Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Temuan Baru Perbedaan Pria dan Wanita Merespon Stimulus Ancaman

(KeSimpulan) Berdasarkan penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Radiological Society of North America (RSNA), para peneliti menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk mempelajari aktivitas otak yang menunjukkan bahwa pria dan wanita memiliki tanggapan berbeda terhadap stimuli positif dan negatif.

"Pria lebih memperhatikan pada aspek sensorik dari stimuli emosional dan cenderung untuk memprosesnya terkait implikasi untuk tindakan yang diperlukan, sedangkan wanita lebih mengarahkan perhatian terhadap perasaan yang akan dimunculkan oleh stimuli emosional," kata Andrzej Urbanik, MD, Ph.D., anggota dewan radiology di Jagiellonian University Hospital, Krakow, Polandia.

Dr Urbanik dan rekan-rekannya merekrut 40 sukarelawan, 21 pria dan 19 wanita antara usia 18 dan 36 tahun. Para relawan mendapat fMRI saat melihat gambar-gambar dari International Affective Picture System (IAPS) yang digunakan secara luas pada sistem pengujian standar yang terdiri dari beberapa ribu slide dengan berbagai objek dan gambar kehidupan biasa yang dirancang untuk membangkitkan emosi yang didefinisikan. Gambar yang ditampilkan dalam dua cara. Untuk pertama, hanya gambar-gambar negatif yang ditampilkan. Untuk kedua, hanya gambar-gambar positif yang ditunjukkan.

Saat melihat gambar-gambar negatif, wanita menunjukkan secara jelas lebih kuat dan ekspansif pada aktivasi thalamus di sebelah kiri (relai sensorik informasi ke dan dari cerebral cortex), termasuk rasa sakit dan pusat-pusat kenikmatan. Sedangkan pria menunjukkan lebih pada aktivasi insula kiri (pengukur keadaan fisiologis dari seluruh tubuh dan kemudian memberi perasaan subjektif yang dapat menghasilkan tindakan). Informasi dari insula ini diteruskan untuk struktur otak lain yang terlibat dalam pengambilan keputusan.

"Aktivasi otak yang terlihat pada wanita mungkin mengindikasikan keterlibatan kuat sirkuit saraf yang berhubungan dengan identifikasi rangsangan emosional. Semakin banyak aktivasi percikan insular cortex pada pria mungkin berkaitan dengan komponen otonom, seperti peningkatan denyut jantung atau peningkatan keringat yang menyertai peristiwa materi emosional," kata Dr Urbanik.

Sistem saraf otonom mengontrol fungsi-fungsi tidak sadar, termasuk respirasi, denyut jantung, pencernaan, dan membantu menyesuaikan fungsi-fungsi tertentu sebagai respons terhadap stres atau rangsangan lingkungan lainnya. Hal ini bertanggung jawab pada tubuh untuk respon "melawan atau lari" terhadap situasi yang membahayakan. "Pada pria, gambar negatif pada slide lebih kuat dalam mendorong sistem otonom. Ini mungkin sinyal bahwa ketika dihadapkan dengan situasi berbahaya, kaum pria lebih mungkin dibandingkan wanita dalam mengambil tindakan," kata Dr Urbanik. Saat melihat gambar positif, wanita menunjukkan lebih kuat dan lebih ekstensif pada superior temporal gyrus kanan, yang terlibat dalam proses pendengaran dan ingatan. Pria lebih kuat aktivitas pada bilateral occipital lobes, yang berhubungan dengan pemrosesan visual.

Dr Urbanik percaya perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa wanita dapat menganalisis sensori positif dalam konteks sosial yang lebih luas dan mengaitkan citra positif dengan memori tertentu. Melihat gambar balita yang tersenyum mungkin membangkitkan kenangan seorang wanita pada anak sendiri pada usia ini. Sebaliknya, tanggapan pria lebih perseptif. "Ganbar positif yang diserap pria berkaitan dengan sistem visual dan motivasi," kata Dr Urbanik.

Anggota peneliti adalah Lilianna Podsiadlo, Ph.D., Michal Kuniecki, Ph.D., Justyna Kozub, M.Sc., and Barbara Sobiecka, M.Sc. Eng. RSNA adalah sebuah asosiasi beranggota lebih dari 44.000 ahli radiologi, ahli radiasi onkologi, fisikawan medis, dan ilmuwan terkait komitmen dalam perawatan pasien melalui pendidikan dan penelitian. Asosiasi berbasis di Oak Brook, Ill.

Hipotesis Snowball Earth Mencair dengan cara Mudball

(KeSimpulan) Pandangan bahwa bumi seluruhnya membeku lebih dari sekitar 700 juta tahun yang lalu atau disebut dengan Snowball Earth hypothesis memerlukan jawaban pada satu masalah kecil yaitu bagaimana planet kita muncul dan mencair? Teka-teki bisa dijelaskan secara lebih gamblang jika Bumi berbentuk bulatan lumpur (mudball) dari bola salju.

Bukti Snowball Bumi berasal dari penemuan formasi batuan glasial di seluruh dunia yang merujuk pada waktu saat ini. Salah satu penjelasan yang diusulkan untuk pencairan berikutnya adalah kadar karbon dioksida melonjak selama pembekuan dengan pemanasan planet. Tetapi kajian isotop oksigen terbaru menunjukkan bahwa tingkat CO2 hanya sepersepuluh dari yang dibutuhkan untuk melelehkan es.

Dorian Abbot dan Raymond Pierrehumbert dari University of Chicago menggunakan model-model iklim untuk mempelajari bagaimana debu dari gunung berapi dan pelapukan batu akan mempengaruhi pencairan es. Mereka menemukan daerah-daerah di mana terdapat hujan salju dengan intensitas rendah dan adanya salju yang tidak menyelesaikan kepergian sublimasi telah cukup membuat debu akan terkumpul untuk mengubah permukaan bumi sehingga menyerap sinar matahari dan es tercairkan.

"Hal ini memungkinkan anda keluar dari bola salju pada tingkat CO2 yang tepat," kata Abbot. Hipotesis Mudball dapat diuji dengan mencari sebuah "sinyal debu" dalam usia formasi batuan yang sesuai, kata Abbot di Journal of Geophysical Research: Atmospheres, doi : 10.1029/2009jd012007.

Mycoplasma pneumoniae Bakteri sel Minimalis Ternyata Memiliki Kemampuan yang Lebih Komplek

(KeSimpulan) Apa inti dari hidup? Apa materi yang sangat diperlukan untuk menghasilkan sel yang dapat bertahan dengan sendirinya? Dapatkah kita menggambarkan anatomi molekul sel? Bagaimana seluruh organisme berfungsi sebagai sebuah sistem? Ini hanya beberapa pertanyaan dari para ilmuwan dalam suatu kemitraan kerja antara European Molecular Biology Laboratory (EMBL) di Heidelberg, Jerman, dan Centre de Regulacio Genòmica (CRG) di Barcelona, Spanyol.

Dalam tiga makalah yang diterbitkan kembali di jurnal Science, mereka memberikan gambaran komprehensif dari sebuah sel minimalis yang didasarkan pada studi kuantitatif secara luas tentang biologi bakteri penyebab atypical pneumonia (radang paru-paru), Mycoplasma pneumoniae. Penelitian ini mengungkapkan hal baru yang relevan dengan bakteri biologi dan menunjukkan sel yang paling sederhana hingga yang lebih kompleks.

Mycoplasma pneumoniae sangat kecil, bakteri satu sel yang menyebabkan atypical pneumonia pada manusia. Juga salah satu prokaryotes yang terkecil (organisme yang tidak memiliki inti sel) di mana tidak bergantung pada sel inang untuk bereproduksi. Inilah sebabnya enam kelompok penelitian yang ditetapkan untuk menandai sel minimalis dalam suatu proyek yang dipimpin oleh Peer Bork, Anne-Claude Gavin, dan Luis Serrano memilih M. pneumoniae sebagai model karena cukup kompleks untuk bertahan hidup sendiri tetapi kecil dan secara teori cukup sederhana untuk mewakili sel minimalis, serta memungkinkan analisis lebih global.

Sebuah jaringan kelompok penelitian di EMBL's Structural and Computational Biology Unit dan CRG Systems Biology Partnership Unit, memandang bakteri pada tiga tingkat yang berbeda. Satu tim ilmuwan mendiskripsi transcriptome M. pneumoniae, mengidentifikasi semua molekul RNA (transkrip) yang dihasilkan dari DNA dalam berbagai kondisi lingkungan. Tim kedua mengidentifikasi semua reaksi metabolik yang terjadi di dalamnya (secara kolektif dikenal sebagai metabolome) dengan kondisi yang sama. Tim ketiga mengidentifikasi setiap protein multi-komplek yang diproduksi bakteri, sehingga dapat diketahui karakteristik organisasi para proteoma.

"Pada tingkat ketiga, kami menemukan M. pneumoniae lebih kompleks daripada yang kami perkirakan," kata Luis Serrano, salah satu inisiator dari proyek di EMBL dan kini kepala Systems Biology Department di CRG. Ketika mempelajari proteoma dan metabolome, para ilmuwan menemukan banyak molekul yang multifungsi dengan katalis enzim metabolik multi reaksi dan masing-masing protein lain mengambil bagian pada lebih dari satu protein kompleks. Mereka juga menemukan bahwa M. pneumoniae berpasanganan proses biologis dalam ruang dan waktu dengan potongan-potongan sistem seluler yang terlibat dalam dua kali langkah-langkah berturut-turut proses biologis di mana seringkali menjadi berkumpul bersama-sama.

Hebatnya, tatalaksana bakteri transcriptome ini jauh lebih mirip dengan eukaryotes (organisme dengan sel yang memiliki nukleus). Seperti pada eukaryotes yang sebagian besar proporsi produksi transkip DNA dari M. pneumoniae tidak diterjemahkan menjadi protein. Meskipun gen tersebut diatur secara khas dalam kelompok bakteri, M. pneumoniae tidak selalu menuliskan semua gen dalam kelompok bersama-sama, tetapi selektif mengekspresikan atau membentuk gen individu masing-masing kelompok.

Tidak seperti bakteri lain yang lebih besar, M. pneumoniae tidak melakukan metabolisme ganda dengan segera dan cepat, kemungkinan karena gaya hidup patogenik. Kejutan lain adalah meskipun memiliki genom yang sangat kecil, bakteri ini sangat fleksibel dan mudah menyesuaikan metabolisme untuk perubahan radikal kondisi lingkungan. Adaptabilitas dan yang mendasari mekanisme regulasi ini menjadikan M. pneumoniae memiliki potensi untuk berkembang dengan kemampuan berbagi dengan organisme yang lain. "Kuncinya terletak pada fitur bersama ini, di mana organisme yang paling kompleks sekalipun tidak dapat melakukan tanpa tersentuh oleh jutaan tahun evolusi," kata Anne-Claude Gavin, dari kelompok EMBL yang mengepalai studi tentang bakteri proteome.

Studi ini memerlukan berbagai keahlian untuk memahami tatalaksana M. pneumoniae pada skala yang begitu berbeda dan mengintegrasikan semua informasi yang dihasilkan menjadi gambaran yang komprehensif tentang bagaimana seluruh organisme berfungsi sebagai sistem. "Dalam EMBL's Structural and Computational Biology Unit, kita memiliki sebuah kombinasi metode unik dan kami mengumpulkan mereka semua bersama-sama untuk proyek ini. Dengan demikian kemitraan dengan kelompok CRG, kita bisa membangun gambaran keseluruhan yang lengkap didasarkan pada studi rinci pada tingkat yang sangat berbeda," kata Peer Bork, kepala unit gabungan, salah satu inisiator dari proyek, dan bertanggung jawab atas analisis komputasi.

Bork baru-baru ini dianugerahi Royal Society and Académie des Sciences Microsoft Award untuk kemajuan ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode komputasi. Sedangkan Serrano baru-baru ini mendapat hibah dari European Research Council Senior.

Rekaman Suara Ekologi Jadi Solusi Baru Analisis Kepadatan Populasi Fauna

(KeSimpulan) Ekolog akhirnya berhasil menggunakan rekaman kicau burung untuk mengukur secara akurat populasi burung. Ini adalah pertama kali rekaman suara dari mikrofon telah diterjemahkan ke dalam perkiraan yang akurat tentang populasi jenis burung. Teknik baru yang dipublikasikan pada British Ecological Society Journal of Applied Ecology, juga akan diteliti bagaimana penerapan untuk merekam nyanyian ikan paus sehingga bisa memberikan kemajuan besar dalam kemampuan untuk memonitor jumlah ikan paus dan lumba-lumba.

Dikembangkan oleh Deanna Dawson dari US Geological Survey dan Murray Efford dari University of Otago, Selandia Baru. Teknik rekaman suara yang inovatif ini adalah kombinasi dari sound recording dengan spatially explicit capture-recapture (SECR), versi baru dari salah satu perangkat ekologi tertua untuk memantau populasi hewan.

Burung berkomunikasi dengan kicauan dan panggilan, ahli biologi telah lama menghitung isyarat ini untuk mendapatkan indeks kepadatan burung. Tapi ini jauh lebih sulit untuk diterapkan dalam mengetahui kepadatan aktual dari populasi burung karena metode yang ada membutuhkan observer untuk mengukur jarak pada setiap burung atau apakah burung berada dalam jarak tertentu dari pengamat. Ini mudah dilakukan jika burung terlihat, tetapi sangat sulit ketika burung hanya didengar tapi tidak terlihat.

"Kami menemukan cara untuk memperkirakan kepadatan penduduk burung atau binatang lain di mana vocalise digabungkan dengan informasi dari beberapa mikrofon. Sebuah suara menyebar melalui hutan atau habitat lain untuk meninggalkan 'jejak'. Ukuran jejak tergantung pada seberapa cepat intonasi suara. Secara matematis, ada kombinasi yang unik setiap kepadatan populasi dan tingkat kerenggangan yang paling cocok dengan jumlah dan 'ukuran' suara-suara yang direkam. Kami menggunakan metode komputer untuk menemukan yang paling cocok dan dengan demikian memperkirakan kepadatan," kata Dawson.

Dawson dan Efford mengembangkan metode dengan merekam burung Ovenbird (warbler lebih sering terdengar daripada terlihat) di hutan Patuxent Research Refuge dekat Laurel, Maryland, AS. Mereka merancang empat mikrofon di atas tanah dalam petak berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi 21 meter. Selama lima hari, mereka memindah mikrofon pada 75 titik poin yang berbeda dan mencatat kicauan ovenbird. Mereka memilih spesies Ovenbird karena ringkas, kicauan khas dan si jantan berkicau dari lapisan hutan bawah.

Teknik akustik yang baru ini memberikan perkiraan yang lebih akurat terhadap jumlah burung dibandingkan dengan menggunakan jala untuk menangkap burung yang dapat menimbulkan stres bagi burung serta membutuhkan waktu yang lama bagi para peneliti. Selain itu membantu menilai populasi jenis burung yang sulit seperti Ovenbird, teknik baru ini juga bisa diterapkan untuk mengukur populasi mamalia laut yang sulit, seperti paus dan lumba-lumba. Mengembangkan cara memperkirakan jumlah ikan paus dan lumba-lumba akustik menjadi penting untuk memahami populasi fauna ini.

Rekaman suara memiliki keuntungan yang lain yaitu "intensitas sound dan karakteristik lain dapat diukur dari spectrogram (grafik suara) untuk meningkatkan analisis. Pengarsipan suara juga memungkinkan untuk memeriksa kembali atau untuk mengekstrak informasi tambahan sebagai metode analisis yang berkembang," kata Dawson (Deanna K. Dawson and Murray G. Efford (2009). Bird population density estimated from acoustic signals, Journal of Applied Ecology, doi: 10.1111/j.1365-2664.2009.01731.x, is published online on 27 November 2009).

BUMN Suntik Dana ke Bank Century untuk Tutupi Uang yang Sudah Dirampok

(KeSimpulan) Salah satu inisiator hak angket kasus Bank Century Akbar Faisal menyatakan ada tekanan terhadap BUMN untuk menyuntik dana ke Bank Century. Akbar berjanji akan memberitahukannya di kemudian hari. "Ada tekanan tertentu kepada BUMN untuk menempatkan dananya ke Bank Century. Tapi salah satu direksi BUMN itu menolak. Kami tidak ungkapkan BUMN apa saja itu, tapi nanti pada saatnya akan kami buka 3 BUMN itu," kata Akbar dalam ekspos perkara kasus Bank Century di Jakarta, Minggu 29 November 2009.

Akbar mengatakan saat ini pihaknya masih mempelajari audit BPK. "Kami akan membentuk tim khusus berisi auditor-auditor untuk membaca hasil audit BPK yang sudah disampaikan," kata anggota dewan asal Fraksi Hanura itu.

Sementara itu, inisiator hak angket Century lainnya, Andi Rahmat menyatakan dalam laporan audit BPK, BPK sudah sampai pada 1 kesimpulan terkait adanya rekayasa. "Yang sebetulnya ini bahasa halus dari perampok uang. Uang sudah dirampok, terus dirampok lagi," kata Andi. Dalam temuan berdasarkan laporan audit, sepanjang penyaluran Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP), ditemukan nasabah yang sangat aktif dengan inisial BS.

"Ini aktif sekali, pada tanggal 8 November 2008 ada pertemuan RT dengan BS, lalu ada juga pertemuan lagi tanggal 8 Desember. Ada 7 aktivitas yang dilakukan mereka berdua yang terkait uang senilai US$9 juta. Ini dilakukan pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu," kata Andi. (www.detiknews.com / Ada Tekanan ke BUMN Untuk Tempatkan Uang di Bank Century / Minggu, 29 November 2009)

Stereovision dan Ketajaman Persepsi Hiu Kepala Martil

(KeSimpulan) Hiu kepala martil (hammerhead shark) adalah beberapa penghuni laut yang paling khas. "Semua orang ingin memahami mengapa mereka memiliki bentuk kepala yang aneh. Salah satu kemungkinan alasannya adalah daya penglihatan. Mungkin bidang visual mereka telah ditingkatkan dengan bentuk kepala yang aneh. Memberi stereovision dan kedalaman persepsi," kata Michelle McComb Phd. dari Florida Atlantic University.

Namun, ada dua aliran pemikiran teori ini. Pada tahun 1942, G. Walls berspekulasi bahwa hiu tidak mungkin termasuk bermata binocular (binocular vision) karena mata mereka terjebak di sisi kepala mereka. Namun, pada tahun 1984, Leonard Campagno menyarankan bahwa hiu akan memiliki persepsi yang sangat baik karena mata mereka begitu luas terpisah. "Bahkan salah satu hal menunjukkan bahwa hiu martil memiliki visi yang lebih baik dibanding hiu lainnya, tapi tidak seorang pun pernah menguji ini," kata McComb.

Bekerja sama dengan Stephen Kajiura dan Timotius Tricas, ketiganya memutuskan untuk mencari tahu bagaimana sebuah luas bidang pandang martil dan apakah mereka bisa melakukan visi binocular dan mempublikasikan hasil penelitian pada edisi 27 November 2009 di Journal of Experimental Biology.

McComb dan Kajiura mendatangi Martil dalam segala bentuk dan ukuran, memilih untuk bekerja dengan spesies dengan kepala mulai dari yang sempit ke luas. Memancing remaja martil dari Hawaii, berhidung panjang (nosed), dan berhidung besar (bonnethead) dari perairan sekitar Florida, tim berhasil mendaratkan dan segera mengantar mereka ke laboratorium lokal untuk menguji penglihatan ikan.

Tim menguji bidang pandang pada masing-masing mata hiu oleh sapuan cahaya yang lemah secara horisontal dan vertikal di sekitar setiap busur mata dan mencatat aktivitas elektrik mata. Tim mencatat bahwa martil memiliki mata satu bidang visual (monocular visual fields) terbesar, pada 182 deg. sedangkan bonnethead 176 deg bidang visual, yang lebih besar dibanding blacknose berhidung runcing dan hiu lemon dengan masing-masing 172 deg. dan 159 deg.

Setelah mengumpulkan bermata satu bidang visual, tim merencanakan bidang visual kedua mata pada bagan masing-masing kepala untuk melihat apakah pandangan saling tumpang tindih (overlap). Hebatnya, martil memiliki teropong besar tumpang tindih dari 32 deg. di depan kepala mereka, tiga kali tumpang tindih lebih besar dibanding nosed, sementara bonnethead 13 deg. Ketika tim mengukur overlap binocular martil dengan bidang yang seluas-luasnya (lingkar kepala), memiliki sudut kolosal 48 deg. Lebar kepala martil tentu memperbaiki visiologi binocular dan kedalaman persepsi.

Akhirnya, tim mempertimbangkan gerakan mata dan gerakan kepala untuk menemukan binocular terjadi overlap yaitu martil memiliki 69 deg sedangkan bonnetheads memiliki 52 deg. Bahkan lebih mengejutkan, tim menyadari bahwa martil dan bonnethead memiliki kemampuan penglihatan stereo yang sangat baik, mereka memiliki 360 deg ke seluruh penjuru ruang.

"Ketika kami pertama kali memulai proyek ini tidak berpikir sama sekali bahwa penglihatan martil adalah binocular. Kami pikir tidak ada jalan, kami berada di luar sana dan menghapus mitos selama ini," kata McComb. Namun, tim peneliti telah menunjukkan bahwa tidak hanya hiu yang menonjol ke depan memiliki stereovision dan kedalaman persepsi, tapi stereo rear view juga bahkan lebih baik daripada acara sinetron TV akan kita percaya. (McComb, D. M., Tricas, T. C. and Kajiura, S. M. (2009). Enhanced visual fields in hammerhead sharks. J. Exp. Biol. 212, 4010-4018. / Journal of Experimental Biology, on: 27 November 2009).

Gen UGT2B17 dan Komplikasi GVHD pada Transplantasi Tulang Sumsum

(KeSimpulan) Secara umum penghapusan gen warisan kemungkinan dapat meningkatkan immune (kekebalan) komplikasi transplantasi sumsum tulang, sebuah tim peneliti internasional melaporkan kemajuan isu itu pada 22 November jurnal Nature Genetics. Ketika gen (disebut UGT2B17) yang hilang pada genom donor tetapi muncul pada penerima donor, transplantasi secara signifikan memiliki lebih besar risiko yang secara signifikan dari efek samping serius yang dikenal sebagai graft-versus-host disease (GVHD), di mana sel-sel kekebalan dari donor menyerang jaringan dalam penerima donor.

"Temuan ini memberikan kita pandangan sekilas ke dalam genetika yang tidak kompatibel sehingga dapat mempersulit transplantasi. Ada kemungkinan banyak lokus kiri kompatibilitas lain untuk ditemukan, dan dengan peningkatan kemampuan untuk mengamati variasi genetik manusia, akan menjadi semakin layak untuk menemukan mereka," kata Steven McCarroll, profesor di Harvard Medical School dan anggota asosiasi dari Broad Institute of MIT dan Harvard, yang memimpin studi sebagai postdoktoral bersama David Altshuler di Massachusetts General Hospital.

Premis dasar di belakang transplantasi organ dan jaringan sederhana yaitu membuang bagian yang sakit dari satu pasien dan menggantinya dengan organ pasien lain yang sehat. Tetapi ada beberapa aspek dari proses yang sangat rumit, termasuk genetik yang dapat yang tidak kompatibel antara donor dengan jaringan penerima. Graft-versus-host disease (GVHD) adalah salah satu kondisi yang berkaitan dengan immune tubuh yang dapat timbul sebagai akibat ketidakcocokan genetik ini.

GVHD merupakan komplikasi serius yang umum dari transplantasi sumsum tulang (juga dikenal sebagai "hematopoietic stem cell transplantation"), suatu prosedur di mana darah dan immune "sel induk" yang terisolasi dari sumsum orang sehat dan ditransfer ke pasien yang hidup dengan ancaman penyakit, sebagian besar kanker darah atau sistem immune tubuh. Sebagai hasil dari transplantasi, donor darah dan sistem kekebalan tubuh penerima dilarutkan dalam tubuh, membantu menyembuhkan penyakit yang mengganggu. Kadang-kadang, sel-sel immune donor terdeteksi sebagai protein asing (unfamiliar proteins) oleh tuan rumah baru mereka dan menyerang jaringan pasien, menyebabkan GVHD.

Tidak mengherankan, GVHD hampir tidak pernah terjadi ketika transplantasi melibatkan kembar identik, yang membawa DNA yang sama di seluruh genom mereka. Namun, sering muncul transplantasi berikut antara saudara kandung yang secara genetik serupa meskipun tidak identik, bahkan ketika mereka berbagi DNA yang identik dalam wilayah kunci dari genom yang dikenal sebagai HLA. Daerah HLA terkenal karena perannya dalam jaringan menentukan kompatibilitas dan bagian-bagian tertentu secara rutin diuji dalam kedua donor dan penerima (dikenal sebagai "HLA-matching") untuk mengukur apakah pasangan yang cocok dapat disusun? Apa yang tidak diketahui, bagaimanapun, situs yang ada di tempat lain dalam genom, mungkin juga dampak keberhasilan transplantasi organ.

Beberapa tahun yang lalu, McCarroll dan rekan-rekannya, serta ilmuwan lain bekerja secara independen, membuat pengamatan yang menarik bahwa orang dapat kehilangan potongan yang relatif besar dari genom (sering melibatkan seluruh gen) dan jenis variasi umum genetik dalam populasi manusia. Itu berarti bahwa seseorang bisa mewariskan gen yang sama namun terhapus dari kedua orang tuanya dan dengan demikian tidak punya gen sama sekali. Fakta penghapusan ini cukup sering terjadi pada populasi manusia yang menunjukkan bahwa mereka telah ada selama puluhan ribu tahun dan sandi gen itu tidak penting bagi nenek moyang manusia.

"Kami bertanya, Apakah ada situasi di mana gen-gen terhapus ini mungkin lebih penting bagi kita daripada nenek moyang kita. Satu hal yang merupakan bagian dari dunia kita yang bukan bagian dari mereka adalah transplantasi," kata McCarroll. Idenya adalah bahwa jika seseorang tidak memiliki gen tertentu, sistem immune tubuhnya mungkin tidak pernah belajar untuk menerima atau "mentolerir" gen protein yang sesuai. Jika sistem kekebalan tubuhnya entah bagaimana menemukan protein (mungkin setelah transplantasi sumsum tulang) akan dianggap sebagai asing, dengan demikian meningkatkan risiko komplikasi kekebalan.

Dalam mengeksplorasi ide ini, McCarroll bekerja sama dengan James Bradner, postdoctoral fellow di Broad Institute yang kini menjadi instruktur kedokteran di Dana-Farber Cancer Institute dan Broad Institute associate member. Bradner secara rutin melakukan transplantasi sumsum tulang sebagai bagian dari kerja klinis onkologi, dan tahu bahwa ada preseden penting bagi gen yang hilang ini yang disebut sex mismatch. "Sudah jelas untuk beberapa waktu bahwa transplantasi sumsum tulang donor yang melibatkan pasien perempuan dan pasien laki-laki menimbulkan risiko lebih tinggi GVHD. Ketidakcocokan jenis kelamin muncul dari gen-gen pada laki-laki kromosom Y tertentu sehingga hadir pada laki-laki tetapi tidak pada wanita. Rasanya masuk akal bahwa penghapusan gen di tempat lain dalam genom dapat menghasilkan akibat yang sama," kata Bradner.

Untuk meneliti pertanyaan ini, McCarroll dan koleganya menganalisis seperangkat gen umum yang dihapus pada sekitar 1.300 penerima donor pasangan saudara kandung identik HLA (HLA-identical siblings). Sampel ini adalah bagian dari koleksi yang disimpan oleh para peneliti di Helsinki University, Dana-Farber Cancer Institute, Fred Hutchinson Cancer Research Center, dan lembaga lainnya. "Ada beberapa tempat di mana dokter dan ilmuwan memiliki visi untuk mengumpulkan sampel DNA tersebut selama jangka waktu yang panjang," kata McCarroll.

Analisis DNA memusatkan perhatian pada gen tertentu yang disebut UGT2B17. Para peneliti menemukan bahwa ketidakcocokan yang terjadi ketika gen yang tidak hadir dari DNA donor belum hadir dalam DNA penerima dikaitkan dengan risiko GVHD akut yang lebih besar, yang timbul dalam waktu 100 hari setelah transplantasi sumsum tulang. Di salah satu rumah sakit, kemungkinan penyakit yang berkembang sekitar 1 dari 6 di antara HLA-identical siblings tanpa ketidakcocokan gen, namun sekitar 2 dari 5 (yang kira-kira 2,5 kali lipat) di antara HLA-identical siblings dengan ketidakcocokan UGT2B17. Para peneliti mengamati pola-pola serupa di antara pasien di rumah sakit lain.

Di luar genetika, bukti garis tambahan juga menunjukkan peran UGT2B17 terhadap GVHD. Data dari Nature Genetics study serta penelitian kolektif independen sebelumnya menunjukkan bahwa cabang-cabang yang berbeda dari sistem kekebalan mengenali bagian dari protein yang dikode gen UGT2B17, memberikan bukti nyata bahwa hal itu ditargetkan oleh immune system tubuh pasien. Fitur yang tepat gen ini mungkin dapat membantu mencadangkan sistem kekebalan tubuh pasien transplantasi belum sepenuhnya jelas.

Tetapi ada beberapa petunjuk menarik dalam catatan McCarroll. Pertama, protein yang dikode oleh gen adalah banyak, lebih dari 500 asam amino lama. Secara umum, semakin lama sebuah protein, semakin banyak peluang bagi sistem kekebalan tubuh untuk "mengenali". Protein juga berada pada permukaan sel, sebuah tempat utama untuk dideteksi antibodi yang merupakan bagian dari sistem kekebalan penanggap pertama. Paling penting, protein UGT2B17 berlimpah di jaringan yang sama yang ditargetkan oleh sel-sel immune akut GVHD (hati, usus, dan kulit), menunjukkan bahwa di tempat yang tepat pada saat yang tepat.

McCarroll memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk mengetahui apakah analisis gen ini harus dimasukkan ke dalam kamar uji klinis yang dijalankan dalam rangka untuk mencocokkan sumsum tulang donor potensial dan penerima. "Dua langkah penting adalah untuk melihat hasil ini direplikasi secara luas di lapangan dan untuk mengukur efeknya, sehingga para ilmuwan klinis dapat memutuskan apakah akan menyertakan antara kriteria yang digunakan untuk menemukan donor yang ideal untuk setiap pasien," kata McCarroll.

Penelitian ini didukung oleh Broad Institute of MIT dan Harvard, Academy of Finland, Helsinki University Central Hospital Research Fund, Fred Hutchinson Cancer Research Center, Lilly Life Sciences Research fellowship, S. Juselius Foundation, Center of Excellence Program of the Finnish Academy, dan National Institutes of Health.

Kasus Diabetes 2 Kali Lipat dan Biaya 3 Kali Lipat pada 2034

(KeSimpulan) Para peneliti di University of Chicago melaporkan dalam edisi Desember Diabetes Care pada 25 tahun mendatang, jumlah orang Amerika yang hidup dengan diabetes akan naik hampir dua kali lipat dari 23,7 juta pada tahun 2009 menjadi 44,1 juta pada tahun 2034. Selama periode yang sama, pengeluaran diabetes naik hampir tiga kali lipat dari US$113 miliar menjadi US$336 miliar, bahkan tanpa peningkatan prevalensi obesitas.

Para peneliti memprediksi jumlah orang dengan diabetes yang dirawat medis akan meningkat dari 8,2 juta menjadi 14,6 juta. Pengeluaran perawatan diabetes akan melompat dari US$45 miliar menjadi US$171 miliar. "Jika kita tidak mengubah kebiasaan diet dan olah raga atau mencari cara baru yang lebih efektif dan lebih murah untuk mencegah dan mengobati diabetes, kita akan menemukan diri kita sendiri dalam banyak masalah sebagai penduduk. Tanpa perubahan signifikan dalam strategi umum, pertumbuhan penduduk, dan biaya akan menambah ketegangan yang signifikan untuk sebuah sistem perawatan kesehatan menjadi beban berat," kata Elbert Huang, MD, profesor kedokteran di University of Chicago.

Prediksi sebelumnya:
  • Studi tahun 1991 menyatakan bahwa jumlah orang Amerika dengan diabetes akan berlipat ganda dari 6,5 juta pada tahun 1987 menjadi 11,6 juta pada 2030 yang ternyata kurang dari setengah jumlah kasus pada tahun 2009. Proyeksi ini menekankan pentingnya pencegahan dan pendidikan. Perubahan gaya hidup, olahraga, atau kebiasaan gizi akan lebih sulit dilakukan dibandingkan jika mengembangkan obat untuk pengobatan.

  • Studi 1998 diramalkan lebih banyak kasus secara cepat, 22 juta kasus pada tahun 2025. Di seluruh dunia pengawasan terhadap diabetes adalah langkah pertama menuju pencegahan dan pengendalian yang sekarang diakui sebagai prioritas mendesak.

  • Studi 2001 diperkirakan 29 juta kasus pada tahun 2050. Para penulis studi ini memperingatkan bahwa proyeksi mereka mungkin lebih menakutkan daripada yang diyakini sebelumnya yaitu biaya ekonomi diabetes sudah mengejutkan.

  • Studi retrospektif 2008 menegaskan tren jumlah orang Amerika didiagnosis dengan diabetes terus meningkat dari 10 juta pada 1994 menjadi 14 juta pada 2000 serta 19 juta pada 2007. Biaya tahunan (hanya untuk obat) hampir dua kali lipat dalam enam tahun, naik dari US$6,7 milyar pada 2001 menjadi US$12,5 milyar pada 2007.

Paling baru dari prediksi bahkan mungkin sedikit konservatif didasarkan pada asumsi bahwa prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas di Amerika Serikat akan tetap relatif stabil. Meskipun tingkat obesitas sudah naik terus-menerus selama bertahun-tahun, diprediksi tingkat obesitas bagi penduduk non-diabetes akan naik pada dekade berikutnya, kemudian menurun sedikit 30 persen dari saat ini dengan sekitar 27 persen pada 2033. "Meskipun tren baru di tingkat obesitas, kami mengantisipasi bahwa penduduk akan mencapai ekuilibrium di tingkat obesitas, karena tidak dapat semua menjadi gemuk," kata Huang.

Study Diabetes Care 2009 penekanan pada perubahan demografi, kemajuan dalam perawatan, dan riwayat alami penyakit, termasuk waktu dan frekuensi komplikasi yang mahal. Sebagian besar peningkatan kasus dan biaya akan didorong oleh penuaan "baby boomer" yaitu 77 juta orang Amerika lahir antara tahun 1946 hingga 1957 yang mendekati usia pensiun, komplikasi diabetes, dan asuransi kesehatan federal.

Berbagai karakteristik dari sejarah modern diabetes dan pengobatan membantu meningkatkan biaya diabetes bagi populasi. Orang dengan diabetes kini telah didiagnosis pada usia muda. Berkat perawatan yang lebih baik, mereka hidup lebih lama. Ini mengarah pada penyakit sejarah yang lebih panjang, kesempatan terapi untuk lebih agresif, dan waktu untuk mengumpulkan komplikasi yang mahal untuk mengobati. Diabetes adalah penyebab utama kebutaan, stadium akhir penyakit ginjal, dan amputasi. Studi ini dilakukan untuk membantu memperkirakan dampak skenario kebijakan alternatif atas perdebatan di Kongres tentang perubahan dalam sistem perawatan kesehatan, terutama untuk perawatan medis.

"Implikasi kebijakan publik sangat besar. Ini tantangan serius pada perawatan medis dan setiap rencana kesehatan lainnya. Biaya mengalami peningkatan signifikan dalam rasa sakit, penderitaan penduduk, dan beban keuangan yang akan mengancam kelangsungan hidup keuangan publik," Michael O'Grady, PhD, senior fellow di National Opinion Research Center, University of Chicago.

"Kami membangun model ini untuk meningkatkan anggaran dan informasi hasil kesehatan yang tersedia bagi pembuat kebijakan federal," kata Huang. Memberikan penilaian yang ketat dari beban masa depan diabetes dan juga dapat digunakan untuk memberikan perkiraan dampak skenario kebijakan alternatif. Mereka memperkirakan bahwa pertumbuhan biaya diabetes akan melebihi proyeksi arus perawatan medis dari total pengeluaran.

Butiran Polymer Pencuci Sampah Radioaktif Isotop Cobalt (60 Co)

(KeSimpulan) Tenaga nuklir bisa memecahkan masalah energi tetapi lebih menjijikkan dari semua produk kotoran: limbah radioaktif. Tidak hanya pembuangan batang core tua tetapi juga hasil operasi reaktor dalam jumlah besar dari limbah tingkat rendah, terutama yang terkontaminasi air pendingin. Sevilimendu Narasimhan dari Bhabha Atomic Research Center di Kalpakkam, India, dan kimiawan PD Dr Börje Sellergren dari Institute of Environmental Research at Technische Universität Dortmund telah mengembangkan metode baru untuk mengurangi jumlah cukup besar limbah radioaktif ini.

Pendekatannya yaitu butiran-butiran (manik-manik) kecil yang terdiri dari polimer khusus di mana radioaktivitas keluar dari air. Dalam reaktor air bertekanan (reaktor yang paling umum), air panas beredar pada tekanan tinggi melalui pipa-pipa baja, melarutkan ion logam dari dinding-dinding pipa. Ketika air dipompa melalui inti reaktor, ion ini dibombardir oleh neutron. Karena pipa adalah pipa baja, sebagian besar ion adalah besi isotop (56 Fe) yang tidak menjadi radioaktif ketika dibombardir oleh neutron. Tetapi dalam pipa baja biasanya menerima kobalt (cobalt). Dan ketika cobalt ini menyerap neutron, sebuah isotop cobalt (60 Co) tidak stabil, muncul radioaktif dengan waktu paruh lebih dari lima tahun. Biasanya air dibersihkan dengan ion pengganti. Namun teknik ini memiliki kelemahan yang sangat penting, karena tidak membedakan antara ion besi non-radioaktif-ion dan ion cobalt radioaktif.

Untuk mengatasi masalah ini, Sellergren dan Narasimhan sedang mencari bahan yang tidak mengikat cobalt dan besi. Mereka mengembangkan polimer khusus yang dibuat melalui prosedur yang disebut "molecular imprinting." Polimer ini dibuat dalam suatu lingkungan yang mengandung cobalt. Kemudian ion cobalt diekstraksi dengan asam klorida (hydrochloric acid), artinya mereka "dicuci keluar." Maka lubang seukuran cobalt (imprinting) mampu menjebak hanya cobalt di lingkungan lain tersebut. Hasilnya, sejumlah kecil polimer ini dapat membersihkan sejumlah besar isotop radioaktif.

Tim ini sekarang membentuk polimer menjadi manik-manik kecil yang dapat melewati sistem pendingin sebuah stasiun tenaga nuklir. Mereka berharap akan lebih ekonomis dan ramah lingkungan mengatasi konsentrat radioaktivitas masuk ke dalam manik-manik dibandingkan dengan menyimpan atau membuang dalam jumlah besar limbah tingkat rendah. Secara hukum jelas ini sebuah tuntutan. Di seluruh dunia ada sekitar 40 reaktor stasiun tenaga nuklir baru sedang dibangun dan International Atomic Energy Agency (IAEA) memperkirakan sebanyak 70 reaktor akan dibangun dalam waktu 15 tahun ke depan.

Membalik Arah Spiral Cangkang Siput Lymnaea stagnalis

(KeSimpulan) Sel-sel embrio cangkang dapat mengalihkan arah spiral. Hal ini pekerjaan yang lebih jauh di bidang politik. Tapi bagi siput (bekicot) Lymnaea stagnalis, peneliti melaporkan bahwa hanya sedikit dorongan modifikasi pada beberapa sel-sel saat membagi diri telah mendorong generasi anak muda dari berhaluan kiri ke kanan, dari benci menjadi rindu, atau dari teroris ke antiteroris.

Modifikasi harus datang ketika pertama kali empat sel embrio dari Lymnaea stagnalis membagi diri menjadi delapan sel, kata Reiko Kuroda dari University of Tokyo yang juga mempelajari chirality atau perilaku kidal (misalnya pengaruh genetik kebiasaan menggunakan tangan kiri). Di kondisi alam, gen tunggal (belum teridentifikasi) menjadi daras pada ibu bekicot untuk mengendalikan ke arah mana uliran tubuh pada anak cucunya.

Kuroda dan rekan-rekannya memodifikasi proses penyusunan keturunan dengan menggunakan batang gelas kecil laboratorium untuk mendorong empat dari pembentukan sel-sel baru ke arah yang berlawanan dari kebiasaan proses pergeseran yang alami. Reposisi membalik arah spiral siput ke arah yang lain ditentukan secara genetis sehingga memuntir ke kiri atau ke kanan. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada edisi 25 November jurnal Nature.

Para peneliti memberi sedikit tekanan untuk membalik pola-pola ekspresi pada embrio yang mengandung gen nodal penting bagi pertumbuhan selanjutnya. Setelah penataan ulang sedini mungkin, embrio yang akan membentuk spiral ke kanan yang menunjukkan aktivitas nodal normal tahap ke kiri dan sebaliknya. Bekicot yang telah diubah dibesarkan secara mundur tapi normal, sehat, dan subur reproduksi.

Kontribusi gen tunggal dan bagian pergeseran posisi sel dalam tahap embrionik dapat menentukan bentuk pada hewan besar yang berimplikasi bagi mekanisme seleksi alam dan evolusi. "Evolusi dan seleksi alam dapat mengambil lompatan besar serta tidak harus melanjutkan secara bertahap," kata Stuart Newman dari New York Medical College di Valhalla.

Lubang Hitam Bintang Supermasif Menjadi Quasarstar Dingin sebagai Siklus Alam Semesta

(KeSimpulan) Sebuah studi baru yang dipimpin oleh University of Colorado di Boulder menyatakan untuk pertama kali lubang hitam besar di alam semesta mungkin terbentuk dan tumbuh jauh seperti raksasa, starlike cocoons yang tertahan kekuatan radiasi x-ray mereka dan mencegah gas disekitarnya tertiup dari jauh.

Mitchell Begelman, professor dan direktur pada CU-Boulder's astrophysical and planetary sciences department mengatakan proses pembentukan melibatkan dua tahap. Pada awal pembentukan lubang hitam, benda-benda yang disebut bintang supermasif, mungkin mulai membentuk pertama kali dalam beberapa ratus juta tahun setelah Big Bang sekitar 14 miliar tahun yang lalu. Sebuah bintang supermasif pada akhirnya akan bertambah menjadi ukuran besar (sebanyak puluhan juta kali massa matahari di tata surya) dan hidup sebentar dengan runtuhnya inti hanya dalam dalam beberapa juta tahun.

Dalam studi baru yang akan dipublikasikan pada Monthly Notices of the Royal Astronomical Society di London, Begelman menghitung bagaimana bintang supermasif mungkin telah terbentuk, serta massa inti. Perhitungan ini memungkinkan untuk memperkirakan ukuran dan evolusi selanjutnya termasuk bagaimana akhirnya meninggalkan "benih" lubang hitam setelahnya.

Begelman mengatakan bahwa pembakaran hidrogen bintang supermasif harus stabil oleh rotasi mereka sendiri atau beberapa bentuk energi lain seperti medan magnet atau turbulensi dalam rangka untuk memfasilitasi pertumbuhan lubang hitam yang cepat di pusat-pusat mereka. "Apa yang baru di sini adalah kita berpikir telah menemukan mekanisme baru untuk membentuk bintang-bintang supermasif raksasa ini yang memberikan cara baru untuk memahami bagaimana lubang hitam besar mungkin telah terbentuk dalam waktu relatif cepat," kata Begelman.

Syarat utama untuk pembentukan bintang-bintang supermasif adalah masalah akumulasi pada laju sekitar satu massa matahari per tahun. Karena jumlah materi yang luar biasa dikonsumsi oleh bintang-bintang supermasif, benih berikutnya adalah lubang hitam yang terbentuk di pusat-pusat mereka yang mungkin sudah mulai keluar jauh lebih besar daripada lubang hitam biasa (merupakan massa hanya beberapa matahari) dan kemudian menjadi jauh lebih cepat.

Setelah benih lubang hitam terbentuk, proses memasuki tahap kedua, yang Begelman menjuluki panggung "quasarstar". Dalam fase ini, lubang hitam tumbuh dengan pesat dengan menelan materi dari pembengkakan gas di sekitar mereka yang akhirnya meningkat ke ukuran sebesar tata surya Bumi dan didinginkan pada saat yang sama. Setelah didinginkan quasarstar melewati titik tertentu, radiasi mulai melarikan diri pada tingkat tinggi menyebabkan gas menjadi buyar dan meninggalkan lubang hitam hingga 10.000 kali atau lebih dari massa matahari. Dengan kepala besar mulai dari awal lubang hitam biasa, mereka bisa tumbuh menjadi lubang hitam supermasif jutaan atau milyaran kali massa matahari baik dengan menelan gas dari sekitar galaksi atau bergabung dengan lubang hitam di galaksi yang bertabrakan sangat keras.

Fase quasistar yang dianalisis pada tahun 2008 yang diterbitkan oleh Begelman bekerjasama dengan profesor CU Phil Armitage dan peneliti Elena Rossi. "Sampai saat ini, pemikiran bahwa terjadinya lubang hitam supermasif mulai dari penggabungan berbagai lubang hitam kecil di alam semesta. Ini model baru pembangunan lubang hitam menunjukkan rute alternatif kemungkinan pembentukan mereka," kata Begelman. Lubang hitam sangat padat dengan benda-benda langit yang diyakini terbentuk oleh runtuhnya bintang-bintang dan memiliki medan gravitasi yang kuat maupun tidak bahkan cahaya dapat melarikan diri.

Sementara lubang hitam tidak secara langsung terdeteksi oleh para astronom, gerakan materi bintang berputar-putar di sekeliling mereka dan secara kuat peledakan semburan gas ke luar memberikan bukti bagi keberadaan mereka. Lubang hitam biasa dianggap sebagai sisa-sisa bintang yang sedikit lebih besar daripada matahari yang menggunakan bahan bakar yang dimiliki dan mati. Penyusunan lubang hitam supermasif di awal sejarah alam semesta mungkin telah berjalan untuk menghasilkan fenomena quasar (yang sangat terang), energi dari pusat galaksi yang jauh dapat satu triliun kali lebih terang dari matahari. Begelman mengatakan, ada juga bukti bahwa lubang hitam supermasif mendiami pusat setiap galaksi masif saat ini, termasuk galaksi Bima Sakti.

"Lubang hitam besar yang terbentuk dari bintang supermasif ini bisa memiliki dampak besar pada evolusi alam semesta, termasuk formasi galaksi. Begelman bekerja sama dengan Marta Volonteri, astrofisikawan dari University of Michigan, membandingkan kemungkinan pembentukan lubang hitam supermasif dari supermasif bintang dan quasistars versus bintang gabungan lubang hitam biasa yang ditinggalkan oleh runtuhnya alam semesta bintang awal. Para ilmuwan mungkin dapat menggunakan NASA's James Webb Space Telescope, dijadwalkan akan dioperasikan pada tahun 2013 untuk melihat kembali dalam waktu dan berburu bagi cocoon seperti bintang supermasif di tepi awal alam semesta yang akan bersinar terang dalam waktu dekat dengan bagian spektrum elektromagnetik inframerah.

Sel-Sel Induk Paru-Paru untuk Bayi Premature

(KeSimpulan) Dr Bernard Thébaud hidup di dunia yang dilematis, sebagai spesialis di Stollery Children's Hospital's Neonatal Intensive Care Unit di Royal Alexandra Hospital, ia memelihara bayi-bayi mungil, banyak di antaranya yang berjuang untuk menarik napas setelah lahir premature. Laboratorium di Faculty of Medicine & Dentistry University of Alberta, Dr Thébaud dan teman-temannya menuju mikroskop untuk memeriksa efek yang tepat sel-sel induk pada paru-paru.

Kini, penelitian ilmiah yang diterbitkan di American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, Dr Thébaud telah membuat lompatan yang signifikan untuk menjembatani kesenjangan antara dua dunia. Sebuah tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Dr Thébaud telah menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa sel-sel induk melindungi dan memperbaiki paru-paru bayi tikus yang baru lahir. "Hal yang benar-benar menarik bahwa kita menemukan bahwa sel-sel induk seperti pabrik-pabrik kecil, memompa penyembuhan. Itu tampaknya cairan penyembuhan untuk meningkatkan kekuatan sel-sel paru-paru yang sehat juga dapat membantu untuk memperbaikinya," kata Dr Thébaud, juga anggota Alberta Heritage Foundation for Medical Research Clinical Scholar.

Dalam studi ini, tim Thébaud menggunakan kondisi prematur (bayi tikus yang baru lahir memberikan oksigen). Para ilmuwan kemudian mengambil sel-sel induk yang berasal dari sumsum tulang dan disuntikkan ke dalam saluran udara tikus. Dua minggu kemudian, tikus-tikus diperlakukan dengan sel induk mampu menjalankan dua kali lebih jauh dan memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih baik. Ketika tim Thébaud melihat paru-paru, mereka menemukan sel induk telah memperbaiki paru-paru dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

"Saya ingin mengucapkan selamat kepada Dr Thébaud dan timnya. Penelitian ini menawarkan harapan nyata untuk pengobatan baru bagi bayi dengan penyakit paru-paru kronis. Dalam beberapa tahun yang singkat, saya akan mengaplikasikan untuk dapat mengambil temuan-temuan ini dan mulai uji coba klinis dengan bayi prematur," kata Dr Roberta Ballard, profesor pediatri dari University of California, San Fransisco.

"Dilema yang kita hadapi dengan bayi-bayi mungil ini serius. Ketika mereka lahir terlalu dini, mereka tidak dapat bernapas sendiri. Untuk menyimpan kehidupan, kita menempatkan mereka pada ventilator dan memberikan oksigen sehingga banyak dari mereka dengan penyakit paru-paru kronis. Sebelum dekade berikutnya saya ingin menghentikan penyakit yang menghancurkan ini," kata Dr Thébaud. Tim peneliti termasuk dokter dan ilmuwan dari Edmonton, Alberta, Tours, Perancis, Chicago, Illinois, dan Montreal, Quebec.

Tim sekarang meneliti keamanan jangka panjang dari penggunaan sel induk sebagai terapi paru-paru. Para ilmuwan sedang meneliti tikus pada 3 bulan dan 6 bulan setelah terapi, mempelajari paru-paru, dan memeriksa organ mereka untuk menyingkirkan risiko kanker. Tim Dr Thébaud juga menjajaki apakah darah tali pusar manusia dapat menjadi pilihan yang lebih baik daripada sel induk sumsum tulang untuk mengobati penyakit paru-paru. "Kami juga mempelajari penyembuhan cairan yang dihasilkan oleh sel-sel induk. Kalau itu dapat digunakan sendiri untuk tumbuh dan memperbaiki paru-paru yang mungkin bisa membuat suntikan sel-sel induk yang tidak hilang," kata Dr Thébaud.

Dr Thébaud adalah spesialis untuk Alberta Health Services dan Canada Research Chair in Translational Lung and Vascular Development Biology. Penelitian ini didukung oleh AHFMR, Canada Foundation for Innovation, Canadian Institutes of Health Research, Canadian Stem Cell Network, dan Stollery Children's Hospital Foundation.

Kesalahan Asam Amino Protein untuk Pertahanan Sel dari Virus, Bakteri dan Kontaminasi Kimia

(KeSimpulan) Para penelitian menyatakan bila sel-sel dihadapkan dengan serbuan virus, bakteri atau kontaminasi bahan kimia yang menjengkelkan, mereka akan melindungi diri dengan resep DNA dan memasukkan asam amino yang salah (protein errors) menjadi protein baru untuk menjaga dari kerusakan.

Tao Pan, Professor dari Biochemistry and Molecular Biology di University of Chicago mengatakan "kesalahan sistem" ini terdiri dari sebuah novel non-mekanisme genetik oleh sel-sel yang dapat dengan cepat membuat protein yang penting agar lebih tahan terhadap serangan stresor. Sebuah tim terdiri dari 18 ilmuwan dari University of Chicago dan National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID) yang dipimpin oleh Pan dan Jonathan Yewdell menerbitkan temuan ini pada edisi 25 November 25 di jurnal Nature.

"Mekanisme ini memungkinkan setiap protein untuk mendapatkan perlindungan. Kode genetik dianggap tidak tersentuh, tapi ini non-genetik dalam sel menjadi strategi yang digunakan untuk menciptakan pengawalan untuk protein," kata Pan. Protein dibangun melalui proses yang disebut translation di mana elemen seluler menggunakan kode genetik untuk memandu perakitan blok bangunan yang disebut asam amino ke dalam urutan yang benar.

Pertama-tama, salinan DNA (disebut RNA pembawa pesan) disusun dan ditransfer ke struktur selular yang disebut ribosom. Transfer beberapa RNA (tRNA), masing-masing satu dari 20 asam amino yang digunakan dalam membangun protein, membaca kode messenger RNA (mRNA) dan membawa asam amino yang sesuai ke ribosom, di mana mereka terikat bersama untuk membentuk protein yang lengkap.

Setiap tRNA dapat dilampirkan ke hanya salah satu dari 20 asam amino, spesifisitas yang mencegah kesalahan selama konstruksi protein. Dalam persiapan laboratorium artifisial, para ilmuwan telah mengamati bahwa hanya satu dari setiap 10.000 asam amino dimasukkan ke protein yang tidak terkoreksi, dengan demikian protein errors menjadi khas yang langka.

Tapi Jeffrey Goodenbour, mahasiswa pasca sarjana di University of Chicago bersama dengan Nir Netzer dari NIAID, memutuskan untuk melihat seberapa sering tRNA errors (yang disebut misacylations) terjadi pada sel-sel hidup. Setelah mengembangkan teknik baru untuk mengukur kesalahan-kesalahan ini, mereka terkejut bahwa ditemukan tingkat kesalahan yang lebih tinggi di dalam sel-sel untuk asam amino metionin (amino acid methionine). Lebih satu dari setiap 100 methionines telah salah ditempatkan di dalam protein.

Ketika sel-sel mendapat tekankan oleh paparan virus, bakteri atau bahan kimia beracun seperti hidrogen peroksida, tingkat kesalahan itu pergi lebih tinggi lagi, sampai dengan 10 persen dari methionine yang ditempatkan ke dalam protein baru yang berbeda dari apa yang telah ditentukan oleh gen. "Itu 1.000 kali lebih banyak dibanding yang disebutkan dalam buku-buku literatur saat ini," kata Pan.

Percobaan lebih lanjut menunjukkan kejadian yang selalu sama pada asam amino, methionine, salah penempatan ke protein baru. methionine adalah hanya salah satu dari dua asam amino untuk membawa atom sulfur pada untaian tepi, sebuah fitur yang memungkinkan untuk menetralkan molekul berbahaya yang disebut reactive oxygen species (ROS) yang terbentuk di dalam atau stresor infeksi sel. ROS dapat merusak protein melalui proses yang disebut oksidasi kimia, tetapi methionine dapat teroksidasi (dan dipulihkan melalui proses yang disebut reduction) tanpa rusak secara permanen.

"Idenya adalah bahwa methionine dapat melindungi anda melawan oksidasi yang aktif di rumah protein, pada akhirnya akan benar-benar menjadi fungsi pertahanan bagi protein. Dengan demikian anda akhirnya mengurangi beban total reactive oxygen species di dalam sel. Ini merupakan mekanisme yang sangat menarik," kata Goodenbour.

Sel-sel normal meletakkan methionine di dekat bagian penting dari sebuah protein untuk melindungi bagian ini dari kerusakan oleh reactive oxygen species. Bila sel di bawah tekanan dan jumlah ROS meningkat, jumlah methionine yang "kesalahan" akan naik 10 kali lipat, memungkinkan protein baru untuk menjadi lebih tahan terhadap serangan. "Bayangkan sebuah pertandingan tinju. Jika anda meletakkan diri dekat lokasi methionine, reactive oxygen species untuk melewatinya agar sampai ke lokasi aktif untuk residu oksidasi. Anda telah memasukkan sesuatu yang tepat di depannya sehingga protein dapat menahan pukulan. Jika anda memiliki banyak methionine untuk memicu protein ini keluar dengan banyak, akan banyak pukulan. Jadi ini adalah strategi yang digunakan di dalam sel untuk menciptakan pengawal bagi protein," kata Pan.

Sebuah teka-teki yang tersisa adalah untuk menentukan mengapa perlindungan ekstra methionine-methionine ini tidak disandikan sebagai bagian dari DNA di tempat pertama, bukannya diserahkan kepada genetik pasca penempatan acak?

Pan menyatakan bahwa penempatan acak asam amino membuat protein bahkan lebih tahan terhadap serangan karena tidak ada yang diciptakan dengan model sama. "Ini terdengar kacau dan tidak membuat banyak pengertian menurut buku-buku pelajaran di sekolah. Tapi dengan cara ini sel dapat selalu memastikan bahwa subset dari protein ini agak kurang peka terhadap serangan ekstra. Saya pikir itu yang paling penting dari ini untuk membuat setiap molekul protein yang berbeda-beda dan anda tidak bisa melakukan ini secara genetis," kata Pan.

Kontribusi pada penelitian ini dari University of Chicago yaitu Kimberly A. Dittmar, Richard B. Jones, Jeffrey R. Schneider, David Boone, Eva M. Eves. Dari National Institute of Allergy dan Infectious Diseases yaitu Marsha R. Rosner. Nir Netzer, Alexandre David, James S. Gibbs, Alan Embry, Brian Dolan, Suman Das, Heather Hickman, Peter Berglund, Jack R. Bennink, dan Jonathan W. Yewdell. Riset ini didukung oleh hibah dari NIAID dan National Institute of Health.

Tingkat Gas Rumah Kaca Mencapai Rekor Tinggi

(KeSimpulan) Tingkat gas rumah kaca di atmosfer telah mencapai rekor tinggi, agen iklim pada Perserikatan Bangsa-Bangsa agen telah memperingatkan. Karbon dioksida pada khususnya meningkat lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Peringatan datang kurang dari dua minggu sebelum pembicaraan krisis perubahan iklim internasional akan dimulai di Kopenhagen. Tingkat gas rumah kaca telah meningkat setiap tahun sejak secara rinci catatan dimulai pada tahun 1998.

Namun, Michel Jarraud, kepala Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organisation), memperingatkan bahwa laju kenaikan akan semakin cepat. Pengumuman lembaga analisis data untuk tahun 2008, Jarraud mengatakan, "Konsentrasi gas rumah kaca terus meningkat, bahkan (meningkat) lebih cepat dan tindakan harus diambil sesegera mungkin." Organisasi ini memperkirakan kadar karbon dioksida di atmosfer telah meningkat 38 persen sejak tahun 1750, sebelum dampak dari Revolusi Industri. Termasuk gas rumah kaca karbon dioksida, nitrogen oksida, dan metana yang diproduksi oleh sumber-sumber alami, seperti lahan basah dan juga oleh aktivitas manusia.

Tiga organisasi ilmiah yang paling bergengsi di Inggris bersatu untuk meminta tindakan segera dalam memerangi pemanasan global. Royal Society, Met Office, dan Natural Environment Research Council memperingatkan bahwa bukti adalah dunia telah menjadi wajah "berbahaya secara jangka panjang dan berpotensi daya iritasi perubahan iklim". Berbahaya banjir, kekeringan yang mematikan, kenaikan permukaan laut dan perpindahan jutaan orang sebagai pengungsi semuanya telah diprediksi jika temperature meningkat seperti yang diperkirakan. Tanpa mendesak tindakan untuk mengurangi emisi, "kita bisa berharap banyak perubahan besar dalam dekade mendatang daripada yang telah melihat terlihat begitu jauh", peringatan organisasi itu.

Bima Sakti Tumbuh dengan Menelan Galaksi Lain

(KeSimpulan) Sebuah motto "E Pluribus Unum" (banyak keluar, satu) dapat diterapkan pada Bima Sakti. Para astronom telah memperoleh bukti baru bahwa rumah galaksi kita berisi potongan banyak mantan galaksi. Temuan ini memperkuat teori bahwa galaksi-galaksi besar tidak muncul keseluruhan secara tunggal yaitu awan raksasa dari debu dan gas. Sebaliknya, mereka tumbuh dengan menelan tetangga di sekitarnya.

Petunjuk datang dari konsentrasi globular clusters (gugusan bola-bola) hingga jutaan bintang yang mengorbit pusat galaksi sebagai lingkungan yang mandiri. Selain dari galaksi kita yang berlengan spiral besar, globular clusters merupakan beberapa fitur yang paling mencolok. Para astronom telah lama berpikir bahwa awan terbentuk dari konsentrasi gas dan debu di saat awal Bima Sakti purba. Tapi dua makalah edisi hari ini di jurnal Nature memberikan potret yang sama sekali berbeda.

Sebuah tim astronom dari Korea Selatan mengukur kandungan kalsium pada 37 dari 158 bintang di Bima Sakti yang dikenal dengan globular clusters. Sekitar separuh jumlah yang secara signifikan berisi elemen, menunjukkan bahwa mereka telah terbentuk dari sisa-sisa supernova, ledakan titanic dari bintang raksasa yang pernah disusun dengan kalsium dan unsur berat lainnya sebagai core.

Temuan ini penting, kata Jae-Woo Lee dari Sejong University di Seoul, karena menunjukkan globular clusters pasti pernah jauh lebih besar daripada sekarang. Jika tidak, mereka tidak akan mendapat gaya gravitasi yang diperlukan untuk menangkap sisa-sisa supernova sehingga bisa mengembun menjadi bintang baru. "Hal ini membawa kita untuk percaya bahwa banyak dari gugus bola yang kami pelajari kemungkinan besar relik yang lebih besar, dwarf galaxies purba yang bergabung dengan Bima Sakti," kata Lee.

Tim internasional menemukan bukti lebih lanjut bagi teori ini di globular clusters yang disebut Terzan 5. Terletak di atas pusat dari Bima Sakti di sebuah daerah yang disebut galaxy's bulge (tonjolan galaksi), cluster berisi jumlah pulsar yang luar biasa, ultradense, berputar cepat dari sisa-sisa supernova. Analisis kimia menunjukkan bahwa materi yang disuntikkan dalam ledakan ini, lebih cepat menjauhkan diri dari cluster dengan kecepatan tinggi, terjebak di sekitarnya untuk membentuk bintang baru. Ini memerlukan jejak gravitasi dari sebuah galaksi sampai 1000 kali lebih banyak massa yang dimiliki Terzan 5 pada saat ini.

Francesco Ferraro dari Università Di Bologna, Italia mengatakan seperti dalam studi lain, penjelasan yang paling mungkin adalah Terzan 5 menjadi galaksi yang terlalu besar yang ditelan oleh Bima Sakti. Ketika Terzan 5 dan galaksi dwarf lain bergabung dengan galaksi Bima Sakti, tabrakan memecah banyak bintang, meninggalkan kelompok-kelompok kecil yang kita lihat sekarang. Ferraro mengatakan studi lebih lanjut globular clusters harus menghasilkan lebih banyak kejutan seperti itu.

"Sistem ini memiliki kandungan informasi yang nyata dan setiap kali kita mengamati mereka, mereka mengungkapkan hal baru, rahasia yang tidak terduga," kata Ferraro. David Weinberg, astronom dari Ohio State University di Columbus mengatakan temuan bisa mengubah asumsi sebelumnya tentang globular clusters. Peneliti berpikir bahwa salah satu cluster Bima Sakti, Omega Centauri adalah sebuah anomali karena dulu galaksi yang mandiri.

Tanaman Monotropsis odorata Gunakan Kamuflase Daun kering Untuk Herbivora

(KeSimpulan) Tanaman hutan jarang menggunakan 'warna samar' untuk bersembunyi dari predator. Hal ini juga diketahui bahwa beberapa spesies hewan menggunakan kamuflase untuk bersembunyi dari predator. Individu-individu yang mampu berbaur ke lingkungan mereka dan menghindari pemangsa mampu bertahan lebih lama, berkembang biak, dan dengan demikian meningkatkan stabilitas mereka (jalur sepanjang gen kepada generasi berikutnya).

Hal ini mungkin tampak seperti sebuah strategi yang baik dan cukup umum dalam dunia hewan, tetapi ternyata tanaman melakukan hal yang sama. Pada tanaman, penggunaan warna atau pigmentasi sebagai komponen vital untuk memperoleh makanan (misalnya fotosintesis) atau sebagai cara untuk menarik penyerbuk (misalnya bunga) telah diteliti. Namun, variasi dalam pigmentasi sebagai sarana untuk melarikan diri predatori hanya mendapat sedikit perhatian. Dalam edisi Desember American Journal of Botany, Matius Klooster dari Harvard University dan koleganya menyelidiki apakah secara empiris bracts (daun pelindung) kering pada tanaman hutan yang langka, Monotropsis odorata, bisa melayani tujuan yang sama seperti garis-garis pada harimau atau dari warna abu-abu pada sayap ngengat, sebagai usaha untuk menyembunyikan diri?

"Monotropsis odorata adalah spesies tanaman yang sangat menarik karena bergantung secara eksklusif pada jamur mycorrhizal yang mengaitkan dengan akar-akarnya sebagai semua sumber daya yang dibutuhkan untuk hidup. Karena tanaman ini tidak lagi memerlukan fotosintesis pigmentasi (yaitu warna hijau) untuk menghasilkan energinya sendiri, mereka manjadi bebas untuk mengadopsi kemungkinan lebih luas dengan warna, sama seperti jamur atau binatang," kata Klooster.

Menggunakan populasi besar Monotropsis odorata, Klooster dan rekan melakukan eksperimentasi dengan menghapus bracts kering yang menutupi 3-5 cm tinggi batang dan kuncup bunga tanaman hutan ini. Bracts berwarna coklat yang menyerupai sampah daun dari reproduksi batang yang muncul dan menutupi berwarna merah-muda-ungu kuncup dan batang berwarna ungu. Ketika Klooster dan koleganya mengukur pola reflektansi bagian-bagian tumbuhan yang berbeda, mereka memang menemukan bahwa bracts berfungsi sebagai kamuflase, membuat tanaman berbaur dengan lingkungannya; pola reflektansi bracts mirip dengan sampah daun dan keduanya berbeda dengan reproduksi batang dan bunga-bunga yang tersembunyi di bawah bracts.

Lebih jauh lagi, mereka secara eksperimental menunjukkan bahwa kamuflase ini benar-benar bekerja untuk menyembunyikan tanaman dari predator dan meningkatkan ketahanan. Individu dengan bracts utuh hanya menderita seperempat dari kerusakan herbivora dan menghasilkan persentase buah-buahan matang yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang bracts telah dihapus. "Sudah sejak lama menunjukkan bahwa hewan menggunakan warna samar (kamuflase) sebagai mekanisme pertahanan visual dengan mencocokkan komponen lingkungan alami mereka untuk menghindari predator. Kami sekarang menunjukkan bahwa tanaman telah berevolusi strategi yang sama untuk menghindari herbivora," kata Klooster.

Pengeringan bracts dini untuk menyembunyikan bagian-bagian reproduksi menjadi strategi yang baik ketika batang dihadapkan ke predator untuk jangka waktu yang lama. Semua spesies lain dalam subfamili Monotropoideae memiliki bracts berdaging warna-warni dan reproduktif aktif hanya seperempat dari panjang waktu. Secara paradoks bagaimanapun Monotropsis odorata agaknya benar-benar bergantung pada hewan untuk penyerbukan dan penyebaran benih.

Bagaimana cara melakukannya saat menyamar sebagai daun mati dan mampu menyembunyikan begitu baik? Para peneliti mengajukan hipotesis bahwa bunga memancarkan bau harum yang berfungsi untuk menarik penyerbuk dan agen penyebaran benih. Namun mereka melihat lebah dianggap menemukan dan melakukan banyak penyerbukan batang reproduksi yang sepenuhnya tersembunyi oleh sampah daun itu sendiri.

The Botanical Society of America adalah keanggotaan masyarakat nirlaba dengan misi untuk mempromosikan botani, bidang ilmu dasar berkaitan dengan studi dan penelitian atas bentuk, fungsi, pengembangan, keragaman, reproduksi, evolusi, dan menggunakan tanaman serta interaksi di dalam biosfer. Mereka menerbitkan American Journal of Botany (www.amjbot.org) selama hampir 100 tahun. American Journal of Botany salah satu dari Top 10 Paling Berpengaruh Journals of the Century di bidang Biologi dan Kedokteran.


As a myco-heterotroph, M. odorata obtains carbon resources from associated mycorrhizal fungi and has a highly reduced vegetative morphology consisting of an underground root mass that produces one to many diminutive reproductive stems (3.5–6 cm in height). Upon emerging from the soil in the late fall, reproductive stems and immature buds are light lavender in color and covered by fleshy bracts and sepals. However, over the course of the subsequent winter months, bracts and sepals become scarious, drying to a light brown. Reproductive stems, encased in dried bracts and sepals, mature early the following spring and upon anthesis, flowers become fragrant (like baking cloves) and are pollinated by Bombus spp. Fruit set ensues over the subsequent 8–10 weeks, with pungently fragrant fruits attracting animals for seed dispersal. Monotropsis odorata is notoriously difficult to locate in the wild, likely owing to the dried bracts and sepals that cover reproductive stems and flowers, rendering them inconspicuous against the ambient pine and oak leaf litter among which they grow. Manipulations of reproductive stems have shown that these cryptic vegetative bracts conceal more conspicuously colored floral and stem tissues and significantly reduce floral herbivory, leading to higher fruit set, a component of plant reproductive fitness. This finding offers strong support to a growing body of literature documenting the ecological dynamics of plant defensive coloration.

H Heidelbergensis di Gua Bolomor Berburu Bebek dan Memasak

(KeSimpulan) Perayaan makan kalkun dalam peradaban Barat yaitu Thanksgiving pertama kali diadakan pada tahun 1621, namun manusia memanggang burung jauh sebelum itu. Nenek moyang manusia modern dan para pendahulu mereka di Eropa kebanyakan para pemburu fauna besar, tetapi setumpuk fosil tulang burung yang tergigit menunjukkan bahwa setidaknya beberapa manusia gua prasejarah Eropa juga menikmati mangsa kecil.

Sebanyak 202 tulang, termasuk ke dalam genus Aythya (bebek menyelam) ditemukan di situs Gua Bolomor dekat kota Tavernes di Valencia, Spanyol. Tulang bebek yang ditemukan merujuk di sekitar 150.000 tahun yang lalu. "Burung-burung terpotong dengan menggunakan alat-alat batu dan gigi. Gua Bolomor adalah bukti kuat untuk konsumsi burung di Eropa era Pleistosen Tengah," kata Ruth Blasco yang mencatat bahwa beberapa bebek kemungkin juga dimakan dalam kondisi mentah.

Blasco, seorang peneliti dari Institute of Human Paleoecology and Social Evolution di Tarragona, Spanyol, dan koleganya Josep Fernandez Peris menganalisis tulang bebek di bawah visuaslisis perbesaran definisi tinggi. Mereka menentukan tiga karakteristik yang memungkinkan burung bebek sebagai sisa-sisa makan malam.

Pertama, mereka menemukan "tulang cutmarks pada kedua tungkai depan dan belakang."
Kedua, mereka mengidentifikasi "kehadiran material yang terbakar pada ekstremitas pola tulang, area dari kerangka dengan sedikit daging."
Akhirnya, para peneliti menemukan "tanda gigi manusia pada tulang tungkai."

Walaupun sisa-sisa manusia Neanderthal dan manusia modern setelah penemuan fragmen di komplek Gua Bolomor, level geologis dari temuan panggang bebek menunjukkan bahwa Homo heidelbergensis adalah spesies manusia yang memakan bebek. Setidaknya ada tujuh tungku tambahan membuktikan bahwa H. heidelbergensis yang memiliki otak besar membuat alat untuk memegang, juga dikenal sebagai "Heidelberg Man" si manusia gua telah terbiasa dalam membuat dan memanfaatkan api.

Temuan, yang diterbitkan dalam edisi Oktober Journal of Archaeological Science, menunjukkan bahwa Eropa awal menikmati makanan yang jauh lebih luas daripada yang diduga pertama. Bukti yang mendukung bahwa hominid Afrika memakan burung di era Plio-Pleistocene, sekitar 2 juta tahun yang lalu. Manusia Gua, nenek moyang orang Eropa di sisi lain, berhubungan dengan kelompok pemakai tombak dalam usaha berburu. Tapi mereka mungkin juga telah membuat senjata lontar dengan refleks cepat.

Berburu mangsa jenis burung yang kecil, berlari cepat, dan bisa terbang memerlukan teknologi canggih dan melibatkan pengambilan dan cara pengolahan yang berbeda dari yang digunakan dalam berburu hewan besar dan menengah. Para ilmuwan berpendapat bahwa H. Heidelberg adalah manusia yang berpikir yang mungkin telah menggunakan perangkap sebagai teknik lain untuk menangkap burung seperti itik. Gerrit Dusseldorp, ahli H. Neanderthal dari University of Leiden, menyarankan bahwa manusia purba memakan burung dan mangsa kecil lainnya mungkin jauh lebih umum di era prasejarah.

Dalam bukunya " A View to a Kill: Investigating Middle Paleolithic Subsistence Using an Optimal Foraging Perspective," Dusseldorp berpendapat bahwa para ilmuwan sering berfokus pada "kategori mangsa yang lebih besar dan spektakuler." Dia juga percaya membuktikan konsumsi mangsa kecil secara inheren lebih sulit karena ukuran tulang dan cara binatang itu mungkin dimakan. Ini keraguan bahwa metode fragmen rumit tungku-tungku dapur ditampilkan sekitar Gua Bolomor. Seperti Dusseldorp memberi poin, "hewan kecil cenderung mengalami jauh lebih sedikit pengolahan dari hewan yang lebih besar. Biasanya, mereka memakan seluruhnya."

Gen ABCA13 Bertanggung jawab untuk Depresi, Gangguan Bipolar dan Skizofrenia

(KeSimpulan) Para ilmuwan telah mengidentifikasi sebuah gen yang dapat bertanggung jawab untuk depresi, gangguan bipolar (bipolar disorders), dan skizofrenia (schizophrenia). Sebuah tim peneliti internasional, yang dipimpin oleh University of Edinburgh, membandingkan gen dari 2.000 pasien psikiatri hingga 2.000 orang sehat untuk melihat gen ABCA13. Hasil penelitian ini dipublikasikan di American Journal of Human Genetics

Mereka menemukan sebagian tidak aktif pada pasien yang menderita penyakit berat seperti skizofrenia, gangguan bipolar, dan depresi. Hasilnya menunjukkan bahwa gen memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan otak. Para ilmuwan menemukan gen ini rusak lebih sering pada pasien dengan penyakit mental daripada kelompok kontrol. Mengidentifikasi gen yang mempengaruhi orang untuk penyakit jiwa dianggap sebagai langkah yang paling penting dalam mengembangkan cara-cara baru untuk mengatasi kondisi tersebut.

Peneliti Douglas Blackwood, profesor Psychiatric Genetics di University of Edinburgh, mengatakan bahwa penemuan ini akan membantu pengembangan obat baru untuk penyakit mental. "Ini adalah langkah maju yang menarik dalam pemahaman kita tentang penyebab umum dari beberapa penyakit mental. Gen ini tanda arah baru risiko untuk perawatan," kata Blackwood.

Dr Ben Pickard, dari University of Strathclyde, mengatakan ABCA13 mempengaruhi cara molekul lemak yang digunakan di dalam otak. Saat ini peneliti fokus untuk mencari tahu secara persis bagaimana dinamika terjadi. "Studi ini adalah yang pertama untuk mengidentifikasi banyak sudut kerusakan DNA dalam gen tunggal yang berkaitan dengan penyakit jiwa. Ini sangat menyarankan bahwa gen ini dapat mengatur bagian penting dari fungsi otak yang gagal dalam individu yang didiagnosis dengan gangguan kesedihan," kata Pickard.

Bahan Bakar Nuklir Menuju Krisis Uranium?

(KeSimpulan) Dunia bersiap-siap untuk investasi besar untuk tenaga nuklir dalam beberapa dasawarsa, karena pemilik tambang uranium pada minggu lalu mengangkat prospek kekurangan bahan bakar. Volatile harga minyak dan gas bersama dengan ancaman pemanasan global telah mendorong banyak pemerintah untuk mempertimbangkan kembali energi nuklir, sebagian karena merupakan teknologi karbon rendah dan sebagian lagi karena pasokan uranium tampaknya masih banyak.

Tambang uranium telah melayani sekitar 60 persen dari permintaan global untuk bahan bakar nuklir. Sisanya berasal dari sumber-sumber sekunder, termasuk sisa stok dari tahun 1970-an dan 1980-an, hasil daur ulang dan konversi hulu ledak nuklir Rusia yang disebut "Megatons to Megawatts programme". Tapi pasokan mungkin tidak aman seperti pemikiran awal. Harga uranium tersungkur dari puncaknya sekitar US$130 per pon uranium oksida (US$286 per kilogram) pada tahun 2007 menjadi US$45 pada hari ini.

Beberapa penurunan ini disebabkan oleh merosotnya harga bahan bakar fosil dan beberapa dari ketidakpastian di sekitar krisis industri. Sebagai contoh, investor tidak tahu berapa banyak dan kapan reaktor tua di dunia akan dinonaktifkan. Mereka juga tidak yakin tentang pasokan uranium sekunder, misalnya "Megatons to Megawatts programme" yang bertanggung jawab atas 10 persen dari pasokan listrik AS, berakhir pada tahun 2013 dan tidak diketahui apa yang akan menggantikannya.

Ketidakpastian ini menahan investasi untuk tambang baru yang dapat menyebabkan kekurangan pasokan di masa depan, kata Jean Nortier, chief executive Uranium One, sebuah perusahaan eksplorasi pertambangan berbasis di Vancouver, Kanada. "Harga saat ini terlalu rendah untuk memberikan insentif yang diperlukan untuk pemenuhan jangka menengah dan panjang atas permintaan uranium," kata Nortier.

Ditambah kekhawatiran bahwa sumber daya uranium mungkin telah dibesar-besarkan. International Atomic Energy Agency dan Nuclear Energy Agency (NEA) menerbitkan dua tahunan perkiraan sumber daya uranium global yang disebut Red Book. Michael Dittmar, fisikawan partikel dari CERN di Jenewa, Swiss, pekan lalu merilis sebuah analisis kritis dari angka-angka dan berpendapat bahwa alasan di balik fluktuasi sumber daya diperkirakan dalam beberapa tahun terakhir tidak jelas.

Red Book pada tahun 2007 memperkirakan bahwa ada 5,5 juta ton uranium yang dapat ditambang untuk kurang dari US$130 per kilogram, naik dari 4,7 juta ton pada tahun 2005. Dalam proses normal temuan geologis, kenaikan harus mencakup semua kategori. Perubahan lain juga tampak aneh. Dittmar mengatakan, Di Nigeria, misalnya, sumber daya Uranium pada perkiraan sejak tahun 2003 telah berfluktuasi dengan cara yang sulit untuk dijelaskan secara geologis. Perubahan mungkin bermotif politik agar tidak mempengaruhi investasi di negara itu.

Robert Vance, analis energi nuklir di NEA, mengatakan tidak dapat mengesampingkan aktivitas semacam ini, tetapi ada aturan ketat yang mengatur estimasi sumber daya. "Kami bekerja sangat keras untuk memastikan bahwa data dapat diandalkan," kata Vance. Red Book menunjukkan bahwa ada lebih dari cukup sumber daya untuk memenuhi kebutuhan masa depan, industri menyadari sumber-sumber sekunder yang semakin menyusut dan siap untuk menaikan pasokan dari tambang. Sebagai contoh, Kazakhstan memiliki peningkatan produksi uranium pada tingkat 30 persen per tahun, menjadikannya salah satu produsen terbesar di dunia.

Namun, perusahaan pertambangan di negara-negara maju tidak akan mampu meningkatkan produksi pada tingkat yang sama karena undang-undang lingkungan hidup yang ketat. "Negara-negara Barat berencana untuk memperluas kapasitas nuklir mereka tanpa sumber uranium mereka sendiri dan seharusnya melihat angka-angka yang sangat hati-hati," kata Dittmar.

Virtopsy: Optical 3D Scanner untuk Otopsi Tanpa Pisau Bedah

(KeSimpulan) Laboratorium di Swiss telah mengembangkan cara untuk menetapkan bagaimana seseorang meninggal tanpa merusak bukti. Sebuah tim dokter Swiss mengadakan sekitar 100 autopsi dalam setahun tanpa memotong tubuh terbuka, sebagai gantinya menggunakan perangkat termasuk citra skan 3D (optical 3D scanner) yang dapat mendeteksi sampai 80 persen dari penyebab kematian.

Michael Thali, profesor di University of Berne dan koleganya telah mengembangkan sistem yang disebut "virtopsy", yang sejak 2006 telah digunakan untuk memeriksa semua kematian mendadak atau tidak wajar pada orang-orang di ibukota Swiss. Militer AS di Dover Air Force Base juga menggunakan tapi versi yang lebih terbatas untuk autopsi pada tentara. "Tanpa membuka tubuh kita bisa mendeteksi 60-80 persen dari luka-luka dan menyebabkan kematian," kata Thali dengan menjelaskan CT scanner silinder putih di laboratorium. Keuntungan dari virtual autopsi bahwa secara digital catatan permanen bisa diciptakan dan bisa dibagi melalui Internet.

Selama autopsi membutuhkan waktu hanya sekitar 30 menit dengan orang yang meninggal di atas meja periksa dan permukaan scanner, hanya memiliki lebar seperti kotak sepatu dan tergantung pada sebuah lengan robot untuk mendeteksi jejak-jejak sepanjang kontur tubuh. Dua teknisi kemudian menggunakan komputer untuk mengevaluasi temuan. "Pada saat ini, di Berne adalah satu-satunya di dunia tempat dengan kombinasi permukaan scannning dengan CT magnetic resonance scanning, post mortemangiography dan post mortem biopsy," kata Thali, menjelaskan bahwa total biaya instalasi lebih dari dua juta Swiss franc (US$1,98 juta).

CT scanner yang membuat kerangka gambar luka-luka dan kerusakan otak, sementara pemindai magnetik menghasilkan gambar yang lebih halus pada jaringan lunak, kata Thali. Angiography visualises bagian dalam pembuluh darah. "Itu keuntungan besar, karena anda tidak perlu menghancurkan tubuh anda cukup dengan melihat proyektil 3D dan dapat melakukan analisa," kata Thali, mengacu pada sistem yang digunakan untuk militer AS.

3D imaging dimulai pada pertengahan 1990-an, tapi perangkat biopsi bedah mayat yang menggunakan jarum untuk mengekstrak sel telah di laboratorium hanya enam bulan lalu, kata Thali. Walaupun ada sedikit minat awal dalam proyek, Thali mengatakan bahwa ia dan 16 rekan-rekan sekarang menerima permintaan seperti Australia dan Skandinavia. Meskipun virtual autopsi tidak mungkin untuk menggantikan berbagai pisau bedah dalam waktu dekat. "Pada saat autopsi biasa yang merupakan prosedur yang sangat tua, masih merupakan standar. Kita dapat menggunakan sistem kuno itu untuk korban kecelakaan mobil, tapi belum bisa untuk swine flu," kata Thali.

Model Gravitasi Kuantum Petr Horava

(KeSimpulan) Gravitasi Horava bisa menjelaskan dimensi yang hilang dalam sebuah simulasi komputer dengan bahasan utama "Splitting Time from Space, New Quantum Theory Topples Einstein's Spacetime," baru-baru ini menggambarkan kegembiraan atas teori kuantum gravitasi yang diusulkan oleh fisikawan Petr Hořava dari University of California, Berkeley.

Pengujian teori kuantum gravitasi di laboratorium tidak mungkin dilakukan, namun simulasi komputer mungkin menawarkan hal terbaik berikutnya dan tampaknya akan memberikan dukungan untuk Gravitasi Hořava. Jan Ambjørn dari Niels Bohr Institute di University of Copenhagen dan rekan-rekannya telah menggunakan simulasi komputer untuk model gravitasi kuantum berdasarkan spacetimes yang dibangun dari mengorganisir diri "motes" yang jatuh ke tempat alami.

Sejauh ini, mereka telah berhasil dalam menciptakan empat dimensi ruang dan waktu stabil, jika dilihat pada jarak yang jauh. Tetapi ketika mereka diperbesar dalam jarak kecil, mereka menemukan hasil yang aneh, alam semesta tampaknya jatuh ke dua dimensional. Jadi di mana dimensi yang hilang itu pergi?

Hořava percaya bahwa penurunan dimensi ini menandai titik di mana relativitas umum muncul dalam teorinya tentang gravitasi. Dalam model ini, belenggu yang memaksa waktu dan ruang menjadi serempak meregang terhapus dari energi tinggi dan jarak pendek. Dalam sebuah makalah yang diterbitkan di Physical Review Letters pada bulan April, ia menjelaskan bahwa di dalam rezim ini, ruang membentang hanya sepertiga kecepatan waktu. "Tiga dimensi spasial meniru secara efektif hanya satu dimensi relativitas normal, sehingga terlihat seolah-olah dua dimensi telah lenyap," kata Hořava.

Liver Nonalkoholik versus Alkoholik Pasca Transplan Tidak Beda Nyata

(KeSimpulan) Muncul data baru pada tingkat ketahanan hidup pasca pencangkokan liver Nonalcoholic steatohepatitis (NASH) versus alcoholic liver disease (ETOH). Meskipun lebih tinggi meninggal akibat kardiovaskuler pada kelompok NASH (26%) dibandingkan dengan ETOH (7%), perbedaan tidak mencapai signifikansi statistik.

Para peneliti di University of Miami School of Medicine membandingkan hasil cirrhotic pasien yang menjalani transplantasi hati Nonalcoholic steatohepatitis (NASH) versus alcoholic liver disease (ETOH) dan tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik pasca-transplantasi di pada tingkat kelangsungan hidup antara kedua kelompok. Temuan penelitian disajikan dalam edisi Desember jurnal Liver Transplantation yang diterbitkan oleh Wiley-Blackwell atas nama American Association for the Study of Liver Diseases.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), bagian dari National Institute of Health, NASH mempengaruhi 2% hingga 5% orang Amerika dan menempati peringkat sebagai salah satu penyebab utama sirkosis (cirrhosis) di Amerika Serikat di belakang hepatitis C dan gangguna liver alkoholik. Insiden kedua NASH dan gangguan liver berlemak nonalkohol (NAFLD) meningkat, mungkin karena sejumlah besar orang Amerika dengan obesitas.

Obesitas juga berkontribusi pada diabetes dan kolesterol darah tinggi, yang dapat lebih rumit bagi kesehatan seseorang dengan NASH. Karena sering kali merupakan "kondisi diam" penyakit liver, NASH dapat menyebabkan cirrhosis dan kerusakan permanen. Transplantasi liver tetap satu-satunya pengobatan untuk cirrhosis lanjut dengan kegagalan liver dan semakin meningkatkan kebutuhan pada NASH.

Vishal Bhagat, MD, dan rekan menunjukkan bahwa transplantasi hati adalah pengobatan yang tepat bagi pasien NASH dengan tingkat ketahanan hidup yang sebanding dengan orang-orang untuk pasien ETOH. Tim melakukan peninjauan bagan retrospektif pada semua pasien yang menjalani transplantasi hati untuk cryptogenic cirrhosis dengan NASH phenotype dan alcoholic cirrhosis di University of Miami dari Januari 1997 hingga Januari 2007.

Cryptogenic cirrhosis didefinisikan tidak adanya penggunaan alkohol yang signifikan (kurang dari 20gm/hari), tes negatif untuk virus hepatitis, negatif autoimmune markers seperti anti-nuclear antibody dan anti-mitochondrial antibody, juga negatif untuk hemochromatosis markers, Wilson disease dan alpha-1 antitrypsin deficiency.

Alkohol cirrhosis (ETOH) termasuk kelompok pasien yang mempunyai sejarah yang signifikan dengan alkohol, tidak memiliki biokimia, bukti serologi dan histologis dikenal lain penyebab cirrhosis, dan menjalani transplantasi dari Januari 1997 hingga Januari 2007. Pasien dengan hepatocellular carcinoma dan alkoholik cirrhosis dengan fenotipe NASH dikeluarkan dari kelompok ETOH.

Baseline data tentang penggunaan alkohol, BMI, tekanan darah dan serum kadar glukosa, total kolesterol dan triglycerides yang tercatat untuk kedua kelompok sebelum pencangkokan dan setelah 6 bulan pasca transplantasi. Informasi demografis juga dikumpulkan termasuk usia penerima, jenis kelamin penerima, etnis penerima, usia donor, cold ischemia, bukti biopsi terbukti dan/atau penolakan kronis, terbukti biopsi terulangnya sedang hingga steatohepatitis parah pada transplantasi liver, penyebab retransplantation, berkurangnya kelangsungan hidup, penyebab kematian dan pasien bertahan hidup.

"Penelitian kami menyajikan populasi pasien terbesar dengan tindak lanjut terpanjang sejauh ini dipublikasikan pada kelangsungan hidup pasien dengan cirrhosis NASH. Kami menemukan walaupun ada kecenderungan terhadap kelangsungan hidup pasien yang lebih rendah dalam kelompok NASH dibandingkan dengan kelompok ETOH, perbedaan ini secara statistik tidak signifikan," kata Dr Bhagat.

Baik kelompok NASH dan ETOH, sepsis (dengan atau tanpa kegagalan organ multisystem) adalah yang paling umum penyebab kematian pasca pencangkokan hati yang konsisten dengan data yang diterbitkan sebelumnya, diikuti oleh kardiovaskular penyebab dalam kelompok NASH dan keganasan di kelompok ETOH. Meskipun jumlah pasien lebih tinggi meninggal akibat kardiovaskuler dalam kelompok NASH (26%) dibandingkan dengan kelompok ETOH (7%), perbedaan tidak mencapai signifikansi statistik. "Mortalitas cardiovascular di antara pasien NASH jauh lebih tinggi dari hasil otopsi yang diterbitkan dalam transplantasi hati dan menekankan pentingnya kontrol metabolik sindrom pasca-transplantasi pada kelompok pasien NASH," kata Dr Bhagat.

Dalam sebuah studi yang sama juga diterbitkan di jurnal Liver Transplantation, para peneliti di Cleveland Clinic yang dipimpin oleh Arthur McCullough, MD, menemukan bahwa pengembangan sindroma metabolik pasca transplantasi hati terus meningkat dan merupakan kontributor yang signifikan untuk komplikasi kardiovaskular, morbiditas dan mortalitas. "Kematian kardiovaskular dan tingkat infeksi yang lebih tinggi di antara pasien dengan transplantasi pasca-sindrom metabolik masih menjadi perhatian. Ada kebutuhan jelas untuk studi prospektif dalam membantu mengidentifikasi dan memvalidasi faktor risiko pasca-transplantasi sindrom metabolik dan dengan demikian mengembangkan strategi intervensi," kata Dr McCullough.

Studi ini dipublikasikan di Liver Transplantation. │ "Outcomes of Liver Transplantation in Patients with Cirrhosis Due to Nonalcoholic Steatohepatitis Compared to Alcoholic Liver Disease." Vishal Bhagat, Ayse L. Mindikoglu, Carmine G. Nudo, Eugene R. Schiff, Andreas Tzakis, Arie Regev. Liver Transplantation; November 25, 2009 (DOI:10.1002/lt.21927); Print Issue Date: December 2009. │ "Post-Transplant Metabolic Syndrome: An Epidemic Waiting to Happen." Arthur J. McCullough, M Pagadala, S Dasarathy, B Eghtesad. Liver Transplantation; November 25, 2009 (DOI:10.1002/lt.21952); Print Issue Date: December 2009.

Charles Darwin On The Origin of Species di antara Biologi Fundamental dan Filosofis

(KeSimpulan) Bahkan 150 tahun setelah pertama kali muncul di media cetak, buku Charles Darwin "On The Origin of Species" masih menjadi bahan bakar bentrokan di sisi ilmuwan yang yakin tentang kebenaran dan di sisi pengkritik yang menolak pandangan hidup tanpa seorang pencipta.

Pola Sabuk Lembah di Mars Terbentuk oleh Aliran Air ke Lautan Luas

(KeSimpulan) Analisis terbaru menyatakan sebuah samudra besar menutupi sebagian besar bagian utara planet Mars, disuplai dengan air dari sabuk sungai hujan. Para ilmuwan menunjukkan peta baru bahwa jaringan lembah di Mars lebih luas dua kali lipat seperti yang diduga sebelumnya, ditunjukkan oleh daratan yang diukir oleh sungai. Sebuah sabuk melingkari ekuator planet dan pertengahan lintang selatan.