Langsung ke konten utama

Haruskah Antropolog Berada di Garis Depan Operasi Militer Anti Terorisme?

loading...
bisnis online
(KeSimpulan) Di antara para petinggi militer yang memberikan komentar mengenai terorisme global pada sidang Senat (Senate hearing) Amerika Serikat (AS) adalah seorang akademisi yaitu Scott Atrain, antropolog di University of Michigan, Ann Arbor. Mengapa mengundang akademisi untuk berbicara kepada Senate Armed Services Emerging Threats and Capabilities Subcommittee?

Pemerintah AS telah menghabiskan ratusan juta dolar untuk penelitian terorisme, termasuk mendirikan terrorism research institutions di University of Maryland dan di tempat lainnya, bahwa strategi AS melawan terorisme pada saat ini "berfokus pada teknologi dan bukan berusaha untuk pemahaman tentang radikalisme dan dari mana datangnya," kata Atrain kepada Science.

Bahkan, menurut Atran, satu-satunya alasan Senat mengundangnya untuk sidang adalah "karena militer ketakutan oleh percobaan pengeboman Natal yang lalu dan menyadari bahwa mereka terlalu bergantung pada perangkat yang tidak berfungsi ... Mereka tahu saya satu-satunya orang di sekitar ini yang berada di lapangan tentang paham jihadis dan wannabes serta ingin mencari tahu penyebabnya," kata Atrain.

Atran mengkritik bahwa the U.S. military’s Human Terrain System, sebuah program di mana menanam ilmuwan sosial di unit-unit militer di Irak dan Afghanistan. "Ini adalah unit infanteri sendiri yang harus dilatih sebelum mereka pergi ke panggung untuk lebih sensitif budaya," kata Atrain kepada para Senator. "Upaya-upaya seperti ini cukup berpotensi kontraproduktif. Militer dan realitas budaya dari daerah mungkin mendukung kebutuhan memiliki ilmuwan sosial (yang berseragam dan bersenjata), ... tapi kemungkinan bahwa antropolog sendiri akan menimbulkan permusuhan secara akademis," kata Atrain.

Sementara itu, Atrain menyerukan pemerintah AS untuk melibatkan secara lebih langsung para antropolog secara terbuka, studi peer-review tentang terorisme, ketimbang mengandalkan teknologi intelijen dan operasi rahasia antiterorisme. "Libatkan ilmuwan sosial, tetapi tidak dalam panggung militer," kata Atrain.

Tapi membujuk para antropolog untuk berkolaborasi dengan militer AS "tidak akan mudah dan itu tidak akan terjadi pada hari ini," kata Karaleah Reichart, antropolog di University of North Carolina, Chapel Hill. Reichart mencatat bahwa kode etik dari American Anthropological Association (AAA) melarang para peneliti melakukan operasi rahasia maupun penelitian untuk suatu pemerintah. "Bagaimana militer dapat meyakinkan kita?"

Reichart tidak percaya antara antropolog akademik dan militer AS adalah sebuah fenomena baru. "Secara historis, para antropolog telah bekerja erat dengan pemerintah dan banyak melayani angkatan bersenjata, misalnya mempelajari ideologi Jerman dan Jepang selama Perang Dunia II. Ini adalah strategi mengetahui musuh anda," kata Reichart. Tapi sentimen di antara para akademisi tentang perang baru-baru ini di Irak dan Afghanistan telah berubah menjadi buruk, terutama skandal para ilmuwan sosial yang berperan dalam proses interogasi yang direstui pemerintah.
bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Komentar