Mikrofosil Organisme Multiseluler Awal Ditemukan di Gabon Afrika Barat

Tinuku
(KeSimpulan) Fosil berumur 2 milyar tahun mengungkap tahapan menuju multiseluleritas. Kuburan fosil yang ditemukan di Gabon, Afrika Barat, berasal dari 2.100.000.000 tahun yang lalu. Palaeontolog yang melaporkan temuan di Nature pekan lalu mengatakan bahwa fosil merupakan tanda-tanda kehidupan purba multisel. Fosil putative multicellular organisms yang pernah ditemukan di India hampir setengah miliar tahun lebih muda dan tidak sampai pada periode Cambrian yang dimulai sekitar 542.000.000 tahun yang lalu.

"Makrofosil kami muncul ke dunia murni berasal dari mikroba. Ini masalah besar karena ketika anda pada akhirnya mendapatkan organisme besar akan mengubah sistem biosfer karena mereka berinteraksi dengan mikroba satu sama lain," kata Stefan Bengtson, palaeozoolog dari Swedish Museum of Natural History di Stockholm.

Ketika perubahan organisme disusunan secara biologis dan kimiawi di lingkungan terdekatnya, maka kemistri lingkungan hidup juga terpengaruh. Palaeontolog mengatakan bahwa peningkatan oksigen atmosfer global pada sekitar 750 juta tahun yang lalu memicu peningkatan berkembangnya hewan multisel pada periode Cambrian. Demikian pula pada 2,4 miliar tahun lalu yang disebut sebagai Great Oxidation Event memungkinkan organisme hidup di Gabon, kata Bengtson.

"Fosil-fosil yang luar biasa besar telah mereka temukan. Biasanya untuk menemukan fosil dari periode ini banyak waktu yang anda butuhkan untuk mengurai dan melihat di bawah mikroskop," kata Philip Donoghue dari University of Bristol, Inggris.

Tim beranggota 21 peneliti memeriksa struktur dan kandungan kimia fosil menggunakan micro-computed tomography dan mass spectrometry yang menyimpulkan bahwa spesimen bukan formasi batu tetapi sisa-sisa organisme hidup. Fosil fleksibel dengan flaps berjerumbai di sekitar tubuh mereka dengan panjang 7-120 milimeter. Peneliti menyimpulkan bahwa organisme ini terdiri dari beberapa sel.

Menurut tim, organisme kemungkinan koloni bakteri yang menandakan satu sama lain membentuk struktur rumit. Mats bakteri terikat dengan sedimen selama jutaan tahun sebelum fosil Gabon. Namun, spesimen Gabon baru ini terlihat berbeda. "Ini bukan agregasi bakteri ikatan sedimen. "Mereka tiga-dimensi yang menunjukkan multicellularity dikoordinasikan pada waktu setelah Great Oxidation," kata Donoghue.

Iñaki Ruiz-Trillo, genetikawan evolusi dari University of Barcelona di Spanyol mengatakan bahwa gen kunci untuk adhesi sel dan komunikasi sel ada sebelum multiseluleritas muncul. Salah satu contoh timnya menemukan bahwa spesies Amastigomonas, Flagelata bersel satu dari garis keturunan purba memiliki sinyal gen.

Lebih dari selusin garis keturunan tampaknya secara mandiri membuat transisi hewan uniseluler ke multisel seperti tumbuhan dan jamur yang paling dikenal luas. Organisme Gabon mungkin 'eksperimen' paling awal untuk multiseluleritas, kata Bengtson.

Klasifikasi fosil Gabon menjadi masalah rumit karena mereka tidak menyerupai apapun atau fosil organisme hidup. "Analog modern mungkin hanya menyebut koloni mikroba, tetapi cenderung sangat kecil dan tipis, sementara ini besar, tebal dan kokoh. Mereka sangat mungkin mewakili eukaryote yang cenderung lebih tahan dan struktur yang lebih besar," kata Bengtson. Eukaryote (seperti hewan dan ganggang) memiliki sel dengan inti yang terikat membran. Tetapi tidak mungkin pada fosil sini.

Fosil mengandung sisa-sisa senyawa sterol yang biasanya ditemukan pada dinding sel eukaryote. Ditambah dengan ukuran dan kompleksitas, bukti ini mendukung afinitas eukaryotic, kata Abderrazak El Albani dari University of Poitiers di Perancis.

Namun, sterol dan molekul organik lain yang terlarut dapat bermigrasi ke dalam sedimen yang lebih tua dari organisme yang terkubur di kemudian hari. Dan jika ini adalah eukaryote, mereka akan sangat jauh lebih tua daripada anggota yang dikenal, kata Donoghue. "Kenapa mengambil risiko dan berpendapat bahwa sterol merupakan indikasi eukaryote? Kita harus mengambil pandangan yang paling pesimis," kata Donoghue.

Bengtson mengantisipasi perdebatan. "Macrofossils awal selalu menjadi topik perdebatan," kata Bengston.

Adolf Seilacher, palaentoloig dari Yale University di New Haven, Connecticut, menyebut spesimen Gabon sebagai "pseudo-fosil", selain menafsirkan sebagai agregasi dari mineral pyrite yang tumbuh dalam berbagai bentuk tergantung pada keadaan dan perubahan dari sedimen di sekitarnya.

Pada tahun 1998, Seilacher melaporkan temuan fosil eukaryote dari 1.100.000.000 tahun yang lalu. Mengacu pada fosil yang pernah ditemukan, Seilacher mengatakan, "Sekarang saya yakin bahwa temuan saya sendiri adalah hewan pertama dari apa disebut pseudo-fosil juga."

Selama tidur, fosil di Gabon tidak berubah menjadi mineral tambang, El Albani mengatakan bahwa dirinya akan segera kembali menggali tanah lebih lanjut dan menikmati keindahan kehidupan.
  1. El Albani, E. et al. Nature 466, 100-104 (2010). doi:10.1038/nature09166
  2. Bengston, S. et al. Proc. Natl Acad. Sci. USA 106, 7729-7734 (2009)
  3. Sébe-Pedrós, A. et al. Proc. Natl Acad. Sci. USA 107, 10142-10147 (2010)
  4. Seilacher, A., Bose, P. K. & Pflüger, F. Science 282, 80-83 (1998)
  5. Maxmen, A. Nature. doi:10.1038/news.2010.323 (2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment