Skip to main content

Manusia Menghapus Spesies Megafauna di Australia

(KeSimpulan) Meskipun juga semua ulah manusia, namun tidak selalu harus menyalahkan iklim sebagai penyebab kepunahan hewan besar di Australia. Manusia (bukan perubahan iklim) yang menyebabkan kepunahan dari era megafaunal di Australia, seperti kanguru besar, puluhan ribu tahun yang lalu. Para ilmuwan telah lama mencurigai atas apa yang membunuh sekitar 50 spesies binatang dengan berat lebih dari 45 kilogram, termasuk gigantic Kangaroo, Procoptodon, dan Diprotodon di akhir zaman Pleistosen yang membentang dari 2,6 juta sampai sekitar 12.000 tahun yang lalu.

Beberapa hipotesis menyatakan bahwa nenek moyang Aborigin Australia yang mencapai benua itu sekitar 60.000 hingga 45.000 tahun yang lalu, berburu dan mempercepat binatang mengalami kepunahan. Sementara hipotesis lain menyatakan sudut pandang gangguan lingkungan dengan tersulutnya api yang dengan lambat membakar semak sehingga membersihkan rantai makanan, mengubah vegetasi benua, hidrologi dan iklim. Terkait dengan perubahan iklim ini para ilmuwan merunut dari zaman es yang mencapai puncaknya sekitar 21.000 tahun yang lalu.

Bukti bagi manusia sebagai proses peyebab selama puncak dekade, satu studi dating atas kepunahan fauna terbang, burung Genyornis yang memiliki panjang 2 meter dan berat 200 kilogram, pada sekitar 50.000 tahun yang lalu, segera setelah kolonisasi manusia dan pada saat itu perubahan iklim dimulai. Didukung data kulit telur burung, kemudian proyek-proyek dating kepunahan raksasa marsupial, reptil, dan burung-burung di seluruh benua itu untuk sekitar 46.000 tahun yang lalu.

Namun, satu situs yaitu Cuddie Springs di New South Wales, dianggap sebagai bukti panjang dan tumpang tindih di antara manusia dan megafauna, tampaknya manusia menjadi agen utama kepunahan binatang. Ini adalah satu-satunya situs dengan megafauna yang menempatkan megafauna dan artefak Aborigin di lapisan sedimen yang sama. Hasil analisis radiocarbon dating menempatkan mereka pada satu lapisan antara sekitar 40.000 dan 30.000 tahun yang lalu.

Tetapi beberapa peneliti bersikap skeptis karena penanggalan megafauna hanya secara tidak langsung melalui radiokarbon dan butir pasir di bantalan lapisan fosil dan perangkat batu artefak Aborigin. Mereka mengatakan bahwa situs telah rusak dengan fosil megafauna dari deposit yang lebih tua ke deposit yang lebih muda. Kurangnya protein kolagen menyebabkan tulang tidak bisa dijadwal secara langsung oleh metode radiokarbon.

Sekarang tim yang dipimpin oleh Rainer Grün, geokronolog dari Australian National University di Canberra, menggunakan electron spin resonance (ESR) dan teknik serial uranium untuk menjadwal gigi megafauna secara langsung. Laboratorium milik mereka adalah satu-satunya di Australia dan salah satu dari hanya beberapa yang ada di seluruh dunia dengan menggunakan metode ESR ini.

Semua spesimen spesies punah setidaknya berusia 50.000 tahun, beberapa lagi jauh lebih lama, dipublikasikan dalam sebuah press release di jurnal Quaternary Science Reviews. Temuan mereka melemahkan argumen perubahan iklim sebagai penyebab utama kematian pada megafauna.

Namun, mereka tidak membedakan di antara dua kemungkinan mekanisme bencana (seperti 'serangan kilat' dan terbakar lambat) karena tanggal kolonisasi dan tanggal kepunahan tidak diketahui dengan ketepatan yang cukup. "Hasil kami mengubur argumen kuat dari hipotesis serangan kilat, tetapi tidak cukup kuat untuk membuktikan hal itu," kata Grün.

Richard Roberts, geokronolog dari University of Wollongong, Australia, dan biolog Barry Brook dari University of Adelaide, Australia, mengatakan dalam sebuah komentarial di jurnal Science bahwa "dampak manusia itu kemungkinan besar faktor penentu", mungkin melalui perburuan megafauna muda. Peningkatan kegersangan selama Zaman Es terakhir mungkin akan memperkuat efek ini, tetapi megafauna Australia menyesuaikan dengan baik pada kondisi kering karena mereka telah selamat mengulang kekeringan di masa lalu.

Chris Johnson, ekolog dari James Cook University di Townsville, Australia, mengatakan penanggalan langsung dari Cuddie Springs berarti bahwa situs ini sekarang "tiba sejalan dengan bukti massa yang lain" untuk kepunahan secara cepat megafauna Australia antara 50.000 dan 40.000 tahun yang lalu.

James O'Connell, arkeolog dari University of Utah mengatakan bahwa tim juri masih menilai. O'Connell yang telah bekerja secara ekstensif tentang arkeologi Australia termasuk di situs Springs Cuddie, mengatakan kemungkinan ada jangka waktu yang panjang secara tumpang tindih keterkaitan antara megafauna dan manusia, tanpa memperhatikan tanggal yang sudah benar di Cuddie Springs. "Iklim mungkin bukan satu-satunya faktor, tetapi tidak dapat dihilangkan sebagai pertimbangan yang signifikan," kata O'Connell.

Miller, G.H. et al. Science 283, 205-208 (1999). | Roberts, R.G. et al. Science 292, 1888-1892 (2001). | Grün, R. et al. Quat. Sci. Rev muka publikasi online DOI: 10.1016/j.quascirev.2009.11.004 (2009). | Roberts, RG & Brook, BW Science 327, 420-422 (2010).
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Comments