Langsung ke konten utama

Induksi Sel-sel Kulit Matang Berubah Langsung ke Neuron

loading...
bisnis online
(KeSimpulan) Peneliti menghindari konversi ke wilayah embrionik. Salah satu langkah kecil bagi sel-sel kulit bisa menjadi suatu lompatan besar bagi kedokteran regeneratif. Untuk pertama kalinya, para ilmuwan mengkonversi langsung sel-sel matang ke neuron. Jika teknik yang dilakukan pada sel-sel tikus bekerja pada sel-sel manusia, mungkin pencapaian ini melampaui kebutuhan pencangkokan sel-sel embrio pasien sebelum memproduksi jenis sel yang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan akibat penyakit atau cedera.

Peneliti dari Stanford University mengubah sel-sel fibroblast kulit dari tikus ke dalam kinerja neuron dengan menyisipkan gen yang menyandi faktor transkripsi. Faktor transkripsi adalah protein yang membantu mengatur aktivitas gen, biasanya dengan memutar gen. Untuk mengubah sel kulit menjadi neuron hanya membutuhkan tambahan tiga gen protein regulator. Tim melaporkan di jurnal Nature edisi 27 Januari. Tiga faktor transkripsi disebut Ascl1, Brn2, dan Myt1l yang secara normal muncul ketika neuron baru lahir.

Para ilmuwan yang sebelumnya berpikir bahwa fleksibilitas ini memerlukan beberapa tipe sel mengambil langkah mundur dalam pembentukan menjadi sel-sel induk berpotensi majemuk (pluripotent stem cells) yang mampu mengadopsi hampir semua identitas. Keduanya, sel-sel induk embrionik dan sel induk berpotensi majemuk lain yang dibuat dalam laboratorium memiliki kemampuan ini. Teknik baru melompati tahapan sel induk seluruhnya, mengkonversi salah satu jenis sel secara langsung ke identitas yang lain.

"Sungguh luar biasa bahwa anda bisa melompat lebih dari begitu banyak perbukitan sekaligus dengan hanya tiga faktor transkripsi, begitu cepat dan sangat efisien." kata Marius Wernig, biolog sel induk dari Stanford yang memimpin studi baru.

Mungkin konversi sel-sel kulit ke dalam neuron semestinya bukan sebuah kejutan. "Kami sudah punya ide-ide tentang sel-sel ini semenjak lama. Kami belum berpikir meksimal tentang sel plastisitas," kata Prockop, biolog sel induk dari Texas A&M Health Science Center College of Medicine di Temple.

Sebagian besar induksi neuron (tim peneliti menyebut dengan transformed skin cells) adalah milik kelompok umum sel otak dengan banyak fungsi. Neuron ini menghasilkan glutamate, utusan kimia penting dalam otak yang menggairahkan sel saraf lainnya. Faktor transkripsi tambahan mungkin diperlukan untuk membuat jenis neuron.

Tim menunjukkan bahwa perilaku induksi neuron seperti neuron biasa, berkomunikasi dengan neuron lain di gelas laboratorium dan membuat protein normal. Tetapi para ilmuwan belum mengetahui apakah sel-sel membawa DNA sidik kimia normal yang dikenal sebagai tanda epigenetik yang biasanya membantu mencegah sel-sel dari pergantian fungsi. Ketika diubah, sidik ini kadang-kadang menyebabkan kanker.

"Saya percaya jika anda akan menemukan faktor-faktor transkripsi yang tepat, anda dapat mengubah apapun menjadi apa saja. Ini sebenarnya agak menakutkan untuk berpikir sangat mudah mengubah sel kulit menjadi neuron karena bukan sesuatu yang anda inginkan terjadi dalam tubuh Anda," kata wernig. Prospek pembuatan berbagai jenis sel di laboratorium ini menarik karena mereka bisa punya banyak aplikasi dari transplantasi untuk uji narkoba.

Tapi ilmuwan lain menyambut prospek transformasi seperti yang terjadi di dalam tubuh. "Jika itu mekanisme perbaikan alami, bisa menjadi menarik," kata Paulus Sanberg, neurolog dari University of South Florida College of Medicine. Jika konversi semacam itu terjadi secara alami, para ilmuwan mungkin dapat mencari cara bagi tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri, menghindari kebutuhan untuk transplantasi.

Karena para ilmuwan harus merekayasa secara genetik sel-sel kulit untuk membuat faktor-faktor transkripsi rangsangan neuron, teknologi mungkin tidak akan menghasilkan sel-sel untuk transplantasi dalam waktu dekat. "Begitu anda memasukkan ke dalam gen, itu membuat sedikit lebih sulit untuk digunakan secara klinis," kata Sanberg.

Memasukkan gen, misalnya, dapat menyebabkan kanker (mempromosikan mutasi), sehingga para ilmuwan mungkin perlu mengembangkan pendekatan-pendekatan alternatif yang akan mengaktifkan faktor transkripsi yang sama secara kimiawi, bukan secara genetis. Sanberg menyarankan bahwa jenis sel-sel terinduksi yang dikembangkan oleh tim Wernig masih dapat berguna sebagai model untuk penyakit dan dapat digunakan untuk menguji obat baru.
bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Komentar