Langsung ke konten utama

Analisis Silsilah Firaun Lebih Logis daripada Kematian Raja Tutankhamun

loading...
Tinuku
(KeSimpulan) Klaim pertanyaan ilmuwan bahwa malaria dan osteonecrosis memberikan kontribusi kepada kematian Firaun. Setelah ditunggu-tunggu, sebuah tim peneliti mengatakan telah memecahkan misteri seputar kematian Si Raja Muda Tutankhamun yang meninggal pada sekitar 1324 SM pada usia 19. Namun, beberapa ilmuwan skeptis dengan mengatakan bahwa kesimpulan telah melangkahi data.

Sidik jari genetika yang dilakukan pada Tutankhamun (umum dikenal sebagai Raja Tut atau King Tut) dan juga sepuluh mumi lainnya menurunkan generasi yang diduga lima pohon keluarga yang meliputi orangtua King Tut. "Hasil penting karena berhubungan dengan yang paling terkenal dari mumi Mesir. Namun, sebagian besar hasilnya bisa ditebak," kata Frank Rühli, egyptolog dari Institute of Anatomy di University of Zurich, Swiss dan kepala Swiss Mummy Project.

Hasil laporan pencitraan yang diterbitkan kemarin di Journal of American Medical Association, mengindikasikan bahwa Tutankhamun mengalami osteonecrosis pada dua tulang metatarsal di salah satu kaki, dan bukti DNA menunjukkan infeksi parasit malaria Plasmodium falciparum. Tim yang dipimpin oleh Zahi Hawass, kepala Egypt's Supreme Council of Antiquities di Cairo, berpikir bahwa Raja Tut mungkin telah melemah dan meninggal dari beberapa kombinasi kondisi ini, terutama mengingat juga memiliki lutut retak, mungkin cedera yang diderita sebagai akibat dari masalah kaki.

Tapi ilmuwan lain berpendapat bahwa temuan bukti malaria tidak mengejutkan, mengingat parasit itu mungkin umum di Mesir pada saat itu. Selain itu, di daerah malaria di mana orang-orang yang selamat dari penyakit di masa kanak-kanak sering mendapatkan kekebalan parsial yang melindungi mereka terhadap malaria berkembang penuh di kemudian hari. Kurangnya organ-organ internal di dalam mumi membuat diagnosis mustahil dilakukan. "Tidak ada data yang tersedia untuk menilai bahwa malaria adalah penyebab kematian," kata Giuseppe Novelli, kepala laboratorium genetika medis di Tor Vergata University, Roma.

Tim peneliti percaya bahwa temuan malaria adalah "bukti tanggal genetik tertua untuk malaria pada mumi". Para ahli mengatakan ini bukan masalah besar, bagaimanapun, mumi diperkirakan dari periode ini dan sebelumnya sudah terbukti memiliki P. falciparum malaria. Selain itu, perubahan dalam genome manusia yang telah dihubungkan dengan pengaruh malaria menunjukkan bahwa penyakit ini telah ada sejak jaman kuno.

Kerusakan pada kaki Raja Tut mungkin juga secara terbuka untuk penjelasan alternatif. Sebuah diagnosis necrosis jelas tidak dapat dibuat dari foto yang dipublikasikan, kata Gino Fornaciari, direktur palaeopathology dari University of Pisa di Italia, bahwa malaria bisa sekunder. Philippe Charlier, ilmuwan forensik dari Raymond Poincaré Hospital, di Paris, setuju bahwa terjadi suatu misdiagnosis, necrosis yang diamati dapat terjadi dari hasil dari "pembakaran atau menghancurkan oleh pembalseman garam atau aspal". Kelainan bentuk kaki yang lain dilaporkan mungkin juga bisa disebabkan oleh pembalutan dan pembalseman.

Untuk mendukung hipotesis, tim peneliti berpendapat bahwa keberadaan tongkat di makam Raja Tut mendukung adanya gangguan berjalan. Biji-bijian, buah-buahan dan daun yang ditemukan mungkin telah menjadi "apotik akhirat" untuk membantu mengobati penyakit King Tut setelah kematian. Namun, Fornaciari berpendapat bahwa tongkat yang sering digunakan di Mesir kuno dan budaya timur sebagai simbol kekuasaan. Sedangkan biji-bijian, buah-buahan dan daun yang ditemukan pada makam sebagai 'barang-barang kuburan' adalah bekal untuk hidup di akhirat dan tidak terkait dengan perawatan medis.

"Kita tidak akan pernah mampu membuktikan dia meninggal karena malaria," kata Albert Zink, kepala Institute for Mummies and Iceman di EURAC (European Academy Bozen/Bolzano) di Bolzano, Italia, meskipun bukti parasit malaria meningkatkan probabilitas. Zink mengatakan keyakinanannya akan diagnosis osteonecrosis, bahwa pertumbuhan tulang baru adalah reaksi terhadap necrosis yang menunjukkan terjadi sebelum kematian. Osteonecrosis saja tidak fatal, tapi bisa menjadi faktor penyumbang kematian King Tut.

Zink setuju bahwa penjelasan alternatif untuk tongkat dan bahan-bahan tanaman, tetapi penggunaan terapi tongkat dan kehadiran produk botani biasanya digunakan untuk mengobati demam. Namun, Zink menolak jika dikatakan bahwa data timnya berlebihan, tetapi setuju bahwa pernyataan tentang penyebab kematian pada akhirnya spekulatif. Patah tulang kaki, dilaporkan terakhir pada tahun lalu oleh sekelompok peneliti termasuk Rühli dan Hawass, bisa saja penyebab kematian, mungkin sebagai akibat infeksi.

Sidik jari genetik dari mumi kerajaan dan pohon keluarga yang dihasilkan lebih meyakinkan daripada yang disarankan untuk penyebab kematian Raja Tut, meskipun kebanyakan peneliti setuju bahwa rincian yang diberikan tidak memungkinkan untuk penilaian lengkap. Eske Willerslev, genetikawan DNA kuno dari University of Copenhagen dan rekannya yang menerbitkan makalah minggu lalu di Nature melaporkan sequencing genome manusia tertua begitu jauh, dia tidak yakin dengan data tersebut.

Rühli yang tahun lalu turut dalam meta-analysis of palaeopathological studies of ancient Egyptian mummies, sedang mempersiapkan buku tentang standar minimum. Dia menunjukkan bahwa evaluasi patologis mumi kuno ini sangat sulit karena efek yang membingungkan dari pembalseman dan waktu, di antaranya karena sebagian besar organ-organ hilang. Dia menambahkan bahwa penelitian ilmiah itu sendiri ketat dalam bidang di mana banyak publikasi sering berkualitas rendah. Namun, presentasi hasil, mungkin sedikit "berlebihan".
  1. Hawass, Z. et al. J. Am. Med. Assoc. 303, 638-647 (2010).
  2. Hawass, Z. et al. Ann. Serv. Antiq. Mesir. 81, 159-174 (2009).
  3. Nerlich, AG, Schraut, B., Dittrich, S., Jelinek, T. & Zink, AR Emerg. Infect. Dis. DOI: 10.3201/eid1408.080235 (2008).
  4. Bianucci, R. et al. J. Archaeol. Sci. 35, 1880-1885 (2008).
  5. Kwiatkowski, D. P. Am. J. Hum. Genet. 77, 171-192 (2005).
  6. Rasmussen, M. et al. Nature 463, 757-762 (2010).
  7. Zweifel, L., Bünib, Th. & Rühli, F. J. HOMO - J. Comp. Hum. Biol. 60, 405-427 (2009).
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian
Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Komentar