau kata-kata untuk menyampaikan sedikitnya dua gagasan yang berhubungan secara logis dalam menghadapi emosi-emosi berikut: kedekatan, senang dan gembira, rasa ingin tahu yang asertif, takut, penetapan batas.

Albin, R. S. 1986. EMOSI Bagaimana mengenal, menerima, dan mengarahkannya, Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Greenspan, S. I; Wieder, S; Simons, R. 2006. The Child with Special Needs, Jakarta : Penerbit Yayasan Ayo Main

Hurlock, E. 2002. Perkembangan Anak. Jakarta; Penerbit Erlangga

Kaplan, H. I; Sadock, B. J; Grebb, J. A. 1997. Sinopsis Psikiatri jilid dua. Jakarta: Binarupa Aksara

Tedjasaputra, M. S. 2001. Bermain, Mainan, dan Permainan. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Tuesday, April 28, 2009

Prostitusi

(kesimpulan) Setiap orang mempunyai pandangan tersendiri terhadap kehidupan pelacuran dalam dimensinya masing-masing ada yang mengutuk ada yang bersimpati terhadap pelacur. Tetapi bagaimana beragamnya pandangan, kegiatan prostitusi tetap akan berlangsung terus.

Kata prostitusi identik dengan kata asing, (dalam bahasa latin: pro-stituere atau pro-staures) berarti membiarkan diri berbuat zina, melakukan perbuatan persundalan, percabulan dan pengendakan. Sementara itu Soedjono D mengatakan bahwa prostitusi sebagai perilaku yang terang-terangan menyerahkan diri pada “perzinahan”.

Sejalan dengan pendapat tersebut di atas, akan diketengahkan pula berbagai interprestasi dari beberapa ahli tentang pelacuran atau prostitusi itu, antara lain:

  1. W. A. Bonger, dalam bukunya “Versprede Geschiften” antara lain mengemukakan: “prostitutie het maatshapelijke vershijnsel dat vrowen zich beroepsmatig tot hel plegen van sexuele handelingen”(prostitusi adalah gejala sosial, dimana wanita menyediakan dirinya untuk perbuatan sexuil sebagai mata pencahariannya).

  2. F. J. De Bruine van Amstel menyatakan, prostitusi adalah penyerahan diri wanita kepada banyak laki-laki dengan pembayaran.

  3. Iwan Bloch berpendapat, pelacuran adalah suatu bentuk perhubungan kelamin diluar pernikahan dengan pola tertentu, yakni kepada siapapun secara terbuka dan hampir selalu dengan pembayaran baik untuk persebadanan maupun kegiatan sex lainnya yang memberikan kepuasan yang diinginkan oleh yang bersangkutan.

  4. Walker C. Reckles mengemukakan: “prostitution is the practices of selling sexual intercours or other subtite forms sexual grafitication”.

  5. George Ryley Scott mengemukakan bahwa: “Pelacuran adalah seorang laki-laki atau perempuan, yang karena semacam upah, baik berupa uang atau lainnya tau karena semacam kesenangan pribadi dan sebagian atau keseluruhan pekerjaannya, mengadakan perhubungan kelamin yang normal atau tidak normal dengan berbagai jenis orang, yang sejenis atau berlawanan jenis dengan pelacur itu”.

  6. Commenge mengatakan: “Prostitusi atau pelacuran itu adalah suatu perbuatan seorang wanita memperdagangkan atau menjual tubuhnya, yang dilakukan untuk memperoleh pembayaran dari laki-laki yang datang; dan wanita tersebut tidak ada pencarian nafkah lainnya kecuali diperolehnya dari perhubungan sebentar-sebentar dengan banyak orang”.

Jadi yang dimaksud dengan prostitusi, pelacuran, penjajaan sex atau persundalan adalah: “Peristiwa penyerahan oleh wanita kepada banyak laki-laki (lebih dari satu) dengan imbalan pembayaran guna disetubuhinya dan sebagai pemuas nafsu sex si pembayar, yang dilakukan di luar pernikahan”. Sedangkan yang dimaksud dengan pelacur adalah wanita yang pekerjaannya menjual diri kepada siapapun saja atau banyak laki-laki yang membutuhkan pemuasan sexuil.

Dalam kegiatan pelacuran tersebut terdapat pula germo yang berperan penting. Adapun yang dimaksud dengan germo adalah orang (biasanya adalah laki-laki atau perempuan) yang mata pencahariannya baik sambilan maupun sepenuhnya menyediakan, mengadakan atau turut serta mengadakan, membiayai, menyewakan, membuka dan memimpin serta mengatur tempat untuk bersetubuh. Dan dari pekerjaan ini sang germo mendapat sebagian (besar) dari hasil uang yang diperoleh wanita pelacur.

Atau dengan kata lain germo atau micukari adalah orang yang pekerjaannya memudahkan atau memungkinkan orang lain (laki-laki) untuk mengadakan atau memungkinkan hubungan kelamin dengan pihak ketiga (wanita), yang lewat cara kerja ini sang germo mendapat bagian hasil yang diperoleh wanita dari laki-laki yang menyetubuhinya. Sang germo masih terdapat pihak-pihak yang terlibat dalam pelacuran seperti pedagang atau penjual wanita dan calo atau perantara yang mempertemukan wanita pelacur dengan si pemakainya.

PROSTITUSI DAN GEJALA SOSIAL

Masyarakat seolah-olah sudah memiliki semacam kesepakatan ini, yaitu memberikan warna hitam terhadapnya, kehidupan yang berlumpur dan bernoda yang dikutuk masyarakat. Tetapi disisi lain, dilihat dunia pelacuran menjanjikan sejuta impian. Impian yang harus ditebus dengan cara yang total oleh wanita-wanita yang ingin mewujudkannya dalam mempertahankan realitasnya dan keluarganya. Sementara para ahli ilmu sosial sepakat mengkategorikan pelacuran ini kedalam “Patologi Sosial” atau penyakit masyarakat yang harus diupayakan penanggulangannya.

Prostitusi dipandang dari segi kehidupan sosial, seperti yang dikatakan J. Verkuyl bahwa: “Kita melarang pelacuran, tetapi sebaliknya kita dapat terima juga sebagai sesuatu yang tak dapat dielakkan .... kita memandang pelacuran sebagai sesuatu yang hina tetapi sebaliknya kita hargai pula sebagai katup pengamanan yang sangat diperlukan.

Pemisahan lain juga diperlukan antara pelacuran secara keseluruhan (yang jelas dikutuk) dan si pelacur sendiri sebagai pribadi dengan liku-liku sejarah dan latar belakang hidupnya masing-masing; yang tidak jarang menjadi korban suatu keadaan. Pelacuran diperlukan sebagai semacam saluran yang kotor agar tidak mengganggu masyarakat secara keseluruhan. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Aquinas yang menyitir pandangan Agustinus: “Daarom zegt Agustinus, dat de hoer in de wereld de zelfde rol speelt als het riool wij en gij zul het palais vol stank gemaakt hebben en het overeenkoms tige geldt voor het groonsop. Heen de hoeren uit de wereld weg. En gij zult er de oorzaak van zijn, dat vol ontucht gevorden is.” (Itu sebabnya menurut Agustinus pelacuran adalah sama pentingnya dengan selokan atau riool di dalam sebuah istana. Mungkin tanpa selokan sebuah istana indah atau bagaimanapun megahnya lambat laut akan mesum karena tidak ada jalan untuk membuang kotoran didalamnya).

Demikianlah pelacuran berfungsi untuk menyelamatkan “bangunan istana megah” alias bangunan masyarakat.

DINAMIKA PROSTITUSI DALAM MASYARAKAT

Pola Prostitusi

Dalam bagian ini akan diketengahkan secara garis besar beberapa pola prostitusi sebagai berikut:

  1. Pelacur Bordil: Yaitu praktek pelacuran, dimana para pelacur dapat dijumpai di tempat-tempat tertentu, berupa rumah-rumah yang dinamakan bordil, yang mana umumnya di tiap bordil dijumpai dimiliki oleh orang-orang yang namanya germo.

  2. Pelacur Panggilan (Call Girl Prostitution): Praktek pelacuran, dimana si pelacur dipanggil oleh di pemesan ke tempat lain yang telah ditentukan, mungkin di hotel atau wisma di daerah pariwisata. Pelacuran panggilan biasanya dikoordinir secara rapi dan terselubung. Namun ada pula wanita-wanita yang secara individual berprofesi sebagai “gadis panggilan” yang biasanya dihubungi pertelepon atau perantara-perantara (calo-calo)

  3. Pelacuran Jalan (Street Prostitution): Ini merupakan bentuk prostitusi yang menyolok. Di kota-kota besar kerapkali orang dengan mudah dapat menjumpai wanita yang berdandan dan berias menyolok, seolah-olah menjajakan diri, untuk dibawa oleh yang menghendakinya. Biasanya pelacur yang dijalan dibawa ke hotel-hotel murahan, atau ke bordil atau kemana saja sesuka yang membawa.

Di samping itu terdapat prostitusi “Prostitusi Semu” atau prostitusi terselubung, biasanya berkedok pada beberapa kegiatan yang diijinkan atau diabaikan seperti umpamanya tukang pijat muda dan cantik yang menunggu di hotel-hotel ada diantaranya yang melakukan pelayanan lebih dari sekedar memijat, juga di beberapa tempat-tempat mandi uap pun ada seperti yang di klab-klab diantaranya yang melakukan tugas sampingan lebih sekedar dansa atau sekedar teman minum.

Penggolongan Pelacur

Walter Reckless membagi pelacur-pelacur dalam beberapa golongan sebagai berikut:

  1. Brothel Prostitute. Cara pelacuran ini adalah praktek-praktek pelacuran dimana pelanggan datang ke bordil-bordil. Si pelacur diatur oleh germo pemilik bordil, sehingga penghasilannya sebagian untuk germonya, mereka hanya menerima 40% atau mungkin lebih kecil lagi bila si germo membiayai kehidupan pelacur di rumahnya.

  2. Call-girl Prostitute. Yaitu pelacur yang biasanya diundang atau dipakai ke hotel-hotel, di tempat tinggal si pemesannya, mereka dihubungi melalui perantaraannya atau pertelpon. Sebagian dari hasil biasanya dipotong beberapa prosen dari hasilnya oleh pelayan. Call-girl dikategorikan sebagai semi-profesional.

  3. Street or Public Prostitute. Yaitu pelacuran dimana si pelacur dalam mencari kliennya di jalanan atau tempat-tempat umum, selanjutnya menuju tempat yang mereka tentukan. Kadang-kadang juga di kendaraan kliennya.

  4. Unargonised Profesional Prostitute. Suatu cara dimana si pelacur beroperasi di tempat yang disewanya, mempunyai pelindung-pelindung, dimana sopir taksi bertindak sebagai perantara khusus.

Burnes and Teeter dalam Horizon in Criminology, Ben Reitman menyebut beberapa jenis pelacuran sebagai berikut: Juvehile, Potential, Amaetur, Youth profesional, Old Profesional, Boulevard women or gold-diggers, Field wolkers or street wolkers, Bats or Suoranmanted, Loose married women, Call girl.

Pelacuran meliputi yang dilakukan secara terang-terangan dan secara diam-diam. Dalam golongan pertama dapat dimasukkan pelacur dalam arti sempit, yang menjalankan pelacuran baik sebagai pekerjaan yang tetap atau tidak tetap. Menurut tempat dan tarif yang mereka pungut, maka mereka dapat dibagi lagi dalam 3 golongan yaitu:

  1. Golongan rendah. (a) Pelacur yang bergelandangan sepanjang tempat-tempat umum dan bisa disebut street prostitute. (b) Pelacur yang bersarang di tempat pelacuran di kampung atau di pinggir kota (hoerekrotten): tarifnya amat rendah. Sebagai langganan umumnya adalah buruh-buruh pabrik, pedagang kecil, tukang becak yang berpenghasilan kecil. Tetapi kadang-kadang terdapat pula tingkat yang punya duit atau pemuda-pemuda iseng yang hanya ingin melepaskan sexuilnya dengan pelacur-pelacur tersebut. Golongan ini merupakan bahaya dari masyarakat baik oleh karena itu sebagian besar dihinggapi penyakit kelamin karena tidak ditempatkan dibawah pengawasan dokter, maupun karena merusak jiwa dan kesehatan pemuda-pemuda yang berdarah keras.

  2. Golongan Menengah. Pelacuran yang bersarang di rumah-rumah penginapan atau rumah-rumah bordil yang cukup baik miliunya biasanya tempangnya, berparas cantik, berdandan baik dan mempunyai tingkah laku yang lebih sopan, tarifnya lebih tinggi dari golongan (a), yang menjadi lagi umumnya yang berduit. Pada golongan ini dapat dimasukkan pula pelacur yang terdapat di kota-kota pelabuhan yang mencari mangsanya dikala pelaut atau orang asing yang bermukim. Karena mereka itu sudah pengertiannya tentang pemeliharaan kesehatan dan mempunyai kemampuan finansial melaksanakannya maka tidak sedikit jumlahnya atas kemauan sendiri pada waktu-waktu tertentu memeriksakan dirinya ke dokter. Dilihat dari sudut medis bahaya terhadap penularan penyakit kelamin dibanding dengan golongan rendah agak berkurang.

  3. Golongan atas. Pelacur yang bersarang di hotel-hotel besar, rumah-rumah makan yang mentereng, atau pelacur yang mempunyai rumah sendiri. Paras pakaiannya lebih sempurna jika dibandingkan dengan golongan menengah, tarifnya lebih tinggi. Didalam golongan ini dapat dimasukkan pelacur-pelacur yang menyediakan dirinya untuk dipanggil atau pesanan, umumnya mereka memperhatikan perawatan medis.

Dalam golongan kedua dapat disebut mereka yang tidak secara terang-terangan tetapi secara diam-diam melakukan pelacuran, mereka yang sekedar mencari tambahan penghasilan merupakan amatrices, luasnya pelacuran semacam ini sukar diketahui dan merupakan bahaya yang tak tampak. Dalam golongan ketiga dapat dimasukkan mereka yang melakukan pelacuran sekedar mencari pengalaman, yang bisa dilakukan oleh orang baik-baik, kadang-kadang bersuami, dengan maksud untuk peningkatan status sosialnya. Di samping golongan-golongan tersebut terdapat pula disebut verkapte prostitutie yang bercorak ragamnya dari seorang babu sampai istri-istri simpanan.

Bentuk Prostitusi

  1. Pelacuran Yang Tidak Diorganisir, si pelacur bebas menentukan tindakannya baik dalam pembiayaan kebutuhan hidupnya maupun dalam penerimaan uang. Paling-paling ia membayar untuk perantara dan lain-lain, ia memodali dirinya untuk keperluannya dan tidak terikat oleh suatu pihak. Kalau kebetulan yang berada di bordil atau rumah seorang germopun hanya perjanjian dengan si germo saja mengenai pembagian hasil dan lain-lain. Namun setiap saat ia bisa kembali ke kampung atau pergi kemana saja.

  2. Pelacur Yang Diorganisir, pelacur-pelacur setelah datang ke suatu tempat tertentu, terikat atau mengikatkan diri pada suatu “pengusaha” tertentu yang akan mengurus segala sesuatunya dan menentukan tempat dimana si pelacur harus menjalankan peranannya. Para pelacur tidak berhubungan diri dengan masyarakat sekitarnya maupun dengan yang berwajib. Segalanya diurus oleh “si pengusaha” yang mempunyai kaki tangan yang bertindak sebagai perantara, pelindung dan lain-lain. Dalam suatu pelacuran yang terorganisir ini seorang pelacur yang telah diikat oleh organisasinya merupakan alat belaka, mereka tak berdaya dan leluasa untuk ebrtindak menurut kehendak sendiri.

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PROSTITUSI

Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang memungkinkan timbulnya pelacuran sebagaimana telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, adalah berhubungan dengan sifat-sifat alami manusia terutama faktor biologis. A. A. W. Brower berkata bahwa “jabatan” pelacur sudah sangat tua, sejak pernikahan menjadi suatu lembaga, sudah mulai terjadi pelacuran. Alasan utama katanya adalah alasan biologis. Kalau pernikahan menjadi lembaga, sang laki-laki harus menguasai dirinya pada waktu istrinya mengandung tua atau sakit. Karena tidak setiap orang sanggup untuk menguasai ddirinya terpaksa bapak mencari outlet (jalan keluar), karena “menguasai diri” tidak begitu gampang seperti yang diajarkan para pemuka agama. Baik tidak baik nyatanya berabad-abad para pameget memakai suatu lembaga yang resti atau tidak resmi : pelacuran.

George Riley Scott dalam buku “History of Prostitution” mengatakan bahwa: “Sebab yang sebenarnya dari pelacuran adalah keinginan seksuil laki-laki. Kegiatan ini menciptakan kehendak berzinah diluar perkawinan, dan kenyataan bahwa laki-laki itu bersedia membayar keperluan pemuas seksuilnya. Inilah yang menimbulkan adanya pelacuran profesionil”.

Seandainya tertutup kemungkinan penyaluran keinginan biologis melalui pelacuran ini, maka hal ini dapat menjadi ancaman yang cukup menggelsahkan dimana gadis-gadis dan wanita akan takut berada sendirian diluar rumah; seperti yang dikemukakan oleh A. Hijmans dalam bukunya yang berjudul “Vrouw en Man in De Prostitutie” bahwa : “Ik will U wel verklaren, dat ikut het niet wagen zou zels op klaarlichte dag met mijnvrouw en dochter to wan delen in een stad, waar geen bordelen zijn”. (Suka tidak suka seolah-olah pelacuran merupakan sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan masyarakat, sebagai penyaluran sesuatu yang tidak baik, yang kotor agar tidak mengganggu masyarakat secara keseluruhan).

Thomas Aquinas mensitir pandangan yang dikemukakan Agustinus bahwa pelacuran sama pentingnya dengan selokan atau riool didalam sebuah istana. Mungkin tanpa selokan sebuah istana indah atau bagaimanapun megahnya lambat laun akan mesum karena tidak ada jalan untuk membuang kotoran yang ada di dalam istana itu.

Riley Scott beranggapan bahwa laki-laki pada hakekatnya adalah poligam dalam relasi hubungan dengan kenyataan sosial maka seolah-olah terjadi suatu perestuan sesuatu yang tidak layak dalam masyarakat, yang memungkinkan tercegahnya ketidakwajaran sampai batas-batas yang minimal. Pelacuran merupakan jalan keluar yang mentralisir ketegangan-ketegangan yang ditimbulkan oleh perkawinan monogami yang keras, yang mana seakan-akan ada hubungan kausalitas antara penegakan norma perkawinan dan penerimaan secara diam-diam prostitusi di lain pihak.

Memang kodrat manusia dengan sifat-sifat yang melekat pada pribadinya tidak dapat begitu saja diatur oleh patokan norma. Sehingga masuk akal kalau pelacuran adalah jalan keluar dalam menyalurkan perkawinan monogami yang keras tadi. Tetapi mau tidak mau orang juga harus mengakui terdapat laki-laki yang berpoligami berdasarkan penghalalan hukum dan agama terdapat diantaranya yang juag berhubungan dengan pelacur.

Alasan-alasan mengapa seorang laki-laki pergi ke pelacuran

Kingsey dari hasil penelitiannya terhadap dua belas ribu orang, mengemukakan alasan-alasan mengapa laki-laki berhubungan dengan pelacuran sebagai berikut:

  1. Sebab tidak atau kurangnya jalan keluar bagi kebutuhan seksuil mereka.

  2. Sebab berhubungan dengan pelacur, lebih mudah dan lebih murah dianggap oleh mereka yang butuh penyaluran.

  3. Sebab berhubungan dengan pelacur secara bayaran, begitu selesai dapat segera melupakannya.

Alasan wanita menjadi pelacur

  1. Karena tekanan ekonomi, seorang tanpa pekerjaan tentunya tidak akan memperoleh penghasilan untuk nafkahnya, maka terpaksalah mereka untuk hidup menjual diri sendiri dengan jalan dan cara yang paling mudah.

  2. Karena tidak puas dengan posisi yang ada.

  3. Walau sudah mempunyai pekerjaan, tetapi belum puas karena tidak sanggup membeli barang-barang perhiasan yang bagus-bagus.

  4. Karena kebodohan, tidak mempunyai pendidikan dan intelegensi

  5. Karena cacat dalam jiwanya

  6. Karena sakit hati, ditinggalkan oleh suami atau si suami beristri lagi sedangkan dia tak rela dimadu.

  7. Karena tidak puas dengan kehidupan sex, sebab bersifat hypersexuil.

Keenam faktor tersebut yang secara umum dikenal sebagai sebab atau alasan seorang perempuan terjun dalam pentas pelacuran. Seorang pekerja sosial Inggris telah mengadakan penelitian dan dimuat dalam buku “Women of The Streets” tentang keadaan individu dan sosial yang menyebabkan seorang wanita menjadi pelacur sebagai berikut:

  1. Rasa terasing dari pergaulan atau rasa diasingkan dalam pergaulan hidup pada suatu masa tertentu di dalam hidupnya.

  2. Faktor-faktor dalam aktif dalam keadaan sebelum diputuskan untuk melacurkan diri; dalam kenyataan ini merupakan sebab langsung, tetapi hampir selalu dan hanya mungkin terjadi karena keadaan sebelumnya yang memungkinkan hal tersebut terjadi.

  3. Tergantung dari kepribadian wanita itu sendiri, yang berhubungan erat dengan past experience, plus present situation, plus personal interpretation of them both.

SYMTOM PROSTITUSI

Dengan pendekatan deskriptif untuk pengungkapan fenomena sosial yang bernama pelacuran atau prostitusi ini, sudah dapat diperkirakan symtom yang dominan sebagai faktor yang mendorong timbulnya pelacuran.

Faktor-faktor tersebut adalah faktor konditional sifat alami manusia terutama di bidang biologis sexuil antara nafsu pria dan wanita yang mana pria umumnya bersifat poligamis dihadapkan dengan kondisi wanita yang tidak selalu sanggup menerima dan memberi penyaluran nafsu laki-laki, seperti umpamanya masa datang bulan, masa kehamilan, sakit dan lain-lain.

Faktor konditionil yang terletak pada kehidupan manusiawi pria-wanita dihadapkan dengan faktor-faktor sosial-ekonomi dan kulturil melahirkan beberapa faktor yang mendorong laki-laki pergi ke pelacuran dan faktor-faktor yang mendorong wanita terdorong menjadi pelacur, sebagaimana diantaranya telah dikemukakan pendapat-pendapat yang telah diuraikan di atas dan tercermin dalam kondisi psikologis masyarakat tertentu.

Buku “Women of The Street” karya C. H. Rolph, tentang hasil penelitian yang berhubungan dengan pihak laki-laki dan wanita yang terjalin dalam praktek pelacuran sebagai berikut:

  1. The main factor ininfluencing their (is the prostitutes) activity is the number of man in search of prostitute and the amount of money the are prepared to spend on her. (Faktor utama yang mempengaruhi activiteit mereka ialah bilangan laki-laki yang mencari mereka dan jumlah uang yang disediakan laki-laki untuk si pelacur).

  2. Many prostitutes receive costumer who confess that they partially impotent with other women; I have met men who find relief in relations with a prostitute, for she is a women who the can despise and so dominate. The prostitute in turn is completely without physical or emotional for the man; in her ability to remain detached from relationship, she viluws the apparent self indulgance of the man with distate. There is tranference of guilt to the partner, the man frequently criticizies the prostitutex’s in fedelity to his wife. (Banyak pelacur menerima tamu yang mengakui bahwa mereka sebagian impoten dengan perempuan lain; saya bertemu dengan laki-laki yang memperoleh kelegaan dalam berhubungan dengan wanita pelacur, karena wanita pelacur adalah perempuan yang dapat mereka hinakan dan dengan ini mereka kuasai, berbuat sekehendak hati. Wanita pelacur sebaliknya adalah tidak mempunyai perasaan tertarik atau bernafsu terhadap laki-laki itu sama sekali; dalam kesanggupannya untuk melepaskan dirinya dari berhubungan, maka perempuan memandang si laki-laki memuaskan dirinya sendiri dengan nyata dan dengan perasaan jijik. Ada perasaan salah menyalahkan diantara pelacur dan tamunya. Si hidung belang sering mengecam si wanita pelacur sebaliknya menyalahkan si tamu karena tidak setia kepada istrinya

  3. Olive’s phsycal indefference led man to say gecasionally, “put a bit of life into it”, to wich she would reply, “Why should I?” it’s your moner; I want; she said generally however the man kut as indefferenct to her. (Sikap dingin dari seorang pelacur yang bernama Olive’s menyebabkan laki-laki kadang-kadang berkata “Ayo, aktif sedikit dong”, yang akan dijawabnya dengan, “Kenapa begitu? Uang tuanlah yang hanya saya ingini; “ dia berkata begitu pada umumnya untuk menunjukkan bagaimana tidak ada artinya laki-laki itu buat dia).

Symtom utama timbulnya pelacuran adalah terletak pada laki-laki ialah sifat biologisnya, yaitu keinginan pada perempuan dan kesediaannya untuk membayar, dan pada si pelacur kebutuhan pada tamunya adalah faktor uangnya dan tidak terletak pada faktor sexuilnya (pada umumnya; memang kekecualian tentu ada yang berhubungannya dengan faktor seks, dimana si pelacur mencintai kepada tamu-tamu tertentu, yang kadang-kadang jatuh cinta dan kawin).

Symtom prostitusi yang erat melakat pada ciri-ciri alamiah manusia laki-laki dan wanita serta berhubungan dengan berbagai aspek-aspek kehidupan masyarakat, mendesak adanya “permintaan yang dipenuhi oleh penawaran dalam pentas pelacuran sepanjang masa; sehingga berbagai cara tindakan tidak pernah berhasil melenyapkan sama sekali gejala sosial yang bernama pelacuran”.

PELACURAN MENURUT HUKUM PIDANA

Prostitusi merupakan dilema sosial yang universal yang juga dihadapi oleh Indonesia dimana KUHP tidak berdaya untuk diterapkan terhadap prostitusi, karena sangat minim dan sederhana sekali kaidah-kaidah yang berhubungan dengan masalah prostitusi. Pasal dalam KUHP yang mengatur mengenai prostitusi hanya tiga pasal yaitu Pasal 296, Pasal 297 dan Pasal 506 KUHP dan kenyataan mengenai KUHP sendiri tidak secara tegas mengancam hukuman pidana kepada si pelacur. Hal ini mungkin bahwa pembuat Undang-undang memahami si pelacur mungkin sebagian besar justru adalah korban situasi atau keadaan. Alasan tersebut di ataslah yang menyebabkan berbagai kota besar di Indonesia atas persetujuan Pemerintah Daerahnya mengeluarkan berbagai Perda yang mengatur mengenai pelacuran. Khususnya di Kodia Semarang dikeluarkan Perda No. U163/1/5 tahun 1958 yang melarang adanya pelacuran di jalan dan adanya kebijakan lokalisasi untuk rehabilitasi dan resosialisasi. Usaha itu ditempuh akibat meningkatnya angka kriminalitas seksual akibat dikeluarkannya Perda Kota Besar Semarang tanggal 4 Juni 1956 tentang Penutupan Tempat Pelacuran (diundangkan dalam Lembaran Propinsi Jawa Tengah tanggal 22 Mei 1956; tambahan serie B. No. 7).

Apabila dikaji lebih lanjut, KUHP benar-benar diterapkan terhadap para pelaku prostitusi, maka penjara-penjara akan kewalahan menampung mereka, sehingga dilakukan beberapa kebijakanmisalnya lokalisasi pelacuran, hal ini merupakan faktor kedua yang menyebabkan timbulnya berbagai lokalisasi pelacuran di berbagai kota di Indonesia, hal ini dilakukan karena adanya larangan terhadap pelanggaran kesusilaan seperti termaktub dalam Pasal 532 KUHP. Sehingga KUHP punya peranan ganda yakni sebagai pembebas terhadap tindakan prostitusi dan juga sekaligus sebagai alat pengendalian terhadap praktek prostitusi.

Ali Akbar. Pelacuran dan Penyakit Kelamin, Kumpulan Prasaran Muker Kesejahteraan Moral, JASOS, 1960

J. Verkuyl, Penyakit Kelamin dan Kesehatan Rakyat Mengenai Rohani dan Susilanya, Symposium Universitas Airlangga I. PT. Penerbitan Universitas Airlangga, Surabaya 1987.

Kartini Kartono, Pathologi Sosial I, CV. Rajawali, Jakarta, 1981

Kusumanto. Beberapa Rehabilitasi Prostitusi Ditinjau dari Sudut Psycopathologi, Kumpulan Prasaran Musyawarah Untuk Kesejahteraan Moral, JASOS, 1960.

M.A.W Brouwer. Antara Senyum dan Menangis, Hormatilah Pelacur, Gramedia, Jakarta.

Paul Moedigdo Moeliono, Kumpulan Prasaran Musyawarah Untuk Kesejahteraan Moral, JASOS, 1960.

R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal, Politea, Bogor, 1964.

Soedjono D. Pelacuran Ditinjau dari Segi Hukum dan Kenyataan dalam Masyarakat, Karya Nusantara, Bandung, 1977

Soedjono D. Konsepsi Kriminologi dalam Penaggulangan Kejahatan, Alumni, Bandung 1990

Soedjono D, Pathologi Sosial, Alumni Bandung 1990

Soedjono Partodidjojo. Pemberantasan Pelacuran, Kumpulan Prasaran Musyawarah untuk Kesejahteraan Sosial-JASOS, Bagian Penyuluhan, 1960.

Siregar H. Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Grafiti Pers, Jakarta, 1983.

Sudarto, Hukum Pidana Jilid IA, Fak. Hukum Universitas Diponegoro, Semarang 1975

Tjahjo Pernomo dan Ashadi Siregar. Dolly, Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Komplek Pelacuran, Grafiti Pers, Jakarta.

Wirjono Prodjodikoro. Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia, PT. Eresco, Bandung. 1995.

Gelombang Electroencephalography (EEG) Pada Anak Kesulitan Belajar

(kesimpulan) Kelainan EEG diduga berhubungan dengan masalah kognitif bila ada kelainan fungsional atau struktural otak dan ini menyebabkan terjadinya kesulitan belajar. Sebab itu sejak ditemukan Electroencephalography (EEG) oleh Hans Berger (1929), EEG merupakan alat bantu untuk pemeriksaan neurofisiologis aktivitas otak dan menjadi dasar untuk pemeriksaan penunjang pada anak dengan kesulitan belajar.

Lepasan gelombang epileptiform selama perekaman EEG akan diikuti penurunan fungsi kognitif. Penelitian lain juga mendukung adanya perubahan gelombang EEG pada anak dengan kesulitan membaca (disleksia). Gelombang ireguler pada rekaman EEG anak disleksia yang sesuai dengan tingkat kesulitan membacanya.

Karena itu abnormalitas gelombang EEG pada anak dengan kesulitan belajar dianggap sebagai bukti utama dari disfungsi serebral. Perubahan kognitif sementara yang menyertai disritmia serebral intermiten memenuhi definisi serangan epilepsi, dan cukup untuk menjadi dasar pemberian terapi obat anti epilepsi (OAE).

Lamotrigin merupakan OAE baru yang dipakai sebagai terapi tambahan tetapi dapat dipakai sebagai monoterapi dengan efek samping minimal. Lamotrigin dapat mengatasi kejang juga memperbaiki abnormalitas gelombang EEG interiktal serta mempunyai pengaruh positif pada kualitas hidup penderita karena dapat memperbaiki fungsi kognitif.

Lamotrigin menekan aktivitas epileptiform interiktal sehingga penderita yang gelombang epileptiformnya berkurang mengalami perubahan tingkah laku. Hal ini juga didapati pada penderita epilepsi yang memakai Lamotrigin dan terbukti memberikan perbaikan performance kognitif.

KESULITAN BELAJAR

Kesulitan belajar sudah diketahui sekitar 100 tahun yang lalu. Bahkan sejak tahun 1960 istilah kesulitan belajar digunakan sebagai identifikasi pada anak dengan kesulitan membaca (disleksia), DMO, hambatan persepsi, disfungsi persepsi motorik, gangguan bahasa spesifik serta prestasi belajar rendah dibidang tertentu. Seseorang disebut menderita kesulitan belajar bila prestasi belajarnya berada jauh dibawah yang diharapkan dan tidak sesuai dengan tingkat intelegensinya.

Kesulitan belajar merupakan kumpulan dari gangguan heterogen yang bisa timbul berupa gangguan bahasa lisan, bahasa baca, bahasa tulis, juga berhitung. Dalam praktek sering dijumpai kesulitan belajar pada bidang yang satu bisa juga berhubungan dengan bidang yang lainnya.

Penyebab kesulitan belajar berhubungan dengan banyak hal. Beberapa teori mengatakan, kesulitan belajar disebabkan oleh gangguan struktural dan fungsi otak yang minimal dan disebut DMO. Anak dengan DMO mempunyai intelegensia bervariasi, mulai dari mendekati rata-rata, rata-rata atau diatas rata- rata (tinggi) dan disertai kesulitan belajar spesifik atau kelainan perilaku, juga penyimpangan fungsi SSP.

DMO seringkali tidak dapat dideteksi dengan pemeriksaan alat canggih seperti CT scan kepala, MRI, dan PET Scan karena yang terganggu terjadi ditingkat sel seperti akson, dendrit dan neurotransmiter. Pemeriksaan diagnostik pada DMO yang paling sesuai adalah pemeriksaan neuropsikologik melalui wawancara dan tes khusus, yang juga diikuti pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa EEG dan Brain mapping.

Kesulitan belajar dipengaruhi juga oleh gangguan pada pemusatan perhatian, daya ingat, serta aspek-aspek lain yang juga turut berpengaruh seperti:

  1. Status Perkembangan Otak.
  2. Status Panca indra
  3. Status Lingkungan Psikososial

The Federal Register United State Office Of Education (1977) membuat patokan dalam menentukan kesulitan belajar yaitu apabila terdapat ketidak cocokkan yang berat antara prestasi belajar yang dicapai dengan kemampuan intelektual yang dimiliki dalam satu atau lebih bidang seperti ekspresi oral, komprehensi mendengar, ekspresi tertulis, kecakapan membaca dasar, komprehensi membaca, kalkulasi matematik dan penalaran matematik.

ELEKTROENSEFALOGRAFI EEG

Dalam melakukan fungsinya sehari-hari, neuron-neuron yang ada diotak menghantarkan impuls saraf satu dengan yang lain, baik dari korteks serebri ke perifer maupun sebaliknya. Aktifitas listrik ini bersifat ritmik, terus menerus dan diduga berasal dari talamus yang berfungsi semacam pacemaker, yang dipancarkan ke korteks serebri melalui neuron dan sinaps-sinapsnya.

Intensitas kegiatan listrik ini berubah sesuai dengan tingkat aktivitas otak, tetapi selalu terdapat aktivitas listrik dasar yang bersumber dari talamus tadi. Untuk merekam aktivitas listrik tersebut, dipakai alat Elektroensefalografi (EEG) yang dapat merekam aktivitas listrik setelah sampai di korteks.

Tehnik EEG

Rekaman EEG umumnya melalui elektroda yang diletakkan di kulit kepala tetapi dapat juga ditanam intra kranial. Penempelan elektroda sesuai dengan titik-titik yang sudah ditentukan pada kulit kepala dan akan mencatat perbedaan potensial listrik diantara titik-titik tersebut.

Penempatan elektroda di kulit kepala mengikuti sistem yang sudah ditentukan yaitu sistem 10-20, dengan melihat kode huruf yang menyatakan lokasi dan angka ganjil menunjukan sisi kiri serta angka genap menunjukan sisi kanan. Penempatan elektroda yang tepat dan baik merupakan syarat utama untuk mendapatkan hasil rekaman EEG yang baik dan dapat dipercaya. Disamping itu kebersihan kulit kepala, kondisi elektroda, mesin EEG dan kepatuhan anak saat perekaman juga sangat berpengaruh untuk mendapatkan hasil yang baik.

Patofisiologi Gelombang Epileptiform

Patofisiologi seluler yang mendasari gelombang paku fokal diyakini sebagai Paroksismal Depolarization Shift (PDS). Depolarisasi neuron yang berkelanjutan yang diperantarai oleh masuknya ion kalsium mendasari serangkaian aksi potensial masuknya natrium. Repolarisasi dan hiperpolarisasi, terutama diperantarai oleh ion kalium yang mengikuti depolarisasi berkelanjutan.

Pada perekaman EEG permukaan, akan terlihat gambaran gelombang selama masuknya ion kalium dan ion natrium yang berupa gambaran bentuk puncak negatif, yang akan turun kembali sampai ke dan dibawah garis dasar selama hiperpolarisasi dan akhirnya akan terlihat kembali kegaris dasar.

PDS berdasarkan rekaman sel tunggal ektraseluler dan intraseluler, tetapi pada keadan in vivo neuron-neuron hipokampus dan neokorteks sangat penting untuk menghasilkan lepasan listrik interiktal dan iktal. Neuron-neuron talamus dan korteks bertanggung jawab dalam menghasilkan kompleks paku – gelombang generalisata sebagai gelombang epileptiform.

Lepasan eksitatorik dan inhibitorik pada retikulum talamus, relay talamus, dan neuron piramidal neokorteks menghasilkan gelombang seperti sisir dan ritmik yang mendasari kompleks gelombang paku, sedangkan gelombang lambat pada kompleks gelombang tersebut merupakan inhibitorik.

Interpretasi

Setiap EEG harus dibaca sesubjektif mungkin. Idealnya pembaca harus menguraikan temuan-temuannya dan membuat diagnosis. Untuk menginterpretasikan hasil rekaman EEG yang harus diperhatikan adalah usia, tingkat kesadaran/status penderita saat diperiksa, urutan rekaman dan baru kemudian menganalisa hasil meliputi; mengenali artefak, aktivitas latar belakang gelombang terhadap usia, gambaran abnormal, serta menilai perubahan akibat provokasi.

Gambaran abnormal pada EEG dapat berupa gelombang lambat, tajam, runcing, spike-wave, yang dapat muncul secara lateralisasi, fokal, general maupun paroksismal. Gelombang epileptiform dapat muncul pada orang yang epilepsi maupun yang tidak ada klinis epilepsi ini disebut epileptiform sub klinis.

Yang dimaksud gelombang epileptiform adalah gelombang tajam, runcing, dengan atau tanpa diikuti gelombang lambat, dan gelombang tajam, bisa muncul tunggal atau dalam rangkaian letupan yang bersifat umum atau paroksismal.

GAMBARAN EEG PADA KESULITAN MEMBACA

Dalam penelitian ini salah satu hal yang akan dilihat adalah gambaran EEG pada anak kesulitan membaca. Menurut beberapa penelitian terdahulu didapatkan adanya hubungan antara kelainan EEG dengan masalah fungsi kognitif yang menyebabkan kesulitan belajar. Karena itu pemeriksaan EEG banyak dilakukan untuk mendiagnosis kesulitan belajar pada anak. Pada DMO yang menyebabkan kesulitan belajar dapat terlihat adanya perubahan pada hasil EEG berupa gelombang lambat yang tidak khas dan konstan.

Kesulitan belajar dapat ditemukan pada anak dengan hasil EEG gelombang epileptiform yang disertai kejang maupun tanpa kejang. Kondisi tanpa kejang ini dianggap sebagai ”subklinis” atau ”interiktal” atau ” lepasan larval”.

Gambaran abnormalitas gelombang EEG dapat berupa disorganisasi aktifitas latar belakang yang ringan dan lebih lambat dibandingkan dengan usia, juga adanya gambaran paroksismal yang ringan. Pada anak dengan gangguan tingkah laku ditemukan kurang lebih 40%-50% EEG-nya abnormal dengan aktifitas gelombang dasar lebih lambat dan difus, tetapi sering predominan didaerah pretemporal, sehingga sering terjadi asimetris perlambatan pada hemisfere kiri.

Penelitian lain juga mendukung adanya perubahan gelombang EEG pada anak-anak kesulitan membaca., berhitung, dan hiperkinetik, yang menunjukan abnormalitas. Ditemukan gelombang ireguler pada hasil rekaman EEG anak disleksia yang sesuai dengan tingkat kesulitan membacanya. Ditemukan juga ada kecenderungan perubahan gelombang EEG kuantitatif yang menunjukan hubungan neuropsikologis penderita disleksia dengan efek dari hasil terapi membaca.

Profil tes neuropsikologi yang abnomal pada murid dengan gelombang epileptiform subklinis, bahkan pada beberapa pemeriksaan psikologi kontinyu ditemukan episode singkat gangguan fungsi kognitif, selama munculnya gelombang epileptiform.

Karena itu Geswid berpendapat pemeriksaan EEG merupakan alat analisa yang bisa membantu mendiagnosis dan memberi informasi adanya disfungsi serebral yang menyebabkan terjadinya gangguan fungsi kognitif. Sedangkan Rapin mengatakan pemeriksaan EEG sangat perlu dilakukan pada anak dengan suspek disfungsi otak untuk mendeteksi adanya discharge yang tidak berhubungan dengan klinis kejang. Dan menurut Faber EEG dapat mendeteksi lebih dini jika ada perubahan listrik di neuron sebelum terjadi proses patologis yang menimbulkan kerusakan diotak.

Abnormalitas Gelombang EEG Fungsi Kognitif Dan Kesulitan Membaca

Telah diketahui terdapat hubungan antara abnormalitas EEG dengan fungsi kognitif dan ini berpengaruh dalam terjadinya kesulitan belajar. Dilaporkan bahwa gelombang epileptiform akan berefek secara langsung pada proses informasi, memori jangka pendek, pemecahan masalah, abstraksi, dan pemusatan perhatian, karena itu gangguan fungsi kognitif dan kesulitan belajar dapat juga diakibatkan oleh adanya gelombang epileptiform subklinis.

Penelitian lain mengatakan, pemusatan perhatian sangat sensitif terhadap gelombang epileptiform. Gelombang epileptiform subklinis fokal dan multifokal menyebabkan gangguan yang lebih kecil pada fungsi kognitif dibandingkan dengan yang bersifat umum atau general.

Diketahui gelombang epileptiform yang timbul pada usia yang sangat muda (lebih awal) terutama dengan kejang akan mempengaruhi perkembangan otak dan pada jangka panjang akan berefek pada fungsi kognitif melalui inhibisi mitosis sel, proses mielinisasi yang terganggu, serta penurunan jumlah sel dan ukurannya.

Penelitian Aarts dkk membuktikan adanya defisit fungsi kognitif yang bersifat sementara selama terjadinya lepasan gelombang epileptiform subklinis. Hal ini dinamakan Transitory Cognitive Impairment (TCI). Pada TCI terdapat gangguan global dari kewaspadaan atau perhatian dan penurunan transmisi informasi. TCI digunakan untuk mendiagnosis timbulnya gelombang epileptiform yang terjadi simultan dengan penurunan skor tes fungsi kognitif dan ini dapat menjelaskan adanya kesulitan belajar. TCI juga berperan pada timbulnya abnormalitas profil pemeriksaan psikologis dan mengganggu aktifitas harian, seperti membaca dan mengemudi kendaraan. Sedangkan pada anak-anak berhubungan dengan gangguan tingkah laku. Di temukan gambaran TCI selama adanya gelombang epileptiform (subklinis) pada anak yang tidak epilepsi.

Tes “simple reaction time” yang digunakan oleh Aarts (1984), menemukan adanya penurunan fungsi kognitif yang hampir 50% selama timbulnya gelombang epileptiform subklinis saat perekaman EEG. Dengan demikian diketahui bahwa anak dengan gelombang epileptiform subklinis mengalami gangguan atau defisit fungsi kognitif.

Pelepasan gelombang epileptiform subklinis (tanpa kejang) dapat menurunkan fungsi kognitif walaupun hanya sementara sehingga dapat menyebabkan kesulitan belajar. Bahkan sebagian anak mengalami masalah penurunan fungsi kognitif spesifik disekolah walaupun gambaran EEG-nya hanya didapatkan gelombang epileptiform subklinis fokal.

Discharge di hemisfer kanan berhubungan dengan gangguan tes spasial, sedangkan discharge di hemisfer kiri berhubungan dengan kesalahan pada memori verbal.

Pada anak dengan discharge fokal di hemisfer kiri memiliki kemampuan membaca yang lebih rendah dibandingkan dengan yang memiliki fokus di hemisfer kanan. Sedangkan anak dengan fokus di temporal kiri mempunyai kemampuan aritmatika yang lebih rendah dibandingkan dengan fokus di temporal kanan. Selama membaca discharge epileptiform yang terjadi di hemisfer kiri lebih jarang dibandingkan hemisfer kanan. Penilaian tes membaca dapat digunakan sebagai alat diagnostik yang spesifik untuk mendeteksi keterlibatan discharge epileptiform pada fungsi kognitif.

Tahun 1988 Kasteleijn, meneliti efek dari gelombang epileptiform subklinis pada membaca, berhitung dan kemampuan motorik sisi kanan. Ditemukan terjadi gangguan pada kemampuan membaca yang signifikan yaitu berupa pengulangan, koreksi, penghilangan, pengurangan maupun penambahan pada cetusan gelombang epileptiform subklinis.

Perbandingan kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang merupakan tugas kognisi yang kompleks secara verbal maupun visuospasial. Pada berhitung atau aritmatik memerlukan kerja kedua hemisfer sehingga tidak terpengaruh efek lateralisasi dari gelombang epileptiform. Umumnya aktifitas fungsi kognitif menurunkan frekwensi gelombang epileptiform spontan.

Dapat disimpulkan bahwa banyak fungsi kognitif seperti perhatian, konsentrasi, fungsi bicara, kalkulasi, memori jangka pendek, proses transformasi dan informasi, pengaturan kewaspadaan, visuospasial, visuomotorik, dan gangguan tingkah laku sangat berhubungan erat dengan kelainan gelombang EEG yang dapat berupa:

  1. Gelombang epileptiform subklinis fokal, multifokal, umum, bersifat episodik.

  2. Abnormalitas pada gelombang dasar berupa ireguler dengan latar belakang gelombang yang lebih lambat dari usianya.

  3. Gelombang epileptiform subklinis yang menunjukkan lateralisasi.

Anak dengan gambaran kelainan EEG, berupa gelombang epileptiform subklinis dapat menyebabkan terjadinya kesulitan belajar karena terdapat gangguan fungsi kognitif yang berkepanjangan.

Terapi Pada Gelombang Epileptiform Sub-Klinis

Walaupun penurunan fungsi kognitif mungkin hanya bersifat sementara tetapi anak dapat mengalami frustrasi dan kehilangan rasa percaya diri dengan keadaan ini, sehingga akan berakibat sekolahnya terganggu. Selain itu banyak peneliti yang merasa yakin bahwa jika pelepasan gelombang epileptiform dibiarkan berlanjut untuk jangka panjang akan mengakibatkan defisit fungsi kognitif yang permanen.

Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian pada Electrical Status Epilepticus of Slow-Wave Sleep (ESES) dengan terapi obat anti epilepsi selama 36 bulan. Karena itu penting untuk melakukan terapi dini pada anak-anak dengan deteriorasi fungsi kognitif dan ESES pada rekaman EEG.

Terapi dengan obat-obat anti epilepsi terhadap anak dengan TCI akan menghasilkan perbaikan fungsi psikososial yang signifikan. Bahkan yang terakhir dikonfirmasikan bahwa mengurangi pelepasan gelombang epileptiform dengan obat anti epilepsi akan memperbaiki perilaku anak. Meskipun pada beberapa pasien terapi dengan obat anti epilepsi tidak dapat mengontrol kejangnya secara tuntas tetapi dapat mengontrol pelepasan gelombang paku sehinggga sangat bermanfaat untuk fungsi kognitifnya.

Anak-anak dengan kesulitan belajar yang ditandai gangguan fungsi kognitif dan berhubungan dengan abnormalitas rekaman EEG, berupa paroksismal gelombang epileptiform subklinis terutama yang mempunyai gelombang paku (tajam dan runcing) atau tajam lambat, memungkinkan untuk diberi terapi OAE dengan harapan dapat menekan gelombang epileptiform subklinis sehingga dapat memperbaiki fungsi kognitif.

Beberapa penelitian pembedahan untuk menyingkirkan sumber pelepasan gelombang epileptiform memberikan hasil kognisi yang baik pada sebagian pasien. Ditemukan juga perbaikan pada anak-anak dengan disleksia setelah dilakukan hemisferiktomi.

Hal-hal diatas ini dapat menjadi dasar bahwa gelombang epileptiform subklinis sebaiknya dikontrol atau dikurangi dengan berbagai cara supaya dapat memperbaiki fungsi kognitif sehingga kesulitan belajar dapat diatasi. Dalam penelitian ini akan dicoba untuk mengurangi gelombang epileptiform dengan salah satu OAE adjuvan seperti lamotrigin

Mekanisme Kerja Obat Anti Epilepsi

Serangan epilepsi menyebabkan kerusakan neuron, kerusakan ini tidak hanya timbul akibat hipoksia/iskemia, namun oleh mekanisme yang lebih spesifik. Otak menggunakan glukosa sebagai sumber utama energi, sedangkan Glutamat merupakan metabolit utama dalam metabolisme glukosa melalui siklus Krebs, sehingga glutamat beredar luas di jaringan otak maupun LCS. Peran Glutamat adalah sebagai bahan untuk sintesis protein dan peptida, juga sebagai prekusor dalam pembuatan GABA. Glutamat dikenal sebagai eksitotoksik yang bisa berdampak pada kerusakan dan kematian neuron.

Neuron mempunyai jenis reseptor glutamat yang berbeda-beda di permukaannya yaitu inotropik dan metabotropik. Reseptor inotropik yaitu AMPA, dan asam kainat/NMDA. Reseptor AMPA permeabel terhadap ion Na dan reaktif permeabel terhadap ion Ca. Reseptor kainat bila teraktivasi diduga akan diikuti dengan influks ion Ca. Reseptor NMDA menggunakan Mg sebagai ”penjaga pintu gerbang”, jika membran terdepolarisasi, maka ion Mg menepi, sedangkan kanal terbuka dan ion Ca masuk, ini memicu rantai kimiawi yang bisa sampai menimbulkan kematian sel. Sehingga ion Ca dipandang sebagai mediator utama dalam proses eksitotoksik menuju kerusakan sel. Tergantung dari tersedianya energi, maka nekrosis, apoptosis atau kedua-duanya. Masuknya ion Ca memicu pelepasan neurotransmiter seperti glutamat. Karena itu pencegahan masuknya ion Ca sangat penting. Reseptor metabotropik glutamat melakukan aksi tidak langsung pada kanal ion melalui second messenger.

Melalui mekanisme neurotransmiter dan ion-ion diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa hal dibawah ini diharapkan, dapat diatasi agar tidak terjadi kerusakan neuron melalui:

  1. Membatasi letupan berulang yang lama, misalnya penyekat kanal ion Na.
  2. Penguatan inhibisi oleh GABA
  3. Mengurangi aktivitas kanal voltage sensitive ion Ca.
  4. Menurunkan eksitasi glutamat.

Terdapat banyak mekanisme yang diajukan untuk kerja obat anti-konvulsan. Tiga mekanisme yang telah diakui ialah sebagai berikut:

  1. Merintangi secara selektif aksi potensial frekuensi tinggi.
  2. Memperkuat efek hambatan transmiter GABA.
  3. Hambatan selektif aliran Ca2+ yang tergantung pada voltase.

Lain peneliti membagi mekanisme kerja obat anti epileptik dalam 3 bagian besar:

  1. Mengatur saluran ion yang tergantung pada voltase
  2. Menambah proses hambatan melalui GABA
  3. Menurunkan rangsangan eksitasi transmisi sinaptik (terutama melalui glutamat)

Hartono B. Aspek neurologik dari kesulitan belajar spesifik. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 21, no 1, 2003

Lumbantobing SM. Gangguan belajar. Dalam: Anak dengan mental terbelakang. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, 1997.

Royanto LRM. Identifikasi anak dengan disleksia. Dalam Kesulitan belajar darimasa ke masa “ deteksi dini & intervensi terkini ”. dalam : Konferensi Nasional Neurodevelopmental II. Jakarta, 2006.

Hartono B. Kesulitan belajar karena disfungsi minimal otak (DMO). Dalam:Hadinoto S, Hartono B, Soetedjo (ed) Kesulitan belajar dan gangguan bicara.Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang, 1991.

Saputro D. Pemeriksaan brain elektro activity mapping pada gangguan tingkah laku anak. Jiwa. Indon Psychiat Quqrt ; XXXI 2 :Jakarta, 1998.

Besag FMC. The EEG and learning disability. In: Learning disability and epilepsy an integrative approach. Guildford London,. Clarius Press Ltd, 2003.

Sidiarto LD. Aspek neurologis anak – anak dengan disfungsi minimal otak. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 14, no 1,1997.

Pressler RM, Robinson RO, Wilson GA, Binnie CD. Treatment of Interictal Epileptifoem Discharges Can Improve Behavior in Children With Behavioral Problems and Epilepsy. The Journal of Pediatrics, January , 2005.

Aldenkamp AP, Mulder OG, Overweg J. Cocnitive effects of Lamotrigine as first line add-on in patients with lateralized related (partial) Epilepsy. J Epilepsy 1997; 10: 117-121.

Sackellares CJ, Kwong JW. Lamotrigine monotherapy improves health – related quality of life in epilepsy. In: epilepsy and Behavior, 2002.

Widyawati I. Deteksi dini kesulitan belajar. Jiwa, Indon pschiat Quart, XXX: 3, Jakarta, 1997.

Kerr M. Improving the general health of people with learning disabilities. Advances in psychiatric treatment, 2004, vol 10: 200-206.Available from.

Sidiarto LD. Aspek neurologis anak – anak dengan kesulitan belajar. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 8, 1990.

Njiokiktjien C, Panggabean R, Hartono B. Masalah – masalah dalam perkembangan psikomotor. Semarang. Diponegoro university press – SUYI Publ Indonesia , 2003.

Kustiowati E. Penggunaan EEG dalam diagnosis dan evaluasi epilepsi. Dalam peningkatan kualitas hidup penyandang epilepsi. Semarang, badan penerbit UNDIP 2001.

Manford M. Electroencephalography In : Practical Guide to Epilepsy, Burlington, Butterworth – Heinemann: 2003.

Zhadin MN. Formation of rhytmic processes in the Bio-Elektrical activity of the cerebral cortex biophysics, vol 39, no 1, 1994.

Devinsky O.Cognitive and behavioral effects of antiepileptic drugs. Epilepsia 36 (Supp. 2), 1995.

Martin JH. Cortical neuron the EEG and the mechanism of epilepsy. In: Kandel R, Scwarttz, eds. Principles of neuroscienc, 2 ed. New York , Elsevier, 1995.

Sills GJ, Brodie MJ. Update on the mechanisms of action of antiepileptic drugs. Epileptic disorders. vol 3, no 4, dec, 2001.

Shorvon SD, K van Rijckevorsel. A new antiepileptic druc. J. Neurol. Neurosug. Psychiatry, 2002.

Aldnkamp AP. Effect of seizure and epileptiform discharges on cognitive function. Epilepsia 38(supp.1), 1997.

Ben EM, Edrich P, Van Vleymen B, Sanders JWAS, Schmidt B. Evidence for Sustained Efficacy of Epilepsy Therapy. In Epilepsy Research 2003.

Shorvon S. Handbook of Epilepsy Treatment. Blackwell Science. United Kingdom, 2000

Santoso SO, Wiria MSS, : Farmakologi dan Terapi, edisi 4, Bagian Farmakologi Universitas Indonesia. Jakarta, 1995.

Green B. Lamotrigine in mood disorders. Departement of Psychiatry of Liverpool, UK. Librapharm LTD-Cuff Med Res Opin, 2003.



Link situs lain : Laporan Penelitian | Tutorial Akademik | Pencarian Jurnal

Kesulitan Belajar

(kesimpulan) Masalah belajar merupakan salah satu masalah penting yang timbul pada anak usia sekolah, mencakup masalah yang timbul saat belajar di sekolah maupun di luar sekolah. Anak dengan kesulitan belajar mempunyai intelegensi yang bervariasi. Banyak anak dengan Intellegence Quotient (IQ) umumnya normal bahkan tinggi mempunyai prestasi belajar yang rendah. Ini disebabkan oleh banyak faktor seperti motivasi yang kurang, gangguan emosi dan situasi keluarga yang tidak mendukung.

Kesulitan belajar merupakan kumpulan gangguan yang bervariasi manifestasinya, berupa kesulitan dalam memperoleh dan menggunakan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, berpikir dan berhitung. Gangguan ini bersifat organik dan berhubungan dengan disfungsi Sistem Saraf Pusat (SSP).

Kesulitan belajar bisa juga berarti adanya psikopatologi perkembangan kognitif dan gangguan perkembangan mental yang terbatas, tetapi banyak pula dijumpai kesulitan belajar karena gangguan neurologi yang mendasari seperti epilepsi, cerebral palsy (CP), Disfungsi Minimal Otak (DMO), dan lain-lain.

Kesulitan belajar ada banyak jenis seperti disfasia, disleksia, diskalkulia, dispraksia, gangguan pemusatan perhatian, autis, dan gangguan memori karena terjadi gangguan pemrosesan pada SSP. Salah satu kesulitan belajar yang spesifik dan paling banyak mendapat perhatian adalah kesulitan membaca atau disleksia karena kemampuan membaca merupakan kemampuan dasar untuk memperoleh kepandaian skolastik lainnya.

Semua gangguan diatas dimasukkan dalam DMO karena lesinya minimal sehingga tidak nampak pada neuroimaging tetapi terlihat sebagai gangguan fungsional dan sering diikuti adanya gangguan perilaku dan gangguan belajar. Dalam praktek sering dijumpai kesulitan belajar pada bidang yang satu bisa juga berhubungan dengan bidang yang lainnya. Karena itu dapat dilakukan pemeriksaan khusus dengan ”tes kecepatan membaca” sebab kesulitan membaca (disleksia) tidak berdiri sendiri tetapi bisa timbul bersama dengan gejala lain dan membaca merupakan kemampuan dasar.

Kesulitan belajar sudah diketahui sekitar 100 tahun yang lalu. Bahkan sejak tahun 1960 istilah kesulitan belajar digunakan sebagai identifikasi pada anak dengan kesulitan membaca (disleksia), DMO, hambatan persepsi, disfungsi persepsi motorik, gangguan bahasa spesifik serta prestasi belajar rendah dibidang tertentu. Seseorang disebut menderita kesulitan belajar bila prestasi belajarnya berada jauh dibawah yang diharapkan dan tidak sesuai dengan tingkat intelegensinya.

Kesulitan belajar merupakan kumpulan dari gangguan heterogen yang bisa timbul berupa gangguan bahasa lisan, bahasa baca, bahasa tulis, juga berhitung. Dalam praktek sering dijumpai kesulitan belajar pada bidang yang satu bisa juga berhubungan dengan bidang yang lainnya.

Diketahui penyebab kesulitan belajar berhubungan dengan banyak hal. Beberapa teori mengatakan, kesulitan belajar disebabkan oleh gangguan struktural dan fungsi otak yang minimal dan disebut DMO. Anak dengan DMO mempunyai intelegensia bervariasi, mulai dari mendekati rata-rata, rata-rata atau diatas rata- rata (tinggi) dan disertai kesulitan belajar spesifik atau kelainan perilaku, juga penyimpangan fungsi SSP.

DMO seringkali tidak dapat dideteksi dengan pemeriksaan alat canggih seperti CT scan kepala, MRI, dan PET Scan karena yang terganggu terjadi ditingkat sel seperti akson, dendrit dan neurotransmiter. Pemeriksaan diagnostik pada DMO yang paling sesuai adalah pemeriksaan neuropsikologik melalui wawancara dan tes khusus, yang juga diikuti pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa EEG dan Brain mapping.

Kesulitan belajar dipengaruhi juga oleh gangguan pada pemusatan perhatian, daya ingat, serta aspek-aspek lain yang juga turut berpengaruh seperti:

  1. Status Perkembangan Otak.
  2. Status Panca indra
  3. Status Lingkungan Psikososial

The Federal Register United State Office Of Education (1977) membuat patokan dalam menentukan kesulitan belajar yaitu apabila terdapat ketidak cocokkan yang berat antara prestasi belajar yang dicapai dengan kemampuan intelektual yang dimiliki dalam satu atau lebih bidang seperti ekspresi oral, komprehensi mendengar, ekspresi tertulis, kecakapan membaca dasar, komprehensi membaca, kalkulasi matematik dan penalaran matematik.

DEFINISI

Ketidakmampuan atau tidak bisa belajar karena gangguan-gangguan neuropsikologik dan yang terganggu adalah proses internal belajar serta penyebabnya karena gangguan mekanisme yang terjadi di otak.

Kesulitan belajar adalah ketidakmampuan untuk menggabungkan satu fungsi modalitas dengan modalitas yang lain dan ketidakmampuan untuk mengkonversikan informasi sehingga terjadi defisit pada kemampuan akademik di bidang motorik, persepsi, bahasa, kognitif dan sosial.

SEJARAH

Sejarah kesulitan belajar dibagi menjadi empat fase oleh Wiederholt (1974) dan Lerner (1988).

  1. Fase pertama (foundation phase) tahun 1800-1930, penelitian tentang otak oleh Paul Broca (1861), Hinshelwood (1917) dan Goldstein (1939), yang menjadi dasar para pakar untuk menghubungkan kesulitan belajar dengan fungsi dan disfungsi otak.

  2. Fase kedua (transition phase) tahun 1930-1960, penyelidikan klinis pada anak kesulitan belajar untuk mencari cara dalam mengajar. Fernald (1943) dan McGinnis (1963) pelopor dalam membuat dasar bagaimana menangani anak-anak kesulitan belajar, yang dilanjutkan oleh Cruickshank, Barsch, Frostig, Kephart, Kirik dan Myklebust.

  3. Fase ketiga (integration phase) tahun 1960-1980 meliputi perkembangan program untuk anak kesulitan belajar di sekolah dan ditemukan cara diagnostik medik, juga menentukan kemungkinan penyebab kesulitan belajar.

  4. Fase keempat (contemporary phase) tahun 1980 sampai sekarang, Pengembangan upaya untuk penanganan kesulitan belajar pada anak sampai dewasa melalui komputerisasi mengingat meningkatnya usia yang mengalami kesulitan belajar.

INSIDENSI DAN PREVALENSI

Secara keseluruhan kesulitan belajar pada anak usia sekolah mempunyai insidensi yang bervariasi, kurang lebih 3-7% pada anak usia sekolah. Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa insidens kesulitan belajar kurang lebih 10-15% dari populasi anak sekolah. Insidensi pada anak laki-laki lebih banyak dibandingkan pada anak perempuan sebesar 8:1. Prevalensi dari kesulitan belajar juga sangat bervariasi, di Amerika Serikat melalui data National Health Interview Survey (1988) didapatkan 6,5% pada anak usia sekolah dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 7,7%. Melalui penelitian epidemiologik menemukan kesulitan membaca pada lebih dari 90% dari keseluruhan kesulitan belajar non psikiatrik.

Di Indonesia belum ada laporan mengenai prevalensi kesulitan belajar diduga secara keseluruhan sebanyak 6-12% pada anak usia sekolah. Di Semarang, sebanyak 11,4% pada anak usia sekolah. Dan yang menderita kesulitan membaca (disleksia) sebanyak 1,7% sedangkan yang gabungan antara disleksia, disfasia, dan diskalkulia sebesar 18,6%.

ETIOPATOGENESIS

Perkembangan otak manusia berlangsung secara bertahap dan terjadi sejak di dalam kandungan mulai masa pra natal sampai pasca natal, masa dewasa dan usia lanjut. Periode perkembangan otak dimulai saat usia 2-4 bulan dan mencapai puncak pada usia 8 bulan, dimana bayi mulai menyadari lingkungan di sekitarnya sehingga akan terjadi pertumbuhan sel-sel otak yang sangat cepat.

Pada usia 2 tahun jumlah jaringan saraf dan metabolisme di otak mencapai dua kalinya dari orang dewasa dan menetap pada usia 10-11 tahun. Otak yang sedang berkembang mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk memperbaiki diri (plastisitas) dan untuk mengadakan kompensasi baik yang disebabkan faktor eksternal maupun internal sehingga masa ini disebut Golden Age.

Menjelang remaja sekitar usia 18 tahun plastisitas otak akan berkurang tetapi kekuatannya akan meningkat. Ini dipengaruhi juga oleh faktor genetik dan lingkungan. Pada orang dewasa sel-sel otak tidak dibentuk baru lagi tetapi tiap sel dapat mengadakan cabang baru dan berhubungan antar sel saraf sebagai kompensasi adanya sel-sel yang rusak. Penyimpangan fungsi SSP dapat disebabkan karena faktor genetik, biokimiawi, penyakit atau cedera kronis saat masa perkembangan dan maturasi sel saraf juga kejadian saat perinatal.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kesulitan belajar.

  1. Masa Pranatal: Kelainan kromosom dan genetik; Infeksi intra uterine; Obat-obat yang bersifat teratogenik; Stres maternal yang berhubungan dengan hormon stres seperti kortikosteroid; Ibu hamil dengan kecemasan tinggi; Kondisi ibu saat hamil seperti DM, gangguan endokrin, malnutrisi, ketergantungan obat dan zat, merokok, hiperemesis gravidarum; Ibu hamil pemakai alkohol.

  2. Masa Pascanatal: Proses kelahiran yang lama dan sulit menyebabkan hipoksi otak; Infeksi Susunan Saraf Pusat; Penyakit kronik dan intermiten seperti epilepsi bila semakin sering kejang dan semakin muda usia saat onset maka semakin banyak gangguan pada SSP; Gangguan gizi dan anemia zat besi kronik; Gangguan penglihatan dan pendengaran; Gangguan karena penyakit kronik lain; Faktor psikososial.

SIMTOMATOLOGI

Keluhan yang sering diungkapkan oleh orang tua yang mempunyai anak kesulitan belajar sangat bervariasi dan berhubungan dengan DMO serta usia anak pada saat itu sehingga tidak ditemukan gangguan neurologi. Kepekaan orang tua dan guru sangat membantu dalam detaksi dini.

Gejala klinis yang terlihat pada anak dengan kesulitan belajar bisa berdiri sendiri atau saling berhubungan/kombinasi seperti: sulit bicara, terlihat pendiam, sulit membaca dan menulis, sulit berhitung/matematika, sulit menggambar atau tidak trampil, sulit memusatkan perhatian dan gangguan memori. Gejala dan tanda:

Anak pra-sekolah

  1. Keterlambatan bicara dibanding usianya/kesulitan dalam pengucapan kata

  2. Kemampuan penguasaan jumlah kata minim atau sulit menemukan kata yang sesuai untuk suatu kalimat

  3. Sulit mempelajari dan mengenali angka, huruf, nama-nama hari

  4. Sulit menghubungkan kata dalam suatu kalimat

  5. Gelisah, mudah teralih perhatian dan menghindari permainan ”puzzles”

  6. Sulit interaksi dengan anak seusianya

  7. Sulit mengikuti suatu petunjuk/rutinitas tertentu dan menghindari pelajaran menggambar/prakarya

Anak usia sekolah

  1. Kemampuan daya ingat buruk

  2. Selalu membuat kesalahan konsisten dalam mengeja dan membaca seperti ; b dibaca d, m dibaca w dan kesalahan transposisi seperti: roda dibaca dora

  3. Lambat mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya

  4. Bingung dengan oprasionalisasi tanda dalam matematika misalnya membedakan tanda (+) dan (-), atau tanda (+) dan (x).

  5. Sulit mempelajari ketrampilan baru, terutama yang perlu daya ingat

  6. Sangat aktif, tidak mampu menyelesaikan tugas secara tuntas

  7. Impulsif

  8. Sulit konsentrasi atau perhatian mudah teralih

  9. Sering melakukan pelanggaran disekolah dan dirumah

  10. Tidak bertanggung jawab terhadap kewajiban

  11. Tidak mampu merencanakan kegiatan sehari-hari

  12. Problem emosional (murung, acuh, cepat tersinggung, menyendiri)

  13. Menolak bersekolah

  14. Kesulitan mengikuti petunjuk/rutinitas tertentu

  15. Tidak stabil dalam menggenggam pensil/pen

  16. Sulit mempelajari pengertian tentang hari/waktu.

JENIS-JENIS KESULITAN BELAJAR

Berdasarkan aspek klinis dan pengelolaannya serta banyaknya kasus yang ditemukan, maka terdapat berbagai jenis kesulitan belajar dan yang akan di teliti saat ini adalah kesulitan membaca (disleksia).
Disfasia

Definisi : Terdapat kelainan pada fase perkembangan bahasa dan bicara, dimana kemampuan produksi bicara mengalami kelambatan dibandingkan dengan kemampuan pemahaman.

Disfasia terjadi karena adanya gangguan pada proses transisi dari observasi obyek, perasaan, pikiran, pengalaman atau ide terhadap kata yang diucapkan. Disfasia dapat terjadi sejak dalam kandungan, dimana yang lebih terganggu adalah bahasa ekspresif, sehingga anak lebih mengerti apa yang dikatakan kepadanya dari pada yang akan diucapkannya. Gangguan bicara dapat sekunder karena gangguan pendengaran, retardasi mental, gangguan psikiatri dan lingkungan yang tidak menunjang.

Perkembangan bicara-bahasa bervariasi pada masing-masing individu karena dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya genetik, jenis kelamin (banyak pada anak laki-laki), kerusakan otak saat pranatal dan perinatal. Penyimpangan biasanya pada otak bagian kiri tetapi ada beberapa pada otak kanan, korpus kalosum atau lintasan pendengaran.

Disfasia merupakan kelainan penting yang sering menjadi basis dari gangguan lain seperti disleksia, disgrafia, dan diskalkulia, juga dapat muncul bersama dengan dispraksia dan Gangguan Pemusatan Pikiran (GPP).
Diskalkulia

Merupakan gangguan fungsi berhitung atau aritmatika, sehingga kemampuan berhitung anak menjadi dibawah rata-rata usianya. Umumnya diskalkulia spesifik apabila kuosien perkembangan untuk berhitung rendah, serta IQ dan aspek dalam bidang lain lebih tinggi. Kemampuan dalam berhitung dipengaruhi oleh genetik dan kerusakan otak sebelumnya. Untuk kecakapan menghitung kedua hemisfer diperlukan, juga bahasa, perseptual, perhatian dan daya ingat (memori).

Diskalkulia murni sering disebut diskalkulia sentral yang meliputi gangguan pemahaman numerik dan pengertian tentang tata kerja/mekanisme aritmatika sebagai faktor sentral gangguan fungsi berhitung. Diskalkulia tidak murni atau diskalkulia marginal disebabkan disfungsi lain seperti perkembangan berbahasa, perseptual, perhatian dan daya ingat (memori).

Dispraksia

Gangguan motorik yang penting pada DMO, karena dapat menimbulkan kesulitan belajar dan tingkah laku. Anak kecil yang tidak dapat belajar tentang gerakan kompleks dan tidak trampil secara optimal disebut dispraksia, sebagai contoh gerakan dalam menyikat gigi, memakai baju, menulis, bicara, main piano, dan berakting.

Dispraksia bisa timbul secara terpisah atau sebagai bagian dari retardasi yang luas seperti tampak pada gangguan bahasa-bicara pada anak kesulitan belajar di usia sekolah. Dispraksia berpengaruh pada kehidupan sehari-hari seperti bermain, olahraga, menulis, pekerjaan rumah tangga serta perkembangan emosional anak. Pada dispraksia tidak boleh terdapat gangguan motorik elementer seperti paresis, diskinesia, ataksia dan sensorik. Dispraksia dapat terjadi dan berhubungan dengan anggota badan lain seperti korporal, postural atau manual (tangan) juga dapat mengenai oral/mulut dan wajah.
Gangguan Pemusatan Perhatian (Attension Defisit Hiperaktif & Disorder)

Attension Defisit Hiperaktif & Disorder (ADHD) merupakan gangguan perilaku yang ditandai gangguan pemusatan perhatian (inattentiveness), prilaku impulsif dan dapat disertai aktivitas berlebihan (overactivity/ hyperactivity) yang tidak sesuai dengan umurnya. Gangguan ini juga disebut gangguan dalam pengolahan informasi.

ADHD ditemukan sekitar 4-12% pada anak sekolah. Anak laki-laki lebih banyak yaitu 9,2% dan anak perempuan 2,9%. ADHD menyebabkan gangguan jangka panjang dalam kemampuan akademik, perkembangan, sosial, emosi dan pekerjaan di masyarakat sehingga memberi dampak pada penderita, keluarga dan masyarakat.

Etiologinya heterogen dengan bermacam-macam patogenesisnya, ada pendapat karena kelainan anatomi, aktivitas bahan kimia di otak, penurunan aktivitas listrik diotak dan genetik. Manifestasi klinis tidak selalu sama dapat berupa gangguan pemusatan perhatian, impulsiv dan hiperaktifitas.

Diagnosis tergantung dari sudut mana penderita dinilai, biasanya dengan pemeriksaan penunjang seperti EEG, PET, CT scan, dan neurokimia. ADHD dapat dibagi menurut jenis, sebab, dan penampilan. Pada pemberian terapi terdapat banyak perbedaan, tergantung gambaran klinisnya.
Gangguan Memori

Gangguan memori merupakan kelainan kognitif yang cukup banyak ditemukan. Memori itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari proses belajar karena berhubungan dengan proses pemeliharaan dan mengingat kembali informasi atau pengalaman yang sudah direkam. Memori mempunyai dua fungsi yaitu sebagai kamus (menemukan kata) dan ensiklopedi (memberi arti pada kata). Karena itu memori sangat penting pada semua proses termasuk membaca. Memori dapat dibagi menjadi:

  1. Memori segera. Daya pengingat kembali rangsang yang diterima beberapa detik lalu dan perlu konsentrasi.

  2. Memori baru. Rangsangan yang diterima memori baru dan disimpan untuk waktu agak lama bisa beberapa menit, jam, hari. Ini berhubungan dengan kemampuan belajar hal baru. Kesulitan belajar biasanya berhubungan dengan memori baru.

  3. Memori lama. Daya ingat kembali peristiwa yang sudah lama terjadi, seperti masa kecil dan masa remaja. Biasanya dapat terganggu pada tahap yang lebih berat.

Gangguan memori digolongkan menjadi:

  1. Gangguan memori auditorik. Gangguan memori yang pemrosesannya melalui indra pendengaran. Pada gangguan memori jangka pendek menyebabkan berkurangnya pencetakan memori, dan pengungkapan kembali. Pada gangguan memori jangka panjang ditandai kegagalan mengingat angka yang banyak. Umumnya anak dengan gangguan memori jangka panjang masuk ke sekolah khusus.

  2. Gangguan memori visual. Gangguan memori yang diproses melalui indra penglihatan. Anak dengan gangguan ini akan mempunyai masalah kognitif lain seperti membaca, visuospasial, dan pemusatan perhatian visual.

  3. Gangguan memori auditorik dan visual. Merupakan gabungan dari kedua gangguan diatas dan banyak ditemukan pada anak ADHD.

Disleksia

Pada disleksia atau kesulitan membaca merupakan kelainan yang akan diteliti saat ini. Disleksia adalah kesulitan belajar membaca, menulis dan mengeja tanpa gangguan sensorik perifer, intelegensia rendah, lingkungan yang kurang menunjang, masalah emosional primer atau kurang motivasi. Beberapa definisi disleksia yang relatif konvensional adalah kesulitan belajar membaca.

Disleksia perkembangan merupakan salah satu gangguan perkembangan fungsi otak yang terjadi sepanjang rentang hidup. Disleksia dianggap suatu defek yang disebabkan karena gangguan dalam asosiasi daya ingat (memori) dan pemrosesan sentral yang disebut kesulitan membaca primer. Untuk dapat membaca secara automatis anak harus melalui pendidikan dan intelegensi yang normal tanpa adanya gangguan sensoris.

Seperti kesulitan belajar lain yang disebabkan oleh DMO, disleksia bisa timbul pada anak-anak yang amat cerdas atau kecerdasannya dibawah rata-rata. Jadi tidak tergantung pada intelegensia tetapi banyak faktor yang mempengaruhi dan sebagian besar faktor sudah ada sejak pra atau perinatal. Beberapa faktor penyebab disleksia seperti genetik didahului disfasia, pengaruh hormonal prenatal seperti testosteron, gangguan migrasi neuron, serta kerusakan akibat hipoksi-iskemik saat perinatal di daerah parieto-temporo-oksipital.

Disleksia diklasifikasikan berdasarkan mekanisme serebral sebagai:

  1. Disleksia dan gangguan visual. Ini disebabkan adanya gangguan fungsi otak di bagian belakang yang dapat menimbulkan gangguan persepsi visual dan memori visual, sehingga anak membaca atau menulis huruf yang bentuknya mirip sering terbalik, disebut juga disleksia diseidetis /visual (Myklebust).

  2. Disleksia dan gangguan bahasa. Sering dijumpai dan setengahnya dilatar belakangi disfasia pada masa sekolah, ini disebut disleksia verbal atau linguistik yang ditandai dengan kesukaran dalam diskriminasi atau persepsi auditoris sehingga anak sulit dalam mengeja dan menemukan kata atau kalimat.

  3. Disleksia dengan diskoneksi visual-auditoris. Terjadi akibat gangguan dalam koneksi visual-auditif, sehingga membaca terganggu atau lambat. Dalam hal ini bahasa verbal dan persepsi visualnya baik. Diduga terdapat disfungsi pada girus angularis kiri atau amigdala yang disebut disleksia auditoris (myklebust).

Hartono B. Aspek neurologik dari kesulitan belajar spesifik. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 21, no 1, 2003.

Lumbantobing SM. Gangguan belajar. Dalam: Anak dengan mental terbelakang. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, 1997.

Bernal SJ, Barney TP, Mc Fadyen A, Prendergast M. Psychiatric services for children and adolescents with a learning disability. Council report CR 70, Royal college of psychiatrists. London, 2003.

Sidiarto LD. Aspek Neurologis Disleksia. Neurona majalah kedokteran Neuro Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 14, no 3, 1997.

Royanto LRM. Identifikasi anak dengan disleksia. Dalam Kesulitan belajar darimasa ke masa “deteksi dini & intervensi terkini”. dalam: Konferensi Nasional Neurodevelopmental II. Jakarta, 2006.

Hartono B. Kesulitan belajar karena disfungsi minimal otak (DMO). Dalam: Hadinoto S, Hartono B, Soetedjo (ed) Kesulitan belajar dan gangguan bicara.Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang, 1991.

Saputro D. Pemeriksaan brain elektro activity mapping pada gangguan tingkah laku anak. Jiwa. Indon Psychiat Quqrt ; XXXI 2: Jakarta,1998.

Sidiarto LD. Aspek neurologis anak-anak dengan disfungsi minimal otak. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 14, no 1,1997.

Widyawati I. Deteksi dini kesulitan belajar. Jiwa, Indon pschiat Quart, XXX: 3, Jakarta, 1997.

Kerr M. Improving the general health of people with learning disabilities. Advances in psychiatric treatment, 2004, vol 10.

Sidiarto LD. Aspek neurologis anak-anak dengan kesulitan belajar. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 8, 1990.

Njiokiktjien C, Panggabean R, Hartono B. Masalah-masalah dalam perkembangan psikomotor. Semarang. Diponegoro university press – SUYI Publ Indonesia, 2003.

Siegel LS. Basic cognitive processes and reading disability. In: handbook of learning disabilities. New York. The Guildford press, 2003.

Widyawati I. Penatalaksananan gangguan belajar. Dalam Penatalaksanaan gangguan perkembangan dan belajar pada anak. Jakarta, Pertemuan ilmiah tahunan I Perdosri, 2002.

Kusumoputro S. Pandangan umum disleksia. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 14, no 3, april, 1997.

Kavale KA, Forness SR. Learning disability as a discipline. In: handbook of learning disabilities. New York, the Guilford Press, 2003.

Boyle CA, Decoufle P, Yeargin A - Allsupp. Prevalence and Health impact of developmental disabilities in US children. Develepmental disabilities branch, enters for disease control and prevention. Atlanta, GA.

Hadisubrata MS. Meningkatkan intelegensi anak balita. Dalam pola pendidikan untuk lebih mencerdaskan anak balita. Jakarta, BPK Gunung Mulia 1999.

Soejadmiko. Pentingnya stimulasi dini untuk merangsang perkembangan bayi dan balita terutama pada bayi-bayi beresiko berat dalam: Konferensi Nasional Neurodevelopmental II. Jakarta, 2006.

Binnie CD. Significance and management of transitory cognitive impairment due to subclinical EEG discharges in children. Brain Development 15(1).

Kasteleijn, Nolst - Trenite DG. Transient cognitive impairment during sub clinical epileptiform elektroencephalographic discharges. Semin pediatric neurology. Dec, 2(4), 1995.

Tjahjadi MI, Sidiarto LD. Disfasia perkembangan. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 11: 3, 1994.

Azwar S. Pengantar Psikologi Intelegensi. edisi II, yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset, 1999.

Manford M. Electroencephalography In: Practical Guide to Epilepsy, Burlington, Butterworth – Heinemann: 2003.