Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Hantaman Komet Banjiri Karbon Monoksida Stratosfer Neptunus

(KeSimpulan) Karbon monoksida di atmosfer merupakan titik poin menjadi dingin. Apakah komet es yang menhancurkan Neptunus pada dua abad yang lalu? Itulah gambaran yang muncul dari pengukuran terbaru terhadap gas di atmosfer planet biru raksasa tersebut. Paul Hartogh, ilmuwan proyek Herschel, satelit observatorium infra merah milik European Space Agency (ESA), memberikan hasil pertama misi Tata Surya pada pertemuan American Astronomical Society minggu lalu di Miami, Florida.

Penelitian mereka termasuk pengukuran abnormal tingkat tinggi karbon monoksida di stratosfer Neptunus (kemungkinan akibat dampak serangan komet). Emmanuel Lellouch, astronom di Paris Observatory, pertama kali mengajukan hipotesis tersebut (lima tahun yang lalu) atas dasar pengukuran tertentu menggunakan teleskop radio 30 meter di gunung Pico Veleta di Spanyol. "Kami menjadi lebih percaya diri," kata Lellouch bersama Hartogh yang akan membuplikasikan makalahnya tentang hasil Herschel di Astronomy & Astrophysics edisi mendatang.

Sebuah penjelasan alternatif kelimpahan karbon monoksida bahwa Neptunus memiliki reservoir gas stabil yang bocor perlahan keluar dari interior. Tapi dalam pengukuran sebelumnya, Lellouch menemukan dua kali lebih banyak karbon monoksida di stratosfer seperti di troposfer. Karena stratosfer lebih tinggi di atmosfir planet, sumber internal tampaknya memiliki kemungkinan kecil.

"Sekarang kami yakin bahwa harus ada sumber eksternal terkait karbon monoksida," kata Leigh Fletcher, fisikawan planet dari University of Oxford di Inggris, yang tidak terlibat dalam penelitian. Awal tahun ini, Fletcher mempublikasikan sebuah studi yang menjelaskan kelimpahan bahkan lebih tinggi dari karbon monoksida di atmosfer Neptunus, diukur menggunakan misi inframerah Jepang, AKARI. "Metode yang paling spektakuler adalah dampak material es," kata Fletcher.

Tetapi Fletcher mengatakan bahwa sumber eksternal kedua dari karbon monoksida yang juga mungkin terjadi adalah hujan debu dan mikrometerit di seluruh planet. Ketika partikel-partikel ini mengikis atmosfer Neptunus, cenderung menyimpan air yang mengandung sejumlah kecil karbon monoksida. Namun Lellouch mengidentifikasi stratosfer Neptunus jauh lebih kaya karbon monoksida daripada air. Hal ini terjadi karena suhu komet berdampak jauh lebih tinggi daripada mikrometeorit (menyediakan suatu lingkungan untuk 'shock chemistry', di mana oksigen diikat di es komet dan melepaskan terbentuknya karbon monoksida.

Meskipun Fletcher mengatakan bahwa interaksi kimia ini masih kurang dipahami, Lellouch menunjuk komet Shoemaker Levy 9 yang pada tahun 1994 jatuh ke atmosfer Jupiter dan melimpahkan karbon monoksida daripada air.

Lellouch mengatakan bahwa pengukuran Herschel konsisten dengan kalkulasi aslinya, di mana ia mengusulkan bahwa komet selebar 2 kilometer menghantam planet pada 200 tahun yang lalu. Ukuran dan periode waktu yang memungkinkan karbon monoksida untuk didistribusikan pada tingkat sekarang yang terlihat di stratosfer.

Karena lebih kecil, Neptunus tidak memiliki daya tarik seperti gravitasi Jupiter, namun kedekatannya dengan puing-puing Sabuk Kuiper Tata Surya berarti bahwa banyak material es lebih cenderung berada di dekatnya, kata Luke Dones, planetolog di Southwest Research Institute di Boulder, Colorado. Dones mengatakan bahwa komet selebar 2 kilometer menghantam Neptunus setiap 2.000 tahun atau lebih, sehingga serangan dalam kurun 200 tahun terakhir mengejutkan, tetapi "masuk akal".
  1. Lellouch, E., Moreno, R. & Paubert, G. Astron. Astrophys. 430, L37-L40 (2005).
  2. Fletcher, L.N., Drossart, P., Burgdorf, M., Orton, G.S. & Encrenaz, T. Astron. Astrophys. 514, A17 (2010).
  3. Lellouch, E. et al. Icarus 159, 112-131 (2002).
  4. Hand, E. Nature. doi:10.1038/news.2010.269 (28 May 2010).

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment