Simpanse Menyadari Kematian Temannya

Tinuku
(KeSimpulan) Kera liar dan penangkaran bereaksi dengan cara yang menarik saat kehilangan kawan-kawannya. Simpanse Pansy yang meninggal dikelilingi oleh teman-teman dan keluarga yang merawatnya sebagai perilaku terbaik mereka dan bereaksi terhadap kegagalan dengan membisu.

Kisah Pansy serta para kerabat dari dua ibu tidak melepaskan bayi mereka yang meninggal, memunculkan kemungkinan bahwa simpanse tahu kapan teman meninggal dan menyadari bahwa dia tidak akan pernah kembali.

Demikian dua studi baru yang dilaporkan pada 27 April di Current Biology. "Simpanse mungkin memiliki kesadaran finalitas kematian daripada yang diketahu sebelumnya," kata James Anderson, psikolog dari University of Stirling di Skotlandia, yang memimpin penelitian tentang kematian Pansy.

Anderson mengatakan bahwa kasus Pansy menyediakan sekilas tentang tanggapan simpanse pada kematian alami temannya. Dua kamera video di dalam ruangan kandang di sebuah taman safari mencatat apa yang terjadi sebelum dan setelah kematian Pansy pada tanggal 7 Desember 2008.

Hari-hari sebelum kematian Pansy, tiga simpanse dewasa, termasuk putrinya merawatnya secara teratur. Kegaduhan meningkat saat napas Pansy berpacu cepat selama 10 menit sebelum kematian. Seekor simpanse jantan berdiri di atas tubuh Pansy yang tidak lagi bernyawa dan menarik lengan kirinya kemudian mencoba membuka mulutnya. Dia melompat ke atas Pansy yang berbaring dan mendekap dengan agresif. Setelah memukul-mukul tubuh Pansy, ia melarikan diri.

Hari berikutnya, tiga simpanse mengawasi diam tempat di mana tubuh Pansy meninggal. Tidak satu pun dari mereka tidur selama lima hari saat Pansy dalam kondisi sekarat. Selama beberapa minggu, mereka makan lebih sedikit dari biasanya. "Insiden ini memperkuat kesimpulan bahwa kera memiliki semacam konsepsi kematian," kata William McGrew, peneliti simpanse dari University of Cambridge di Inggris.

Frans de Waal, primatolog dari Emory University di Atlanta melihat reaksi yang mirip tentang kematian seorang anggota dalam koloni penangkaran simpanse. "Laporan Anderson benar-benar dipercaya," kata de Waal.

Anderson mengatakan kemungkinan lebih manusiawi bagi apes tua untuk mati di antara temannya di fasilitas penelitian dan kebun binatang, bukan mengisolasi mereka untuk pengobatan atau eutanasia.

Elizabeth Lonsdorf dari Lincoln Park Zoo di Chicago mengatakan di alam bebas, simpanse bereaksi mulai dari kamerad hingga bayi, dari satu individu ke individu yang lain, sama seperti pada manusia. Simpanse yang sakit mencari tempat berlindung dan menyendiri untuk mati sendiri atau bisa dimangsa oleh predator, sementara anggota koloni yang lain melakukan aktivitas kebiasaanya sehari-hari. "Kami belum tahu apakah simpanse berduka atas hilangnya seorang anggota kelompok," komentar Lonsdorf.

Kasus juga melingkupi dua simpanse betina yang benar-benar tidak mau melepaskan bayi yang meninggal karena infeksi pada tahun 2003, seperti yang dijelaskan dalam studi lain. Simpanse ini menghuni di sekitar hutan Bossou, Guinea. Seorang ibu dari beberapa simpanse, membawa jenasah bayi yang berumur 1 tahun di punggungnya saat mencari makan selama 68 hari. Wanita lain, seorang ibu, membawanya jenasah anaknya yang berumur 2 tahun dengan cara yang sama selama 19 hari hingga jenazah itu ditinggalkan.

Dalam kedua kasus, iklim tropis yang kering mengawetkan jenasah dalam proses mumifikasi alami. Ibu mempersiapkan tubuh bayi ke dalam sarang saat malam. Seiring waktu, ibu semakin membiarkan anggota kelompok lainnya, termasuk anak-anak, bermain.

Dora Biro, zoolog dari University of Oxford di Inggris yang memimpin penelitian ini, dengan hati-hati menafsirkan perilaku sebagai bentuk kesadaran kematian. "Para ibu mengerti bahwa ada sesuatu yang luar biasa pada bayi mereka, tapi apakah bagi mereka ada pemahaman bahwa bayi tidak akan pernah hidup kembali menjadi pertanyaan terbuka yang tetap menarik," kata Biro. Seorang anggota tim Biro mengamati simpanse lain di Bossou yang membawa mayat bayi itu selama beberapa minggu pada tahun 1992.

De Waal mengatakan bahwa penolakan ibu apes melepaskan bayi yang mati masuk akal dalam evolusi. Terhentinya ikatan emosional. "Simpanse mungkin tahu sesuatu tentang kematian orang lain, tapi kami tidak punya cara untuk mengetahui apakah mereka memahami kematian mereka sendiri," kata de Waal.

Tinuku Store