Buaya Muara Crocodylus porosus Surfing Arus Potong Biaya Perjalanan

Tinuku
(KeSimpulan) Surfing arus memungkinkan buaya untuk perjalanan jarak jauh. Buaya adalah perenang buruk untuk jarak jauh. Sebaliknya, bakat mereka terletak pada meluncur. Estuarine crocodiles (Crocodylus porosus) memiliki jangkauan geografis terbesar dari semua jenis buaya yang membentang lebih dari 10.000 kilometer persegi sebelah tenggara Samudra Pasifik.

Distribusi yang luas menunjukkan bahwa mereka dapat menyeberangi lautan untuk mencapai lokasi jauh, tetapi sampai sekarang hanya tiga buaya muara yang telah dilacak dalam perjalanan melintasi samudra. Demikian menurut sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan pekan lalu di Journal of Animal Ecology.

Zoolog tidak tahu bagaimana perjalanan jarak jauh reptil seperti tingkat kesinambungan berenang yang diperlukan. Jawabannya, buaya mengendarai arus di permukaan, kata Craig Franklin, zoolog dari University of Queensland di Australia, yang memimpin tim penelitian.

Reptil hanya melakukan perjalanan saat arus mengalir ke arah perjalanan yang mereka inginkan. Ketika air pasang berubah, buaya naik ke tepi sungai atau menyelam ke dasar sungai untuk menunggu saat mundur. "Buaya mengendarai arus untuk memotong biaya energi perjalanan. Mereka mendapatkan tumpangan gratis," kata Franklin.

Kelompok (seperti Steve Irwin yang lebih dikenal sebagai 'The Crocodile Hunter'), menghabiskan setahun untuk mempelajari 20 buaya dewasa di Sungai Kennedy, North Queensland, Australia. Implan perangkat akustik yang memancarkan pulsa melalui air digunakan untuk melacak gerakan reptil dengan 20 server yang ditempatkan di sepanjang sungai pasang surut yang membentang 63 kilometer. Sinyal memungkinkan tim untuk mengidentifikasi buaya dan menentukan suhu tubuh.

Para peneliti membandingkan data mereka dengan perkiraan permukaan arus air dari the Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation, Australia's national science agency. Mereka mengidentifikasi bahwa delapan buaya melakukan sebanyak 42 perjalanan jarak jauh lebih dari 10 kilometer per hari. Sebanyak 96% dari perjalanan ini, reptil bepergian memanfaatkan aliran arus.

Sebaliknya, buaya juga mungkin melakukan perjalanan dengan melawan arus namun hanya untuk perjalanan pendek. Ketika air pasang melawan arah tujuan perjalanan, mereka mencatat suhu tubuh meningkat menjadi sekitar 32ºC, menunjukkan bahwa mereka berjemur di bawah sinar matahari di tepi sungai. Ketika arus berbalik menguntungkan mereka, suhu tubuh mereka turun sampai 25ºC, menunjukkan bahwa mereka kembali masuk ke air.

"Mereka tahu kapan arus mengalir ke arah yang mereka ingin untuk melakukan perjalanan. Ini seperti pengambilan keputusan sebelum mereka akan bepergian," kata Franklin.

Perilaku ini tidak jelas apakah dipelajari atau diwariskan. Namun dapat ditarik korelasi antara perilaku migrasi dan kemampuan kognitif buaya dengan burung, karena keduanya lebih erat terkait daripada reptil lainnya, kata Franklin. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kedua hewan menggunakan isyarat magnetik untuk navigasi.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa berselancar di arus laut merupakan metode migrasi yang efektif untuk buaya muara. Surfing juga menyediakan jalan bagi individu-individu dari populasi jauh untuk melintasi hambatan laut dan berkembang biak, membantu untuk menjelaskan mengapa buaya muara tidak diversifikasi ke spesies yang berbeda.

Tapi James Perran Ross, ekolog satwa liar dari University of Florida di Gainesville, tidak yakin bahwa perjalanan laut buaya disengaja, tetapi dia mengatakan bahwa mereka lebih mungkin " hanya insidentil". "Berangkat dengan membuta dari hilir bukanlah sebuah strategi," kata Ross.

"Jika sebuah insiden, mengapa spesies buaya lain tidak juga membuat kesalahan yang sama?" sanggah Franklin. Timnya berencana untuk melacak buaya selama sepuluh tahun ke depan untuk menjelaskan mengapa perjalanan jauh dan bagaimana perilaku ini muncul pada reptil.
  1. Campbell, H.A. et al. Journal of Animal Ecology. doi:10.1111/j.1365-2656.2010.01709.x (2010).
  2. Gilbert, N. Nature. doi:10.1038/news.2010.282 (7 June 2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment