Lanskap Koobi Fora Sajikan Menu Ikan Dalam Pertumbuhan Otak Hominim

Tinuku
(KeSimpulan) Sekitar 1.950.000 tahun yang lalu, sekelompok nenek moyang manusia awal berkumpul di tepi sebuah danau kuno atau sungai di Kenya untuk mengumpulkan ikan dan hewan air dangkal lainnya. Menggunakan peralatan batu, menangkap catfish, kura-kura, dan buaya. Hari ini, sisa makanan mereka dalam bentuk ratusan ribu fosil tulang dan beberapa tool batu menjadi bukti "definitif awal" dari hominin menyembelih dan makan hewan air yang kaya asam lemak esensial untuk pertumbuhan otak yang lebih besar.

Temuan ini dipublikasikan Proceedings of the National Academy of Sciences. Otak manusia secara nyata lebih besar muncul pada Homo erectus, sekitar 1,8 juta tahun yang lalu dan beberapa peneliti telah lama berpikir bahwa nenek moyang kita mulai makan daging hewan lebih sebesar pada 2 juta tahun yang lalu.

Beberapa peneliti lain mengajukan hipotesis bahwa ikan dan kerang harus muncul dalam menu makanan pada waktu yang sama karena seafood kaya asam docosahexaenoic dan asam arachidonic (juga dikenal sebagai asam lemak omega-3 dan omega-6) yang penting bagi pertumbuhan otak manusia.

Tetapi berdasarkan tulang dua ikan patin (catfish atau kutuk-lele) berdating 1,8 juta tahun lalu di Olduvai Gorge, Tanzania, memberikan bukti yang memperlihatkan adanya menu ikan ini sejak awal evolusi manusia. Tentunya, hominin makan ikan ketika mereka bisa menangkap atau dengan mudah mengumpulkan, tapi mana buktinya?

Lanskap H. erectus di Koobi Fora, Kenya, menjadi kenyataan. Situs fosil yang baru ditemukan pada tahun 2004 ketika arkeolog David Braun meneliti tanah tandus Koobi Fora timur laut sebagai bagian dari kuliah lapangan yang dilakukan oleh Rutgers University New Jersey, saat menempuh pascasarjana. Braun dan pembimbingnya Jack Harris menemukan ribuan serpih batu primitif, core dan fragmen basal berdating 1.950.000 tahun yang lalu.

Braun, Harris, dan rekan mereka juga menemukan beragam tulang setidaknya 48 hewan air dan darat, termasuk 10 hewan yang disembelih di situs selama beberapa minggu atau bulan. Selain 41 tulang ikan patin dan 15 dari jenis ikan lain. Tim juga menemukan fitur potongan tulang hewan akuatik tawar lainnya termasuk buaya dan kura-kura.

"Di sini kita melihat bukti pertama hominin makan ikan sebelum ada kenaikan drastis pertumbuhan otak," kata Brian Richmond, paleoantropolog dari George Washington University di Washington, DC. Tetapi tampaknya para pemburu tidak memilih-milih, mereka juga makan antelop, kuda nil, dan badak. "Semua jenis jaringan hewan bisa ditangkap dengan tangan mereka," kata Richmond.

Analisis isotop karbon dalam gigi hewan dilakukan oleh Naomi Levin, geokimiawan dari Johns Hopkins University, menunjukkan bahwa situs seperti pasar daging di suatu habitat hutan basah dengan pohon-pohon nyiur yang berjajar tipis di sepanjang tepi sungai atau danau. Identitas dini pemakan ikan masih merupakan misteri, bukan tulang hominin yang telah ditemukan di situs sejauh ini. Baik Australopithecines dan anggota awal dari genus Homo (seperti H. habilis) telah ditemukan di Turkana timur sehingga bisa saja meninggalkan tools.

Namun kedua hominin memiliki otak relatif kecil. Ini menunjukkan bahwa nenek moyang kita memperluas pola makan pada 1.950.000 tahun yang lalu, membuka jalan bagi perluasan kemampuan otak dan mungkin pengurangan ukuran gigi dan rahang (terlihat pada H. erectus) karena makanan ini relatif mudah dikunyah.

"Pentingnya dari situs yaitu konfirmasi bahwa hominin pada periode ini menjadi waktu awal melakukan diet yang beragam ... termasuk kura-kura dan ikan. Semua sangat cocok dengan hipotesis perluasan otak pada periode ini," kata Leslie Aiello, presiden Wenner-Gren Foundation for Anthropological Research di New York City.
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment