KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Jumat, 25 Juni 2010

Terapi Gen Pulihkan Kebutaan Retinitis pigmentosa

(KeSimpulan) Gen bakteri mengembalikan penglihatan. Para peneliti memulihkan penglihatan tikus buta di laboratorium dengan menggunakan terapi gen. Treatment baru yang dipublikasikan pada 24 Juni di Science memungkinkan suatu hari nanti memulihkan orang dengan pigmentosa retinitis (suatu penyakit genetik mata yang tak tersembuhkan) sehingga bisa membaca dan menavigasi ruangan.

"Ini merupakan studi sangat bagus. Suatu cara yang baik secara konseptual untuk mencoba memulihkan atau memperpanjang penglihatan," kata Connie Cepko neurosains perkembangan dari Harvard Medical School yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Retinitis pigmentosa menyebabkan kehampaan visi dan kebutaan malam pada 2 juta orang di seluruh dunia. Terutama jaringan sel luar batang retina yang sangat sensitif terhadap cahaya untuk penglihatan pada malam hari dan penglihatan tepi. Beberapa pasien juga kehilangan visi pada siang hari hingga buta total karena sel-sel kerucut (cone-cell) persepsi warna dari retina perlahan-lahan merosot.

Namun penyakit tidak langsung membunuh sel-sel kerucut karena berawal dengan nonresponsive terhadap cahaya. Ini berarti ada jeda waktu di mana reseptor kerucut masih ada meskipun tidak berfungsi.

Jadi para ilmuwan di Friedrich Miescher Institute for Biomedical Research di Basel, Swiss, berusaha menghidupkan kembali sel-sel kerucut nonresponsive pada tikus. Peneliti menggunakan virus yang biasa digunakan dalam terapi gen manusia. Gen bakteri yang sensitif terhadap cahaya yaitu Natronomonas pharaonis diinput ke dalam DNA sel kerucut.

Gen adalah blueprint protein yang membentuk lorong-lorong membran sel. Ketika distimulasi oleh cahaya, protein tersebut membuka diri dan menerima ion bermuatan negatif ke dalam sel. Ketika dimasukkan ke dalam selaput sel tikus, protein ini membantu meniru kegiatan normal dari kerucut sehat. Tidak hanya sel-sel kerucut menanggapi kembalinya cahaya, tetapi mereka juga mengirimkan sinyal ke otak sehingga tikus bisa melihat.

"Apa yang benar-benar mengejutkan bahwa sel-sel yang buta untuk sementara masih terhubung ke seluruh rangkaian," kata Botond Roska, neurobiolog yang memimpin penelitian.

Tapi tidak seperti sel-sel kerucut yang sehat, sel-sel kerucut yang dikembalikan tidak bisa beradaptasi dengan tingkat pencahayaan yang berbeda. Sel-sel menanggapi dengan baik untuk cahaya kuning terang mirip dengan sinar matahari di pantai. Agar pasien manusia melihat dalam cahaya redup, para peneliti harus mengembangkan lensa khusus dengan kamera sensori cahaya untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang diproyeksikan bagi mata pasien," kata Roska.

Setelah studi pada tikus dan primata untuk memastikan keamanan dan efektivitas, Roska tanjap gas untuk membuat obat bagi pasien manusia. "Ini bukan pengobatan untuk semua pasien dengan retinitis pigmentosa, tapi untuk sebuah sub-kelompok di mana reseptor kerucut masih ada," kata Roska. Timnya juga akan mengeksplorasi berapa lama efek terapi terakhir dan apakah terapi gen bisa memiliki aplikasi untuk penyakit mata lainnya seperti degenerasi macular dan kerusakan retina akibat diabetes.

"Saya akan mencoba pada manusia. Bagaimana seseorang melihat sinyal-sinyal ini sulit untuk dibayangkan, tetapi setidaknya bisa dilakukan pada tikus sebagai langkah awal," kata Cepko.

Artikel Lainnya:

3 komentar :

  1. Yonita IsmiyatiSelasa, 21 Mei, 2013

    wah penelitian yang luar biasa. suami ku juga terkena retinitis pigmentosa. dimana yaaa sudah mulai ada terapi ini dan berapa biayanya
    Terima Kasih

    BalasHapus
  2. iya nih bagus sekali penelitian ini,,, tp apakah ada di indonesia utk mengatasi penyakit rp ini? kl ada tolong infonya ya... makasih,,,

    BalasHapus
  3. kl boleh tau ini penelitiannya diadakan dmn? tolong dijawab ya

    BalasHapus

Jurnal Sains