Fosil Daun Gigitan Semut Camponotus Leonardi dan Jamur Ophiocordyceps unilateralis

Tinuku
(KeSimpulan) Catatat serangan semut purba. Fosil daun menanggung tanda luka bekas gigitan serangga yang terinfeksi oleh parasit jamur. Para peneliti mengklaim telah mengidentifikasi bukti pertama 'semut zombie' dalam catatan fosil daun.

Peneliti mencocokan luka aneh pada fosil daun berdating 48 juta tahun lalu dengan gigitan kematian yang dibuat oleh semut modern yang terinfeksi parasit jamur. Hasil penelitian yang dipublikasikan kemarin di Biologi Letters menganalisis beberapa bagian kelompok fosil daun dan tanaman terbaru yang digali di Messel Pit, Rhine Rift Valley, Jerman. Sebuah kawasan yang terkenal karena temuan Ida pada tahun 2009, fosil primata yang terawetkan dengan baik sebagai nenek moyang manusia.

Awalnya, fosil daun dan tanaman tidak menarik minat banyak peneliti dan disimpan selama bertahun-tahun di Smithsonian Institution's National Museum of Natural History di Washington DC. Ide meneliti catatan fosil sebagai bukti khas bekas gigitan datang dari Daud Hughes, ekolog behavioural dari Harvard University di Cambridge, Massachusetts, saat sedang mengikuti program sarjana palaeobotany.

Hughes baru saja kembali dari lapangan di Thailand selatan di mana dia mempelajari parasit jamur yang menginfeksi semut carpenter dan upaya untuk mengendalikan perilaku mereka. "Apakah ada korelasi parasit ini untuk melihat perkembangan jauh lebih awal dalam sejarah bumi?" kata Hughes.

Jadi Hughes menemui Conrad Labandeira, palaeoekolog di Smithsonian's National Museum of Natural History. Ternyata Labandeira juga melihat tanda-tanda aneh pada fosil daun dan telah dipusingkan oleh spesimen tersebut selama bertahun-tahun. "Ini adalah penemuan kebetulan ketika sebuah proyek tentang ekologi serangga modern yang berseberangan dengan program paleontologi yang sudah lama dilakukan di Messel Shale," kata Labandeira.

Di Thailand, Hughes telah melihat daun bekas gigitan yang dihasilkan oleh semut carpenter, Camponotus Leonardi, yang terinfeksi dan dimanipulasi oleh jamur, Ophiocordyceps unilateralis. Di dalam hubungan parasit-inang, jamur memanipulasi perilaku serangga sehingga gigitan semut ke bawah daun. Kondisi di bawah daun dengan hati-hati dipilih untuk mengoptimalkan pertumbuhan jamur. Setelah gigitan semut ke dalam vena daun, jamur akan mereproduksi dengan cepat dengan hifa jamur berserabut tebal. Jamur kemudian melepaskan spora untuk lebih menginfeksi semut.

Hughes tidak menganggap gigitan dilakukan oleh pihak hal lain (seperti perilaku pemotongan urat yang ditunjukkan oleh beberapa semut lain atau kumbang selama makan) karena lokasi pada urat daun dan bentuk tanda sangat tidak biasa. "Ini bukan perilaku normal semut dalam menggigit daun karena tidak memiliki nilai gizi nyata bagi semut dan sesungguhnya dapat menjadi racun dalam beberapa spesies tanaman," kata Hughes.

Peneliti lain sependapat. "Pola khas dari bekas-bekas gigitan dan asosiasi mereka dengan urat daun sebenarnya cukup mencolok dan tidak biasa dalam catatan fosil daun yang selama ini ditemukan. Ini memberitahu kita untuk menemukan sesuatu yang signifikan tentang evolusi dalam interaksi antar organisme dan ketergantungan mereka," kata Paul Kenrick, kepala peneliti di Natural History Museum's Department of Palaeontology di London.

Bersama tanda yang ditinggalkan oleh semut yang sekarat tersebut maka kompleksitas hubungan semut-parasit harus berevolusi setidaknya pada 48 juta tahun yang lalu, kata Kenrick.

"Perburuan dalam mencari sampel Messel Shale memberi contoh-contoh lain untuk bekas gigitan. Mungkin ada banyak spesimen lain dari situs ini oleh lembaga penelitian di seluruh dunia untuk menunggu dan dilihat dengan kejelian mata," kata Labandeira.
  1. David P. Hughes (Department of Organismic and Evolutionary Biology, Harvard University, Cambridge, MA 02138, USA; School of Biosciences, University of Exeter, Exeter EX4 4QJ, UK; Department of Entomology, Penn State University, University Park, PA 16802, USA), Torsten Wappler (Steinmann Institute, University of Bonn, 53113 Bonn, Germany); Conrad C. Labandeira (Department of Paleobiology, National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, Washington, DC 20013, USA; Department of Entomology, University of Maryland, College Park, MD 20742, USA). Ancient death-grip leaf scars reveal ant–fungal parasitism. Biology Letters. doi:10.1098/rsbl.2010.0521 (2010).
  2. Andersen, S. B. et al. Am. Nat. 174, 424-433 (2009).
  3. Larkin, K. Nature. doi:10.1038/news.2010.415 (2010).
  4. Laursen, L. Nature. doi:10.1038/news.2009.494 (2009).
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment