Tikus Produksi Senyawa Bahan Baku Morfin

Tinuku
(KeSimpulan) Mamalia menjadi pabrik candu. Menurut studi terbaru mamalia memiliki mesin biokimia untuk menghasilkan morphine (Bahasa Indonesia menyebut morfin yaitu obat penghilang rasa sakit yang ditemukan di bungga opium poppy). Meinhart Zenk dari Donald Danforth Plant Science Center di St Louis, Missouri, dan koleganya mendeteksi jejak morfin dalam urin mencit setelah menyuntik prekursor obat kimia. Mereka melaporkan temuan kemarin di Proceedings of the National Academy of Sciences.

Seperti opioid lainnya, morfin adalah penghilang rasa sakit yang kuat berpotensi adiktif. Para ilmuwan telah berspekulasi selama beberapa dekade untuk melakukan yang sintesis morfin secara alami pada hewan karena reseptor khusus di otak merespon terhadap obat tersebut. Sejumlah trace morfin telah ditemukan dalam air seni manusia dan sel-sel. Tetapi studi menggunakan binatang hidup memberikan hasil yang tidak meyakinkan karena kemungkinan kontaminasi dari sumber morfin eksternal dalam makanan atau lingkungan.

"Studi ini tampaknya menjadi salah satu yang paling pasti dari yang pernah saya lihat. Mereka meyakinkan dengan menunjukkan bahwa ada pintu yang mungkin dapat menghasilkan morfin," kata Chris Evans, neurobiologi dan farmakolog opioid dari University of California, Los Angeles.

Alkaloid adalah senyawa kimia berbentuk cincin yang mengandung nitrogen. Hadirnya alkaloid yang disebut tetrahydropapaveroline (THP) pada jaringan otak dan air seni telah menimbulkan dugaan bahwa mungkin langkah awal morfin diproduksi secara alami di dalam tubuh.

Tim peneliti menginjeksi tikus setiap hari dengan THP dan prekursor morfin potensial lainnya selama empat hari dan mengevaluasi senyawa metabolit dalam urin. Dengan pelabelan yang pelopor dengan deuterium (hidrogen berat) untuk menggantikan atom hidrogen sehingga dapat dibedakan senyawa yang disuntikkan dengan morfin dari sumber lain. Dengan demikian menghilangkan kemungkinan kontaminasi. Setelah mengisolasi alkaloid dari sampel urin, tim peneliti menganalisis make-up kimiawi menggunakan spektrometri massa (deteksi yang saat ini paling sensitif).

Zenk dan rekan-rekannya mengidentifikasi beberapa langkah biokimia intermediasi antara THP dan morfin. Setelah suntikan THP, mereka menemukan metabolit bercincin dari THP yang disebut salutaridine dalam urin. Salutaridine adalah intermediasi pada jalur sintesis morfin dalam opium poppy. Suntik salutaridine menghasilkan lima cincin opiate (candu) yang disebut thebaine, dan suntikan thebaine akan dihasilkan tiga opiate yang memiliki terstruktur sama: Codeine (kodein), Oripavine, dan Morfin.

Meskipun tahap terakhir produksi morfin dilestarikan antara tanaman dan mamalia, tahap awalnya berbeda: pertama kali adalah intermediasi alkaloid pada mamalia, memiliki tambahan kelompok hydroxyl (OH) dibandingkan pada tanaman. "Ini mungkin tampak sepele bagi anda, tetapi dalam biokimia, hydroxylation akan menentukan apakah anda akan melahirkan bayi laki-laki atau perempuan," kata Zenk. Perbedaan ini menunjukkan bahwa jalur morfin pada mamalia dan tanaman berkembang secara independen.

Para peneliti tidak mengidentifikasi jejak morfin dalam darah atau jaringan. Akibatnya, studi ini tidak membuktikan bahwa mamalia menyusun morfin secara alami atau mungkin senyawa tersebut untuk melayani tujuan tertentu, seperti penghilang rasa sakit atau kecanduan. "Pertanyaannya adalah apakah ada jumlah yang signifikan untuk mendapatkan efek dari reseptor endogen, saya rasa tidak mungkin," kata Evans.

Selain mendeteksi morfin pada organ yang relevan (otak dan saraf tulang belakang), penelitian masa depan harus mengidentifikasi enzim yang terlibat dalam transformasi THP untuk morfin. Lalu para ilmuwan bisa memprogram gen yang mengkodekan enzim-enzim untuk menentukan peran fungsional, kata Evans. "Untuk menunjukkan bahwa ada morfin endogen secara alami dan memiliki arti fungsional pada mamalia, saya pikir masih ada banyak studi yang harus dilakukan," kata Evans.

Zenk bersama timnya merencanakan menggunakan teknik yang lebih sensitif untuk mencari jejak morfin pada jaringan, juga mengidentifikasi jalur enzim dan menganalisis bagaimana pembentukan morfin berfluktuasi pada manusia tergantung pada tingkat rasa sakit yang dialami. "Karena ini fakta bahwa morfin ditemukan, kita harus mempertimbangkan bahwa harus ada manfaat untuk itu," kata Zenk.
  1. Grobe, N. et al. Proc. Natl Acad. Sci. USA doi:10.1073/pnas.1003423107 (2010).
  2. Poeaknapo, C. et al. Proc. Natl Acad. Sci. USA 101, 14091-14096 (2004).
  3. Weaver, J. Nature. doi:10.1038/news.2010.202 (2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment