Telur Dinosaurus Dierami dari Ventilasi Geothermal

Tinuku
(KeSimpulan) Neosauropods mencari ventilasi geothermal untuk menjaga telur tetap hangat. Pemahaman periode Cretaceous menunjukkan bahwa beberapa dinosaurus suka bersarang di situs beruap yang dipanaskan oleh ventilasi panas bumi. Sebuah makalah di Nature Communications kemarin mengatakan bahwa dinosaurus tertentu secara periodik kembali ke areal panas bumi untuk bersarang dengan deposit telur lebih dari 100 juta tahun yang lalu.

Palaeontolog menemukan situs sarang dinosaurus di Sanagasta Valley, provinsi La Rioja, Argentina barat laut. Ini pertama kali secara definitif yang menunjukkan bahwa beberapa neosauropods (kelompok yang mencakup Chubutisaurus insignis) bersarang dengan alasan tertentu, seperti burung migran yang banyak dilakukan pada hari ini.

"Sebelumnya kami sama sekali tidak memiliki informasi di mana dinosaurus memilih lingkungan untuk bersarang. Ini memberikan kita pemahaman yang lebih baik tentang biologi dinosaurus," kata Romain Amiot, palaeontolog dari University of Lyon di Perancis yang tidak terlibat dalam penelitian.

Musim panas lalu, Gerald Grellet-Tinner, asosiator peneliti di Field Museum, Chicago, Illinois, dan Lucas Fiorelli, mahasiswa doktoral dari Regional Research Center for Scientific Investigation and Technology Transfer (CRILAR) di La Rioja, memetakan 80 telur yang ditemukan di Sanagasta pada kedalamam 3 meter di saluran panas bumi.

Analisa geokimia mineral sedimen dalam telur memungkinkan tim memperkirakan periode inkubasi 1-2 bulan dengan 60-100°C. Kadar unsur dalam kulit telur dan sedimen cocok terkait seperti mineral yang hadir selama siklus Gondwanic hydrothermic yaitu periode tertentu ventilasi panas bumi yang dimulai pada 134.000.000 tahun yang lalu dan berakhir pada 110.000.000 tahun yang lalu.

Tim peneliti menemukan bahwa telur yang besar dan tebal terkupas ketika baru saja diletakkan, sebuah adaptasi yang telah berevolusi untuk memungkinkan mereka aman dieram di lingkungan asam dekat air mancur geyser. Telur-telur berdiameter 21cm dan ketebalan cangkang berkisar 1,29-7,54 milimeter menunjukkan lebih tipis dalam rentang waktu.

"Kami pikir asam dalam aliran uap air dari panas bumi mencuci ke dalam telur selama inkubasi, akhirnya membuat mereka lebih tipis bagi bayi agar keluar," kata Grellet-Tinner.

Sebagian besar sarang rata-rata berisi 3-12 telur, tetapi beberapa sarang hingga 35 telur, tersebar hingga 2 meter persegi. Telur-telur ditumpuk dalam dua baris dengan lebih banyak telur pada jajaran atas (berbentuk kerucut terbalik).

Jumlah lebih banyak telur yang ditemukan di beberapa sarang menunjukkan bahwa dinosaurus meningkatkan harapan hidup spesies, kata Grellet-Tinner. Seperti buaya modern melakukannya ketika menunpuk sarang telur di lumpur dan diinkubasi oleh sinar matahari. Namun, mengingat bahwa pergeseran geologis dapat memotong aliran uap maka situs juga sangat rentan.

Tidak ada fosil tulang atau embrio di situs. Para peneliti masih mencari fosil untuk meyakinkan dalam mengidentifikasi spesies pembuat sarang tersebut. Saat ini, jenis kalkun yang disebut megapode (Megapodius prichardii) memiliki tipe bersarang yang sama yaitu di liang yang dipanaskan secara vulkanik di pulau Niuafo'ou, Tonga.

Telur dinosaurus ditemukan hampir di setiap benua, namun Argentina memiliki catatan telur terkaya, bahkan telah ditemukan fosil telur dengan embrio di dalam, situs Auca Mahuevo di selatan provinsi La Rioja Neuquén memberikan data sangat besar. Telur Auca Mahuevo (diameter berkisar 12-14cm) berasal dari neosauropod titanosaurus yang bisa mencapai panjang 20 meter.

Situs Sanagasta yang baru ditemukan terdiri dari 300.000m2 bidang saluran panas bumi di atas teras granit. Sistem geyser yang serupa dengan situs di Yellowstone National Park, Wyoming.

"Ini temuan menakjubkan, menyingkap perilaku bersarang yang tidak terduga dan sangat spesifik," kata Diego Pol, palaentolog dari Egidio Feruglio Palaeontological Museum di Trelew, Argentina. "Telur kemungkinan besar milik sauropoda, herbivora yang paling umum periode Cretaceous di Amerika Selatan. Titanosaurs adalah sauropoda yang survive selama Cretaceous," kata Pol.
  1. Grellet-Tinner, G. & Fiorelli, L.E. Nat. Commun. doi:10.1038/ncomms1031 (2010)
  2. Dalton, R. Nature. doi:10.1038/news.2010.319 (2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment