Melacak Sidik Jari Helium Purba Dari Gema Big Bang

Tinuku
(KeSimpulan) Sinyal halus helium purba telah menunjukkan untuk pertama kalinya dalam cahaya yang tersisa dari Big Bang. Temuan ini akan membantu astronom menghitung berapa banyak material yang terjadi pada saat ledakan besar dan berapa banyak yang dibuat kemudian oleh bintang-bintang. Helium adalah unsur kedua yang paling berlimpah di alam semesta setelah hidrogen.

Cahaya yang dipancarkan oleh bintang-bintang tua dan rumpun asli panas gas dari alam semesta awal menyarankan bahwa helium terdiri atas sekitar 25 persen dari materi biasa yang diciptakan selama Big Bang.

Data baru menyediakan ukuran lain. Sebuah trio teleskop telah menemukan sidik jari helium di latar belakang gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background atau CMB), radiasi yang dipancarkan sekitar 380.000 tahun setelah Big Bang. Pola radiasi ini merupakan indikator penting dari proses-proses di tempat kerja pada saat itu. Helium mempengaruhi pola karena lebih berat daripada hidrogen dan begitu mengubah cara gelombang tekanan saat harus melakukan perjalanan melalui kosmos muda. Tapi efek helium pada CMB ini pada skala terlalu kecil untuk menyelesaikannya sampai sekarang.

Dengan menggabungkan tujuh tahun data dari NASA's Wilkinson Microwave Anisotropy Probe dengan pengamatan oleh dua teleskop di Kutub Selatan, para astronom mengkonfirmasikan kehadirannya. "Ini adalah deteksi pertama pra-bintang helium," kata Charles Bennett, Kepala ilmuwan WMAP. Pengamatan ini sejalan dengan pengukuran sebelumnya, walaupun kurang akurat. "Saya pikir pengukuran CMB pada akhirnya akan melampauinya," kata David Spergel, anggota tim.

Angka yang lebih akurat bisa mengungkap seberapa cepat alam semesta awal memperluas diri. Helium terbentuk dari interaksi di antara proton dan neutron. Ini dibatasi oleh jumlah neutron yang tersedia, yang akan menurun selama waktu alam semesta baru berkembang saat mereka membusuk menjadi proton. Jadi jumlah helium yang membentuk batas-batas tempat-tempat penting pada seberapa cepat ekspansi ini terjadi. Sehingga dapat membantu menguji teori-teori yang mendalilkan dimensi ekstra atau sebagai "partikel yang belum terlihat" (partikel gelap atau dark matter? - red).

Data yang lebih baik harus tersedia dalam beberapa tahun mendatang. European Space Agency's Planck satellite yang diluncurkan tahun lalu, salah satunya diposisikan untuk mengukur jumlah helium secara lebih tepat.
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment