Delta Sungai Petunjuk Samudra Purba di Planet Mars

Tinuku
(KeSimpulan) Di mulut kanal dengan ketinggian yang sama menyarankan masuknya air. Para geolog planet di Amerika Serikat menganalisis data yang menunjukkan bahwa Mars pernah memiliki lautan air, meliputi hampir sepertiga permukaannya. Bukti cincin delta sungai kering dan lembah pada ketinggian yang sama, memperkuat hipotesis bahwa planet merah tersebut pernah didukung sebuah siklus air mirip di Bumi.

Petunjuk adanya samudra purba menduduki dataran rendah di utara Mars pertama kali muncul pada akhir 1980-an. Para ilmuwan meneliti citra permukaan dengan mengenali garis pantai yang luas, jaringan lembah-lembah sungai serta kanal output ke arah yang sama. Peneliti lain menggunakan fisika termal untuk menganalisis bahwa kanal tersebut hanya bisa terbentuk oleh siklus air atau didorong oleh kekuatan besar air.

Tidak semua bukti mendukung hipotesis samudra Mars, namun pada akhir 1990-an dengan metode yang semakin maju, para peneliti mempelajari citra resolusi tinggi garis pantai untuk menemukan salah satu indikasi erosi dan sedimen yang biasanya terkait dengan tepi laut, karena tidak pernah ditemukan bentangan alam pesisir yang dilihat di Bumi.

Sekarang, Gaetano Di Achille dan Brian Hynek dari University of Colorado di Boulder, melakukan studi yang mendukung hipotesis samudera purba yang awalnya tidak tertarik dalam perdebatan tersebut. Di Achille dan Hynek membangun sebuah database delta sungai dan lembah-lembah Mars untuk meneliti bagaimana kemungkinan kikisan oleh air, tetapi akhirnya menyadari bahwa mereka memiliki data yang cukup untuk membaca gambar yang lebih besar. "Penelitian kami dimulai sebagai lelucon. Kami bekerja pada database delta dan lembah. Selanjutnya, mengapa kita tidak mencoba untuk menguji hipotesis lautan ini?" kata Di Achille.

Di Achille dan Hynek menganalisis distribusi dan elevasi delta serta berbagai kanal di sepanjang lembah dataran rendah bagian utara Mars bukan cekungan terisolasi. Lokasi titik akhir lembah tampaknya juga konsisten dengan garis pantai. Penelitian ini dipublikasikan di Nature Geoscience kemarin.

Taylor Perron, geologi dari Massachusetts Institute of Technology di Cambridge, mengatakan bahwa hasil studi "memperkuat argumen yang mendukung samudra" tapi beberapa masalah belum terselesaikan. Perron mengatakan bahwa ada cukup variabilitas ketinggian delta yang menunjukkan bahwa tidak hanya satu level garis pantai dan "sulit untuk menjelaskan" mengapa beberapa lembah berakhir pada ketinggian yang jauh lebih tinggi daripada laut yang diusulkan. "Satu penjelasan yang mungkin adalah deformasi skala besar lansekap planet, transformasi yang dulunya merupakan level garis pantai menjadi satu dengan ketinggian lebih bervariasi," kata Perron.

Di Achille menyatakan bahwa bahwa penjelasan Perron tidak akan cocok karena setiap deformasi akan menyapu delta-delta, variabilitas ketinggian delta di Mars lebih kecil dibandingkan yang ditemukan di Bumi.

Namun, ada kesepakatan luas dari semua pihak dalam analisis Di Achille dan Hynek bahwa hasil studi ini bukanlah kata terakhir mengenai keberadaan samudra purba di Mars. Perubahan iklim secara dramatis mungkin menyebabkan air masuk ke dalam kerak, menjadi es atau keluar ke atmosfer. Sekarang, 3,5 miliar tahun kemudian, peneliti memiliki tugas yang sulit untuk menemukan bukti lanskap yang telah dirusak oleh proses vulkanisme dan munculnya kawah.

Caleb Fassett, geolog dari Brown University di Providence, Rhode Island, mengatakan bahwa studi ini "merangsang pemikiran baru" tentang kondisi masa lalu Mars. Tapi Fassett setuju bahwa studi memerlukan metode yang lebih definitif. "Mencari bukti lebih lanjut untuk samudera kuno selain topografi Mars memiliki implikasi besar," kata Fassett.
  1. Di Achille, G. & Hynak, B.M. Nature Geoscience doi:10.1038/NGEO891 (2010).
  2. Cartwright, J. Nature. doi:10.1038/news.2010.293 (13 June 2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment