Populasi Kadal Menuju Kepunahan oleh Pemanasan Global

Tinuku
(KeSimpulan) Perubahan iklim melempar populasi reptil di seluruh dunia ke jurang kepunahan. Pada tahun 2080, pemanasan global mengakibatkan seperlima spesies kadal di dunia menjadi punah, demikian hasil sebuah studi global. Bahkan dalam skenario yang paling optimis untuk membatasi emisi karbon dioksida, analisis oleh tim internasional menunjukkan bahwa seperlima dari populasi kadal di dunia, sekitar 6% dari semua spesies kadal akan punah pada tahun 2050.

"Kami sudah berkomitmen untuk itu," kata Barry Sinervo, biolog evolusioner di University of California, Santa Cruz, yang memimpin penelitian. Dia dan rekan-rekannya menemukan bahwa perubahan iklim telah mendorong 12% dari populasi kadal berwarna-warni Meksiko, Sceloporus, punah sejak 1975. Jika emisi terus berlangsung pada level saat ini, Sinervo memprediksi pada tahun 2080 sekitar 39% dari populasi kadal di dunia akan lenyap seiring dengan kerusakan 20% spesies. Studi ini dipublikasikan di Science minggu ini.

Temuan yang mengejutkan. "Kadal adalah hewan yang harus toleran terhadap pemanasan iklim," kata Raymond Kwik, fisiolog evolusioner di University of Washington, Seattle, yang bukan bagian dari tim peneliti.

Sinervo tidak berniat untuk mempelajari kepunahan. Sebaliknya, ia merencanakan menggunakan Eurasian lizard, Lacerta vivipara, untuk meneliti peran warna dalam evolusi kadal. Tetapi ketika pergi ke situs di Perancis, Italia, Solovenia dan Hongaria di mana Lacerta sebelumnya dipelajari, para kadal tersebut tidak selalu ada. Beberapa tahun kemudian, ia menemukan bahwa kadal Sceloporus Meksiko juga menghilang.

Karena khawatir, Sinervo mengumpulkan tim untuk mengetahui masalah secara global. Mempelajari laporan kepunahan di lima benua dan para ilmuwan menyimpulkan bahwa masalah ini menggejala. "Ini terjadi sangat, sangat cepat. Kami melihat gelombang besar kepunahan menyapu planet," kata Sinervo.

Kwik mengingatkan bahwa tidak melihat kadal tidak berarti bahwa mereka tidak ada. Mereka mungkin hanya diabaikan. "Populasi naik dan turun," kata Kwik. Namun, ia mencatat, Sceloporus sangat penting. "Sulit untuk dilewatkan."

"Ini jenis studi yang mengambil banyak pekerjaan dan orang baru-baru ini mulai melakukan," kata Anthony Barnosky, palaeoekolog di University of California, Berkeley, dan penulis Heatstroke: Nature in an Age of Global Warming (Island Press, 2009).

Dari beberapa analisis serupa, sebuah studi pada tahun 2008 menemukan kerusakan populasi amfibi hidup di Yellowstone National Park, Wyoming. Lainnya ditemukan bahwa mamalia kecil di Yosemite National Park, California, telah dihinggapi suhu pemanasan pada abad lalu dengan pergeseran range mereka.

Hilangnya kadal di wilayah yang dipelajari tim tidak oleh kerusakan habitat karena mereka berada dalam habitat yang telah dilindungi. Sedangkan, situs panas dekat dengan ekuator atau pada ketinggian yang rendah kemungkinan besar akan kehilangan populasi kadal. Untuk melihat bagaimana iklim panas merusak reptil, tim Sinervo menciptakan kadal dummy menggunakan terpaan matahari di lokasi semenanjung Yucat√°n dimana Sceloporus punah di tempat tersebut, dan dipantau temperaturnya.

Seperti semua organisme, kadal harus menghindari panas dan menjaga suhu tubuh mereka dalam jarak tertentu untuk bertahan hidup. Masalahnya, tim menemukan bahwa suhu tinggi di musim semi berarti hewan menghabiskan lebih sedikit untuk musim kawin dan lebih banyak waktu di tempat teduh.

"Ini adalah waktu tahunan perempuan membutuhkan jumlah maksimum makanan. Jika suhu semakin tinggi di musim semi, maka kadal membatasi aktivitas mereka Mungkin tidak akan memiliki cukup waktu secara aktif untuk mencari makanan," kata Kwik. Betina yang kurang makan tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk berkembang biak, menyebabkan populasi mengalami gangguan.

Konsekuensi ekologis dari kepunahan kadal tidak diketahui. "Jika benar atau bahkan mendekati dengan kebenaran, dunia seperti yang kita tahu akan sangat berbeda. Terutama para kadal pemakan serangga. Jadi, jika populasi punah akan mempengaruhi serangga yang tinggal di habitat tersebut. Kadal juga mangsa bagi banyak ular, burung, mamalia dan beberapa kadal lainnya. Tapi bagaimana efek-efeknya sangat serius dan sulit untuk memprediksi," kata Kwik.
  1. Sinervo, B. et al. Science 328, 894-899 (2010).
  2. McMenamin, S. K., Hadly, E. A. & Wright, C. K. Proc. Natl Acad. Sci. USA 105, 16988-16993 (2008).
  3. Moritz, C. et al. Science 322, 261-264 (2008).
  4. Lovett, R. Nature. doi:10.1038/news.2010.241 (13 May 2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment