Evolution in Action Reproduksi Jangkrik Tertangkap Kamera

Tinuku
(KeSimpulan) Mengintai jangkrik liar untuk mengungkap rahasia kesuksesan reproduksi. Dengan memantau kehidupan seks jangkrik liar menggunakan kamera pengawas dan analisis DNA keturunannya, para ilmuwan telah menguji beberapa asumsi kunci teori evolusi di habitat alam. Pejantan dari berbagai spesies berperang satu sama lain ataupun pamer hiasan penampilan untuk akses ke betina, dan betina sering memilih pasangan dengan sifat-sifat yang menarik yang memberi penunjuk keturunan mereka layak dan sehat.

Jangkrik ada pengecualian dari pola yang berlaku, setidaknya di laboratorium: Jantan bersaing untuk memonopoli betina dengan kualitas mengerik dan betina pada gilirannya akan menguntungkan pejantan yang dominan.

Meskipun para ilmuwan melacak pola perkawinan secara teratur hewan di alam liar, pengamatan pada serangga sering dilakukan di laboratorium karena lebih sulit untuk mengikuti habitat alamiah mereka, sehingga organisme di laboratorium tidak mengalami tekanan seleksi alam yang sama seperti di alam liar (penting untuk menguji teori evolusi dalam regulasi alam).

Tom Tregenza, ekolog evolusi dari University of Exeter di Penryn, Cornwall, berusaha mengidentifikasi apakah hasil di laboratorium tentang keberhasilan reproduksi jangkrik akan sama dengan populasi liar. Dia dan rekan-rekannya melaporkan temuan mereka pekan lalu di jurnal Science.

Tim Tregenza terus memantau sejumlah populasi lebih dari 150 jangkrik liar Gryllus campestris dari padang rumput di Spanyol utara selama dua tahun dengan menggunakan jaringan 64 perekam gerak sensitif yang dilengkapi kamera video inframerah. Ditempatkan di dekat pintu masuk liang sarang. Jangkrik diberi tag identifikasi yang unik dan dikawinkan di dekat pintu masuk liang.

Karena masa hidup jangkrik sekitar satu tahun, tim bisa melacak orangtua dan keturunan mereka untuk seluruh jangka hidup mereka. Untuk menetapkan keturunan, mereka yang terperangkap dipotong ujung kaki belakangnya untukmengekstrak DNA dan membandingkan kesamaan genetik dari 11 sidik molekuler. Tim peneliti mengidentifikasi bahwa betina dan jantan yang memiliki nomor pasangan sama menunjukkan bahwa betina tidak memilih seperti perkiraan sebelumnya.

Jangkrik betina hanya (harus) kawin sekali karena mereka dapat menyimpan sperma, namun tim menemukan semakin banyak betina kawin akan lebih banyak keturunan yang mereka miliki. Temuan ini menantang asumsi yang sangat mahal bagi betina jika terlalu banyak pasangan, kata William Wagner, biolog evolusi yang mempelajari jangkrik di University of Nebraska-Lincoln. "Konflik atas kemungkinan kawin yang tidak biasa seperti kita berpikir tentang mereka," kata Wagner.

Serupa dengan pejantan, banyak betina tidak mendapatkan keturunan apapun. "Ini mengejutkan," kata Darryl Gwynne, yang mempelajari evolusi serangga di University of Toronto di Mississauga, Ontario, Kanada. Telur adalah sumber daya yang membatasi di mana perempuan harus melakukan investasi untuk memproduksi energi. "Jika terjadi direplikasi seperti dalam penelitian lain akan memaksa kita untuk memeriksa kembali teori seleksi seksual dan bagaimana ceruk yang terjadi ada populasi hewan alami," kata Gwyne.

Hasil penelitian juga menunjukkan hasil yang kompleks dan mengejutkan lainnya. Pejantan yang dominan memiliki jumlah pasangan lebih sedikit daripada pejantan biasa, tetapi mereka memiliki jumlah yang sama dalam keturunan. Pejantan yang lebih kecil mengandalkan bernyanyi (mengerik) dalam menarik pasangan dan mendapatkan keturunan, sedangkan bernyanyi tidak mempengaruhi jumlah pasangan pada pejantan yang lebih besar.

Demikian pula, pejantan yang berumur lebih pendek mengandalkan pada menyanyi untuk mendapatkan keturunan daripada pejantan yang berumur panjang. Wagner mengatakan bahwa pola-pola ini tidak seperti yang diharapkan karena para ilmuwan menduga bahwa bernyanyi memainkan peran yang kuat dalam keberhasilan reproduksi untuk semua pejantan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk memahami evolusi adalah penting untuk memverifikasi temuan di laboratorium dalam regulasi alam dan meneliti interaksi di antara beberapa sifat seperti ukuran, umur, dominasi dan jenis kelamin. "Ini tidak sesederhana yang orang pikirkan," kata Anna Qvarnström, biolog evolusi di Uppsala University di Swedia.

Dalam penelitian yang akan datang, Tregenza ingin menentukan apakah faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pada kawin dan menghasilkan keturunan tetap sama atau bervariasi dari tahun ke tahun yang dikaitkan pada kondisi lingkungan. Sebagai contoh, sifat-sifat genetik yang berbeda diuntungankan pada temperatur dingin dibandingkan dengan suhu panas. Dengan menggunakan sistem ini dalam memantau beberapa generasi populasi liar, Tregenza mengharapan untuk mengamati "evolution in action".
  1. Rodriguez-Munoz, R., Bretman, A., Slate, J., Walling, C. A. & Tregenza, T. Science 328, 1269-1272. doi:10.1126/science.1188102 (2010)
  2. Weaver, J. Nature. doi:10.1038/news.2010.279 (3 June 2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment