Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Prediksi Kematangan Reproduksi dari Berat Badan Saat Dilahirkan

(KeSimpulan) Semakin cepat bayi laki-laki mengembangkan berat badan pada 6 bulan pertama kelahiran, semakin mungkin jenis kelamin ini cepat menjadi pria dewasa.

Itulah salah satu temuan baru yang mengejutkan dari long-term study lebih dari 700 orang dari sejak lahir hingga dewasa awal di Filipina. Bayi dengan pertumbuhan paling cepat akan mencapai pubertas lebih awal daripada bayi dengan berat badan lebih lambat. Ketika mengijak usia 20-an, mereka akan lebih kuat, lebih tinggi dan memiliki lebih banyak testosteron serta mitra seks.

"Karakteristik Anda dengan ukuran tubuh laki-laki dewasa, massa ringan, dan kematangan seksual diprogram oleh pengalaman awal Anda," kata Christopher Kuzawa, bioantropolog dari Northwestern University di Chicago, Illinois yang memimpin penelitian.

Para peneliti telah lama mengetahui bahwa bayi beradaptasi dengan dunia mereka bahkan sebelum mereka dilahirkan dan mempengaruhi adaptasi fisiologi dan metabolisme sebagai orang dewasa, termasuk risiko penyakit kronis. Bayi yang dilahirkan oleh ibu kurang gizi, misalnya, lebih cenderung lahir kecil dan memiliki metabolisme efisien dimana membutuhkan bahan bakar lebih sedikit dalam bertahan hidup.

Sebaliknya, bayi dari ibu yang berkecukupan gizi akan lahir lebih besar dan lebih mungkin untuk tumbuh lebih cepat, membutuhkan lebih banyak kalori untuk mempertahankan tubuh mereka yang lebih besar dan dapat membuat mereka lebih menarik pasangan. Masalah timbul ketika lahir bayi dengan berat badan rendah diberi makan diet kaya gula atau lemak yang menekankan organ kecil seperti pancreases, misalnya, menyebabkan diabetes.

Para ilmuwan masih memperdebatkan apakah tanggapan untuk kali ini baik atau buruk dalam pengembangan awal penyesuaian adaptif mereka terhadap lingkungan yang mencerminkan bahwa bayi memiliki jendela waktu awal dalam hidup ketika mereka dapat menyempurnakan jalur perkembangan atau apakah kekurangan gizi awal dan stres ibu hanya mempengaruhi bayi terhadap penyakit pada saat dewasa nanti.

Kuzawa dan rekan-rekannya percaya bahwa mereka telah menemukan bukti untuk hipotesis adaptif berdasarkan data 770 orang di Filipina yang merupakan bagian dari studi jangka panjang pelacakan perkembangan mereka sejak lahir. Mereka menemukan bayi laki-laki yang diberi ASI dan jarang diare kemungkinan karena mereka tinggal di rumah tangga kaya dengan kebersihan yang lebih baik, memiliki tingkat pertumbuhan lebih cepat dalam 6 bulan pertama kehidupan dibanding susu botol yang diberi makan atau bayi yang disusui oleh ibu miskin.

Mereka mencatat ketika testosteron untuk tingkat dewasa pada laki-laki, mungkin mempengaruhi pengembangan sumber daya sifat laki-laki seperti tinggi dan otot. Memang pada masa pubertas, anak-anak ini mencapai lebih awal, lebih tinggi dan lebih berotot, dan memiliki tingkat testosteron dalam darah mereka sebagai orang dewasa ketimbang laki-laki yang berat badannya lebih lambat.

Bayi dalam jalur cepat pertumbuhan juga melakukan hubungan seks lebih awal dan menghasilkan lebih banyak pasangan seks selama hidupnya, para peneliti melaporan di Proceedings of the National Academy of Sciences.

Kuzawa berspekulasi bahwa anak laki-laki membuat penyesuaian terhadap lingkungan mereka berdasarkan isyarat gizi awal. Misalnya, bayi laki-laki diberi ASI dari ibu dengan cukup gizi bisa "belajar" dari tingkat hormon dan nutrisi dalam ASI bahwa mereka akan hidup di dunia yang kaya makanan, sehingga menghabiskan banyak sumber daya berharga dalam meningkatkan laju pertumbuhan mereka dan mencapai pubertas serta mulai bereproduksi lebih awal.

Sebaliknya bayi laki-laki dari ibu yang memberi mereka nutrisi lebih sedikit atau sedang dalam stres akan tumbuh lebih lambat untuk melestarikan semua sumber daya mereka dalam bertahan hidup di dunia yang sempit. "Para peneliti menunjukkan bahwa lingkungan awal kehidupan secara abadi berdampak sifat-sifat penting pada manusia berjenis kelamin pria," kata Stephen Stearns, biolog evolusi dari Yale University.

Tetapi Peter Ellison, biolog evolusi manusia dari Harvard University mengatakan para peneliti tidak benar-benar membuktikan bahwa pematangan cepat anak-anak ini sebagai respon adaptif dari lingkungan awal. Perbedaan tingkat pertumbuhan bisa mencerminkan sifat-sifat genetik yang diwarisi dari orangtua yang mempengaruhi bagaimana anak laki-laki memiliki sensitifitas yang berbeda untuk testosteron, misalnya akan membuat mereka tumbuh lebih cepat dan lebih kuat.

Bagaimanapun, Ellison mengatakan studi ini memiliki hasil yang sangat "kaya" dengan menunjukkan sudut penelitian baru, seperti menguji apakah kadar testosteron pada bayi baru lahir akan mempengaruhi tingkat kenaikan berat badan.

Christopher W. Kuzawa (Department of Anthropology and Cells to Society, Center on Social Disparities and Health at the Institute for Policy Research, Northwestern University, Evanston, IL 60208); Thomas W. McDade (Department of Anthropology and Cells to Society, Center on Social Disparities and Health at the Institute for Policy Research, Northwestern University, Evanston, IL 60208); Linda S. Adair (Carolina Population Center, University of North Carolina, Chapel Hill, NC 27516); and Nanette Lee (University of San Carlos Office of Population Studies Foundation, Cebu City 6000, Philippines). Rapid weight gain after birth predicts life history and reproductive strategy in Filipino males, Proceedings of the National Academy of Sciences, September 13, 2010, DOI:10.1073/pnas.1006008107

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment