Langsung ke konten utama

Anak Williams syndrome Tidak Mengembangkan Stereotip Rasial

loading...
bisnis online
(KeSimpulan) Hubungan gangguan otak dengan eradikasi etnis tetapi tidak memiliki bias gender. Prasangka (Prejudice) nampaknya tidak dapat dihindari, tetapi sekarang para ilmuwan melaporkan untuk pertama kalinya sekelompok orang yang tampaknya tidak mengembangkan stereotip rasial. Anak-anak dengan gangguan perkembangan syaraf yang disebut Williams syndrome (WS) menjadi sangat ramah karena mereka tidak takut pada orang asing. Studi menunjukkan anak-anak ini juga tidak mengembangkan sikap negatif tentang kelompok-kelompok etnis lain, meskipun mereka menunjukkan pola stereotip jender seperti yang ditemukan pada anak-anak lainnya.

"Ini adalah bukti pertama bahwa bentuk-bentuk yang berbeda dari stereotip secara biologis tidak sesuai," kata Andreas Meyer-Lindenberg, direktur Central Institute of Mental Health di Mannheim, Jerman, yang memimpin penelitian dan dipublikasikan minggu lalu di Biology.

Orang dewasa dengan WS menunjukkan aktivitas normal dalam struktur otak yang disebut amigdala yang terlibat dalam menanggapi ancaman sosial dan memicu reaksi bawah sadar untuk emosi negatif terhadap ras lain. Bias rasial dikaitkan dengan rasa takut, orang dewasa lebih cenderung mengasosiasikan objek dan kejadian negatif kepada orang-orang dari kelompok etnis lain dibandingkan dengan kelompok mereka sendiri. Namun menurut Meyer-Lindenberg, studi terbaru menawarkan bukti kuat sejauh rasa ketakutan sosial mengarah ke stereotip rasial.

Tim peneliti menunjukkan 18 gambar kepada 20 anak dengan WS dan 20 anak tanpa WS yang semuanya berasal dari etnis kulit putih Eropa. Lalu mereka bertanya kepada anak-anak (usia 5-16 tahun), untuk memilih individu-individu dalam gambar yang mungkin terlibat dalam kegiatan jender khusus seperti bermain dengan boneka. Kedua kelompok anak menunjukkan pola yang sama tentang stereotip jender.

Anak-anak juga mendengar cerita tentang individu (diwakili dalam gambar) yang memiliki atribut negatif seperti anak nakal dan kotor atau sifat-sifat positif seperti cantik dan cerdas. Mereka kemudian diminta untuk memilih apakah cerita itu tentang orang berkulit putih atau orang berkulit hitam di gambar. Salah satu contoh adalah kisah ini: "Ada dua anak kecil. Salah satunya adalah anak yang baik. Begitu ia melihat anak kucing jatuh ke danau dan mengangkat kucing hingga menyelamatkan dari tenggelam. Anak kecil ini ras apa?"

Anak-anak tanpa WS menyukai karakteristik positif pada anak-anak berkulit putih dan memandang negatif pada individu berkulit gelap (konsisten dengan studi sebelumnya di kedua anak berkulit putih dan hitam), tetapi anak dengan WS tidak memiliki bias rasial apapun. Meyer-Lindenberg mengatakan kesimpulan ini jelas bahwa ketakutan sosial tidak dipengaruhi oleh stereotip jender, tetapi dibentuk oleh stereotip rasial. "Ini adalah temuan yang benar-benar baru, cukup untuk membuat kita memikirkan kembali apa yang kita maksud dengan stereotip," kata Uta Frith, psikolog perkembangan di University College London.

Meyer-Lindenberg mengatakan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan kontribusi ketakutan sosial terhadap stereotip rasial. Tapi WS perlu dikaitkan dengan gangguan kognitif lainnya, seperti keterbelakangan mental (mental retardation atau MR) yang juga mungkin berperan.

Meskipun dikendalikan untuk banyak faktor (seperti IQ dan latar belakang sosial ekonomi), anak-anak dengan dan tanpa WS mungkin memiliki pengalaman yang berbeda tentang anggota kelompok ras lain. "Untuk tingkat tertentu, semua anak yang dipengaruhi oleh peran jender dari orangtua mereka, tetapi tidak semua dipaksa untuk berpikir tentang ras," kata John Gabrieli, neurolog kognitif dari Massachusetts Institute of Technology di Cambridge. Kurangnya eksposur untuk stereotip rasial mungkin dapat menjelaskan kurangnya bias rasial pada anak dengan WS, kata Gabrieli.

Meyer-Lindenberg yakin akan mereplikasi temuannya pada sampel yang lebih besar dan kelompok usia yang berbeda. Dalam studi neuroimaging, ia ingin menguji selain sirkuit neural yang terlibat dalam berbagai bentuk stereotip. Meyer-Lindenberg mengatakan studi ini tidak menjawab apakah stereotip ditentukan secara genetik atau berdasarkan pengalaman, sehingga ia juga ingin menguji peran pengalaman, misalnya dengan mencari anak-anak yang dibesarkan pada dua kelompok yang sama.

"Hingga penelitian ini, saya pikir orang tidak pernah membayangkan bahwa kedua stereotip akan terpisah dengan biologis. Apakah ternyata karena gen, lingkungan, ataukah suatu interaksi yang rumit. Ini akan menggeser arah diskusi," kata Gabrieli.
  1. Santos, A. et al. Curr. Biol. 20, ppp–ppp[note: add page numbers] (2010).
  2. Stanley, D. et al. Curr. Dir. Psychol. Sci. 17, 164-170 (2008). doi:10.1111/j.1467-8721.2008.00568.x
  3. Phelps, E.A. et al. J. Cogn. Neurosci. 12, 729-738 (2000). doi:10.1162/089892900562552 | PubMed | ISI | ChemPort
  4. Olsson, A. et al. Science 309, 785-787 (2005). doi:10.1126/science.1113551 | PubMed | ISI | ChemPort
  5. Castelli, L. et al. Dev. Psychol. 43, 1347-1359 (2007). doi:10.1037/0012-1649.43.6.1347 | PubMed
  6. Janelle Weaver. Nature. 12 April 2010. doi:10.1038/news.2010.176
bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Komentar