Analisis Tengkorak Paleoamerican Tentang Migrasi Asia ke Benua Amerika

Tinuku
(KeSimpulan) Apakah Dunia Baru dijelajahi dua kali? Apakah nenek moyang utama penduduk benua Amerika pada hari ini benar-benar asli orang pertama yang menginjakkan kaki di Dunia Baru? bukti genetika memberi kesan demikian, tetapi kerangka kuno menceritakan kisah yang berbeda. Sekarang, analisis yang paling detail dari tengkorak Amerika kuno menyimpulkan bahwa ada dua gelombang yang berbeda penjelajah dari Asia, sehingga menyatakan bahwa kelompok lain telah tiba di sana untuk pertama kali.

Tim paloeantropolog membandingkan beberapa lusin tengkorak Paleoamerican (yang merujuk pada saat-saat awal migrasi 11.000 tahun yang lalu) dengan lebih dari tengkorak orang-orang 300 Amerindian (yang berdating 1000 tahun yang lalu). Paleoamerican berasal dari empat situs di Amerika tengah dan selatan, dimana peneliti juga membandingkan mereka dengan lebih dari 500 tengkorak dari Asia Timur.

Secara keseluruhan, tim mengidentifikasi perbedaan yang jelas dalam bentuk dan ukuran sampel Paleoamerican dan Amerindian, sehingga mengindikasikan bahwa lebih dari satu grup individu yang bermigrasi ke Amerika dari Asia. Tim melaporkan temuan kemarin di jurnal PLoS ONE. Karena perbedaan usia kerangka maka para peneliti mengatakan bahwa ada kelompok individu lainnya yang datang sebelum nenek moyang utama penduduk Amerika asli pada saat ini.

Katerina Harvati, anggota tim peneliti dari Tübingen University di Jerman mengatakan bahwa meskipun penelitian ini tidak menyingkirkan hipotesis migrasi tunggal, namun memberi petunjuk "bahwa cerita tentang kedatangan penduduk Dunia Baru kemungkinan besar yang lebih kompleks daripada yang selama ini dipikirkan peneliti."

Sebuah studi yang "solid" dan "mungkin analisis yang paling canggih dari sifat craniofacial dilakukan selama ini," kata Theodore Schurr, antropolog molekul dari University of Pennsylvania. Schurr melakukan studi DNA pada orang yang hidup dan mendukung hipotesis migrasi tunggal. Schurr mengatakan bahwa dirinya "bersedia menerima argumen bahwa ada pulsa migrasi ke Amerika dari Asia Timur Laut pada waktu yang berbeda."

Namun demikian, Schurr mengingatkan bahwa kurangnya sejumlah besar tengkorak Paleoamerican akan menyulitkan dan ukuran sampel kecil tidak akan menampilkan keanekaragaman morfologi dan genetika populasi awal Amerika secara benar. Schurr mencatat bahwa studi lapangan selalu terkendala oleh kurangnya data DNA purba karena kelangkaan tulang kuno.

Sebaliknya, studi genetik populasi modern dapat menarik sejumlah besar sampel. Dennis Stanford, arkeolog dari Smithsonian Institution di Washington, DC, mengatakan bahwa para peneliti bisa mendapat keuntungan dari sampel tambahan Amerika Utara serta lebih banyak tengkorak dari Asia. Stanford yakin ada kemungkinan tiga atau empat migrasi utama.

Harvati berharap bahwa agenda penelitian lebih lanjut akan mencakup lebih banyak sampel dan dirinya setuju bahwa "DNA kuno akan sangat membantu." Namun sejauh ini studi tersebut tidak banyak berhasil.

CAPTION (klik gambar untuk perbesar): The lines represent the closest path for connecting all samples according to the morphological distances between them. Red dots represent samples with Paleoamerican morphology and the brown dot represents the specimens from Zhoukoudian Upper Cave. Blue dots indicate the Late Holocene samples from East Asia, the Americas and Australo-Melanesia

(Hubbe M, Neves WA, Harvati K. 2010. Testing Evolutionary and Dispersion Scenarios for the Settlement of the New World. PLoS ONE 5(6): e11105. doi:10.1371/journal.pone.0011105)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment