Berat Badan dan Ledakan Populasi Marmot Karena Perubahan Iklim

Tinuku
(KeSimpulan) Ledakan populasi terkait dengan berat badan dan musim panas. Di Upper East River Valley, Colorado Rocky Mountains, marmot yellow-bellied (Marmota flaviventris) berkembang karena perubahan iklim. Populasi mengejutkan dari tikus ini (tiga kali lipat dalam sepuluh tahun) terkait dengan peningkatan ukuran perut mereka yang mungkin disebabkan oleh perubahan iklim yang mendorong pola hibernasi (hibernation patterns).

Arpat Ozgul, ekolog dari Imperial College London dan rekan-rekannya meneliti rentang 33 tahun atas catatan rinci untuk melacak bagaimana tikus rakus secara berangsur-angsur semakin berat. Hasil temuan yang dilaporkan di Nature kemarin menunjukkan bahwa marmot tumbuh rata-rata sekitar 3,1 kilogram pada tahap pertama pengukuran studi dan 3,4 kilogram pada paruh kedua.

Penyebab dari kenaikan berat badan tidak sepenuhnya jelas, namun data tim menunjukkan bukan karena marmot lebih berat oleh kecenderungan mereka menjadi besar setelah masa kanak-kanak. Sebaliknya, semua marmot menjadi lebih berat karena terpengaruh iklim hangat pada setiap tahun.

"Ada konsensus umum bahwa masa musim panas semakin panjang di daerah itu," kata Ozgul yang sebelumnya melakukan studi dengan hasil bahwa peningkatan suhu membuat marmot menjalani hibernasi dan melahirkan lebih awal pada setiap musim. Ozgul mencoba mengkorelasikan berat dengan pertumbuhan populasi umum yang diamati dari marmot di sebuah stasiun penelitian swasta di Colorado pada setiap musim dari tahun 2000 dan seterusnya.

"Hubungan antara sifat phenotypic (seperti massa tubuh) dan dinamika populasi sangat penting jika anda ingin memahami pengaruh perubahan iklim terhadap populasi," kata Stephanie Jenouvrier, biolog populasi dari Chizé Centre for Biological Studies di Perancis.

Menggunakan model populasi sebelumnya yang hanya menguji pada tumbuhan, tim Ozgul's mengevaluasi dampaknya terhadap ukuran keseluruhan faktor populasi, misalnya massa tubuh marmut individu, laju pertumbuhan, dan kesempatan untuk bereproduksi. Mereka menyimpulkan bahwa hidup yang lebih baik di antara Marmot tua selama musim dingin memiliki pengaruh terbesar dan sifat tahan banting ini sebagian didorong oleh ukuran tubuh yang lebih besar.

Model ini tidak menjelaskan mengapa perubahan bertahap massa tubuh harus diterjemahkan ke dalam ledakan populasi secara tiba-tiba. "Kami menganggap marmot telah melewati ambang batas. Selanjutnya kita harus melihat lebih terinci pada efek lag faktor lingkungan dan kepadatan populasi," kata Ozgul. Faktor-faktor lingkungan tersebut termasuk tutupan salju, panjang musim, suhu dan kelembaban.

"Saya ingin melihat sebidang suhu di situs tersebut selama seluruh periode ini," kata Roelof Hut, peneliti hibernasi dari University of Groningen di Belanda. Hut mengatakan bahwa studi link perubahan yang diamati pada massa tubuh hingga booming populasi, tetapi tidak mencoba untuk menetapkan mengapa marmot semakin gemuk pada tahap awal studi.

Marmot dapat mengubah apa yang mereka makan, bukan hanya rentang waktu di mana mereka makan, kata Marcel Visser, ekolog dari Netherlands Institute of Ecology di Heteren, dalam sebuah artikel News & Views yang menyertai laporan studi di Nature. Salah satu makanan populasi marmut (bunga Bluebell) mulai menurun pada tahun 2000, tepat sebelum populasi marmut melonjak, ini mungkin telah mengubah pola makan Marmot, mendorong makanan berlemak.

Namun kemampuan untuk membentuk berat badan dan tanggapan individu lain untuk mengubah lingkungan dan menghubungkannya dengan perubahan pada tingkat kelompok populasi akan menjadi penting untuk memprediksi dampak perubahan iklim terhadap populasi lainnya, kata Visser.

Ozgul dan koleganya sebelumnya mengidentifikasi perubahan lingkungan yang terkait dengan perubahan ukuran pada domba di kepulauan Scottish St Kilda di mana individu-individu dari setiap generasi lebih kecil dibandingkan leluhur mereka.

Marmot tidak akan dapat menikmati ledakan penduduk secara permanen. Ozgul mengatakan bahwa timnya mencari efek jangka panjang, seperti kekeringan yang menyebabkan kekurangan pangan atau pemangsaan anjing hutan dan rubah yang mungkin mengkoreksi populasi.

"Kebanyakan studi ekologi pada 2-3 tahun dilakukan dalam studi mahasiswa pascasarjana, tetapi hewan-hewan ini hidup 14 tahun. Jika anda mempelajari pengaruh perubahan iklim (secara tipikal) studi jangka pendek tidak akan dapat memberitahu lebih banyak," kata Ozgul.
  1. Ozgul, A. , et al. Nature 466, 482-485 (2010).
  2. Inouye, D.W. , Barr, B. , Armitage, K.B. & Inouye, B.D. Proc. Natl Acad. Sci. USA 97, 1630-1633 (2000).
  3. Ellner, S. P. & Rees, M. Am. Nat. 167, 410-428 (2006).
  4. Visser, M. Nature 466, 445-447 (2010).
  5. Ozgul A. , et al. Science 325, 464-467 (2009).
  6. Laursen, L. Nature. doi:10.1038/news.2010.366 (2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment