Terapi Gen Untuk Melawan HIV Lolos Uji Klinis

Tinuku
(KeSimpulan) Transplantasi sel induk lolos uji keamanan klinis. Sebuah kombinasi terapi gen endows human stem cells dengan tiga cara untuk melawan HIV telah lulus uji keamanan untuk pertama kali pada manusia. Empat pasien AIDS yang diresapi sel-sel ini mampu mentoleransi pengobatan dan sel-sel menghasilkan senjata anti-HIV selama dua tahun. Studi ini dipublikasikan di Science Translational Medicine kemarin.

Tidaklah cukup bagi sel-sel yang ditransplantasikan dalam pengujian untuk mengobati pasien atau bahkan mengurangi viral load mereka. Tetapi peneliti berharap bahwa setelah uji klinis lebih lanjut, kombinasi terapi gen dapat menggantikan atau menjadi pelengkap obat anti-retroviral sebagai cara untuk mengobatii pasien HIV.

Uji coba piggyback pada pengobatan standar di mana individu dengan AIDS menerima transplantasi yang telah disimpan sebelumnya dalam sel induk darah sendiri sebagai upaya untuk mencegah perkembangan lymphoma (kanker darah). Selain sel induk darah normal, pasien juga diberikan sel-sel di mana tiga jenis terapi gen berbasis RNA yang dilakukan oleh lentivirus.

Tahun lalu, kelompok ilmuwan yang berbeda melaporkan tahap pengujian lajutan di mana sebuah enzim RNA yang ditargetkan bagi HIV kepada 38 pasien dengan menggunakan sel induk darah mereka sendiri. Meskipun pengobatan sedikit efektif, tetapi tidak mengurangi viral load pada tingkat signifikasi statistik (mungkin karena tingkat gen terapeutik di dalam darah berkurang selama 100 minggu ujicoba).

Pada studi lain yang dipublikasikan tahun lalu, dokter Jerman megidentifikasi seorang pasien HIV yang juga menderita leukemia, tampaknya kedua penyakit disembuhkan oleh transplantasi sel induk. Sel-sel berasal dari donor yang memiliki pelindung dari penghapusan gen yang memberikan ketahanan alami terhadap HIV.

Pada eksperimen terakhir ini, para peneliti merekayasa kombinasi ketahanan genetik ke dalam sel induk yang bertujuan untuk menghapus sel-sel sistem kekebalan yang rentan terhadap HIV dan diganti dengan sel-sel yang mampu melawan serangan virus. Ada tiga langkah-langkah.

Pertama, untuk menghentikan HIV dari penetrasi sel inang, para peneliti memberikan sel-sel enzim RNA yang akan memberi pesan kode untuk protein yang disebut CCR5, mencegah HIV menggunakan protein sebagai reseptor untuk masuk sel. "Kita tahu dari banyak populasi bahwa ini adalah target besar, regulasi tingkat HIV sebesar 90%," kata John Rossi, biologi molekuler dari Beckman Research Institute City of Hope di Duarte, California.

Kedua, akan tetapi mix CCR5 tidak aman karena HIV dapat berkembang dengan cara lain untuk menembus sel. "Entah bagaimana virus masuk ke sel-sel, maka kita menggunakan dua pendekatan yang berbeda untuk melawannya," kata. Jadi para peneliti menggunakan modus kedua dan memasukkan umpan RNA dengan protein virus disebut tat yang penting untuk replikasi.

Ketiga, mereka menggunakan teknik yang disebut RNA interference (RNAi) yang ditempatkan pada untaian pendek RNA untuk mendegradasi pesan coding protein virus yang sama dan mitra jahat. Rossi mencatat bahwa mekanisme yang berbeda tersebut akan mempersulit resistensi virus untuk berkembang.

Tiga dari empat pasien menunjukkan bahwa sel induk darah terus memproduksi RNA selama 18-24 bulan setelah menerima transplantasi. Para pasien juga tidak menunjukkan reaksi negatif untuk vektor (kekhawatiran lama pada terapi gen).

"Sebuah penelitian kecil, tapi langkah ke arah yang benar. Yang paling menjanjikan yaitu menunjukkan bahwa anda dapat menggunakan modifikasi sel induk sebagai cara untuk tahan HIV, progeni sel-sel tahan terhadap HIV dan tetap fungsional," kata Pablo Tebas, klinisi dari University of Pennsylvania di Philadelphia yang menggeluti terapi gen dan vaksin HIV. Tim Tebas (berkolaborasi dengan Sangamo, sebuah perusahaan bioteknologi berbasis di Richmond, California) melakukan terapi eksperimen yang bertujuan untuk menghapus protein CCR5 pada sel.

Untuk memastikan bahwa terapi aman (pasien mampu menerima sel-sel non-rekayasa untuk mengobati lymphoma mereka), Rossi mengatakan bahwa para peneliti hanya bisa mencakup sebagian kecil sel rekayasa dalam mix yang ditransplantasikan di mana tidak cukup untuk mengurangi viral load pasien. Tetapi tim tidak melihat petunjuk yang menjanjikan bahwa jumlah sel rekayasa meningkat ketika tingkat virus dalam darah naik, menunjukkan bahwa sel-sel yang terpilih pada saat penting.

"Ini adalah tahap di mana anda harus mencapai tingkat transduksi sehingga mendapatkan peningkatan jumlah sel tertransduksi dalam menghadapi infeksi. Saya belum memikirkannya," kata Premlata Shankar, vaksinolog HIV yang menggeluti RNAi di Texas Tech University Health Science Center.

"Apa yang benar-benar ingin kita lakukan sekarang yaitu meningkatkan persentase sel-sel gen modifikasi pada pasien," kata Rossi. Dia dan rekan-rekannya merencanakan pengujian baru, bekerja sama dengan Benitech (sebuah perusahaan bioteknologi berbasis di Melbourne, Australia), di mana mereka akan mengambil sampel sel yang mengandung sejumlah besar sel induk darah dan transplantasi sel yang direkayasa.
  1. DiGiusto, D. L. et al. Science Transl. Med. 2, 36ra43 (2010).
  2. Mitsuyasu, RT. et al. Nature Medicine. 15, 285-292 (2009).
  3. Hütter, G. et al. N. Engl. J. Med. 360, 692-698 (2009).
  4. Katsnelson, A. Nature. doi:10.1038/news.2010.301 (2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment