Pengukuran Proton Jahat Ala Muonik atau Quantum Electrodynamics (QED)

Tinuku
KeSimpulan - Dalam komunitas kristian, halo melambangkan holiness. Dalam fisika partikel, halo adalah cincin bermuatan positif di sekitar proton dan telah menjadi jahat.

Upaya dan saran dari sengketa baru-baru ini bahwa jari-jari proton lebih kecil dari yang kita duga dengan teori quantum electrodynamics (QED) yang telah berhasil menjawab fenomena kuantum sejak tahun 1940-an. Radius sebuah proton tidak dapat diukur secara langsung, tetapi harus disimpulkan dengan mengukur energi dari "kulit" elektron yang lain dalam atom hidrogen. Melalui QED, energi ini menggabungkan model bagaimana muatan proton terdistribusi menjadi jari-jari proton tersebut.

Nilai yang lebih kecil untuk jari-jari proton berasal dari pengukuran form hidrogen yang berisi elektron tipe berat yang dikenal sebagai muon. Hal ini diharapkan untuk menambah presisi pengukuran sebelumnya berdasarkan hidrogen biasa. Sebaliknya, pengukuran muonik menyarankan radius 4 persen lebih kecil. Semua ini bisa menjadi masalah baik dengan metode pengukuran muonik ataupun dengan QED.

Sekarang Alvaro De Rújula dari Autonomous University di Madrid, Spanyol, memiliki solusi lain: mengubah model tentang bagaimana muatan positif proton didistribusikan. Sekitar 75 persen terkonsentrasi di core pusat. Meskipun seperempat muatan proton lainnya terletak di luar, distribusi muatan dalam "halo" masih kunci untuk menemukan jari-jari proton. Jadi De Rújula memutuskan untuk meneliti apakah memvariasikan distribusi muatan dalam halo bisa dihitung dengan cara lama dan baru untuk jari-jari proton dan menghindari konflik dengan teori QED.

De Rújula menemukan bahwa hal tersebut bisa, jika band halo memanjang sejauh 4,7 kali seperti yang diduga sebelumnya. Dia menyimpulkan bahwa ini adalah struktur proton yang benar. Perhitungan De Rújula tersebut telah diperdebatkan sejak dia pertama kali melaporkan eksperimen ke server preprint arxiv pada tanggal 23 Agustus.

Di antara para fisikawan yang skeptik adalah Gerald A. Miller dan Ian Cloët dari University of Washington di Seattle, yang melontarkan makalah sanggahan hanya dua hari kemudian. "Penjelasan De Rújula adalah tembok. Seolah-olah jumlah air dalam bidal telah menyebar memenuhi volume kolam renang," kata Miller.

De Rújula menganggap Miller berlebihan. "Kecuali bidal tersebut mencakup wajah ikan paus," kata De Rújula.

Miller mengakui bahwa bidal dan segelas bir adalah analogi yang adil. Meski begitu, ia dan Cloët telah menghitung bahwa sebuah proton dengan muatan yang memanjang sejauh yang ditunjukkan De Rújula tidak kompatibel dengan eksperimen untuk melihat sejauhmana elektron dibelokkan proton pada jarak yang berbeda.

De Rújula mengatakan masalah ini bisa diselesaikan dengan dibenturkan pada eskperimen baru elektron-proton atau analisis baru dari data yang ada. Ia yakin entah bagaimana, "QED akan terbukti benar."
  1. A. De Rújula, QED is not endangered by the proton's size, Submitted on 23 Aug 2010, http://arxiv.org/abs/1008.3861
  2. Ian C. Cloet and Gerald A. Miller, Third Zemach Moment of the Proton, Submitted on 25 Aug 2010, http://arxiv.org/abs/1008.4345v3
  3. Gerald A. Miller http://www.phys.washington.edu/users/miller
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment