Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Teori Negara Hukum

(kesimpulan) Keberadaan tentang konsepsi negara hukum sudah ada semenjak berkembangnya pemikiran cita negara hukum itu sendiri. Plato dan Aristoteles merupakan penggagas dari pemikiran negara hukum. Pemikiran negara hukum dimunculkan Plato melalui karya monumentalnya yakni Politicos. Plato dalarn buku ini sudah menganggap adanya hukum untuk mengatur warga negara. Pemikiran ini dilanjutkan tatkala Plato mencapai usia lanjut dengan memberikan perhatian yang tinggi pada hukum. Menurutnya, penyelenggaraan pemerintah yang baik ialah yang diatur oleh hukum.

Cita Plato dalam nomoi ini kemudian dilanjutkan oleh muridnya bernama Aristoteles yang lahir di Macedonia pada tahun 384 SM. Karya ilmiahnya yang relevan dengan masalah negara ialah Politica. Menurut Aristoteles, suatu negara yang baik ialah negara yang diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. la menyatakan: ”Aturan yang konstitusional dalam negara berkaitan secara erat juga dengan pertanyaan kembali apakah lebih baik diatur oleh manusia atau hukum terbaik, selama suatu pemerintahan menurut hukum”. Oleh sebab itu supremasi hukum diterima oleh Aristoteles sebagai tanda negara yang baik dan bukan semata-mata sebagai keperluan yang tak layak.

Bagi Aristoteles, yang memerintah dalam negara bukanlah manusia melainkan pikiran yang adil, dan kesusilaanlah yang menentukan baik buruknya suatu hukum. Manusia perlu dididik menjadi warga yang baik, yang bersusila, yang akhirnya akan menjelmakan manusia yang bersikap adil.

Apabila keadaan semacam ini telah terwujud, maka terciptalah suatu ”negara hukum”, karena tujuan negara adalah kesempurnaan warganya yang berdasarkan atas keadilan. Jadi, keadilanlah yang memerintah dalam kehidupan bernegara. Agar manusia yang bersikap adil itu dapat terjelma dalam kehidupan bernegara, maka manusia harus didik menjadi warga yang baik dan bersusila.

Pemikiran ini terus berkembang seiring dengan dialektika pemikiran para filosof. Seiring dengan ini pula, maka banyak pendapat yang mengemukakan di seputar pemikiran negara hukum. Immanuel Kant dan Friedrich Julius Stahl telah mengemukakan buah pikiran mereka. Kant memahami negara hukum sebagai Nachtwakerstaat atau Nachtwachterstaat (negara jaga malam) yang tugasnya adalah menjamin ketertiban dan keamanan masyarakat, urusan kesejahteraan didasarkan pada persaingan bebas (free fight), laisez faire, laisez ealler, siapa yang kuat dia yang menang. Paham liberalisme diinspirasikan oleh aliran ekonorni liberal Adam Smith yang menolak keras campur tangan negara dalam kehidupan negara ekonomi.

Pemikiran Immanuel Kant pada gilirannya mernberi inspirasi dan mengilhami F.J. Stahl dengan lebih memantapkan prinsip liberalisme bersamaan dengan lahirnya kontrak sosial dari Jean Jacques Rousseau, yang memberi fungsi negara menjadi dua bagian yaitu pembuat Undang¬-Undang (the making of law) dan pelaksana Undang-Undang (the executing of law).

Konsepsi negara hukum Immanuel Kant berkembang menjadi negara hukum formal, hal ini dapat dipetik dari pendapat F.J. Stahl tentang negara hukum ditandai oleh empat unsur pokok yaitu: (1) pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. (2) negara didasarkan pada teori trias politica. (3) pemerintahan diselenggarakan berdasarkan undang¬-undang (wetmatig bestuur). dan (4) ada peradilan administrasi negara yang bertugas mnangani kasus perbuatan melanggar hukum oleh pemerintah (onrechtmatige overheidsdaad).

Konsepsi negara hukum dalam kajian teoritis dapat dibedakan dalam dua pengertian. Pertama, negara hukum dalam arti formal (sempit/klasik) ialah negara yang kerjanya hanya menjaga agar jangan sampai ada pelanggaran terhadap ketentraman dan kepentingan umum, seperti yang telah ditentukan oleh hukum yang tertulis (undang-tmdang), yaitu hanya bertugas melindungi jiwa, benda, atau hak asasi warganya secara pasif, tidak campur tangan dalam bidang perekonomian atau penyelenggaraan kesejahteraan rakyat, karena yang berlaku dalam lapangan ekonomi adalah prinsip laiesez faire laiesizealler.

Kedua, negara hukum dalam arti materiil (luas modem) ialah negara yang terkenal dengan istilah welfare state (walvaar staat), (wehlfarstaat), yang bertugas menjaga keamanan dalam arti kata seluas-luasnya, yaitu keamanan social (social security) dan menyelenggarakan kesejahteraan umum, berdasarkan prinsip-prinsip hukum yang benar dan adil sehingga hak-hak asasi warga negaranya benar-benar terjamin dan terlindungi.

Di negara-negara Eropa Kontinental, konsep negara hukum tersebut, selanjutnya dikembangkan oleh Immanuel Kant, Friederich Julius Stahl, Fichte, Laband, Buys dan lain-lainnya, yang terkenal dengan istilah konsep rechtsstaat, sedangkan di negara-negara Anglo Saxon lahirlah konsep yang semacam, yang terkenal dengan konsep ”rule of law”.

Di Inggris ide negara hukum sudah terlihat dalam pemikiran John Locke, yang membagi kekuasaan dalam negara ke dalam tiga kekuasaan, antara lain dibedakan antara penguasa pembentuk undang-undang dan pelaksana undang-undang, dan berkait erat dengan konsep rule of law yang berkembang di Inggris pada waktu itu. Di Inggris dikaitkan dengan tugas-tugas hakim dalam rangka menegakkan rule of law.

Dalam kepustakaan, seringkali dibedakan antara konsep negara hukum Anglo Saxon dengan Eropa Kontinental. Dalam konsep atau sistem Anglo Saxon mempunyai tiga makna atau unsur: (1) Adanya supremasi hukum (The ahsolut supremacy or predominance of regular law), (2) Persamaan di muka hukum (Equality before the law), (3) Konstitusi yang bersandarkan pada hak-hak perseorangan (The law of the constitution... the consequence of the right of individuals, ... ).

Paul Scholten salah seorang jurist yang terbesar dalam abad XX di Nederland, menulis tentang Negara Hukum (over den rechtsstaat). Scholten menyebut dua ciri daripada negara hukum, yang kemudian diuraikan secara luas dan kritis tersebut adalah:

  1. Kawula negara itu mempunyai hak terhadap negara (er is recht tegenover den staat), individu mempunyai hak terhadap masyarakat. Asas ini sebenarnya meliputi dua segi: a) manusia itu mempunyai suasana tersendiri, yang pada asasnya terletak di luar kewenangan negara; b) pembatasan suasana manusia itu hanya dapat dilakukan dengan ketentuan undang-undang dengan peraturan-peraturan umum.

  2. Negara hukum ada pemisahan kekuasaan (er is scheiding van machten).

Dalam padangan ahli hukum semestinya konsep of law ini dijadikan sebagai suatu konsep yang dapat diidentifikasi, di mana titik beratnya pada prosedur dan pengaturan pernbentukan serta penegakkan hukum. Di dalam konsep rule of law sendiri dikenal kewenangan diskresi yang pada hakekatnya tidak konsisten dengan ide rule of law. Oleh karena itu, kewenangan diskresi seharusnya dapat diuji dan dipandu oleh prinsip-prinsip hukum secara umum.

Perbedaan pokok antara rechtssiaal dengan rule of law ditemukan pada unsur peradilan administrasi. Di dalam unsur rule of law telah ditemukan adanya unsur peradilan administrasi, sebab di negara-negara Anglo Saxon penekanan terhadap prinsip persamaan dihadapan hukum (equality here the law) lebih ditonjolkan, sehingga dipandang tidak perlu menyediakan sebuah peradilan khusus untuk pejabat administrasi negara. Prinsip equality before the law menghendaki agar prinsip persamaan antara rakyat dengan pejabat administrasi negara, harus juga tercermin dalam lapangan peradilan. Pejabat administrasi atau pemerintah atau rakyat harus sama-sama tunduk kepada hukum dan bersamaan kedudukannya dihadapan hukum.

Berbeda dengan negara Eropa Kontinental yang memasukkan unsur peradilan administrasi sebagai salah satu unsur rechtsstaat. Dimasukkannya unsur peradilan administrasi ke dalam unsur rechtsstaat, maksudnya untuk memberikan perlindungan hukum bagi warga masyarakat terhadap sikap tindakan pemerintah yang melanggar hak asasi dalam lapangan administrasi negara. Kecuali itu kehadiran peradilan administrasi akan memberikan perlindungan hukum yang sama kepada administrasi negara yang bertindak benar dan sesuai dengan hukum. Dalam negara hukum harus diberikan perlindungan hukum yang sama kepada warga dan pejabat administrasi negara.

Dari latar belakang dan dari sistem hukum yang menopang perbedaan antara konsep ”rechtsstaat” dengan konsep ”the rule of law” meskipun dalam perkembangan dewasa ini tidak dipermasalahkan lagi perbedaan antara keduanya. Karena pada dasarnya kedua konsep itu mengarahkan dirinya pada satu sasaran yang utama yaitu pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Meskipun dengan sasaran yang sama tetapi keduanya tetap berjalan dengan sistem hukum sendiri.

Konsep “rechtsstaat” lahir dari suatu perjuangan menentang absolutisme sehingga sifatnya revolusioner sebaliknya konsep ”the rule of law” berkembang secara evolusioner. Hal ini nampak dari isi atau kriteria rechtsstaat dan kriteria the rule of law. Konsep rechtsstaat bertumpu atas sistem hukum kontinental yang disebut “civil lava” atau “modern Roman Law” sedangkan konsep the rule of law bertumpu atas sistem hukum yang disebut “common law”. Karakteristik “civil law” adalah “administratif” sedangkan karakteristik “common law” adalah “judicial”.

Perbedaan karakteristik yang demikian disebabkan karena latar belakang daripada kekuasaan raja. Pada zarnan Romawi, kekuasaan yang menonjol dan raja ialah membuat peraturan melalui dekrit. Kekuasaan itu kemudian didelegasikan kepada pejabat-pejabat administratif sehingga pejabat administratif yang membuat pengarahan-pengarahan tertulis bagi hakim tentang bagaimana memutus suatu sengketa. Begitu besarnya peranan Administrasi Negara sehingga tidaklah mengherankan kalau dalam sistem kontinental mula pertama muncul cabang hukum baru yang disebut “droit administratif” yaitu hubungan antara administrasi negara dengan rakyat.

Dalam perkembangannya negara hukum, unsur-unsur yang dikemukakan oleh F.J. Stahl tersebut kemudian mengalami penyempurnaan yang secara umum dapat dilihat sebagaimana tersebut:

  1. Sistem pemerintahan negara yang didasarkan atas kedaulatan rakyat;

  2. Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajiban harus berdasar atas hukum atau peraturan perundang-undangan;

  3. Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia (warga negara);

  4. Adanya pembagian kekuasaan dalam negara;

  5. Adanya pengawasan dari badan-badan peradilan (rechterlijke controle) yang bebas dan mandiri, dalam arti lembaga peradilan tersebut benar-benar tidak memihak dan tidak berada di bawah pengaruh eksekutif;

  6. Adanya peran yang nyata dari anggota-anggota masyarakat atau warga negara untuk turut serta mengawasi perbuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah;

  7. Adanya sistem perekonomian yang dapat menjamin pembagian yang merata sumber daya yang diperlukan bagi kemakmuran negara.

Perunusan tentang konsep negara hukum juga pernah dilakukan oleh International Commission of Jurist, yakni organisasi ahli hukum internasional pada tahun 1965 di Bangkok. Organisasi ini merumuskan tentang pengertian dan syarat bagi suatu negara hukum/pemerintah yang demokratis yang diperkenal ulang oleh Dablan Thaib, yakni: 1) Adanya proteksi konstitusional, 2) Pengadilan yang bebas dan tidak memihak, 3) Pemilihan umum yang bebas, 4) Kebebasan untuk menyatakan pendapat, 5) Kebebasan berserikat/berorganisasi dan oposisi, 6) Pendidikan kewarganegaraan

PUSTAKA

A.V. Dicey, Introduction to the Study of the Law of the Constitution, McMilian Education Ltd, London, Teth Edition, 1959.

Abdoerraoef, Al-Qur’an dan Ilmu Hukum, Jakarta Bulan Bintang, 1970.

Azhary, Negara Hukum Indonesia: Analisis Yuridis Normatif Tentang Unsur-Unsurnya, Jakarta: UI Press, 1995.

Abu Daud Busroh dan Abu Bakar Busro, Asas-Asas Hukum Tata Negara, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983.

Dahlan Thaib, Kedaulatan Rakyat, Negara Hukum, dan Konstitusi, Yogyakarta, Liberty, 1999.

Joseph Schacht & C.E. Bosworth, The Legacy of Islam, Second Edition, Malbourne: Oxford University Press, 1979.

Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia Studi Tentang Interaksi Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.

Muhammad Tahir Azhary, Negara Hukum Suatu Studi Tentang Prinsip-Prinsipnya Dilihat Dari Segi Hukum Islam, Implementasinya Pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, Jakarta Bulan Bintang, 1992.

Mukhtie Fadjar, Tipe Negara Hukum, Malang: Bayumedia, 2004.

Notohamidjojo, Makna Negara Hukum Bagi Pembaharuan Negara dan Wibawa Hukum Bagi Pembaharuan Masyarakat di Indonesia, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1967.

Ni’matul Huda, Negara Hukum, Demokrasi & Judicial Review, Yogyakarta: UII Press, 2005.

P.S Atiyah, Law & Modern Society, Second Edition, Kuala Lumpur: Opus, 1995.

Padmo Wahjono, Ilmu Negara, Diktat Kuliah FH UI, Dihimpun oleh Amir Hamzah, Jakarta, 1980.

Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia: Sebuah Studi Tentang Prinsip-Prinsipnya, Penangannya Oleh Pengadilan Dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi Negara, Surabaya: PT. Bina Ilmu, Cet. Pertama, 1987.

Ridwan H.R. Hukum administrasi Negara, Yogyakarta: UII Press, 2002.

Sobirin Malian, Gagasan Perlunya Konstitusi Baru Pengganti UUD 1945, Yogyakarta: UII Press, 2001.

S.F Marbun, Peradilan Administrasi Negara dan Upaya Administratif di Indonesia, Yogyakarta: Liberty, 1997.

Sumaryati Hartono, apakah The Rule of Law itu?, Bandung: alumni, 1969.


Kepemilikan dan Efesiensi Bank di Negara-Negara Berkembang

(kesimpulan) Cina adalah pasar terbesar di dunia, bangsa, dan ekonomi telah berkembang pada tingkat riil sekitar 9% per tahun selama dekade terakhir ini. Dengan kecepatan saat ini, Cina diproyeksi akan melebihi ke Amerika Serikat dan menjadi ekonomi terbesar di dunia. Pertumbuhan yang cepat ini akan membawa globalisasi ekonomi yang terkait langsung pada globalisasi perdagangan. Akan tetapi belum bisa dikatakan ”globalize” dengan perbankan. Industri perbankan China yang didominasi oleh empat besar bank milik pemerintah (the ”Big Four”), dengan sekitar 3 sampai 4 dari total aset industri yang sangat besar dengan beberapa bank milik asing. Juga terkait dengan sistem hukum dan sistem keuangan yang tidak dikembangkan dengan baik, bahkan oleh standar dari kebanyakan negara berkembang.

Penelitian tentang efisiensi bank di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan tinggi tidak akan terus menerus terjadi tanpa diimbangi reformasi sistem perbankan dan hukum (infrastruktur) keuangan. Penelitian perbankan menunjukkan bahwa tingkat kepemilikan bank oleh negara memiliki tingkat efisiensi suatu bank menjadi rendah.

Hasil penelitian juga menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang sangat positif jika memiliki sistem hukum yang efisien dan pengembangan pasar keuangan yang baik. Selain itu elemen-elemen hukum keuangan sangat penting bagi kemampuan bank dalam analisis pengendalian pinjaman seperti pinjaman yang berdasarkan laporan keuangan, kredit atau nilai-nilai aktiva tetap agunan dalam memperpanjang kredit untuk UKM.

Sampai saat ini, Cina telah mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi karena sebagian ditopang dari kelebihan dana yang tersedia untuk investasi. Tabungan sangat tinggi dan nilai perdagangan, telah menghasilkan surplus pendanaan yang saat ini digunakan untuk berinvestasi di sekuritas asing (misalnya, US treasuries), serta investasi asing langsung (misalnya, yang menangani Lenovo-IBM). Namun, tampaknya tidak mungkin bahwa berpatokan pada imbalances yang besar belumlah cukup menciptakan pertumbuhan tinggi selamanya.

Sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar pertumbuhan telah terkonsentrasi di sektor "swasta", perusahaan yang tidak dikontrol oleh negara. Kajian tersebut juga menemukan bahwa perusahaan "swasta" mendapatkan akses ke pendanaan melalui saluran pembiayaan alternatif, termasuk yang berbasis pada syarat "lunak".

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar penelitian tentang efek efisiensi bank kepemilikan jenis (apakah suatu lembaga adalah milik asing, BUMN, atau swasta, dalam negeri yang dimiliki) dengan perbedaan yang sangat signifikan antara jenis ini. Telaah membandingkan kinerja operasi yang berlaku dalam satu bangsa dengan asing, BUMN, dan swasta, institusi domestik terhadap praktek-garis terbaik bagi bank yang beroperasi di negara tuan rumah yang sama.

Bank asing, bank milik pemerintah, swasta dan bank domestik memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan efisiensi relatif terhadap satu sama lain, dan efisiensi diukur dari masing-masing jenis kepemilikan mencerminkan efek dari keunggulan komparatif atau kelemahan. Bank asing yang berkantor di negara-negara berkembang umumnya memiliki keunggulan manajerial keahlian/pengalaman, akses ke modal, penggunaan teknologi informasi, dan kemampuan untuk diversifikasi risiko, di mana institusi domestik belum dapat menandinginya. Namun, bank asing umumnya juga menderita kerugian karena jarak yang berhubungan dengan diseconomies, bahasa dan perbedaan budaya, miskin dan kemampuan untuk mengakses dan proses infrastruktur lokal berbasis informasi. BUMN lembaga pendanaan mungkin memiliki keuntungan karena subsidi pemerintah, tetapi juga sering ada kelemahan karena mandat untuk membuat beberapa jenis pinjaman dan kurangnya disiplin pasar.

Bank asing lebih efisien atau kurang lebih sama-sama efisien untuk bank swasta domestik. Kedua kelompok ini biasanya lebih efisien secara signifikan dibandingkan rata-rata bank-bank milik negara, tetapi terdapat variasi pada semua temuan. Untuk menjelaskan, beberapa penelitian menggunakan data dari negara-negara transisi Eropa Timur menemukan bank asing untuk menjadi yang paling efisien rata-rata adalah bank swasta, bank-bank domestik, dan kemudian bank milik pemerintah. Namun, studi lain pada masa transisi bercamour dengan bank asing sehingga biaya lebih efisien. Sebuah studi pada 28 negara berkembang dari berbagai wilayah menemukan bank asing mendapatkan keuntungan efisiensi tertinggi, diikuti oleh swasta, bank-bank domestik, dan kemudian bank milik pemerintah. Untuk efisiensi biaya, bank-bank swasta dan bank-bank domestik menduduki peringkat lebih tinggi dari bank asing, tetapi keduanya masih jauh lebih efisien daripada bank milik pemerintah. Di Argentina, dua studi menggunakan data (sebelum krisis pada tahun 2002) menemukan kira-kira sama untuk efisiensi bank asing dan swasta, bank-bank domestik, dan yang kedua adalah lebih efisien pada rata-rata dari bank milik pemerintah. Sebuah studi di Pakistan menemukan informasi bank asing lebih efisien daripada dibandingkan bank domestik dan bank milik pemerintah. Akhirnya, belajar dari bank-bank di India menemukan bahwa bank asing yang lebih efisien dibandingkan bank swasta domestik. Alasan yang tidak diketahui, tetapi mungkin sebagai akibat praktek akuntansi, cross-subsidi dari instansi pemerintah lainnya, atau relatif rendah biaya account oleh pemerintah lainnya yang dimiliki perusahaan.

Walaupun kita tidak menyadari apa pun sebelum mengukur efisiensi penelitian efek minoritas kepemilikan dari bank asing, ada beberapa bukti yang menunjukkan mengapa dapat meningkatkan efisiensi. Meskipun investor asing hanya memiliki satu atau dua kursi di perbankan China, corporate governance dan manajemen risiko akan meningkatkan. Anggota dewan/pemilik asing tampak meningkatkan manajer senior untuk lebih sadar kepentingan pemegang saham dan lebih banyak menggunakan teknik manajemen modern. Dalam beberapa kasus, kepemilikan bank minoritas asing di China juga dapat mengirim karyawan ke kantor pusat bank asing untuk pelatihan.

Mayoritas bank-bank di China yang dimiliki oleh asing pada umumnya jauh lebih efisien daripada bank milik pemerintah atau sama-sama efisien dibandingkan bank swasta dan bank-bank domestik di negara-negara berkembang. Keunggulan komparatif bersih ini mungkin bahkan lebih besar di Cina, mengingat bahwa sektor perbankan telah diatur secara ketat.

Tidak jelas, mengapa manajemen senior setuju untuk menerapkan reformasi yang diusulkan oleh minoritas kepemilikan yaitu asing, terutama bagi sebagian besar bank-bank milik negara yang mungkin sangat berbeda dari tujuan memaksimalkan nilai pemegang saham. Namun, beberapa penelitian di negara-negara lain menunjukkan mengapa minoritas kepemilikan dapat menghasilkan keuntungan, walaupun penelitian tidak membedakan minoritas asing lainnya dari kepemilikan pribadi atau pemilik minoritas.

Penelitian tentang corporate governance non-financial pada perusahaan-perusahaan di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa investor dan institusi besar pemegang saham akan meningkatkan pemantauan dan mitigasi masalah. Akhirnya, hasil studi yang sebagian kasus privatisasi di India konsisten dengan efek minoritas kepemilikan swasta pada bank dengan mayoritas BUMN perusahaan non-financial. Tidak mungkin pengendalian saham di perusahaan milik negara yang akan diselenggarakan secara pribadi memiliki efek positif pada profitabilitas, produktivitas, dan investasi.

PUSTAKA

Agrawal, A., Knoeber, C.R., 1996. Firm performance and mechanisms to control agency problems between managers and shareholders. Journal of Financial and Quantitative Analysis 31, 377-397.

Allen, F., Qian, J., Qian, M., 2005. Law, finance, and economic growth in China, Journal of Financial Economics 77, 57-116.

Beck, T., Demirguc-Kunt, A., Maksimovic, V., 2005. Financial and Legal Constraints to Firm Growth: Does Firm Size Matter? Journal of Finance 60, 137-77.

Berger, A. N., Clarke, G.R.G., Cull, R., Klapper, L., Udell, G.F., 2005. Corporate governance and bank performance: A joint analysis of the static, selection, and dynamic effects of domestic, foreign, and state ownership. Journal of Banking & Finance 29, 2179-2221.

Berger, A.N., Hasan, I., Klapper, L.F., 2004. Further Evidence on the Link between Finance and Growth: An International Analysis of Community Banking and Economic Performance, Journal of Financial Services Research 25: 169-202.

Bhattacharaya, Joydeep, 1993, The role of foreign banks in developing countries: A survey of evidence. Cornell University, mimeo.

Bonaccorsi di Patti, E., Hardy, D., 2005. Bank reform and bank efficiency in Pakistan. Journal of Banking and Finance 29, 238 1-2406.

Bonin, J.P., Hasan, I., Wachtel, P., 2005 a. Bank performance, efficiency and ownership in transition countries. Journal of Banking and Finance 29, 31-53.

Bonin, J.P., Hasan, I., Wachtel, P., 2005b. Privatization matters: Bank efficiency in transition countries. Journal of Banking and Finance 29, 2155-2178.

Chen, Xiaogang, Michael Skully, Kym Brown, 2005, Banking Efficiency in China: Application of DEA to pre- and post- deregulations era: 1993-2000. China Economic Review 16, 229-245.

Delfino, M.E., 2003. Bank ownership, privitisation and efficiency. Empirical evidence from Argentina. Working paper, University of Warwick.

Djankov, S., La Porta, R., Lopez-de-Silanes, F., Shleifer, A., 2003. Courts, Quarterly Journal of Economics 118: 453-516.

Gupta, N., 2005. Partial Privatization and Firm Performance, Journal of Finance 60, 987-1015.

Jappelli, T., Pagano, M., Bianco, M., 2005. Courts and banks: Effects of judicial enforcement on credit markets. Journal of Money, Credit and Banking 37, 223-244.

Ling, H., Lu, Y., 2004, When foreigners buy the shares of our banks: Temptation and confusion. Caijing Magazine, Issue 123, 12/27/2004.

King, R.G., Levine, R., 1993. Finance and growth: Schumpeter might be right, Quarterly Journal of Economics 108, 7 17-738.

Kumbhakar, S.C., Wang, D., 2005. Economic reforms, efficiency, and productivity in Chinese banking. State University of New York –Binghamton working paper.

La Porta, R., Lopez-de-Silanes, F., Shleifer, A., Vishny, R.W., 1998. Law and finance, Journal of Political Economy 106, 1113–1155.

Leung, M.K., 1997, Foreign banks in the People’s Republic of China, Journal of Contemporary China 6, 365-76.

Leung, M.K., D. Rigby and T. Young, 2003a. Entry of foreign banks in the People’s Republic of China: a survival analysis. Applied Economics 35, 21-31

Leung, M.K., T. Young and D. Rigby, 2003b. Explaining the profitability of foreign banks in Shanghai, Managerial and Decision Economics, 24, 15-24.

Li, S., Liu, F., Liu, S., Whitmore, G.A., 2001. Comparative performance of Chinese commercial Banks: analysis, findings and policy implications, Review of Quantitative Finance and Accounting 16, 149-170.

McConnell, J.J., Servaes, H., 1990. Additional evidence on equity ownership and corporate value, Journal of Financial Economics 27: 595-612.

Qian, J., Strahan, P.E., 2005. How law and institutions shape financial contracts: The case of bank loans, National Bureau of Economic Research working paper 11052.

Shleifer, A., Vishny, R.W., 1986. Large shareholders and corporate control, Journal of Political Economy 94: 461-488.

Shirai, S., 2001. Banking Sector Reforms in the People's Republic of China-Progress and Constraints, presented at First Brainstorming Workshop on “Sequencing Domestic and External Financial Liberalization”, organized in Beijing, by the Asian Development Bank Institute, 20-2 1 November 2001.

Wall Street Journal, 2004. Shenzhen Development Bank Co.: Two Americans are appointed to chairman, president posts, (Eastern edition). New York, N.Y: Dec 16, 1

Fenomena Yang Masih Tetap Misterius

(kesimpulan) Semakin sulit suatu misteri diungkap akan semakin kuat hasrat untuk mengungkap. Seperti dahulu, rembulan dianggap sebagai dewa dan berbagai atribut mistik. Demikianlah para ilmuwan dan peneliti mendorong ilmu pengetahuan terus berkembang. Pengalaman manusia terbang di angkasa dan menyelam di bawah laut semula hanya merupakan mimpi Jules Verne. Namun pada jaman ini, semua impian itu telah menjadi kenyataan. Akan tetapi, alam tetap menyuguhkan berbagai misteri dan fenomenanya sendiri yang hingga kini belum mampu diungkap dengan metode ilmiah. Berbagai fenomena terus ada dan selalu menjadi perdebatan hangat yang memicu rasa ingin tahu. Beberapa di antaranya yaitu:

Kaitan Pikiran dan Tubuh (Sugesti)

Ilmu medis adalah langkah awal memahami cara pikiran manusia memengaruhi tubuhnya. Contohnya efek placebo atau sampel obat untuk kontrol pembanding yang tidak berkhasiat. Manusia merasakan lebih ringan dari gejala medis atau penderitaan sakit yang dialami karena mempercayai efektifitas perawatan yang dijalani meskipun sesungguhnya adalah sugesti. Menggunakan proses-proses yang belum banyak dimengerti ini, kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri adalah jauh lebih mengagumkan daripada kedokteran modern yang dapat dicapai saat

ESP (extra-sensory perception) Atau Indera Keenam

Kekuatan-kekuatan batin dan ESP (extra-sensory perception) hingga kini selalu menjadi fokus yang menarik. Banyak orang mempercayai bahwa intuisi adalah salah satu bentuk dari daya batin, yaitu sebuah cara mengakses rahasia atau pengetahuan khusus tentang dunia atau masa depan. Para peneliti telah menguji orang yang mengklaim memiliki kekuatan batin indera keenam. Walaupun di bawah kendali kondisi ilmiah hasilnya negatif. Beberapa pendapat menyatakan bahwa kekuatan batin tidak dapat diuji. Bila ini benar, ilmuwan tidak akan mampu membuktikan keberadaan daya batin.

Pengalaman Mendekati Ajal

Orang-orang yang pernah mengalami mendekati ajal atau mati suri menceritakan berbagai pengalaman mistis (seperti berjalan di dalam terowongan dan munculnya sebuah cahaya, bergabung bersama dengan yang dikasihi, dan munculnya perasaan damai). Tidak ada satu pun yang dapat membuktikan atau mampu memverifikasi informasi dari sekitar kematian itu. Kalangan skeptis berpendapat bahwa pengalaman itu tidak dapat dijelaskan sebagai halusinasi dari otak yang traumatik, karena tidak ada Cara untuk mengetahui secara pasti bahwa penyebab pengalaman mendekati ajal itu atau bukti bahwa bila mereka benar-benar melihat "dunia lain".

Deja Vu

Deja vu dalam bahasa Perancis artinya "pernah melihat sebelumnya", yang mengacu pada teka-teki dan perasaan asing atau misterius yang pernah dialami pada suatu kondisi spesifik sebelumnya. Seorang wanita mungkin berjalan di dalam bangunan misalnya di luar negeri yang tidak pernah dikunjungi sebelumnya, tetapi is merasa familiar dengan lingkungan itu. Beberapa atribut deja vu pada pengalaman psikis atau unbidden glimpses of previous lives. Seperti intuisi penelitian psikologi manusia dapat menawarkan penjelasan yang lebih naturalistik, tetapi akhirnya penyebab dan gejala alam itu sendiri masih misteri.
Hantu

Cerita tentang jiwa manusia yang telah tiada sudah ada dalam budaya kuno dan cerita rakyat di mancanegara, seperti karya Shakespeare, MacBeth, dari Inggris. Banyak orang yang mengungkapkan melihat bayangan-bayangan aneh. Selain saksi mata, "penampakan" itu juga ditunjukkan pada basil fotografi, bahkan lewat komunikasi dengan hantu. Meski begitu, bukti pasti keberadaan hantu-hantu masih elu-sif. Peneliti hantu berharap suatu saat dapat membuktikan bahwa rob orang yang telah meninggal dapat berkomunikasi dengan yang masih hidup, untuk menjawab misteri ini.

UFO (unidentified flying objects)

Tidak ada keraguan tentang keberadaan UFO (unidentified flying objects). Banyak orang telah melihatnya di angkasa tetapi tidak dapat mereka identifikasi. Menurut mereka bentuknya menyerupai pesawat terbang hingga meteor. Obyek atau sinar itu merupakan kendaraan ruang angkasa alien adalah unsur yang benar-benar berbeda. Beberapa insiden UFO akan selalu tetap tidak dapat dijelaskan, yang berasal dari daerah yang sangat jauh di alam semesta.

Intuisi

Kita menyebutnya indra keenam. Kita mungkin pernah mengalami intuisi pada suatu saat. Tentu, perasaan itu Bering keliru. Ketika pesawat terbang yang Anda tumpangi terkena turbulensi, Anda yakin pesawat itu akan jatuh. Para psikolog mencatat orang yang tanpa sadar mampu mengambil informasi tentang dunia lain tetapi tidak mengetahui secara pasti bagaimana dan mengapa dapat mengetahuinya. Kasus intuisi masih sulit dibuktikan dan dipelajari. Dan psikologi mungkin hanya sebagian dari jawaban itu.

Big-Foot Atau Kaki Besar

Selama beberapa dekade, Big-foot atau Kaki Besar, makhluk buas menyerupai manusia yang bertubuh besar dan berbulu. beberapa kali dilaporkan tampak oleh banyak saksi mata di Amerika. Namun, tak satu pun tubuh makhluk itu ditemukan. Tak satu pun terbunuh di tangan pemburu atau mati secara.

Hilang Tidak Terlacak

Orang hilang karena berbagai sebab. Sebagian besar dapat ditemukan dalam kondisi hidup atau mati. Tidak demikian dengan yang benar-benar menghilang secara misterius. Kisah hilangnya perempuan penerbang Amelia Earhart dan navigatornya, Fred Noonan, menjadi misteri yang tak lekang oleh waktu di dunia penerbangan. Keduanya bersama pesawat Electra hilang di dekat Pulau Howland pada 2 Juli 1937. Mereka sebelumnya sempat mampir ke Bandung untuk perbaikan pesawat. Mereka hilang tanpa jejak. Beberapa kasus serupa terjadi pada kapal dan pesawat terbang yang melintasi Segitiga Bermuda. Selama ini orang-orang yang hilang coba ditemukan oleh polisi. Akan tetapi, ketika bukti yang dimiliki begitu sedikit, polisi bahkan ilmu forensik pun tidak selalu dapat menemukan jawabnya.

Dengungan Taos

Beberapa penduduk di kota kecil Taos, New Mexico, telah bertahun-tahun terusik oleh dengungan berfrekuensi rendah yang misterius di udara gurun pasir. Hanya sekitar 2 persen penduduk Taos yang melaporkan mendengar suara itu. Beberapa memercayai hal itu disebabkan oleh akustik yang tak biasa. Adapun yang lain mencurigainya sebagai mass hysteria or some secret, sinister purpose. Meskipun digambarkan sebagai dengungan, desiran secara psikologi, alami atau supernatural belum ada yang mampu mengetahui lokasi asal suara itu.

Sumber: Kompas, Sabtu, 30 Mei 2009


Kemandirian Remaja Ditinjau Dari Peran Jenis Kelamin dan Tahap Perkembangan

(kesimpulan) Remaja yang dipersiapkan untuk menjadi manusia yang berguna, perlu ditingkatkan kualitas dan kemampuannya sehingga hasil kerjanya akan maksimal. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas remaja adalah dari segi kondisi psikologisnya, dalam hal ini kepribadiannya khususnya aspek kemandiriannya. Individu yang memiliki kemandirian kuat, akan marnpu bertanggung jawab, berani menghadapi masalah dan resiko dan tidak mudah terpengaruh atau tergantung kepada orang lain. Permasalahan yang perlu mendapatkan pengamatan lebih lanjut adalah: Apa ada perbedaan kemandirian remaja ditinjau dari peran jenis, jenis kelamin, tahap perkembangan dan lokasi tempat tinggal atau sekolah.

Proses kehidupan manusia dari lahir sampai mati mengalami tahap-tahap perkernbangan yang sifatnya berkelanjutan, artinya tahap sebelumnya merupakan dasar dari tahap selanjutnya. Selama proses pertumbuhan dan perkembangan, mereka akan mengalami perubahan baik fisik, psikis dan sosial yang sifatnya individual.

Contoh tahap perkembangan yang sedang dialami remaja dikemukakan oleh Cole yang membedakan remaja perempuan dan remaja laki-laki: 1) Remaja perempuan: umur 11-21 tahun. 2) Remaja laki-laki: umur 13-21 tahun. Rentangan umur tersebut sebenarnya hanya merupakan batasan kasar, sebab pada dasarnya perkembangan manusia itu bersifat individual dan umur tidak perlu dipegang secara pasti, karena ada anak yang berkembang secara cepat dan ada anak yang berkembang secara lambat.

Peran jenis diambil dan kata sex-role adalah perilaku spesifik yang diharapkan dan sebagai standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan. Kalau terjadi penyimpangan akan dipandang negatif. Peran jenis menurut D'Andrade adalah suatu sifat yang sebenarnya dapat dipelajari untuk meningkatkan aktivitas yang sesuai dengan harapan masyarakat, tanpa memperhatikan jenis kelaminnya.

Peran jenis adalah sifat stereotip yang dimiliki oleh manusia, yang berupa sifat feminin dan maskulin. Secara tradisional, perbedaan seks dipandang dan kondisi laki-laki dan perempuan yang inklusif memiliki sifat maskulin dan feminin. Constantinople menggambarkan sifat maskulin dan feminin itu bertolak belakang atau suatu hal yang sating berlawanan.

Peran jenis yang bersifat stereotip itu mempunyai akibat tidak baik bagi kaum perempuan. Untuk mengatasi belenggu tersebut, supaya kaum perempuan bebas dari tekanan dan juga untuk mengembangkan suatu konsepsi mengenai mental yang sehat, orang harus bebas dari tekanan budaya tentang femininitas dan maskulinitas tersebut. Peran jenis itu tidak hanya dua macam yaitu feminin dan maskulin saja tetapi di samping itu ada individu yang mempunyai dua sifat itu sekaligus, tetapi ada juga individu yang tidak jelas memiliki kedua sifat itu. Jadi secara terperinci Bern menyatakan ada empat macam peran jenis yang dimiliki individu, yaitu: (1) feminin, (2) maskulin, (3) androgini, dan (4) tak tergolongkan.

Individu yang memiliki sifat androgini dikatakan sebagai individu yang memiliki mental yang sehat. Sifat androgini, mampu melakukan integrasi sifat-sifat feminin dan maskulin misalnya tegas dan menyerah, independen dan dependen, ekspresif dan instrumental, sehingga individu tersebut memiliki sifat feminin dan maskulin dengan kualitas yang baik. Androgini adalah suatu sifat yang ada di luar sifat stereotip di mana individu mampu mengkombinasikan sifat maskulin dan feminin secara penuh kemanusiaan. Bern telah menyusun Bern Sex Role Inventory (BSRI) untuk mengetahui peran jenis yang dimiliki seseorang.

Kemandirian merupakan suatu kemampuan psikologis yang seharusnya sudah dimiliki secara sempurna oleh individu pada masa remaja akhir. Salah satu tugas perkembangan bagi remaja adalah mencapai kemandirian. Kemandirian mencakup pengertian kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung kepada orang lain, tidak terpengaruh lingkungan dan bebas mengatur kebutuhan sendiri.

Tingkah laku mandiri meliputi pengambilan inisiatif, mengatasi hambatan, melakukan sesuatu dengan tepat, gigih dalam usahanya dan melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Kemandirian merupakan perilaku yang aktivitasnya diarahkan kepada diri sendiri, bahkan mencoba memecahkan atau menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa minta bantuan kepada orang lain.

Havighurst dalam penelitiannya terhadap anak-anak umur 16-17 tahun, mengemukakan bentuk usaha kemandirian yang berupa: 1) Ego idealnya dipengaruhi oleh anak-anak muda, kelihatan seperti orang dewasa dan merasa mandiri di kalangan remaja. 2) Mulai membentuk hubungan dengan orang-orang muda. 3) Menentang kekuasaan orang tua dan mulai menerapkan cara berpikirnya sendiri. 4) Mencoba membuat keputusan sendiri, walaupun sebelumnya akan konsultasi dengan orang lain.

Tahap Perkembangan dan Kemandirian

Perkembangan seseorang selain ditentukan oleh kondisi dirinya sendiri, juga dikaitkan dengan kehidupan kelompok dalam lingkungan masyarakatnya pada setiap tahap perkembangan yang dilalui. Dari rentangan tahap perkembangan yang dialami, masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, sehingga terjadi perubahan yang mencolok dalam segi fisik, psikis, dan sosial, yang mengharuskan remaja untuk berlatih menyesuaikan diri.

Usaha untuk melepaskan hubungan dengan orang tua atau mengurangi ketergantungan serta usaha untuk dapat berdiri sendiri sebenamya sudah dijumpai pada sebelum masa remaja, meskipun mungkin belum begitu tandas dan bahkan untuk sebagian terjadi secara tidak disadari. Beberapa sifat yang ada dan dimiliki oleh remaja awal menunjukkan masih ada pengaruh dari masa kanak-kanaknya, misalnya emosional, ingin menang sendiri (subjektif dan egois), belum memiliki pendirian yang tetap (mudah terpengaruh dan tergantung kepada orang lain), belum mandiri dan perhatiannya masih tertuju pada perubahan fisik yang dialami secara mencolok. Sifat remaja akhir, diharapkan sudah mencapai kematangan dalam segala proses perkembangannya dengan menunjukkan sifat kedewasaan, misalnya menerima keadaan fisiknya, tidak lagi emosional, cara berpikir objektif dan mampu bertanggung jawab terhadap tindakannya. Dengan kata lain, pada masa remaja akhir diharapkan anak telah mencapai kematangan dalam segi fisik, psikis, dan sosial dan dengan demikian memungkinkan tercapainya kemandirian yang sungguh-sungguh. Dalam mengatasi konflik antara kondisi yang dimiliki dan tuntutan dari luar akan memacu perkembangan kemandirian remaja, yang terwujud dalam bentuk mengatasi kesulitan yang dihadapi.

Peran Jenis dan Kemandirian

Peran jenis khususnya pada remaja tidak akan lepas dari pengaruh yang sangat kuat dari mulai dialaminya kematangan seksual baik pada remaja perempuan maupun laki-laki. Hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen bagi remaja perempuan, dan hormon testosteron bagi remaja laki-laki.

Remaja laki-laki dan remaja perempuan, masing-masing mempunyai sifat yang khas yang hampir berlawanan satu sama lain. Adanya sifat yang berlawanan antara laki-laki dan perempuan. Maskulinitas, orientasinya instrumental dengan menunjukkan tingkah laku yang berusaha mencapai tujuan, melakukan dengan serius dan menghindari pengaruh emosional, baik yang ada pada dirinya maupun dari orang lain. Adapun femininitas, orientasinya bersifat ekspresif, misalnya berusaha memberikan reaksi yang menyenangkan dengan harapan memperolch perlakuan yang menyenangkan pula. Bern juga menyatakan bahwa maskulinitas biasanya berkaitan dengan kebebasan dan kemandirian, sedangkan femininims berkaitan dengan pemeliharaan.

Individu yang memiliki sifat sekaligus feminin dan maskulin (yang disebut androgini) baik laki-laki maupun perempuan ternyata memiliki kemandirian lebih tinggi daripada individu yang memiliki peran jenis yang lain. Penelitian lain yang menunjang hubungan antara peran jenis dan aspek psikologis yang mendukung kemandirian yaitu hubungan antara peran jenis dan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi, hasilnya adalah sebagai berikut: 1) Subjek androgini mempunyai skor lebih tinggi pada pemecahan krisis karena memang mereka berhasil dalam mengatasi perrnasalahan yang dihadapi. 2) Kelompok tak tergolongkan berbeda dengan tiga kelompok yang lain (feminin, maskulin, dan androgini) mereka tidak hanya melihat dirinya tidak berhasil dalam pemecahan masalah, tetapi juga mereka melihat dirinya sendiri tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Gordon, dkk, dalam penelitiannya mengenai hubungan antara peran jenis dan kemandirian, mengatakan bahwa individu yang mempunyai kemandirian tinggi akan menunjukkan sifat khas maskulin yang direfleksikan dalam sifat aktif, kompetitif dan mandiri.

Faktor-faktor Lain Yang Dapat Mempengaruhi Kemandirian

Di samping faktor perkembangan dan peran jenis yang mungkin mempengaruhi kemandirian, sebenarnya masih banyak faktor-faktor lain yang berperan, misalnya kecerdasan, lingkungan tempat tinggal, perlakuan orang tua terhadap anak, sosial ekonomi keluarga, dan jenis kelamin, serta masih ada yang lain.

Faktor lain yang dianggap penting sebagai tambahan yang diperhatikan adalah kecerdasan dan tempat tinggal. Dua faktor tersebut diasumsikan akan berpengaruh dalam proses penentuan sikap, pengambilan keputusan, penyesuaian diri secara tepat dalam penampilan kemandirian yang mantap. Usaha untuk menentukan sikap memang diperlukan adanya kemampuan berpikir yang baik, supaya sikapnya dapat diterima oleh masyarakat lingkungannya. Di samping itu manusia sebagai makhluk sosial memang tidak akan pernah dapat dipisahkan dengan manusia lain dan juga lingkungan tempat tinggal individu tersebut.

Anak yang cerdas akan memilih metode yang praktis dan tepat dalam memecahkan masalah, sehingga akan cepat dapat mengambil keputusan untuk bertindak, Hal ini menunjukkan adanya kemandirian dalam menghadapi masalah yang harus diselesaikan. Dapat dikatakan bahwa apabila seseorang mempunyai inteligensi yang baik atau tinggi akan lebih marnpu menghadapi lingkungan dibanding dengan seseorang yang berinteligensi rendah.

Bem, S.L., 1975. Sex Role Adaptability One Consequence of Psychological Androgyny. Journal of Personality and Social Psychology. 31, 634-643.

Bem, S.L., 1981. Bern Sex Role Inventory Professional Manual. Consulting Psychologist Press, Inc. Palo Alto, California.

Bhatia, H.R., 1977. A Textbook of Educational Psychology. Revised Edition. The MacMillan Company of India Limited, New Delhi.

Cole, L., 1963. Psychology of Adolescence. Fifth Edition. Holt, Rinehart and Winston, New York.

Conger, J.J., 1973. Adolescence and Youth Psychological Development in a Changing World. Harper & Row, Publisher, New York.

Dusek, J.B., 1977. Adolescent Develop¬ment and Behavior. Science Research Associate, Inc., Chicago.

Eysenck, H.J.; Arnold, W., and Meili, R., 1972. Encyclopedia of Psychology, Volume One A to F, Volume Two G to Phar, Volume Three Phas to Z. Herder and Herder, New York.

Gordon, L.; Verdenburg, K.; Plener, P., and Krames, L., 1985. Sex Roles and Depression: A Preliminery Investigation of the Direction of Causality. Journal of Research in Personality, 19, 429- 435.

Havighurst, R.J., 1955. Ilunzan Development and Education. Longmans, Green and Co., Inc., New York.

Hurlock, E.B., 1973. Adolescent Development. Fourth Edition. International Student Edition. McGraw-Hill, Kogakusha, Ltd., Tokyo.

Jersild, A.T., 1963. The Psychology of Adolescence. Second Edition. The MacMillan Company, Collier Mac Milian Company, London.

Johnson, R.C., and Mcdinnus, G.R., 1974. Child Psychology Behavior and De¬velopment. Third Edition. John Wiley & Sons, New York.

Kaplan, A.G., and Bean Joan, P., 1976. Beyond Sex Role Stereotypes. Reading Toward A Psychology of Androgyny. Little Brown and Cornpany, Boston-Toronto.

Lamke, K.L., 1982. Adjustment and Sex-Role Orientation in Adolescence. Journal of Youth and Adolescence, I 1, 247-259.

Lerner, R.M., 1976. Concepts and Theories of Human Development. Addison-Wesley Publishing Company, Inc. Philippines.

Lerner, R.M. and Spanier, G.B., 1980. Adolescent Develop meta. A Life-Span Perspective. McGraw-Hill Book Company, New York.

Monks, PI; Knoers, A.M.P., dan Haditono, Siti Rahayu. 1989. Psikologi Perkembangan. Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Selva, P.C. and Dusek, J.B., 1984. Sex-Role Orientation and Resolution of Eriksonian Crises During The Late Adolescent Years. Journal of Personality and Social Psychology. 47, 204-212.

Skinner, C.E., 1952. Essentials of Educational Psychology. Prentice-Hall, Inc., New York.

Praktek Pemasaran Pada Perusahaan Kecil Atau UKM

(kesimpulan) Secara historis, perusahaan kecil atau usaha kecil menengah (UKM) dalam praktik pemasaran lebih dinilai dengan tolak ukur model yang biasa dipakai dalam perusahaan besar. Mungkin ini menjadi alasan mengapa perusahaan kecil sering dikritik mempraktekkan sistem pemasaran secara tradisional, informal, jangka pendek, dan non-strategis. Namun, mengingat disiplin pemasaran adalah sebuah proses transformasi dengan paradigma baru, maka sekarang menjadi tepat untuk menilai praktek pemasaran di perusahaan dengan perspektif yang lebih luas dan lebih kontemporer.

Ada banyak UKM yang memiliki basis sumber daya dari perusahaan besar, sehingga aspek penting yang membedakan besar kecilnya suatu perusahaan adalah tinggi rendahnya cakupan waktu. UKM merupakan cakupan usaha yang paling rentan di saat mereka sangat muda dan sangat kecil. Hanya sebagian kecil persentase survive UKM yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang hingga lebih dari dua dekade semenjak usaha dibuka. Mereka kekurangan daya pasar karena ketergantungan pada basis pelanggan sempit dari lingkungan yang jauh lebih sedikit dikontrol.

Sebuah studi kasus yang melibatkan hidup dan matinya perusahaan kecil menunjukkan bahwa penyesuaian adalah faktor kunci. Penyesuaian yang paling penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan dari perusahaan-perusahaan kecil adalah partisipasi aktif dalam membangun pasar dan terus mencari peluang pasar baru untuk memperluas basis pelanggan. UKM yang sangat antusias melakukan penyesuaian, terutama dalam kaitannya dengan pasar akan memiliki peluang untuk hidup yang lebih besar.

Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara ukuran perusahaan dan jumlah pelanggan. Salah satu konsekuensi bahwa perdagangan usaha kecil cenderung hanya terbatas pada wilayah geografis, sehingga mereka sangat terikat erat dengan siklus ekonomi lokal dengan segala keterbatasan peluang.

Hal lain yang penting adalah keterbatasan keuangan dan sumber daya manusia. Perusahaan kecil memiliki kemampuan terbatas dalam belanja untuk kegiatan pemasaran secara efektif, suatu tuntutan yang mutlak dalam persaingan. Keterbatasan keuangan juga membatasi kemampuan mereka untuk melakukan berbagai perencanaan inovatif. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa perusahaan kecil dengan kegiatan informal tidak memiliki orientasi strategis.

Sehubungan dengan lemahnya perencanaan formal, maka sangat sulit untuk mempraktekkan teknik-teknik pemasaran 4Ps (product, price, place, personal selling) atau segmentasi pasar. Bahkan pemilik dari perusahaan-perusahaan kecil tampaknya lebih mengesampingkan prioritas pemasaran dibandingkan dengan berbagai fungsi lain dari bisnis mereka, seringkali pemasaran dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting. Pemilik usaha cenderung mencampur adukkan dimensi-dimensi promotion mix menurut penilaian pribadi. Hal ini terjadi karena pengalaman dan kebiasaan untuk kontak pribadi dengan pelanggan, bukan pada andil promosi dan pemasaran massa. Kecenderungan inilah yang terjadi dalam konteks pemasaran pada UKM.

Pengusaha kecil memilih “percakapan” informal dalam menjalin hubungan mereka dengan pelanggan, mendengarkan dan tanya-jawab, daripada melakukan riset pasar formal untuk memahami pasar. Sedangkan dalam konteks pemasaran strategis (taktis) membutuhkan pendekatan formal. Transaksi pasar bergantung pada orientasi formal, analisis ketat untuk mencoba menentukan pelanggan dan tuntutan kebutuhan. Kewirausahaan dan pemasaran juga sangat bergantung kepada pemasaran lisan untuk mengembangkan basis pelanggan melalui rekomendasi. Lisan melibatkan wajah-wajah dengan kontak langsung antara communicator dan penerima, di mana penerima yang dikatakan independen dari produk atau layanan.

Gaya manajemen UKM memiliki tipikal dengan karakteristik pemiliknya terkait dengan berbagi keputusan kunci. Pengaruh pemilik yang dominan telah menyebabkan naik turunnya kinerja perusahaan mereka. Sejak kecil banyak pemilik perusahaan yang mengelola kegiatan pemasaran didasarkan pada tipe wirausahawan pemiliknya. Salah satu aspek yang mempengaruhi ini adalah pengambilan risiko. Kesalahan dalam pemasaran dianggap sebagai suatu resiko yang relatif rendah, karena modal investasi oleh UKM jauh lebih rendah. Selain itu, hubungan pemasaran sangat fleksibel dan dapat dengan mudah beradaptasi dengan tuntutan perubahan. Pengaruh lainnya dalam pemasaran pada perusahaan kecil adalah motivasi pribadi dari pemiliknya.

Kelemahan Untuk Menciptakan Kelebihan

Perusahaan kecil mempunyai basis pelanggan yang sempit dan biasanya terkonsentrasi di pasar lokal, sehingga mereka mengenal karakteristik pribadi pelanggan dari hasil hubungan interaksional. Hal ini mengarah pada manfaat seperti loyalitas dan tingkat kepuasan pelanggan. Aspek lain yang membantu hubungan antara pengusaha dan pelanggan adalah fleksibilitas dari perusahaan kecil, karena perusahaan kecil biasanya lebih fleksibel dalam menanggapi permintaan pelanggan.

Para pengusaha kecil biasanya mengumpulkan informasi dengan cara yang informal dan lebih sering tatap muka langsung dalam melakukan komunikasi, sehingga dapat mengakses informasi pasar yang penting, tepat waktu dan murah. Selain itu, hubungan yang dekat memungkinkan mereka untuk menggunakan informasi tersebut untuk membuat keputusan yang lebih baik dalam pemasaran. Walaupun hal tersebut dilakukan tanpa disadari. Namun, kemampuan untuk mengumpulkan dan menggunakan informasi dengan cara ini adalah penting untuk keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan.

PUSTAKA

Arndt, J. (1967), “Word-of-mouth advertising and informal communication”, in Cox, D. (Ed.), Risk Taking and Information Handling in Consumer Behavior, Harvard University, Boston, MA.

Brush, C.G. (1992), “Research of women business owners: past trends, a new perspective, future directions”, Entrepreneurship Theory and Practice, Summer, pp. 5-30.

Carson, D. (1985), “The evolution of marketing in small firms”, European Journal of Marketing, Vol. 19 No. 5, pp. 7-16.

Carson, D., Cromie, S., McGowan, P. and Hill, J. (1995), Marketing and Entrepreneurship in SMEs: An Innovative Approach, Prentice-Hall International, Englewood Cliffs, NJ.

Carter, S. and Jones-Evans, D. (2000), Enterprise and Small Business: Principles, Practice and Policy, Pearson Education, Edinburgh.

Chell, E., Haworth, J. and Brearley, S. (1991), The Entrepreneurial Personality: Concepts, Cases and Categories, Routledge, London.

Coviello, N.E., Brodie, R.J. and Munro, H.J. (2000), “An investigation of marketing practice by firm size”, Journal of Business Venturing, Vol. 15, pp. 523-45.

Curran, J. and Blackburn, R. (1990), Small Firms and Local Economic Networks: A Report to Midland Bank, Small Business Research Centre, Kingston Business School, Kingston-upon-Thames.

Day, J., Dean, A.A. and Reynolds, P.L. (1998), “Relationship marketing: its key role in entrepreneurship”, Journal of Long Range Planning, Vol. 31 No. 6, pp. 828-37.

Hall, G. (1995), Surviving and Prospering in the Small Firm Sector, Routledge, London.

Kinsey, J. (1987), “Marketing and the small manufacturing firm in Scotland: findings of a pilot survey”, Journal of Small Business Management, Vol. 25 No. 2, pp. 18-25.

Pearson, J.N. and Ellram, L.M. (1995), “Supplier selection and evaluation in small versus large electronics firms”, Journal of Small Business Management, Vol. 33 No. 4, pp. 53-65.

Scholhammer, H. and Kuriloff, A. (1997), Entrepreneurship and Small Business Management, John Wiley, New York, NY.

Smallbone, D., North, D. and Leigh, R. (1993), “The use of external assistance by mature SMEs in the UK: some policy implications”, Entrepreneurship and Regional Development, Vol. 5 No. 3, p. 279.

Stokes, D.R., Fitchew, S. and Blackburn, R. (1997), “Marketing in small firms: a conceptual approach”, Report to the Royal Mail, Small Business Research Centre, Kingston University, Kingston-upon-Thames.

Storey, D.J. (1994), Understanding the Small Business Sector, Routledge, London.

Weinrauch, J.D., Man, K., Robinson, P.A. and Pharr, J. (1991), “Dealing with limited financial resources: a marketing challenge for small business”, Journal of Small Business Management, Vol. 29 No. 4, pp. 4-54.

Wynarczyk, P., Watson, R., Storey, D.J., Short, H. and Keasey, K. (1993), The Managerial Labour Market in Small and Medium-Sized Enterprises, Routledge, London.

Demokrasi

(kesimpulan) Istilah "demokrasi" berasal dan bahasa Yunani, yang terdiri atas dua pokok kata yaitu "demos" yang berarti rakyat, dan "cratos" yang berarti memerintah. Secara harfiah, demokrasi berarti pemerintahan oleh rakyat. Di Athena., kata dernokrasi digunakan untuk menunjukkan pada "government by the many" (pemerintahan oleh orang banyak), sebagai lawan dan "government by the fee (pemerintahan oleh sekelompok orang).

Istilah demokrasi dalam kamus Istilah Hukum Pockema Andreae diartikan, "democratie" demokrasi, pemerintahan rakyat; bentuk pemerintahan yang memberikan hak-hak ikut berbicara kepada yang diperintah oleh yang memerintah, pengawasan atas kebijaksanaan pemerintah dilakukan oleh wakil rakyat yang dipilih. Sementara itu dalam kamus Dictionary Webters pengertian demokrasi adalah, pemerintahan oleh rakyat di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat dan dijalankan langsung oleh mereka atau wakil-wakil yang mereka pilih di bawah sistem pemilihan umum yang bebas.

Hal senadapun disampaikan Jimly Assiddiqie yang menyatakan bahwa, dalam suatu negara demokrasi, kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Dari rakyat maksudnya bahwa mereka yang duduk sebagai penyelenggaraan negara atau pemerintah harus terdiri dan seluruh rakyat itu sendiri atau yang disetujui atau didukung oleh rakyat. Oleh rakyat maksudnya bahwa penyelenggaraan negara atau penyelenggaraan pemerintahan dijalankan sendiri oleh rakyat atau atas nama rakyat atau yang mewakili rakyat. Pernyataan tersebut dipertegas oleh Arend Lijphard, bahwa untuk rakyat maksudnya pemerintahan dijalankan atau berjalan sesuai dengan kehendak rakyat (government in accordance with the people's preferences).

Demokrasi berakar pada teori kedaulatan rakyat yang dapat dirumuskan sebagai wewenang tertinggi yang menentukan segala wewenang yang ada dalam suatu negara adalah rakyat. Negara yang menempatkan kekuasaan tertinggi pada rakyat disebut negara demokrasi yang secara simbolis sering digambarkan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Dengan kata lain demokrasi adalah sistem pemerintahan yang dibentuk melalui pemilihan umum untuk mengatur kehidupan bersama atas dasar aturan hukum yang berpihak pada rakyat banyak. Jadi, sangat tepat kiranya demokrasi diberikan rumusan yang singkat, padat, dan populer sebagai "a government of the people, by the people, for the people”. Robert A. Dahl, dalam hal ini mengemukakan bahwa dengan demokrasi akan memberikan kesempatan-kesempatan untuk: pertama, partisipasi yang efektif, kedua, persamaan dalam memberikan suara, ketiga, mendapatkan pemahaman yang jernih, keempat, melaksanakan pengawasan akhir terhadap agenda; kelima, pencakupan orang dewasa.

Dari pemahaman di atas, kiranya dapat diberikan pemahaman terhadap suatu negara yang menganut sistem demokrasi yaitu, pertama, demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan yang mempunyai unsur-unsur atau elemen-elemen yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Kedua, orang-orang yang memegang kekuasaan atas nama demokrasi dapat mengambil keputusan untuk menetapkan dan menegakkan hukum. Ketiga, kekuasaan untuk mengatur dalam bentak aturan hukum tersebut diperoleh dan dipertahankan melalui pemilihan umum yang bebas dan diikuti oleh sebagian warga negara dewasa dari suatu negara. Berdasarkan pada tiga ciri-ciri tersebut, maka suatu negara demokrasi mempunyai tiga pemahaman utama yang meliputi hakekat, proses dan tujuan dari demokrasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Dahlan Thaib yang menyatakan bahwa dalam sistem demokrasi proses pembuatan kebijaksanaan atau keputusan politik merupakan keseimbangan dinamis antara prakarsa pemerintah (supra struktur politik) dengan partisipasi aktif rakyat (infra struktur). Keikutsertaan rakyat sebagai infra struktur dalam proses pengambilan keputusan memang hanya terdapat dalam negara yang berlandaskan sistem demokrasi.

Tidak jauh berbeda dengan pendapat di atas, bahwa dalam yang berlandaskan paham demokrasi, selalu dilandasi oleh suatu sistem yang memberi jaminan terhadap prinsip-prinsip kedaulatan rakyat. Untuk maksud tersebut C.F. Strong menyatakan "A system of government in wich the majority of the grown members of political community participate through a method of refresentation which secures that the government is ultimately responsible for its actions to that majority. In other words, the comtemporary constitutional state must be based on a system of democratic representative which guarantees the sovereignity of the people.

Suatu sistem pemerintahan dalam hal mana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat ikut serta melalui cara perwakilan yang menjamin bahwa pemerintah akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya kepada mayoritas itu. Dengan perkataan lain, negara demokrasi didasari oleh sistem perwakilan yang menjamin kedaulatan rakyat.

Dari berbagai pengertian tersebut terlihat bahwa rakyat diletakkan pada posisi sentral (government or rule by the people), di mana kekuasaan pemerintahan negara atau keputusan-keputusan politik dilakukan oleh rakyat atau atas kemauan rakyat atau golongan yang memerintah dan melalui wakil yang dipilih akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya kepada rakyat.

Demokrasi yang telah diperbicangkan selama ribuan tahun ternyata dalam praktek mengalami pergeseran-pergeseran konseptual. Pergeseran-pergeseran ini dapat mengikat konsep demokrasi sendiri seringkali bersinggungan dengan persepsi dan budaya dan setiap negara yang mempraktekan demokrasi.

Sejalan dengan pandangan ini, Sotjipto Wirosarjono mengemukakan bahwa tatkala hendak merumuskan norma demokrasi itulah ditemukan keberagaman. Dimensi tempat dan waktu memberi warna beragam antara pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi di satu situasi dan kondisi dengan situasi dan kondisi sosial budaya lainnya. Demokrasi di Amerika Serikat lain normanya apabila dibandingkan dengan demokrasi di Jepang. Pelaksanaan kedaulatan rakyat di India berbeda norma dan aturannya dengan yang ditemui di negara-negara Skandanavia. Walaupun demikian, tentu ada norma baku yang harus ada di mana saja dan kapan saja, supaya ia tetap mencerminkan semangat etis demokrasi yaitu pertanggungjawaban kepada rakyat (public accountability) dan kaidah contestability yaitu kesiapan untuk menjawab pertanyaan atau ujian kesahihan atas segala perbuatan konstitusionalnya. Tujuan, dasar dan landasan tindakan atas nama rakyat siap diuji, apakah ia cermin kehendak bersama, atau atas nama kepentingan lain daripada kehendak dan kesadaran etis rakyatnya.

Miriam Budiardjo berpendapat bahwa ada bermacam-macam atribut demokrasi yaitu; demokrasi konstitusional, demokrasi parlernenter, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila, demokrasi rakyat, demokrasi soviet, demokrasi nasional dan sebagainya. Hal itu terangkum pula dan pengamatan Sri Soemantri, yang menyatakan bahwa sekarang ini tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak berazaskan demokrasi. Meskipun arti yang diberikan kepada demokrasi tersebut tidak sama, namun setiap negara akan selalu mengatakan bahwa negaranya berdasarkan pada azas-azas demokrasi.

Mochtar Masoed mengemukakan pendapatnya bahwa demokrasi ada dua, yakni demokrasi mayoritas (majoritarian democracy) dan demokrasi konsensus (consencus democracy). Demokrasi mayoritas adalah demokrasi yang berdasarkan pada kekuasaan politik mayoritas (concentrated and unrestricted polical power of the majority), sedangkan demokrasi konsensus adalah demokrasi yang didasarkan pada pembatasan dan pembedaan kekuasaan (power dispersion and limitation).

Sementara Afan Gaffar mengemukakan pendapat dari pandang ilmu politik tentang tipe-tipe demokrasi. Dalam Ilmu Politik, dikenal dua macam pemahaman tentang demokrasi, yakni; Pertama, demokrasi normatif, artinya demokrasi hanya dipahami secara normatif; dan Kedua, demokrasi empirik, yang mengandung arti demokrasi yang didasarkan pada pemahaman secara empirik (prosedural democracy).

PUSTAKA

Anonimous, What is Democracy, United State Information Agency, 1999.

Arend Lijphard, Democracies, Yale University Press, New Haven and London, 1984.

Bangir Mana, Lembaga Kepresidenan, Pusat Studi Hukum UII & Gama Media, Yogyakarta, 1999.

Dahlan Thaib, Pancasila Yuridis Ketatanegaraan, UPP AMP YKPN, Yogyakarta, 1991.

Harris G. Warren et.al. Our Democracy at work 2nd Dition, Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, USA, 1967.

Ismail Sunny, Mekanisme Demokrasi Pancasila, Aksara Baru, Jakarta, 1977.

Jimly Assiddiqie, gagasan Kedaulatan Rakyat Dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di Indonesia, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1994.

Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Cetakan ke-2, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002.

Sri Soemantri M, Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, Alumni, Bandung, 1992.

N.E. Algra, et.al. Kamus Istilah Hukum Pockema Andrear, Belanda-Indonesia, Binacipta, 1983.

Robert Dahl, Democracy, Yale University Press, USA, 1998.

Samuel P. Hutington, Gelombang Demokrasi Ketiga, Asril Marjohan, (Penj.), Cetakan Kedua, Pustaka Utama Grafitri, Jakarta, 1995.

Sotjipto wirosardjono, Dialog Dengan Kekuasaan, Esai-Esai Tentang Agama, Negara, dan Rakyat, Mizan, Bandung, 1995.

Partisipasi Aktif Siswa di Kelas

(kesimpulan) Pendidikan adalah salah satu ”cornerstones” untuk mencapai sukses. Tingkat pendidikan akan membantu menentukan satu dari berbagai jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, dan status di dalam masyarakat. Oleh karena itu, kesuksesan siswa di kelas dapat memiliki dampak jangka panjang pada individu. Pendidik menggunakan berbagai metode untuk mengevaluasi siswa termasuk menilai tingkat partisipasi di kelas. Instruktur akademis biasanya mengajukan pertanyaan, mengizinkan siswa untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan komentar, struktur, serta kegiatan kelompok kecil untuk meningkatkan partisipasi kelas. Meningkatkan partisipasi siswa secara aktif di kelas termasuk bertanya dan membuat ide-ide baru. Memang, partisipasi di ruang kelas telah diidentifikasi berkaitan secara langsung dengan keberhasilan pendidikan.

Beberapa atribut variabel pribadi telah dihubungkan dengan partisipasi. Secara khusus, self telah berkorelasi dengan tingkat partisipasi siswa di kelas. Self-esteem didefinisikan sebagai “set evaluatif sikap orang mengenai dirinya (accomplishments)”. Penelitian tentang self dan tingkat partisipasi di kelas telah menunjukkan bahwa beberapa perbedaan perilaku di antara siswa-siswa dengan berbagai tingkat. Misalnya, siswa-siswa yang rendah diri memberikan tanggapan terbatas di ruang kelas sedangkan siswa-siswa yang memiliki kepercayaan diri yang kuat menampilkan kemampuan komunikasi yang interaktif dengan orang lain. Hubungan antara self dan tingkat partisipasi nampaknya memiliki dua arah. Itulah sebabnya, peningkatan partisipasi dapat meningkatkan kepercayaan diri atau meningkatkan kepercayaan diri mungkin akan meningkatkan partisipasi. Namun, penelitian juga menemukan bahwa orang-orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi lebih yakin dalam situasi sosial dari orang-orang yang rendah diri.

Variabel lain yang dapat berkontribusi dengan tingkat partisipasi siswa di kelas yaitu communication apprehension dan tingkat introvert/extravert. Communication apprehension adalah tingkat ketakutan atau kekhawatiran komunikasi. Communication apprehension yang berlebihan dapat menyebabkan rendah diri, lemahnya kemampuan komunikasi, dan prestasi pendidikan rendah. Communication apprehension dapat menjadi faktor yang inhibits bagi partisipasi siswa serta pembelajaran keterampilan komunikasi dan akhirnya mengarah pada kecenderungan siswa kurang sukses di kelas.

Siswa yang introverted juga memiliki banyak kesulitan berpartisipasi di dalam kelas. Sering kali siswa tetap tidak terlihat eksis oleh guru dan teman-temannya karena rasa malu dan kepasifan umum di dalam kelas. Ciri-ciri introversi adalah tenang, tidak ramah, pasif, perilaku hati-hati dan bijaksana. Karakteristik ini menyebabkan siswa menjadi hampir ”tidak kelihatan” di dalam kelas. Mereka yang extraverted dapat dicirikan oleh sosial, keluar, banyak bicara, aktif dan perilaku impulsif. Oleh karena itu, disarankan agar siswa extraverted lebih mungkin untuk berpartisipasi aktif di kelas. Walaupun temuan ini menjadi bias namun perlu ditelaah tersendiri hubungan antara partisipasi di kelas dengan karakteristik introversi-extraversion.

Berbagai hipotesa yang diajukan dalam beberapa penelitian menyatakan bahwa self akan berkontribusi secara mandiri terkait dengan partisipasi aktif siswa di kelas telah ditolak. Self bukanlah tukang ramal yang independen dalam pertisipasi di kelas, namun berhubungan. Hal-hal fisik, keakraban simulasi pembelajaran, dan pengaturan tempat duduk juga tidak mempengaruhi jumlah partisipasi siswa di kelas. Di sisi lain, communication apprehension merupakan indikator yang signifikan dalam peramalan partisipasi siswa di kelas dan sangat berkorelatif. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun siswa yang termotivasi untuk berkontribusi, familiar dengan topik diskusi, dan/atau tertarik dengan topik, mereka mungkin inhibited karena takut berbicara.

PUSTAKA

Allen, B. P. & Niss, J. F. (1990, April). A chill in the college classroom? Phi Delta Kappa. 607-609.

Baron, R. A. (1998) Psychology (4th ed.). Needham, Heights, MA: Allyn &Bacon Burnett, P. C. (1998). Measuring Behavioral Indicators of Self-esteem in the Classroom. Journal of Humanistic Education & Development, 37, 107-114.

Byrnes, D. A. (1984). Forgotten children in classrooms: Development and characteristics. The Elementary School Journal, 84, 271-281.

Cheek, J. M., & Buss, A. H. (1981). Shyness and sociability. Journal of Personality and Social Psychology, 41, 330-339.

Coopersmith, S. (1967). The antecedents of self-esteem. San Francisco: W. H. Freeman. Dwyer, K. K. (2000). The multidimensional model: teaching students to self-manage high communication apprehension by self-selecting treatments. Communication Education , 49, 72-81.

Jaasma, M. A. (1997). Classroom communication apprehension: Does being male or female make a difference? Communication Reports, 10, 219-229.

McCroskey, J. C. (1976). The effects of communication apprehension on nonverbal behavior. Communication Quarterly, 24, 39-44.

McCroskey, J. C. (1977). Classroom consequences of communication apprehension. Communication Education, 26, 27-33.

McCroskey, J. C., Booth-Butterfield, S. & Payne, S.K. (1989). The impact of communication apprehension on college students’ retention and success. Communication Quarterly, 37, 100- 107.

McCroskey, J. C. & Sheahan, M.E. (1978). Communication apprehension and social behavior in a college environment. Communication Quarterly, 26, 4 1-50.

Morrison, T. L. & Thomas, D.M. (1975). Self-esteem and classroom participation. The Journal of Educational Research, 68, 374-377.

Myers, D. G. (1995). Psychology (5th ed.). New York: Worth

Robinson, T. E. (1997). Communication apprehension and the basic public speaking course: a national survey of in-class treatment techniques. Communication Education, 46, 188-197.

Robinson, J. P., Shaver P. R. , & Wrightsman, L. S. (1991). Measures of Personality and Social Psychological Attitudes. New York: Academic Press.

Tollefson, M. M. & Smith, R. L. (1998). Utilizing the personal report of communication apprehension-24 for assessing the introductory public speaking course. Journal of the Wisconsin Communication Association, 29, 3 1-41.

Tsui, L. (1998). The effects of gender, education, and personal skills self-confidence on Income in business management. Sex Roles, 38, 363-373.

Williams, R. L. (1971). Relationship of Class Participation to Personality, Ability, and Achievement Variables. The Journal of Social Psychology, 83, 193-198.

Witherspoon, A. D., Long, C. K. & Nickell, E. B. (1991). Dropping out: Relationship of speaking anxiety to self-esteem, crime and educational achievement. Psychological Reports, 69, 673-674.

Pemanfaatan Teknologi Internet Dalam Budaya Industri Pertanian

(kesimpulan) Keberadaan konsumen selalu penting bagi produsen, untuk memahami konsumen dan bagaimana cara terbaik untuk pasar mereka dengan kemajuan teknologi yang signifikan selama dua dekade, kini pemasar dihadapkan dengan lebih banyak alternatif dan memahami bagaimana menyusun kebijakan promosi, namun apa yang diharapkan ternyata lebih sulit. Industri pertanian (sektor yang penting di seluruh dunia) memiliki pengecualian. Di Amerika Serikat ada sekitar 2,1 juta peternakan dengan nilai produksi melebihi $217 miliar dan biaya produksi melebihi $190 miliar. Pertanian memiliki peran yang lebih menonjol. Meskipun sering disebut sebagai petani, maka produsen pertanian adalah penjual dan sekaligus pembeli, dan penting untuk setiap bisnis yaitu tentang target pasar yang besar untuk memahami bagaimana keputusan pembelian yang dibuat dan apa yang diharapkan dari adanya komunikasi pemasaran. Pertanian merupakan salah satu budaya industri tertua dan selalu berhadapan dengan banyak perubahan.

Perhatian utama bagi produsen pertanian selama sepuluh tahun terakhir di Amerika Serikat telah mengalami penurunan besar terkait harga komoditas karena pengaruh global dan adanya Reformasi Undang-Undang Federal (FAIR), yang pada tahun 1996. FAIR dimaksudkan sebagai kontrol produksi dengan membatasi jenis dan jumlah produk yang dihasilkan. Idenya adalah jika produksi pertanian melimpah akan menurunkan harga, dan pelanggan akan membeli, sehingga pada gilirannya akan meningkatkan permintaan. Dalam kenyataannya, produk pertanian seperti makanan seringkali terjadi penurunan harga, namun tetap tidak merangsang permintaan. Sementara itu untuk produk pertanian plummeted, biaya operasional terus meningkat.

Keadaan ini membawa efek kombinasi, bahkan jumlah produsen pertanian di Amerika Serikat menurun dari 6,8 juta (1935) menjadi 2,1 juta (2004). Industri pertanian sebagai produsen telah dipaksa untuk menyerap lebih banyak tagihan yang belum dibayarkan dengan profitabilitas memburuk. Penurunan profit margin dan meningkatnya jumlah kegagalan ternak dan menyebabkan pesimisme.

Kini strategi efisiensi lebih menjanjikan yaitu peningkatan manfaat teknologi, seiring dengan lebih canggihnya traktor dan peralatan, adopsi teknologi peramalan cuaca, global positioning system (GPS), citra satelit dan bioteknologi. Yang menarik dalam kajian ini adalah penggunaan internet dan peranan dalam pemasaran pada industri pertanian.

Ada banyak e-commerce situs web yang khusus dirancang untuk industri pertanian dan banyak lagi sedang dikembangkan pada setiap harinya. Beberapa situs yang lebih populer termasuk AgWeb.com dari Farm Jurnal, @griculture Online (agriculture.com) dari Successful Farming, DirectAg.com oleh American Farm Bureau, XSAg.com, Farms.com, eMerge Interaktif, Rooster.com oleh Cargill, Dupont dan Cenex Harvest State Cooperative, Vantage-Point Network oleh Deere dan Co, Growmark, Inc dan Firmland Industries, farmdoc.uiuc.edu disponsori oleh University of Illinois at Urbana-Champagne, dan mPower3.com oleh ConAgra. Banyak perusahaan besar melakukan investasi besar di ventura internet. Namun, apa manfaat yang diperoleh sehingga mereka sibuk membawa budaya pertanian ke dalam internet? Apa peran yang dapat dimainkan di dalam industri pertanian?

PERANAN INTERNET BAGI BUDAYA INDUSTRI PERTANIAN

Sumber Informasi

Pertama, Internet adalah sumber informasi praktis yang formal dan informal. Informasi dapat diakses setiap saat setiap hari. Sejumlah situs pertanian, seperti DirectAg.com menyediakan prakiraan cuaca, harga tanaman, jasa keuangan dan industri, serta berita umum lainnya. Internet juga berfungsi sebagai sumber informasi informal, membawa produser yang memiliki memiliki minat sama meskipun terpisah secara geografis. Melalui ruang chatting dan email, produsen pertanian dapat membicarakan produktivitas kontrol hama atau masalah lainnya dengan para ahli di lapangan. Internet memungkinkan untuk interaksi sosial di antara produsen yang relatif terpencil dari satu sama lain.

Model Data Produktivitas

Sementara internet sebagai sumber informasi umum, situs web yang lebih bersifat interaktif dan memungkinkan produsen untuk input dan menyimpan informasi lapangan. Informasi ini dapat dikombinasikan dengan cuaca dan pasar dalam memanfaatkan data secara canggih untuk menentukan model seperti kontrol hama atau strategi pupuk. VantagePoint dan mPower3, adalah dua dari situs web yang dirancang untuk membantu produsen meningkatkan produktivitas ladang.

Pembelian Supplies

Internet adalah sumber yang berharga untuk membeli perlengkapan. Misalnya simpanan hingga 30% dapat dicapai oleh pemotongan harga dari supplier dan distributor untuk produk-produk seperti bibit, pupuk, dan perlindungan tanaman bahan kimia. Produsen kecil dan independen yang tidak cukup memenuhi syarat volume ke dealer, secara bersama potongan harga pada masing-masing dapat digabungkan untuk membeli kebutuhan dengan produsen lainnya sehingga mendapatkan harga yang lebih baik.

Penjualan Produk

Pertani tradisional dalam menjual produk ke pasar, kadang-kadang harus menempuh perjalanan hingga ratusan kilometer dalam upaya untuk mendapatkan harga yang lebih baik. Ini sangat mahal dan memakan waktu. Sebaliknya, Internet membuka pasar global sampai ke konsumen, bahkan di daerah terpencil. Produsen memiliki akses harga produk yang lebih baik dan konsumen mendapat harga terjangkau. Selain itu dapat menjaga sapi, kambing, ayam, babi dan ternak lainnya dari infeksi hingga ke tempat pelelangan.

PENGGUNAAN INTERNET OLEH PETANI

Koneksi internet menyediakan berbagai fungsi dan manfaat kepada produsen pertanian. Namun, menurut laporan oleh National Agricultural Statistics Service Amerika Serikat, hanya sekitar setengah dari produsen pertanian memiliki akses internet. Sementara laporan statistik penggunaan internet berbeda-beda, dengan beberapa studi melaporkan penggunaan biaya operasional rendah, dan laporan lain lebih tinggi. Sekitar 8 persen dari produsen pertanian melakukan transaksi e-commerce (USDA-NASS Farm Komputer Penggunaan dan Kepemilikan 2003), di sisi lain para produsen yang membeli atau menjual on-line cenderung lebih besar. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Internet dan tujuan yang digunakan mungkin berbeda-beda menurut jenis operasionalnya. Misalnya, peternak akan lebih cenderung untuk membeli produk pertanian yang lebih bersih daripada kedelai growers. Dari produsen melakukan transaksi e-commerce, lebih dari 40 persen laporan pada pembelian tanaman, 33 persen membeli ternak dan 25 persen menjual ternak melalui Internet.

KETERBATASAN DAN KENDALA PENGGUNAAN INTERNET

Dengan banyak keuntungan penggunaan internet dalam industri pertanian, sangat mengejutkan bahwa ternyata banyak produsen pertanian tidak memanfaatkan perangkat ini untuk menjalankan bisnis mereka menjadi lebih baik. Suatu keprihatinan, apa yang mendorong keengganan dari beberapa produsen pertanian untuk memanfaatkan internet? Mudah jawabannya, yaitu keterbatasan fisik (infrastruktur dan permodalan) dan non-fisik (SDM) maupun kurangnya minat teknologi pada umumnya. Petani yang bergantung pada metode produksi tradisional berserta peralatannya (petani di Jawa lebih suka membeli sapi dibandingkan membeli traktor). Para produsen tidak menggunakan Internet untuk alasan bahwa di ladang tidak ada komputer. Penelitian di Amerika serikat menunjukkan bahwa hampir 60 persen dari petani menggunakan komputer, hanya 48-50 persen menggunakan Internet, dan hanya 8 persen membuat transaksi e-commerce.

Produsen yang menggunakan komputer namun tidak dapat terhubung ke internet karena memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk mendapatkan akses di daerah pedesaan. Saluran telepon di daerah pedesaan yang ”out of service” atau nirkabel dengan biaya ribuan dolar, sungguh akses yang tidak mudah di beberapa daerah. Faktor lain mungkin enggan untuk menggunakan Internet karena keamanan dan privasi. Websites seperti VantagePoint dan mPower3 membolehkan produsen produksi peternakan untuk menyimpan data agregat peternakan, walaupun tetap rahasia, petani mungkin khawatir bahwa secara teknis dapat diidentifikasi. Demikian juga, selalu ada kekhawatiran tentang data keuangan dan nomor kartu kredit yang ditransfer melalui internet. Terakhir, bahwa sistem distribusi tradisional dalam budaya industri pertanian sangat berakar pada layanan pribadi dan interaksi ”face to face” antara produsen dengan buyer.

SARAN KAJIAN STUDI

Perlu lebih dipahami bagaimana petani ke pasar dalam industri modern yang cepat berubah. Apakah persepsi dan sikap terhadap budaya pertanian secara keseluruhan, apa atribut yang penting bagi petani ketika membuat keputusan penjualan, apa peranan internet dapat dimaksimalkan dengan harapan perilaku dan jenis komunikasi pemasaran pertanian di masa depan?

PUSTAKA

Achenreiner, Gwen and Candice Dylhoff (2005), The Impact of Technology on Promotional Practices and Decision Making: A Look at the Agricultural Industry, The Marketing Management Journal, Volume 15, Issue 1, Pages 46 - 58

Anderson, Maren (2001), “Unfair to Small Producers,” Dollars and Sense, September/October, 9.

Hartke, Debby (2001), “Producers Still Prefer Print, Gallup Study Shows,” Agri Marketing, 39:4, 74-75.

Little, Darnell (2000), “Old MacDonald Has a Web Site,” Business Week, May 15, EB82-EB88.

Morehart, Mitch and Jeffrey Hopkins (2000), “Briefs: Technology: On the Upswing: Online Buying and Selling of Crop Inputs and Livestock,” Agricultural Outlook, September, 4.

Peterson, Thane (2000), “E-I-e-I-e-Farming,” Business Week, May 1, 202.

U.S. Department of Agriculture, National Agricultural Statistics Service (2004), Agricultural Statistics 2004, Chapter 9, Tables 9.2, 9.4, 9.39.

U.S. Department of Agriculture, National Agricultural Statistics Service (2003), Agricultural Statistics 2003, Chapter 9, Table 9.7.

U.S. Department of Agriculture, National Agricultural Statistics Service (2003), Farm Computer Usage and Ownership.

Perkembangan Industri Perbankan di China

(kesimpulan) Sejarah kelembagaan, regulasi, ekonomi dan lingkungan di dalam sistem perbankan di China terus mengalami perubahan signifikan karena kebijakan sebelum tahun 1990-an, setelah tahun 1990-an dan sampai era Desember 2001 sejak masuk WTO.

Sebelum Tahun 1990-an

Cina yang mengadopsi ideologi sosialis, membangun sistem perbankan pada akhir tahun 1940-an mengikuti sistem di bekas Uni Soviet. Bank sentral, PBOC (People's Bank of China) didirikan pada tahun 1948 melalui konsolidasi dari Bank Huabei, Bank Beihai, dan Bank Xibei. PBOC telah ”ditelanjangi” dari fungsinya selama Revolusi Kebudayaan (1966-1976), tetapi kemudian diberi peran untuk mengeluarkan mata uang dan kontrol moneter. Sebelum 1978, orang Cina terbiasa menggunakan sistem keuangan model ”mono-bank”, di mana PBOC memiliki peran kombinasi sebagai pusat komersial dan perbankan di bawah administrasi Departemen Keuangan.

Di bawah reformasi yang dimulai pada tahun 1978, sistem perbankan diperluas dengan pendirian berbagai bank komersial BUMN, dan memunculkan Empat Besar (The Big Four) bank milik pemerintah dan pinjaman dari PBOC. The Big Four yaitu Bank of China (Dewan Komisaris didirikan 1912), China Construction Bank (CCB, 1954), Agricultural Bank of China (ABC, 1979), dan Industri and Commercial Bank of China (ICBC, 1984). Bank-bank ini pada awalnya hanya terbatas pada pelayanan sektor ekonomi (misalnya, perdagangan dan pertukaran asing, konstruksi, pertanian, industri dan komersial), tetapi mulai tahun 1985, Big Four yang diizinkan bersaing dalam pinjaman dan simpanan pada semua layanan sektor. Namun, persaingan di antara mereka sangat terbatas sampai pertengahan 1990-an, terutama karena mereka bertugas sebagai “conduits” bagi pemerintah, dan kurangnya insentif daya bersaing.

Pada pertengahan tahun 1980-an, pemerintah daerah dapat menentukan sendiri alokasi sumber daya melalui pinjaman dan dana sendiri, sebuah proses revitalisasi perbankan. Meskipun kebijakan pinjaman diblokir dalam berkompetisi antar bank milik pemerintah.

Setelah Tahun 1990-an

Dengan kualitas aset deteriorated milik pemerintah pada tahun 1990-an, sebagai bank milik pemerintah, bank-bank di China lebih banyak memberikan pinjaman kepada perusahaan milik negara, yang memiliki sedikit insentif untuk kembali. Untuk memperbaiki masalah ini, pemerintah membentuk tiga kebijakan pada tahun 1994 untuk mengambil alih pinjaman bank milik pemerintah, kemudian Departemen Keuangan mengelontorkan 270 miliar yuan (US$32,6 miliar) melalui obligasi pemerintah secara khusus untuk rekapitalisasi Big Four pada tahun 1998. Pada tahun 1999. Total non-performing pinjaman (NPLs) dari Big Four sebesar 1,4 triliun yuan (sekitar 20% dari total pinjaman).

Pada 1995 terjadi reformasi legislatif, sesuai dengan kebijakan hukum bank komersial maka PBOC sebagai bank sentral memiliki wewenang secara penuh atas keputusan dan alokasi kredit. Hukum tersebut secara resmi lebih diarahkan kepada usaha komersial dengan sistem berdasarkan prinsip-prinsip pasar.

China Minsheng Banking Corporation didirikan pada tahun 1996 dan hanya dimiliki oleh pemegang saham institusi swasta, menjadi bank swasta terbesar di Cina. Hingga akhir 1999, terdapat 12 bank umum nasional shareholding, dengan total aset 1,447.7 miliar yuan (PBOC 2000). Pemerintah pusat juga memberikan peluang kepada pemerintah daerah untuk mendirikan bank-bank lokal pada pertengahan tahun 1990-an dengan koperasi di daerah pedesaan. Mereka mengambil bentuk shareholding sebagai koperasi simpan pinjam, dengan usaha dibatasi hanya pada daerah tersebut. Hingga akhir 1999, telah 90 bank yang beroperasi di China, dengan total aset 554,7 miliar yuan (PBOC 2000).

Pemerintah China telah sangat konservatif dalam mengizinkan bank asing. Pada tahun 1979 bank asing yang diizinkan untuk membuka kantor perwakilan dan operasional cabang di Special Economic Zones sejak 1982 (misalnya, Hong Kong bank yang beroperasi di dekat Shenzhen). Batasan geografis ini cukup ringan, pada tahun 1994, bank asing dibolehkan beroperasi di 23 kota yang didasarkan pada setiap aplikasi.

Bank asing pertama yang diizinkan untuk melakukan deposito dan pinjaman dalam mata uang lokal (yuan) ada di Zona Baru Pudong Shanghai pada tahun 1996 (dan kemudian di Shenzhen Special Economic Zone) pada setiap aplikasi. Pada tahun 1998, delapan bank asing diberi lisensi oleh PBOC untuk mendapatkan dana dalam mata uang lokal. Hingga akhir 1999, ada 25 bank asing memiliki izin untuk melakukan usaha dengan mata uang lokal, dengan total 21.813 dari juta yuan dalam aset 11.341 juta yuan dalam kredit, dan 15.100 juta yuan dalam deposito. Total aset semua bank asing di Cina pada mencapai US$32.844 juta (hampir 272 miliar yuan).

Izin bagi investor asing untuk memegang saham minoritas di bank-bank domestik, pertama adalah pada tahun 1996, ketika Bank Pembangunan Asia (ADB) membeli 1,9% saham di China Everbright Bank (nasional shareholding bank komersial, sebagian besar milik negara). Ini diikuti oleh pembelian 5% saham di Shanghai Bank (dimana 30% dimiliki oleh pemerintah kota Shanghai) oleh International Finance Corporation (IFC) pada tahun 1998, pembelian 15% saham Nanjin City Comersial bank oleh ADB pada tahun 2001, dan akuisisi 8% saham di Shanghai Bank oleh HSBC Holdings PLC. Total ekuitas investasi asing di bank domestik pada 2001 sangat minim karena kebijakan dan peraturan pemberian lisensi yang ketat, dan sebagian besar investor nirlaba adalah organisasi internasional.

Reformasi pada tahun 1990-an mencakup: (1) Pada 1995 hukum bank komersial melarang keras keterlibatan dalam kegiatan seperti asuransi dan sekuritas; (2) Pada tahun 1998, pengaruh pemerintah daerah di PBOC dikurangi terhadap kegiatan pinjaman pada 30 cabang dengan provinsi-provinsi 9 lintas daerah; (3) Meningkatkan flexibilities bank komersial untuk menyesuaikan suku bunga, (4) merekomendasikan standar norma akuntansi dan bijaksanaan, seperti risiko disesuaikan klasifikasi pinjaman yang dirancang untuk lebih akurat.

Setelah Masuk WTO Pada Desember 2001

Sejak Cina ikut serta masuk ke WTO, mulailah menetapkan aturan baru dengan liberalisasi suku bunga, perlakuan harga pajak lebih adil, penghapusan aturan pembatasan kepemilikan, kebebasan lebih besar dalam operasional dan cakupan geografis. Salah satu upaya pemerintah untuk monitoring industri perbankan adalah dengan menerbitkan China Banking Regulatory Commission (CBRC) pada tahun 2003 untuk mengawasi reformasi dan peraturan. Undang-undang perbankan lainnya yang kemudian dikeluarkan, termasuk revisi pada 1995 tentang Bank sentral dan Undang-Undang Hukum Commercial Bank. Juga pada tahun 2003, Dewan Negara melakukan ”pilot project” dengan memberikan US$45 miliar untuk Dewan Komisaris dan CCB untuk menambah modal. Sistem pemamtauan baru pada kualitas aset secara internal dan eksternal juga dilaksanakan.

Investasi asing di bank domestik digulirkan pada tahun 2003, ketika CBRC mendorong pembelian saham oleh asing. Menurut peraturan baru, investor asing dapat memiliki hingga 25% saham pada bank domestik, dengan salah satu investor diizinkan hingga 20%. Citigroup memiliki 4,6% saham di Shanghai Pudong Development Bank (sekitar 40% milik negara), sebuah konsorsium Hang Seng Bank Ltd dan IFC, memiliki 24,98% Bank Industri (sekitar 34% dipegang oleh Biro Keuangan Provinsi Fujian). Pada tahun 2004, Newbridge Capital Ltd membeli 18% pada Shenzhen Development Bank Co, ketika pertama kali investor asing yang datang untuk menjadi pemegang saham terbesar dan pengendalian yang nasional bank domestik. Hongkong & Shanghai Bank Corp (unit HSBC Holding PLC.) juga sepakat untuk membeli 19,9% Bank Komunikasi (bank kelima terbesar di Cina, 23,76% dimiliki oleh Departemen Keuangan Cina).

Pada 17 Juni 2005, Bank of America (BoA) membeli 9% di China Construction Bank (salah satu dari Empat Besar bank milik pemerintah) dan berkomitmen untuk berinvestasi yang lebih US$500 juta untuk mempertahankan kepemilikan bila tingkat hasil IPO sesuai yang direncanakan. Pada saat yang sama (Juni 2005), Cina Konstruksi Bank sepakat dengan Temasek di mana investor Singapura akan membayar US$1,5 miliar untuk 5,1% saham dan kemudian berinvestasi lebih US$1 miliar saham ketika bank umum berjalan. (International Herald Tribune, 2005/9/2 1). Pada September 2005, Royal Bank of Scotland dan Temasek sepakat untuk membeli masing-masing sebesar 10% pancang di Bank of China (bank kedua terbesar di antara Big Four milik pemerintah) (International Herald Tribune, 2005/9/21). Pada 31 Agustus 2005, sekelompok investor asing, termasuk Goldman Sachs Group Inc, American Express Co, Allianz AG membeli 10% saham dari ICBC (Industrial & Commercial Bank of China, salah satu bank terbesar di China) dengan harga lebih dari US$3 miliar.

Pada tanggal 20 Oktober 2005, China Construction Bank (CCB) menerbitkan 26,49 miliar saham di Hong Kong stock exchange dengan sekelompok underwriters termasuk China International Capital Corp, Credit Suisse Boston, dan Morgan Stanley, sehingga menjadi nomor satu di antara Big Four yang go publik. Selain itu, Bank of America (yang membeli 9% pada tahun sebelumnya) membeli US$500 juta saham CCB dalam IPO, dan Temasek (yang sebelumnya membeli 4,49%) menyatakan akan membeli tambahan US$1 miliar saham CCB (Wall Street Journal, 20 Okt 2005 1).

PUSTAKA

Allen, F., Qian, J., Qian, M., 2005. Law, finance, and economic growth in China, Journal of Financial Economics 77, 57-116.

Chang, C. Edward, Iftekhar Hasan, and William C. Hunter. 1998. Efficiency of Multinational Banks: An Empirical Investigation, Applied Financial Economics 8: 1-8.

Chen, B., Feng, Y., 2000, Determinants of economic growth in China: Private enterprises, education, and openness, China Economic Review 11, 1-15.

Chen, Xiaogang, Michael Skully, Kym Brown, 2005, Banking Efficiency in China: Application of DEA to pre- and post- deregulations era: 1993-2000. China Economic Review 16, 229-245.

Claessens, S., Glaessner, T., 1998. The Internationalization of Financial Services in Asia, Working Papers: Domestic finance, Saving, financial systems, stock markets, 1911, World Bank.

Cull, R., Xu, L.C., 2005. Institutions, ownership, and finance: the determinants of profit reinvestment among Chinese firms. Journal of Financial Economics 77, 117-146.

Ling, H., Lu, Y., 2004, When foreigners buy the shares of our banks: Temptation and confusion. Caijing Magazine, Issue 123, 12/27/2004.

Kumbhakar, S.C., Wang, D., 2005. Economic reforms, efficiency, and productivity in Chinese banking. State University of New York - Binghamton working paper.

Leung, M.K., 1997, Foreign banks in the People’s Republic of China, Journal of Contemporary China 6, 365-76.

Leung, M.K., D. Rigby and T. Young, 2003a. Entry of foreign banks in the People’s Republic of China: a survival analysis. Applied Economics 35, 21-31

Li, S., Liu, F., Liu, S., Whitmore, G.A., 2001. Comparative performance of Chinese commercial Banks: analysis, findings and policy implications, Review of Quantitative Finance and Accounting 16, 149-170.

Wall Street Journal, 2004. Shenzhen Development Bank Co: Two Americans are appointed to chairman, president posts, (Eastern edition). New York, N.Y: Dec 16, 1

Stress Pekerjaan

(kesimpulan) Stress dapat didefinisikan sebagai suatu situasi di mana pengaruh interaksi seseorang yang menyebabkan adanya perubahan psikologis dan/atau kondisi fisiologis, sehingga orang tersebut dipaksa melakukan penyimbangan dari fungsi normal. Sebagian besar peneliti setuju sebagai perspektif interaksional, di mana stress dianggap sebagai produk dari hubungan antara seseorang dan lingkungan. Variabel individu di dalamnya termasuk aspek kepribadian dan metode coping, sedangkan variabel lingkungan digambarkan berbagai potensi stressor.

Banyak bukti di lingkungan akademik bahwa tingkat stres yang berlebihan memiliki dampak negatif pada siswa, dengan ketidakmampuan untuk melakukan kegiatan sekolah dan takut akan kegagalan akademik. Bahkan, sebanyak 50 persen mahasiswa di Amerika Serikat dilaporkan gagal menyelesaikan kuliah sesuai dengan waktu yang ditentukan. Manifestasi lainnya dari stres di kalangan pelajar termasuk penggunaan alkohol, penyalahgunaan narkoba, bunuh diri dan kehamilan prematur. Sehubungan dengan bunuh diri, statistik menunjukkan bahwa sekitar 50.000 anak-anak muda berusia antara 15-24 tahun mencoba bunuh diri setiap tahunnya dan lebih dari 5.000 berhasil melakukan bunuh diri.

Tingkat stres yang berlebihan di tempat kerja juga berakibat parah di bidang ekonomi, biaya pengeluaran yang harus ditanggung akibat dari stress pekerjaan total melebihi $150 miliar per tahun di Amerika Serikat. Bahkan, stress menimbulkan klaim pekerjaan meningkat 700 persen setiap lima tahun dengan biaya satu klaim diperkirakan antara $10.000 sampai $15.000. National Institute for Occupational Safety and Health, Amerika Serikat (NIOSH) melaporkan tingkat stres sebagai salah satu dari sepuluh pekerjaan yang berhubungan dengan penyakit.

Tidak mengherankan, banyak penelitian dikhususkan untuk topik manajemen stress dalam pekerjaan. Secara umum, sebagian besar untuk metode coping stressors dijadikan sebagai cara untuk mengurangi tingkat stress dengan klasifikasi sekunder (stress management) atau tersier (program bantuan karyawan). Metode pengurangan stressor yaitu termasuk perubahan dalam desain organisasi, struktur, meningkatkan komunikasi, meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan karyawan. Manajemen stress mencakup metode meditasi dan relaksasi mendalam, latihan, nutrisi dan teknik pencegahan stres yang lebih baik. Program-program bantuan layanan konseling karyawan tentang teknik untuk stress coping yang bersifat kuratif. Metode untuk menangani stressor akademis termasuk tentang kemajuan siswa dalam kesulitan yang dihadapi, peningkatan layanan kesehatan mental, mengorganisir rekan konseling dan swadaya kelompok, meningkatkan orientasi pada siswa baru, lebih fleksibel, perluasan peran pendampingan fakultas.

PENYEBAB STRESS

Ada tiga variabel laten yang dianggap penyebab dari stress, yaitu perilaku tipe A, locus of kontrol (LOC) dan coping

Tipe A

Tipe A dicirikan oleh perilaku kronis tentang penggunaan waktu yang berlebihan dan kompetitif. Suatu jenis kebiasaan tingkah laku yang jelas memiliki hubungan dengan tekanan dengan akibat-akibatnya. Individu dengan Tipe A meremehkan kualitas dalam menyelesaikan tugas-tugas (karena tekanan waktu). Mereka bekerja dengan cepat dan menunjukkan ketidaksabaran. Kinerja akan menurun jika dipaksa untuk bekerja lambat. Mereka bekerja keras dan menikmati pengalaman arousal fisiologis ketika tugas dianggap menantang, menyatakan permusuhan dan sensitif dalam menanggapi ancaman, serta berusaha mengendalikan lingkungan untuk memenangkan kompetisi.

Locus of control (Tempat kontrol)

Locus of control (LOC) digambarkan sebagai sebuah kontinum atas jalan hidup ditentukan oleh diri sendiri (orientasi internal) atau ditentukan oleh anggapan karena memang sudah menjadi nasib (orientasi eksternal). Orang yang percaya bahwa nasib ditentukan oleh dirinya sendiri menempatkannya pada faktor internal, dan orang-orang yang percaya bahwa kehidupan mereka akan bergantung pada keberuntungan, kesempatan, atau nasib akan jatuh pada tempat eksternal. Orang dengan locus control internal dilaporkan lebih berakibat dengan konflik peran, keluhan somatik, frustrasi-agresi, dan withdrawal jika dibandingkan dengan eksternal.

Metode Coping

Coping merujuk kepada tingkah laku sebagai upaya dalam mengatasi dampak psikologis yang mengalami stress sebagai pengalaman yang merugikan. Model ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan pada setiap individu dalam mengadopsi cara untuk mengatasi situasi. Coping alternatif selalu tersedia untuk setiap orang untuk mempengaruhi persepsi tentang stress di kemudian hari. Seseorang mengembangkan coping stress secara aktif, artinya melakukan variasi-rariasi pengembangan dan selalu mengadopsi cara-cara alternatif. Di lain pihak ada juga kecenderungan bagi individu lain yang relatif konsisten hanya satu cara tertentu dalam mengadopsi strategi coping.

Dukungan dari jaringan sosial, sangat membantu untuk bertindak sebagai penyangga terhadap stres dan pengembangan coping secara lebih tepat. Ada enam hal yang mempengaruhi metode individu dalam mengadopsi coping untuk mengatasi stres:

  1. Dukungan sosial (tingkat ketergantungan individu pada orang lain sebagai alat coping dengan stres);

  2. Strategi (tingkat upaya individu mengembangkan strategi yang diarahkan pada pengulangan pekerjaan seperti perencanaan ke depan, menetapkan prioritas dan delegating);

  3. Logika (upaya rasional dan menangani situasi yang objektif);

  4. Hubungan pekerjaan dan rumah (rumah dapat dilihat sebagai tempat perlindungan atas permasalahan-permasalahan yang diperoleh di pekerjaan);

  5. Waktu (penggunaan waktu, misalnya mengatasi masalah dengan segera atau ditunda);

  6. Keterlibatan (derajat individu untuk memaksa diri sendiri dalam mencapai kompromi dengan realita, melalui strategi seperti mengakui keterbatasan diri untuk dapat melepaskan ketegangan, dan berkonsentrasi pada masalah spesifik).

STRESSOR

Ada berbagai faktor lingkungan, di tempat kerja dan pekerjaan/non-kerja yang terkait dengan potensi penyebab stress dalam pekerjaan. Ada enam potensi sumber yang menimbulkan stress pada umumnya yaitu:

  1. Faktor intrinsik ke pekerjaan, misalnya memiliki terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan harus bekerja dalam waktu lama;

  2. Kurangnya kuasa dan pengaruh, ketidakjelasan, konflik tuntutan tugas dan peran;

  3. Hubungan dengan orang lain, seperti coping di bidang politis, harus mengawasi orang lain, kurangnya dukungan dari kolega dan kurangnya dukungan dari atasan;

  4. Tingkat penghargaan yang diberikan orang lain, dan apakah puas dengan kesempatan untuk kemajuan di tempat kerja;

  5. Iklim atau struktur dari suatu organisasi, dalam hal kurangnya bimbingan dari atasan, kualitas dan pengembangan program-program pelatihan dan bukti sikap pilih kasih atau diskriminasi;

  6. Saling membaur antara masalah pekerjaan dengan masalah rumah.

DAMPAK STRESS

Sebagian besar peneliti yang mempelajari proses stress biasanya menganggap konsekuensi yang terkait dengan pengalaman stres peristiwa yang terkait fisiologis, psikologis dan perilaku.

  1. Sakit. Ukuran sakit pada dasarnya adalah sebuah sindrom kesehatan fisik dan mental. Sintom fisiologis seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, sesak nafas, peningkatan tekanan darah dan perasaan kelelahan. Sintom psikologis termasuk ketidakmampuan untuk berpikir jernih, rasa gelisah dan perasaan yang lekas marah. Gejala perilaku termasuk perubahan dalam makan, minum, tidur, dan pola merokok.

  2. Kepuasan kerja. Lima aspek kepuasan pekerjaan yaitu: 1) Sejauhmana penilaian dan peluang bagi berkembangnya tingkat kepuasan kerja; 2) Aspek dari pekerjaan itu sendiri (misalnya keamanan); 3) Desain dan struktur organisasi; 4) Proses organisasi (misalnya pengawasan); 5) Hubungan dengan orang lain (misalnya rekan-rekan, atasan, bawahannya).

PUSTAKA

Anderson, C.R., Hellriegel, D. and Slocum, J.W. (1977), “Managerial response to environmental induced stress”, Academy of Management Journal, Vol. 6, pp. 260-72.

Beehr, T.A. and Newman, J.E. (1978), “Job stress, employee health, and organizational effectiveness: a facet analysis, model and literature review”, Personnel Psychology, Vol. 31, pp. 665-99.

Caplan, R.D., Cobb, S., French, J.R.P., Van Harrison, R. and Pinneau, S.R. (1975), Job Demands and Worker Health, Health Education Welfare, Washington, DC, pp. 75-160.

Cohen, S. and Edwards, J.R. (1988), “Personality characteristics as moderators of the relationship between stress and disorder”, in Neufeld, R.J. (Ed.), Advances in the Investigation of Psychological Stress, Wiley, New York, NY.

Cooper, C.L. (1986), “Job distress: recent research and the emerging role of the clinical occupational psychologist”, Bulletin of the British Psychological Society, Vol. 39, pp. 325-31.

Cooper, C.L. and Payne, R. (1978), Stress at Work, John Wiley, London.

Cooper, C.L., Cooper, R.D. and Eaker, L.H. (1988), Living with Stress, Penguin Books, Middlesex.

Cummings, R.C. (1990), “Job stress and the buffering effect of supervisory support”, Group and Organization Studies, March, pp. 92-104.

Dolan, C.A. and White, J.W. (1988), “Issues of consistency and effectiveness in coping with daily stressors”, Journal of Research in Personality, Vol. 22, pp. 395-407.

Fleishman, J.A. (1984), “Personality characteristics and coping patterns”, Journal of Health and Social Behavior, Vol. 25, pp. 229-44.

Frew, D.R. and Bruning, N.S. (1987), “Perceived organizational characteristics and personality measures as predictors of stress/strain in the work place”, Journal of Management, Vol. 13, pp. 633-46.

Friedman, M. and Rosenman, R.H. (1974), Type A Behavior and Your Heart, Times Books, New York, NY.

Froggatt, K.L. and Cotton, J.L. (1987), “The impact of type A behavior pattern on role overload – induced stress and performance attributions”, Journal of Management, Vol. 13, pp. 87-90.

Fusilier, M.R., Ganster, D.C. and Mayes, B.T. (1987), “Effects of social support, role stress, and locus of control on health”, Journal of Management, Vol. 13, pp. 87-98.

Ganster, D.C., Sime, W.E. and Mayes, B.T. (1989), “Type A behavior in the work setting: a review and some new data”, in Siegman, A.W. and Dembroski, T.M. (Eds), In Search of Coronary-prone Behavior: Beyond Type A, Erlbaum, Hillsdale, NJ.

Gemmill, G.R. and Heisler, W.J. (1972), “Fatalism as a factor in managerial job satisfaction, job strain, and mobility”, Personnel Psychology, Summer, pp. 241-50.

Greenhaus, J.H. and Parasuraman, S. (1987), “A work – nonwork interactive perspective of stress and its consequences”, in Ivancevich, M. and Ganster, D.C. (Eds), Job Stress: From Theory to Suggestion, The Howarth Press, New York, NY.

Hockey, R. (1979), “Stress and the cognitive components of skilled performance”, in Hamilton, V. and Warbutin, E.M. (Eds), Human Stress and Cognition, John Wiley & Sons, New York, NY.

House, J.J. (1981), Work Stress and Social Support, Addison-Wesley, Reading, MA.

Jackson, S.E. and Schuler, R. (1985), “A meta-analysis and conceptual critique of research on role ambiguity and role conflict in work settings”, Organizational Behavior and Human Decision Processes, Vol. 36, pp. 16-78.

Jayaratne, S., Himle, D. and Chess, W.A. (1988), “Dealing with work stress and strain: is the perception of support more important than its use?”, Journal of Applied Behavioral Science, Vol. 24, pp. 191-202.

Lazarus, R.S. (1991), “Psychological stress in the workplace”, Journal of Social Behavior and Personality, Vol. 6, pp. 1-13.

Marino, K.E. and White, S.E. (1985), “Departmental structure, locus of control and job stress: the effect of a moderator”, Journal of Applied Psychology, Vol. 70, pp. 782-4.

Minter, S.G. (1991), “Relieving workplace stress”, Occupational Hazards, April, pp. 39-42.

Murphy, L.R. (1988), “Workplace interventions for stress reduction and prevention”, in Cooper, C.L. and Payne, R. (Eds), Causes, Coping and Consequences of Stress at Work, John Wiley, Chichester.

Pearlin, L.I. and Schooler, C. (1978), “The structure of coping”, Journal of Health and Social Behavior, Vol. 19, pp. 2-21.

Robbins, S.P. (1993), “Organizational Behavior: Concepts, Controversies, and Applications”, Prentice-Hall, Englewood Cliffs, NJ.

Shipman, C. (1987), “Student stress and suicide”, The Practitioner: A Newsletter for the On-line Administrator, Vol. 14, pp. 1-12.

Storms, P.L. and Spector, P.E. (1987), “Relationships of organizational frustration with reported behavioral reactions: the moderating effect of locus of control”, Journal of Occupational Psychology, Vol. 60, pp. 227-34.

Van Sell, M., Brief, A.P. and Schuler, R.S. (1981), “Role conflict and role ambiguity: integration of the literature and directions for future research”, Human Relations, Vol. 34, pp. 43-71.

Williams, R. (1989), The Trusting Heart: Great News about Type A Behavior, Times Books, New York, NY.

Zylanski, S.J. and Jenkins, C.D. (1970), “Basic dimesions within the coronary-prone behavior pattern”, Journal of Chronic Diseases, Vol. 22, pp. 781-95.