Langsung ke konten utama

Anopheles gambiae Jaga Keragaman Genetik dari Harmoni Nada Dengung Sayap

loading...
bisnis online
(KeSimpulan) Nyamuk mendapat calon pasangan dari penyelelarasan nada tinggi sayap kecil mereka. Para ilmuwan meneliti bagaimana desingan sayap berperan untuk memilih pasangan secara tepat. Salah satu nyamuk pembawa malaria utama di Afrika, Anopheles gambiae, menunjukkan bahwa serangga menggunakan perbedaan halus nada untuk membedakan bentuk-bentuk nyamuk yang secara fisik identik. Preferensi harmoni sangat kuat, tampaknya menyebabkan dua bentuk nyamuk yang tinggal di daerah sama untuk selalu menjadi spesies yang terpisah. Kebijakan kawin ini merupakan faktor kunci mempertahankan keanekaragaman genetis.

A. gambiae sebenarnya komplek dari tujuh spesies yang secara fisik hanya dapat dibedakan dari ciri-ciri perilaku. Di Burkina Faso, salah satu spesies ini mencakup dua jenis yaitu Mopti (M) dan Savannah (S). Keragaman nyamuk telah membingungkan para ilmuwan. "Para peneliti mempelajari nyamuk dan bertanya-tanya bagaimana spesies ini," kata Gabriella Gibson fisiolog penginderaan dari University of Greenwich, Inggris. Juga tidak jelas bagaimana dua bentuk yang berkerumun bersama-sama dapat menghindari saling kawin satu sama lain, sehingga mencegah pemudaran keanekaragaman genetik.

Pada tahun 2006, Gibson dan Ian Russel dari University of Sussex, Inggris, menunjukkan dengungan sayap nyamuk mungkin dapat memberi jawaban. Nyamuk Toxorhynchites brevipalpis mengubah frekuensi beat sayap untuk disesuaikan bagi calon pasangan. Tim Gibson dan tim yang dipimpin oleh Ron Hoy dari Cornell University di Ithaca, New York, kemudian menemukan bahwa pada spesies di mana jantan dan betina mempunyai beat frekuensi sayap yang sangat berbeda (karena perbedaan ukuran), intonasi beat sayap ke frekuensi harmonik yang terdekat, biasanya melambatkan frekuensi.

Sekarang, Gibson dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa tuning ini dapat membantu nyamuk membedakan diri antara bentuk M dan S dari A. gambiae, sehingga secara langsung perilaku dapat diketahu keduanya secara terpisah. "Selalu ada pertanyaan tentang bagaimana mereka satu sama lain. Ini studi akustik untuk membuka jendela baru pada perilaku seksual nyamuk," kata Hoy. Hasil penelitian ini diterbitkan pekan ini di jurnal Current Biology.

Gibson dan rekannya meneliti sebuah lahan di Burkina Faso di mana M dan S dari A. gambiae hidup berdampingan, namun tidak ditemui hibrida dari keduanya, menunjukkan bahwa mereka tidak saling kawin. Menangkap kedua jenis dan menempelkan ke ujung pin. Nyamuk yang tertambat terus mengepakkan sayap pada frekuensi yang mendekati perilaku penerbangan. Tim menggunakan mikrofon untuk mengukur frekuensi baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan calon pasangan. Sayap pejantan dari kedua bentuk sedikit lebih kecil daripada betina, akibatnya frekuensi lebih tinggi sekitar 690 hertz, dibandingkan betina yaitu 460 hertz. Kedua jenis kelamin, M mengepakkan sayap sedikit lebih cepat dibanding S.

Ketika kedua jenis kelamin ditempatkan dalam jarak 2 sentimeter dengan lawan jenis, kepakan sayap bergeser naik dan turun. Jika calon pasangan adalah nyamuk sejenis, kedua serangga ini akan menetapkan frekuensi rasio 3:2, dan bersama-sama menghasilkan nada yang harmonis di sekitar 1.500 hertz. "Ini seperti dua penyanyi mencoba untuk menyelaraskan diri satu sama lain," kata Gibson.

Gibson berspekulasi bahwa perilaku harmonisasi ini adalah usaha meminimalkan turbulensi pejantan saat mendekati betina. Penelitian Hoy menunjukkan bahwa nyamuk dapat mendengar hingga 2.000 hertz, namun Gibson berpendapat bahwa nyamuk jantan dan betina tidak dapat benar-benar mendengar suara harmoni bernada tinggi. Sebaliknya, mereka berkumpul dengan meminimalkan denyut suara (perbedaan nada) yang dihasilkan ketika dua nada sedikit sumbang. Pada A. gambiae, perbedaan nada ini kurang dari 22 hertz dan menghasilkan respons listrik yang khas pada antena.

1. Gibson, G. & Russell, I. Curr. Biol. 16, 1311-1316 (2006). 2. Warren, B., Gibson, G. & Russell, I. J. Curr. Biol. 19, 485-491 (2009). 3. Cator, L.J., Arthur, B.J., Harrington, L.C. & Hoy, R.R. Science 323, 1077-1079 (2009). 4. Pennetier, C., Warren, B., Dabire, R., Russell, I.J. & Gibson, G. Curr. Biol. doi:10.1016/j.cub.2009.11.040 (2009).
bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Komentar