Hentakan Gelombang Ungkap Asal-usul Lokasi Kelahiran Bintang di Large Magellanic Cloud

Tinuku
(KeSimpulan) Para astronom mengintai pelarian besar-besaran yang dilakukan bintang-bintang menggunakan jejak gas antar bintang. Bintang-bintang dengan massa 100 kali Matahari dan cahaya 10 juta kali lebih terang di mana selama hidup mereka telah memuntahkan lebih dari setengah massa dalam bentuk angin bintang tanpa berhenti. Namun, asal-usul bintang-bintang muda besar di galaksi Large Magellanic Cloud (LMC) telah menjadi misteri bagi para astronom selama beberapa dekade.

Vasilii Gvaramadze, astronom dari Sternberg Astronomical Institute di Moscow State University, dan rekan-rekannya membidik lokasi kelahiran dari salah satu kelompok dan menunjukkan sebuah "pelarian bintang." Bintang-bintang tersebut melintasi LMC dengan kecepatan lebih dari 130 kilometer per detik setelah dikeluarkan dari cluster rumahnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa bintang-bintang muda besar lainnya di LMC juga mungkin melarikan diri dan melempar cahaya pada proses tumbukan yang dapat menyebabkan bintang-bintang raksasa terlempar dari gugusan bintang di mana mereka terbentuk pertama kali. Sebuah makalah yang melaporkan temuan telah dikirim ke arXiv preprint database untuk diterbitkan di Astronomy & Astrophysics.

Bintang-bintang besar di LMC telah diamati semenjak tahun 1982. Pancaran cahaya dan warna biru mengindikasikan mereka sangat panas. Secara teoritis para astronom menilai sebagai bintang-bintang yang relatif muda (sekitar 2 juta tahun). Namun mereka berada pada ratusan tahun cahaya jauh dari wilayah pembentukan pertama kali.

Berdasarkan analisis bahwa bintang-bintang raksasa tidak mungkin terbentuk sendirian tanpa menghasilkan kelompok-kelompok bintang yang lebih kecil di sekitarnya. "Ini seperti raja tanpa kerajaan," kata Mordecai-Mark Mac Low, astrofisikawan dari American Museum of Natural History di New York.

Masalah muncul dan para astronom menggaruk-garuk kepala, beberapa mulai mempertimbangkan kemungkinan alternatif lain yaitu bintang-bintang terbentuk di suatu tempat, tetapi selanjutnya dikeluarkan dari tempat kelahiran mereka dan pergi melintasi LMC. Jalur pelarian bintang sebelumnya terlihat di Bima Sakti dan pergi jauh dari cluster Orion. Pada jarak 160.000 tahun cahaya dari Bumi, LMC terlalu jauh bagi para astronom untuk mendapatkan ukuran langsung kecepatan bintang-bintang muda dalam mengkonfirmasi apakah mereka juga melarikan diri.

Namun, Gvaramadze mengukur dengan cara yang berbeda yaitu mencari guncangan busur (bentuk parabola) yang tercipta sebagai angin bintang dari pelarian bintang pada gas antar bintang di depannya. Pencarian menggunakan Spitzer Space Telescope pada enam bintang yang mungkin melarikan diri. Tim Gvaramadze mengidentifikasi inframerah dari salah satu hentakan busur yang disebut BI237.

Bentuk hentakan busur mengungkapkan arah gerakan bintang tersebut dan Gvaramadze menelusuri gerakan mundur yang menyimpulkan bahwa BI237 terbentuk di cluster 82LH sekitar 2 juta tahun yang lalu.

Bintang tersebut mungkin dikeluarkan dari LH82 ketika memperoleh kecepatan melakukan perjalanan di sekitar bintang-bintang besar lainnya di tengah cluster selama tiga atau empat kali sebelum terlempar dan keluar dari cluster untuk selamanya. Gvaramadze dan rekan-rekannya berpendapat pada saat-saat awal gugus bintang, kelompok bintang paling masif bersama-sama di pusat, di mana dengan mudah dapat berinteraksi dan menghasilkan efek ini.

"Pernyataan bahwa dibentuk sangat dini adalah realistis," kata Douglas Gies, astrofisikawan dari Georgia State University di Atlanta. "Guncangan adalah cara menarik untuk mendapatkan informasi lebih lanjut" tentang pelarian bintang, kata Gies.

Mac Low setuju bahwa temuan masuk akal. "Ini hasil bagus dan memberikan jawaban atas pertanyaan yang telah mengganggu para antronom untuk beberapa waktu, bagaimana anda mendapatkan bintang-bintang besar seperti mereka sendiri."
  1. Gvaramadze, V.V., Kroupa, P. & Pflamm-Altenburg, J. Astron. Astrophys | Preprint http://arxiv.org/abs/1006.0225 (2010).
  2. Samuel, E.R. Nature. doi:10.1038/news.2010.287 (9 June 2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment