Kesamaan Genetik dan Budaya Pada Simpanse Liar

Tinuku
(KeSimpulan) Tiga puluh lima tahun yang lalu, para peneliti mempelajari simpanse di alam bebas dan melihat bahwa komunitas bertetangga menunjukkan perilaku pengasuhan berbeda yang tidak dapat dijelaskan oleh perbedaan dalam lingkungan mereka. Peneliti berpendapat bahwa ada keanehan perilaku yang dipelajari atau "budaya". Peneliti menggunakan perangkat pencatat kelompok spesifik dan perilaku berpacaran yang juga tidak tampak dalam lingkungan.

Tapi dalam sebuah penelitian terbaru, peneliti mengatakan bahwa beberapa perilaku mungkin menjelaskan genetik yang sama. Sebelum tahun 1975-an, beberapa peneliti telah mengamati komunitas yang berbeda dari simpanse liar dan tidak ada seorang ilmuwan pun yang mengakui bahwa ada perbedaan-perbedaan perilaku. Sejak itu para peneliti berdebat tentang apakah simpanse benar-benar memiliki budaya.

Pendukung budaya melaporkan penelitian di Nature pada tahun 1999 yang mendokumentasikan 39 aspek varian perilaku budaya yang sering diamati pada beberapa komunitas dan tidak pernah terlihat dalam komunitas yang lain. Semenjak itu mulai bermunculan laporan penelitian tentang budaya spesies lain dan perdebatan tanpa ujung juga bermunculan.

Studi baru yang dilaporkan di Proceedings of the Royal Society B menguji sekuens parsial DNA mitokondria (mtDNA) simpanse liar di sembilan komunitas yang berbeda. DNA ini berguna karena hanya diwariskan dari ibu dan hanya simpanse betina yang biasanya pindah ke komunitas baru. Anggota tim meneliti hubungan antar komunitas dan 38 dari 39 varian budaya yang didokumentasikan dalam laporan sebelumnya.

Penelitian ini tidak mencari link perilaku untuk gen spesifik atau bahkan menyimpulkan bahwa ada penjelasan genetik. Sebaliknya, peneliti menilai apakah perbedaan genetik dapat dikesampingkan sebagai penjelasan untuk setiap perilaku. Perbedaan ini mungkin tampak halus, tetapi hipotesis tentang budaya hewan mendorong persyaratan pertama yaitu tidak termasuk dalam kekuatan ekologis sebagai penjelasan untuk perilaku. Penelitian ini menambah satu lagi tantangan untuk memperjelas sebelum membuat klaim tentang budaya.

"Saya tidak punya kuda pacuan. Saya melihat beberapa studi yang mengklaim pertanyaan ini dan saya telah mengumpulkan data secara cukup untuk berbicara dengan penjelasan yang berbeda," kata peneliti utama Kevin Langergraber, ekolog molekuler di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman. Temuan diperkirakan akan mendapat reaksi bermacam-macam dalam bidang kajian yang kontroversial ini.

Peneliti studi pertama yang melaporkan di Nature pada 1999, Andrew Whiten, psikolog evolusi dari University of St. Andrews di Inggris yang tidak berkontribusi pada studi baru mengatakan bahwa Langergraber dan rekan-rekannya telah melakukan "studi yang sangat hati-hati dan teliti."

Tetapi Whiten mengatakan bahwa mereka telah memberi bobot terlalu banyak terkait "hubungan antara perbedaan perilaku dan genetik yang mereka temukan." Secara khusus, Whiten berpendapat bahwa sekuens mtDNA adalah wilayah kecil serta relatif sedikit dalam perbedaan perilaku yang didokumentasikan sebagai "ukuran keseluruhan yang mentah" untuk mendapatkan perbedaan genetik dan perilaku secara benar.

Whiten lebih jauh dengan beberapa eksperimen yang dilakukan dengan simpanse tidak berkorelasi dengan kecanggihan secara jelas dalam keterampilan social learning, terutama dalam penggunaan alat. "Mengingat semua kita tahu tentang sosial simpanse dan individual learning, tampaknya tidak mungkin dimiliki simpanse, karena konstitusi genetik mereka, tidak dapat diobservasi untuk mempelajari semua jenis penggunaan alat yang terlihat di Afrika," kata Whiten.

Frans de Waal, etnolog dari Emory University di Atlanta memiliki waktu lebih dalam studi baru. Pada tahun 1999, de Waal menulis sebuah editorial di Nature yang mengatakan bahwa Whiten dan koleganya telah memberikan suatu "catatan yang sangat mengesankan bahwa akan sulit mempertahankan ape untuk keluar dari domain budaya." De Waal mengatakan bahwa studi baru, "tidak meremehkan konsep budaya, tetapi menambah komplikasi."

De Waal mencatat individu-individu dari suatu spesies sering memiliki perilaku yang sama yang tidak dikendalikan oleh gen. "Tidak seorang pun akan menganggap gen semut dan simpanse dengan cara yang sama, tidak ada seorang pun berasumsi bahwa beberapa manusia memiliki gen pisau-dan-garpu dan gen yang lain sumpit," kata de Waal.

Namun, de Waal mengatakan temuan baru mungkin akan memancing diskusi ‘nature vs nurture’. "Jika kita hanya menerima bahwa simpanse memiliki kebiasaan budaya yang diartikan sebagai social learning dan kemudian menambahkan diskripsi genetik, kita sebenarnya melihat lebih dekat dengan apa yang kita ketahui tentang manusia, dan debat yang lebih luas yang belum kita ketahui sebelumnya," kata de Waal.

Langergraber, yang mempelajari evolusi kerjasama dan social relationships pada simpanse liar, mencatat bahwa ada bukti yang meyakinkan selain kutilang, gagak dan gorila bahwa beberapa perilaku (seperti belajar menggunakan alat) memiliki dasar-dasar genetik, sama halnya dengan manusia. "Ada beberapa hal yang tidak pernah anda pikir determinasi genetik lebih tinggi diwariskan," kata Langergraber. Gen, sebagai contoh, tampak berperan apakah seseorang adalah ekstrovert atau introvert untuk kenyamanan.

Tetapi Langergraber menekankan bahwa pada simpanse liar, terutama karena perempuan sering bermigrasi ke komunitas yang berbeda, maka akan sangat sulit untuk menyortir genetik dari budaya. "Mereka tidak bergerak hanya oleh gen mereka. Jadi, anda bisa mendapatkan korelasi positif antara kesamaan genetik dan perilaku bahkan jika hal tersebut dalam 100% budaya," kata Langergraber membuat titik lebih konservatif, "Anda tidak dapat menyingkirkan bahwa itu genetik."

Kevin E. Langergraber, Christophe Boesch, Grit Schubert, Linda Vigilant (Primatology Department, Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Deutscher Platz 6, Leipzig 04103, Germany); Eiji Inoue (Graduate School of Science, Kyoto University, Kyoto 606-8502, Japan); Miho Inoue-Murayama (Wildlife Research Center, Kyoto University, Kyoto 606-8203, Japan); John C. Mitani (Department of Anthropology, University of Michigan, 101 West Hall, 1085 South University Avenue, Ann Arbor, MI 48109-1107, USA); Toshisada Nishida (Japan Monkey Center, 26 Kanrin, Inuyama 484-0081, Japan); Anne Pusey (Department of Evolutionary Anthropology, Duke University, Durham, NC 27708-0680, USA) Vernon Reynolds (School of Anthropology, Oxford University, 51 Banbury Road, Oxford OX2 6PE, UK); Richard W. Wrangham (Department of Human Evolutionary Biology, Harvard University, Peabody Museum, 11 Divinity Avenue, Cambridge, MA 02138, USA) and Emily Wroblewski (Department of Ecology, Evolution, and Behavior, University of Minnesota, St Paul, MN 55108, USA). Genetic and ‘cultural’ similarity in wild chimpanzees. Proceedings of the Royal Society B. Doi:10.1098/rspb.2010.1112
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment