Apakah Pemalas dan Pekerja dapat bekerjasama dengan maksimal

Tinuku
(KeSimpulan) Preman menguasai tempat dengan tidak mengambil bagian mereka. Berderma baik bagi masyarakat, demikian saran eksperimen pada ragi.

Tidak hanya simbol kemakmuran, tetapi juga dapat membuat hidup lebih baik bagi orang lain, sebuah studi baru mengungkapkan kerjasama dalam ragi. Kebijaksanaan umum dan penelitian ilmiah tentang kerjasama sepakat bahwa dunia adalah tempat yang jauh lebih baik ketika semua orang berusaha dengan jerih payah sendiri, kata Laurence Hurst, biolog evolusi dari University of Bath di Inggris dan kolega. Gagasan yang dikenal sebagai konspirasi merpati, "sebagian besar belum teruji karena belum begitu jelas," kata Hurst.

Tetapi asumsi lama yang dipegang bahwa terlalu banyak pemalas akan merusak kaldu milik semua orang ternyata tidak benar untuk semua kasus. Dalam sebuah penelitian baru yang dilaporkan 14 September di PLoS Biology, Hurst dan koleganya menunjukkan bahwa komunitas campuran ragi bekerja keras dan mendorong budaya di mana semua ragi berkontribusi sama.

Dalam studi baru, budaya ragi ditumbuhkan dalam kaldu berisi sucrose (Bahasa Indonesia: sukrosa) sebagai sumber gula. Untuk makan sucrose, pertama ragi harus mengiris molekul sucrose agar lebih mudah dicerna glukosa dan molekul fructose (fruktosa) dengan enzim yang disebut invertase. Dalam populasi liar, ragi pembuat invertase hidup berdampingan dengan ragi yang tidak membuat enzim karena harus bergantung pada para pembuat invertase untuk memotong makanan.

Kebanyakan model kerjasama memprediksi bahwa percampuran budaya dari kerjasama ragi penghasil invertase "cooperator" dan non-penghasil "cheater" tidak akan saling membayar ongkos sebagaimana masyarakat ragi yang memproduksi enzim sendiri. Tetapi ketika Craig R. MacLean dari University of Oxford dan Duncan Greig dari University College London dan Max Planck Institute for Evolutionary Biology di Plön, Jerman, menumbuhkan budaya kedua jenis ragi (piring berisi campuran ragi "cooperator" dan ragi "cheater") tumbuh lebih cepat dan lebih padat daripada jika hanya dilakukan ragi pembuat invertase saja.

Hasilnya, peneliti menggaruk-garuk kepala dan bertanya, "Bagaimana ini bisa terjadi?" kata Ivana Gudelj, biolog sistem matematika dari Imperial College London.

Gudelj dan mahasiswa pascasarjana Ayari Fuentes-Hernandez membuat model matematika yang hasilnya membingungkan. Ragi penumpang dalam kultur campuran tampaknya membantu rekan-rekan mereka yang memproduksi enzim menggunakan sucrose lebih efisien dengan secara tidak langsung memperlambat konversi menjadi glukosa.

Hal ini penting karena ragi menggunakan tingkat glukosa dan bukan sucrose sebagai cara untuk mengontrol berapa banyak invertase diproduksi. Jadi dengan sendirinya, ragi penghasil enzim membuat banyak invertase dan dengan cepat membakar menggunakan pasokan makanan mereka dan membatasi pertumbuhan. Dengan mengambil semua glukosa ekstra, ragi "cheater" membantu membatasi harga mahal produksi invertase oleh ragi lainnya yang mendorong lebih efisien penggunaan sucrose, meskipun pertumbuhan lambat tetapi mantap.

Model memperkirakan bahwa cheater dapat membantu dengan tiga ketentuan yang berlaku: 1) Sumber daya saat melimpah akan menjadi sia-sia, 2) Organisme tidak dapat memprediksi kuantitas kerjasama yang dibutuhkan, dan 3) Kooperator mendapatkan bagian yang lebih besar sumber daya daripada apa yang dilakukan cheater. Kondisi tersebut mungkin berlaku untuk berbagai situasi dunia nyata, kata para peneliti.

"Saya rasa ini eksperimen berguna," kata Laurent Keller, biolog evolusi dari University of Lausanne di Swiss yang tidak terlibat dengan penelitian. Kebanyakan penelitian kerjasama dilakukan dalam kondisi laboratorium terbatas yang mungkin tidak mempunyai banyak persamaan dengan perubahan kondisi di alam.

Studi baru menunjukkan bahwa perubahan kondisi lingkungan dapat mengubah organisme tentang cara berinteraksi satu sama lain, bahkan mungkin mengubah preman menjadi kooperator pada kondisi tertentu. "Interaksi ini bisa lebih kompleks dari yang pernah dipikirkan orang," kata Keller.

Sebagai contoh, para peneliti menunjukkan di dalam termos, glukosa tidak menyebar jauh dari ragi pembuat enzim sehingga kooperator mendapatkan sendok besar gula dari yang dilakukan nonprodusen. Ketika termos terguncang, glukosa lebih merata dan keuntungan yang didapat cheater hilang.

R. Craig MacLean (Department of Zoology, University of Oxford, Oxford, United Kingdom), Ayari Fuentes-Hernandez (Department of Biology and Biochemistry, University of Bath, Bath, United Kingdom; Department of Mathematics, Imperial College London, London, United Kingdom), Duncan Greig (Research Department of Genetics, Evolution, and Environment, University College London, London, United Kingdom; Max Planck Institute for Evolutionary Biology, Plön, Germany), Laurence D. Hurst (Department of Biology and Biochemistry, University of Bath, Bath, United Kingdom) and Ivana Gudelj (Department of Mathematics, Imperial College London, London, United Kingdom). A Mixture of “Cheats” and “Co-Operators” Can Enable Maximal Group Benefit, PLoS Biology 8(9): e1000486. DOI:10.1371/journal.pbio.1000486
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment