KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Jumat, 10 September 2010

Kodok Ingerophrynus celebensis Memangsa Semut Predator Yellow crazy

(KeSimpulan) Amfibia asli Indonesia melawan semut. Setelah kisah sedih begitu banyak spesies invasif asli bernasib malang, para ilmuwan menemukan katak asli Indonesia melakukan perlawanan.

Ternyata kodok Sulawesi secara umum menjadi pemakan semut, bahkan agresif menyerang, kata Thomas C. Wanger dari University of Göttingen di Jerman dan University of Adelaide di Australia. Di pulau Sulawesi, katak Ingerophrynus celebensis (kodok kerot - Jawa) berpesta melahap semut yellow crazy yang menyerbu pulau tersebut serta lokasi tropis lainnya.

Dijuluki Yellow crazy ants karena warna mereka kuning dan saat berjalan zigzag. Mereka telah mendesak keluar semut asli dan mengganggu ekosistem di banyak tempat. Semut penyerbu ini mengerubungi dengan agresif pada setiap musuh dengan zat kimia beracun selama pertempuran. Tetapi katak Sulawesi tetap memakan mereka, kata Wanger.

Selama sepekan kelimpahan kodok di peternakan Sulawesi, uji plot dilakukan dengan jumlah populasi kodok sepertiga dari populasi semut invasif yang ditemukan pada beberapa bidang yang diberi pagar agar kodok tidak bisa keluar. Wanger dan rekan-rekannya melaporkan pada 6 September di Proceedings of the Royal Society B.

Laporan ini bisa menjadi pertama yang menyatakan bahwa kodok asli mungkin mengkontrol populasi semut invasif, "ini temuan yang benar-benar rapi," kata Stacy M. Philpott, ekolog dari University of Toledo di Ohio.

Wanger dan rekan-rekannya menetapkan proporsi kodok memangsa semut berdasarkan sampel kotorannya. "Anda tidak akan percaya betapa bau hal ini," kata Wanger. Sampel mengungkapkan bahwa tiga-perempat dari beberapa jenis semut dimakan oleh kodok melalui wilayah pengujian, meskipun semut tidak mewakili sebagian besar dari arthropoda di sana. Para peneliti mengatakan semut asli mungkin telah lama hidup berdampingan dengan kodok di pulau tersebut, tetapi populasi semut penyerang menguasai wilayah.

Uji plot dilakukan di perkebunan kakao dan para peneliti mengatakan bahwa selera kodok memangsa semut menjadi anugerah untuk pengendalian hama kakao. Setiap tiga bulan, kodok hutan secara rutin meninggalkan sarang mereka dan bergelombang melalui perkebunan kakao untuk berkembang biak di air sawah.

Pesta semut Yellow crazy yang diselenggarakan oleh kodok dapat membantu menjaga semut asli di perkebunan kakao. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keragaman semut asli akan membantu menjaga keseimbangan hama dan penyakit pohon kakao.

Saran penelitian ini bahwa kodok Sulawesi pada akhirnya membantu mengendalikan hama di perkebunan kakao adalah masuk akal, kata Philpott. Dia dan koleganya telah mengamati tentang bagaimana keragaman semut dapat mengendalikan penyakit dan hama pada perkebunan kopi dan coklat. Misalnya, salah satu jenis semut asli memangsa serangga yang meninggalkan luka lengket pada polong kakao dimana semakin sedikit tempat-tempat yang lengket berarti lebih sedikit dilirik lalat pencemar patogen penyebab busuk polong.

Kasus kodok sebagai pelindung kakao bisa membangkitkan semangat baru untuk melindungi amfibi asli di mana warga Sulawesi memiliki prioritas yang sama dengan komunitas pertanian di seluruh dunia. "Mereka sama sekali tidak tertarik dalam konservasi keanekaragaman hayati jika tidak terkait dalam masalah ekonomi," kata Wanger.

Seorang ilmuwan yang telah lama meneliti kerusakan ekologis oleh semut Yellow crazy, Dennis O'Dowd dari Monash University di Melbourne, Australia, mencatat bahwa para peneliti sekarang perlu meneliti link lainnya dalam hipotesis mereka, seperti apakah perlawanan kodok terhadap semut gila memiliki efek yang berlangsung secara periodik pada populasi semut. Namun, "Saya pasti seperti sentimen di jurnal penelitian dan saya akan melakukan semua untuk konservasi amfibi asli," kata O'Dowd.

Thomas C. Wanger (Environment Institute and School of Earth and Environmental Sciences, University of Adelaide, Adelaide, Australia; Agroecology, University of Göttingen, Göttingen, Germany); Arno C. Wielgoss, Iris Motzke, Yann Clough, Teja Tscharntke (Agroecology, University of Göttingen, Göttingen, Germany); Barry W. Brook (Environment Institute and School of Earth and Environmental Sciences, University of Adelaide, Adelaide, Australia) and Navjot S. Sodhi (Department of Biological Sciences, National University of Singapore, Singapore). Endemic predators, invasive prey and native diversity, Proceedings of the Royal Society B, September 8, 2010, doi:10.1098/rspb.2010.1512

Artikel Lainnya:

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Jurnal Sains