Perilaku Homoseksualitas Terkait Pola Pengasuhan Orang Tua

Tinuku
(KeSimpulan) Induk burung yang mencurahkan lebih sedikit waktu bagi anak-anak mereka memperbesar kemungkinan terjadinya perilaku seks antar sesama. Burung yang menghabiskan lebih sedikit waktu pengasuhan lebih sering menyebabkan perilaku homoseksual, demikian hasil sebuah penelitian yang dipublikasikan pekan ini di jurnal Animal Behaviour.

Temuan ini menawarkan penjelasan yang mungkin terjadinya evolusi homoseksualitas bahwa orang tua yang mencurahkan lebih sedikit waktu bagi anak-anak mereka memiliki lebih banyak waktu dan energi bagi mereka untuk berinteraksi dengan anggota jenis kelamin yang sama saat memproduksi keturunan.

Para biolog berpikir bahwa homoseksualitas akan merugikan pada tingkat evolusi karena akan mengalihkan perhatian hewan dari usaha seksual yang mampu menghasilkan keturunan. Lebih dari 130 jenis burung berpartisipasi dalam aktivitas homoseksual. Pada Laysan albatross (Phoebastria immutabilis) misalnya, sampai dengan 31% pasangan perempuan-perempuan dalam beberapa populasi, dan 20% graylag geese (Anser anser) adalah pasangan pria-pria. Para ilmuwan berjuang untuk menjelaskan pola evolusi tersebut.

Tetapi homoseksualitas mungkin nilai yang tidak mahal bagi burung yang banyak memiliki kesempatan kawin karena tuntutan orangtua lebih rendah, kata Geoff MacFarlane, ekolog dari University of Newcastle di Callaghan, Australia. Survei literatur menyatakan bahwa rendahnya pengasuhan terhadap anak-anak perempuan atau laki-laki menyebabkan semakin tinggi partisipasi dalam perilaku homoseksual.

Vincent Savolainen, biologi dari Imperial College London, mengatakan bahwa perilaku homoseksual kadang-kadang dianggap sebagai Darwinian paradox karena tidak menghasilkan keturunan. "Ini adalah salah satu dari beberapa studi yang menjelaskan perilaku homoseksual dari sudut pandang evolusi," kata Savolainen.

Setelah menjelajahi puluhan buku, jurnal dan database, tim yang dipimpin MacFarlane menganalisis catatan dari 93 jenis burung yang memperlihatkan perilaku homoseksual di alam liar. Mereka mengidentifikasi bahwa perilaku seks sesama dan ikatan pasangan yang lazim sebesar 38% dalam spesies ini menampilkan perilaku seksual perempuan-perempuan dan sebanyak 82% perilaku sesama laki-laki.

Dalam beberapa spesies hampir 1/3 dari semua upaya seksual adalah perempuan-perempuan dan sampai 2/3 jantan-jantan. Tapi secara keseluruhan aktivitas homoseksual terhitung kurang dari 5% dalam pertemuan seksual pada spesies yang mereka pelajari.

Spesies pada burung menunjukkan berbagai strategi orangtua dari pengasuhan yang didominasi jantan dan pengasuhan yang didominasi betina. Tim peneliti mencetak setiap spesies sesuai dengan kontribusi relatif dari laki-laki dan perempuan dalam tugas-tugas orangtua, seperti membangun sarang, makan dan perlindungan. Anak perempuan yang mendapat banyak pengasuhan tidak menunjukkan perilaku homoseksual. Sebaliknya, perempuan yang kurang pengasuhan menunjukkan tingkat homoseksual yang lebih tinggi. Demikian pula terjadi pada jantan.

Para penulis menunjukkan bahwa tugas orangtua berpengaruh pada kemungkinan yang lebih besar pada individu untuk berinteraksi secara seksual dengan beberapa pasangan, termasuk jenis kelamin yang sama. Tetapi analisis tidak dapat menentukan penyebab dari homoseksualitas. Burung mungkin terlibat dalam perilaku homoseksual dalam berlatih mencarai pasangan, mengurangi ketegangan sosial atau memperkuat dominasi. Ataukah perilaku tersebut membantu mereka dalam membentuk aliansi yaitu berbagi tanggung jawab atau mendapatkan akses sumber daya.

Tidak jelas apakah homoseksualitas adalah produk evolusi fungsi adaptif ataukah bukan. "Penelitian ini menunjukkan bahwa homoseksualitas menetap dan tidak sama dengan usaha adaptif," kata Allen Moore, genetikawan evolusioner dari University of Exeter di Penryn, Inggris.

Juga tidak jelas apakah temuan ini dapat diekstrapolasi untuk kelas-kelas hewan lain seperti ikan dan mamalia. Namun, tim MacFarlane menemukan hasil yang serupa pada primata bahwa beberapa pasangan yang terlibat dalam aktivitas homoseksual menguatkan hipotesis bahwa poligami memungkinkan homoseksualitas terjadi tanpa mempengaruhi keberhasilan reproduksi. "Langkah logis berikutnya adalah melihat apakah pola serupa terjadi di seluruh spesies vertebrata lain," kata MacFarlane.
  1. MacFarlane, G.R. , Blomberg, S.P. & Vasey, P.L. Anim. Behav. doi:10.1016/j.anbehav.2010.05.009 (2010).
  2. Weaver, J. Nature. doi:10.1038/news.2010.344 (2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment