Parasit Malaria Plasmodium falciparum Berasal dari Gorila

Tinuku
KeSimpulan - Parasit malaria manusia berasal dari gorila. Bentuk parasit malaria yang menyebabkan kematian pada manusia tidak ditularkan oleh simpanse.

Sebuah studi luas dari parasit malaria pada kera menunjukkan bahwa spesies yang bertanggung jawab atas sebagian besar kasus penyakit pada manusia, Plasmodium falciparum, berasal dari gorila dan bukan seperti yang diperkirakan sebelumnya yaitu simpanse. Selain itu, para peneliti menyimpulkan kemungkinan parasit melompat antar spesies hanya sekali.

Dari lima jenis parasit nyamuk yang menyebabkan malaria pada manusia, P. falciparum adalah yang paling umum, menyebabkan ratusan juta kasus malaria dan lebih dari satu juta kematian per tahun. Memahami asal parasit ini peneliti berharap dapat membantu untuk menginformasikan strategi medis dalam menanggulangi penyakit tersebut.

Sampai sekarang, ilmuwan percaya P. falciparum relatif paling dekat dengan P. reichenowi, parasit dari simpanse (Pan troglodytes), namun studi tersebut terbatas pada beberapa kera, banyak dari mereka populasi konservasi. Jadi, apakah populasi liar menjadi reservoir alami bagi spesies Plasmodium yang belum dikenal?

Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Beatrice Hahn dari University of Alabama di Birmingham dan dilaporkan hari ini di Nature, mengambil populasi liar simpanse, bonobo dan gorila dari seluruh sub Sahara Afrika untuk menganalisis gen parasit kera yang terkait dengan P. falciparum. Tim mengambil sampel feses dari bank spesimen yang dibangun untuk meneliti evolusi HIV, termasuk 1.827 simpanse, 803 gorila dan 107 bonobo. Mereka kemudian sekuensing DNA Plasmodium yang ditemukan dalam sampel, terutama melihat DNA mitokondria, pabrik energi sel.

Para peneliti menemukan tingkat tinggi infeksi malaria di antara simpanse dan western gorillas (Gorilla gorilla), populasi reservoir alami bagi spesies Plasmodium, namun tidak ada infeksi di antara eastern gorillas (Gorilla beringei) ataupun bonobos (Pan paniscus).

Tim ini menggunakan urutan DNA mitokondria untuk menghasilkan pohon filogenetik yang menunjukkan hubungan antar organisme berdasarkan DNA. Analisis mengungkapkan bahwa kera terinfeksi sedikitnya sembilan spesies Plasmodium, tiga di antaranya spesies baru bagi dunia sains. Dengan satu pengecualian, semua spesies parasit sangat erat kaitannya, milik subgenus Laverania, dan host sangat spesifik.

Sampel P. falciparum dari manusia yang termasuk dalam penelitian ini memiliki hubungan paling erat dengan parasit yang menginfeksi western gorillas di Kamerun, Republik Afrika Tengah dan Republik Kongo, dan mungkin berasal dari aktivitas transmisi tunggal. Jeffares Daniel, biologi evolusi dari University College di London, menjelaskan temuan "mengejutkan".

"Ini pertanyaan evolusi menarik untuk bertanya dari mana patogen manusia ini berasal," kata Paulus Sharp, biolog evolusi dari University of Edinburgh, Inggris, yang terlibat dalam studi. "Kami sekarang bertanya-tanya apakah lompatan lintas spesies seperti ini bisa terjadi lagi untuk masa datang."

Namun, Jeffares mengkonfirmasi dibutuhkan analisis lebih dari satu kali untuk sampel P. falciparum. Sharp menyanggah dengan mengatakan bahwa kelompok sampel ini mewakili spesies keseluruhan karena keragaman genetik P. falciparum lebih rendah dibandingkan dengan keragaman spesies Plasmodium pada kera.

Tetapi Jeffares berpendapat bahwa keragaman rendah P. falciparum adalah mitos berdasarkan referensi yang sudah kadaluwarsa. "Laporan yang lebih baru menunjukkan ada cukup banyak keanekaragaman pada daerah yang berbeda. Mungkin jika Anda berusaha keras, Anda akan menemukan beberapa," kata Jeffares.

Jika P. falciparum tidak membuat lompatan ke manusia dalam sebuah peristiwa tunggal ini dan hubungan lain yang terungkap dalam penelitian, menunjukkan bahwa transmisi antar spesies jarang terjadi yang bisa menjadi pertanda baik bagi upaya pemberantasan malaria. Jeffares mengatakan jika P. falciparum berhasil dimusnahkan maka harus terjadi ratusan ribu tahun sebelum parasit lain ditularkan dari kera. Namun, Sharp berspekulasi bahwa temuan ini "akan membuka ceruk parasit Plasmodium lain untuk melompat ke manusia".

Penelitian ini bisa membantu para ilmuwan untuk menunjukkan perubahan genetik yang memungkinkan parasit menulari manusia. Jeffares mengatakan bahwa hal ini relatif sederhana dan murah untuk sampel seluruh genome P. falciparum dan kerabat dekatnya. "Anda bisa melihat seluruh genome dan mencari tahu di mana evolusi dengan cepat telah terjadi," kata Jeffares.
  1. Weimin Liu, Yingying Li, Gerald H. Learn, Rebecca S. Rudicell, Joel D. Robertson, Brandon F. Keele, Jean-Bosco N. Ndjango, Crickette M. Sanz, David B. Morgan, Sabrina Locatelli, Mary K. Gonder, Philip J. Kranzusch, Peter D. Walsh, Eric Delaporte, Eitel Mpoudi-Ngole, Alexander V. Georgiev, Martin N. Muller, George M. Shaw, Martine Peeters, Paul M. Sharp, Julian C. Rayner and Beatrice H. Hahn. Origin of the human malaria parasite Plasmodium falciparum in gorillas, Nature Vol:467, Pages: 420–425, 23 September 2010, DOI:10.1038/nature09442
  2. Joseph Milton, Nature, DOI:10.1038/news.2010.486
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment