Langsung ke konten utama

Klaim Nanodiamond Komet Sedimen Carbon spherules Episode Dingin Younger Dryas

loading...
bisnis online
(KeSimpulan) Studi sedimen menyanggah efek penyebab dingin purba. Teori kontroversial yang menyatakan dampak komet (yang menghantam Bumi menyebabkan iklim dingin secara tiba-tiba pada 13.000 tahun lalu) mendapat pukulan serius, demikian hasil analisis dating sedimen para ilmuwan.

Episode dingin yang dikenal dengan istilah Younger Dryas bertepatan dengan hilangnya peradaban manusia Clovis di Amerika Utara dan para mamalia besar buruannya. Kebanyakan ilmuwan berpikir bahwa snap dingin dipicu oleh banjir air segar dari sirkulasi lautan Atlantik utara yang terganggu.

Tetapi sebuah teori alternatif yang mengklaim sedimen pada waktu itu mengandung sejumlah bukti (termasuk carbon spherules and iridium) implikasi dampak komet besar sebagai pelakunya. Proposisi ini menarik karena klaim menjelaskan keduanya baik perubahan iklim yang cepat dan kematian tiba-tiba peradaban manusia dan hewan pada saat itu.

Sejak itu serangkaian laporan penelitian menantang setiap galian bukti, kecuali satu hal yaitu nanodiamond yang konon diciptakan oleh kejutan dampak komet.

Sekarang, Tyrone Daulton, materiolog dari Washington University di St Louis, Missouri, dan rekan-rekannya mengatakan bahwa nanodiamond ini sebenarnya agregat dari material-material karbon graphene dan oksida lainnya. "Saya yakin bahwa laporan sebelumnya menyesatkan. Jika Anda tidak segera menebusnya, Anda membodohi diri sendiri untuk memikirkan berlian pada saat tidak ada," kata Daulton.

Penelitian yang dilaporkan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), "adalah analisis yang sangat meyakinkan oleh kimiawan level dunia", kata Peter Heaney, mineralog dari Pennsylvania State University di University Park yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Tetapi peneliti utama dari dua laporan dampak komet sebelumnya, Douglas Kennett, arkhaeolog dari University of Oregon di Eugene, mengatakan bahwa studi baru ini "cacat fundamental". "Klaim bahwa kami misidentifikasi berlian adalah tuduhan palsu dan tidak benar," kata Kennett, meskipun dirinya menolak untuk menetapkan keberatannya.

Laporan Daulton yang memanas berasal dari studi yang dilakukan Nicholas Pinter, geoarkhaeolog dari Southern Illinois University di Carbondale dan rekan-rekannya yang dipublikasikan di PNAS. Pinter dan rekannya Andrew Scott dari Royal Holloway, University of London di Egham menggali tiga situs di mana tim Kennett telah menemukan nanodiamonds.

Selain menyediakan sampel untuk studi Daulton, mereka juga mencari carbon spherules. Apa yang mereka temukan justru materi fosil jamur dan kotoran arthropoda yang tampak mirip dengan carbon spherules.

Kennett dan timnya akan mengajukan sengketa temuan ini dan mengatakan bahwa mereka akan menulis laporan di PNAS untuk "mengekspos kelemahan utama di studi Daulton".

  1. Tyrone L. Daulton (Department of Physics and Center for Materials Innovation, Washington University in St. Louis, St. Louis, MO 63130), Nicholas Pinter (Department of Geology, Southern Illinois University, Carbondale, IL 62901; and Andrew C. Scott (Department of Earth Sciences, Royal Holloway University of London, Egham, Surrey TW20 OEX, United Kingdom). No evidence of nanodiamonds in Younger–Dryas sediments to support an impact event. Proceedings of the National Academy of Sciences, August 30, 2010, Doi:10.1073/pnas.1003904107
  2. Andrew C. Scott (Department of Earth Sciences, Royal Holloway University of London, Egham, UK), Nicholas Pinter (Department of Geology, Southern Illinois University, Carbondale, Illinois, USA), Margaret E. Collinson (Department of Earth Sciences, Royal Holloway University of London, Egham, UK), Mark Hardiman (Department of Geography, Royal Holloway University of London, Egham, UK), R. Scott Anderson (School of Earth Sciences and Environmental Sustainability, Northern Arizona University, Flagstaff, Arizona, USA), Anthony P. R. Brain (Centre for Ultrastructural Imaging, King's College London, London, UK), Selena Y. Smith (Museum of Paleontology and Department of Geological Sciences, University of Michigan, Ann Arbor, Michigan, USA), Federica Marone (Swiss Light Source, Paul Scherrer Institut, Villigen, Switzerland), Marco Stampanoni (Swiss Light Source, Paul Scherrer Institut, Villigen, Switzerland; Institute for Biomedical Engineering, ETH Zurich, Zurich, Switzerland). Fungus, not comet or catastrophe, accounts for carbonaceous spherules in the Younger Dryas “impact layer”. Geophysical Research Letters, VOL. 37, L14302, 5 PP., 2010, Doi:10.1029/2010GL043345
  3. Rex Dalton, Archaeology: Blast in the past? Nature 447, 256-257 (17 May 2007), Doi:10.1038/447256a
  4. Rex Dalton, Nature Doi:10.1038/news.2010.441 (2010)
bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Komentar