Langsung ke konten utama

Menunggu Analisis DNA Raja Tutankhamun Untuk Silsilah Dinasti Firaun

loading...
bisnis online
(KeSimpulan) Salah satu misteri sejarah terbesar yaitu silsilah keluarga firaun (pharaoh) dari seorang anak laki-laki Raja Tut akan dapat segera diselesaikan. Zahi Hawass, kepala Egypt's Supreme Council of Antiquities, mengumumkan pada hari Minggu saat akan mengadakan konferensi pers pada tanggal 17 nanti sampai diungkapnya hasil tes DNA yang akan menjadi yang terbesar di dunia untuk dinasti firaun yang paling terkenal.

Pengumuman yang telah lama ditunggu-tunggu "tentang rahasia keluarga dan afiliasi Tutankhamun berdasarkan hasil pemeriksaan ilmiah dari mumi Tutankhamun melalui analisis DNA," kata Hawass. Hasil DNA King Tut kemungkinan besar dibandingkan dengan Raja Amenhotep III, kakek Tutankamen.

Tahta Firaun Mesir kuno yang paling terkenal, Raja Tut telah membingungkan para egytolog sejak mumi-nya beserta harta dikemas dalam makam yang ditemukan pada tahun 1922 di Lembah Para Raja (Valley of the Kings) oleh arkeolog Inggris Howard Carter. Hanya beberapa fakta tentang hidupnya yang telah diketahui.

Sementara ia tinggal di Amarna, namanya Tutankhaton ("menghormati Aton", dewa matahari). Ketika ia naik tahta pada tahun 1333 SM saat itu berusia sembilan tahun dan pindah ke Thebes, ia mengubah namanya menjadi Tutankamun ("menghormati Amun", pemujaan tradisional). Ia menikahi Ankhesenpaaten yang berusia, putri dari Akhenaten dan Nefertiti, kemudian dia naik tahta.

Sebagai laki-laki terakhir dalam keluarga, kematiannya pada tahun 1325 SM saat berumur 19 tahun mengakhiri dinasti ke-18 (mungkin dinasti terbesar dari keluarga kerajaan Mesir kuno) dan memberi jalan untuk penguasa militer.

Apa yang menimpa pada sebuah keluarga yang memiliki kuasa berlangsung selama hampir 200 tahun? Apakah dinasti terlibat dalam begitu banyak inses sehingga mereka mati akibat penyakit genetik? Dalam upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan lainnya, dilakukan analisis laboratorium DNA seharga US$5 juta oleh Egyptian Museum dengan pendanaan dari Discovery Channel.

Otoritas Mesir kuno merencanakan untuk meneliti DNA pada ratusan mumi Mesir, termasuk semua mumi kerajaan dan hampir dua lusin orang tidak dikenal yang tersimpan di Egyptian Museum di Cairo. Proyek ini dimulai pada tahun 2008, dengan sampel yang diambil dari mumi Tutankhamun dan dari dua janin yang ditemukan dari makam.

Egyptolog telah lama memperdebatkan apakah janin ini adalah anak-anak yang lahir mati dari Raja Tut dan istrinya Ankhesenpaaten yang telah mengubah namanya menjadi Ankhesenamun, atau jika mereka ditempatkan di dalam kubur dengan maksud untuk kemungkinan simbolis anak raja yang hidup sebagai bayi yang baru lahir di akhirat. Sedangkan King Tut telah dipercaya sebagai salah satu putra raja kecil atau keturunan Smenkhkare Amenhotep III, ayah dari firaun "penyesat" Akhenaten (1353-1336 SM).

Teori lain menyarankan bahwa Raja Tut siri Akhenaten, revolusioner firaun yang mendirikan ibu kota kerajaannya di Amarna, memperkenalkan agama monoteistik yang menggulingkan panteon para dewa untuk menyembah dewa matahari Aton.

Keraguan juga tetap meneyelimuti ibu Raja Tut. Para ahli telah lama memperdebatkan apakah dia adalah anak dari Kiya (istri selir Akhenaten) atau Ratu Nefertiti (istri Akhenaten yang lain).

Analisis DNA pada janin bisa membantu menjelaskan siapa ibu dari si anak raja dan menentukan apakah Ankhesenamun adalah saudara perempuan jauh Raja Tut atau saudara kandung. "Jika DNA janin cocok dengan DNA King Tut dan DNA Ankhesenamun, maka kita akan tahu bahwa mereka berbagi ibu yang sama," kata Hawass.

Bukti bahwa Tutankhamun adalah anak dari Akhenaten telah datang dari inskripsi fragmen kapur oleh Hawass pada Desember 2008 yang menunjukkan bahwa Tutankhamun muda dan istrinya, Ankhesenamun, duduk bersama-sama. Tutankhamun mengidentifikasi teks sebagai "anak raja dari tubuhnya, Tutankhaten," dan istrinya sebagai "putri raja tubuhnya, Ankhesenaten." Menurut Hawass, "satu-satunya raja kepada siapa teks dapat merujuk sebagai ayah dari kedua anak adalah Akhenaten."

Menurut Frank Rühli, biopaleopatolog dari Swiss dan kepala Mummy Swiss Project di University of Zurich, bahwa hasil DNA akan menjadi yang terdepan tidak hanya menarik arkeolog tetapi juga peneliti biomedis. "Saya tidak akan terkejut jika Raja Tut dan Amenhotep III terkait. Namun, silsilah mungkin rumit. Analisis DNA kuno sulit, terutama dari mumi Mesir, sehingga penelitian biasanya direplikasi kedua di laboratorium secara independen," kata Rühli yang berpartisipasi pada tahun 2005 saat analisis CT scan Tutankhamun.
Laporan Penelitian
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Komentar