Fosil Tengkorak Saadanius hijazensis Arab Saudi Leluhur Semua Primata

Tinuku
(KeSimpulan) Temuan di Arab Saudi menyoroti garis keturunan primata. Dataran tinggi berwarna coklat di atas Mekkah, Arab Saudi akan segera menarik para paleontolog untuk naik haji. Bukit-bukit yang menghadap Laut Merah melahirkan fosil tengkorak berumur 29-28 juta tahun, primata awal yang memiliki dua fitur di antara (apes) kera dan monyet.

Palaeontolog tengkorak diharapkan menjawab pertanyaan tentang kehidupan primata dalam suatu periode yang sampai sekarang telah memperoleh beberapa fosil. Ketika melihat tengkorak dalam suatu ekspedisi untuk mencari fosil ikan paus kuno pada tahun lalu, Iyad Zalmout bertanya-tanya apakah tengkorak tersebut milik ape atau monyet.

"Ternyata bukan ape dan bukan monyet, ini di antara keduanya," kata Zalmout, palaentolog dari University of Michigan di Ann Arbor yang melaporkan di Nature kemarin.

Primata, disebut Saadanius hijazensis, berkarakteristik Propliopithecoidea dari nenek moyang ape dan monyet yang hidup lebih dari 30 juta tahun yang lalu, serta primata yang lebih baru yang hidup 23 juta tahun yang lalu. Saadanius hijazensis tidak memiliki moncong sinus maju seperti ape dan monyet modern yang secara kolektif disebut catarrhines, namun memiliki tabung telinga kurus yang belum sepenuhnya berkembang pada Propliopithecoidea.

"Fosil ini sangat penting karena memiliki tabung yang kurus," kata Erik Seiffert, Palaeoanatomis dari Universitas Stony Brook di New York. Perbandingan tabung dan fitur lainnya seperti gigi dan posisi soket mata pada tengkorak parsial dengan primata lain akan membantu palaeontoloig merekonstruksi cabang-cabang pohon keluarga catarrhine sekitar 30-23 juta tahun yang lalu, kata Seiffert.

Zalmout dan rekan-rekannya mengatakan bahwa Saadanius memiliki nilai "persaingan hipotesis" tentang bagaimana bentuk tengkorak catarrhine berevolusi dari waktu ke waktu. Salah satu argumen (para palaeontolog yang hanya menggunakan fosil sebagai bukti bagaimana spesies peralihan yang tidak diketahui mungkin terlihat) bahwa catarrhines berawal mengembangkan muka panjang. Argumen lain meneliti bentuk spesies hidup seperti owa yang berwajah bulat sebagai petunjuk dan menyimpulkan bahwa muka panjang berkembang kemudian.

"Bukti ini sangat jelas mendukung kandungan palaeontoloig," kata Seiffert.

Eric Delson, palaentolog dari Lehman College of the City University of New York, sebelumnya melakukan analisis yang mendukung bahwa moncong berkembang kemudian. Delson memperingatkan bahwa mengandalkan sepenuhnya pada satu fosil akan berbahaya: Fosil hanya mencerminkan bagian dari keragaman kelompok hewan. Panjang wajah fosil primata juga dapat terdistorsi dari waktu ke waktu oleh tekanan geologi sehingga sulit untuk mempelajari bentuk sejati dari spesies dari hanya beberapa sampel.

Namun, analisis Delson dan para palaentolog lain yang dilakukan pada 1970-an dan 1980-an pada sebagian besar catarrhines hidup dilakukan sebelum temuan fosil perantara seperti Victoriapithecus dan Saadanius. "Akan memacu palaentolog berpikir ulang dan memberi kita satu-satunya data yang kuat untuk jangka waktu dan posisi filogenetik," kata Delson.

Baik Delson, Seiffert dan Zalmout sependapat bahwa mereka ingin menemukan lebih banyak tulang Saadanius untuk mempelajari lebih lanjut tentang primata kuno, termasuk bagaimana bergerak di sekitar lingkungan mangrove di mana tinggal. "Akan menarik untuk mengetahui apakah primata ini mulai turun dari pohon dan mengetahui sesuatu tentang apa yang mereka makan," kata Delson.

Tim peneliti memperkirakan fosil Saadanius berdating 29-28 juta tahun berdasarkan umur yang diketahui pada fosil lainnya yang juga ditemukan di dekatnya. Dating berkorelasi secara kasar dengan interpretasi pada posisi pohon keluarga. Namun, "masih sebagai perhitungan" awal, kata Seiffert, sampai tindak lanjut studi menggunakan palaeomagnetism untuk mengkonfirmasi usia di mana fosil terkubur.

Zalmout yakin bahwa situs akan dirawat oleh pejabat Saudi hingga semua pertanyaan palaeontoloig terjawab. "Pengalaman saya, jika anda menemukan satu primata maka harus primata yang lain di tempat tersebut. Ini menjadi penting untuk melihat keseluruhan cerita fauna di Saudi dan Afrika," kata Zalmout.
  1. Zalmout, I. , et al. Nature 466, 360-363 (2010).
  2. Delson, E. , Andrews, P. in Phylogeny of the Primates. A Multidisciplinary Approach (eds. Luckett, W. P. & Szalay, F. S.) 405-446 (Plenum, 1975).
  3. Harrison, T. Folia Primatol. 50, 59-108 (1988).
  4. Laursen, L. Nature. doi:10.1038/news.2010.354 (2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment