Virus Flu Burung H5N1 Melompat ke Babi

Tinuku
(KeSimpulan) Virus flu burung H5N1 berkembang kemampuannya untuk menyebar dari mamalia ke mamalia, demikian temuan tim peneliti bahwa babi di Indonesia telah terinfeksi dengan penyakit ini sejak tahun 2005.

Ini salah satu langkah rantai peristiwa menakutkan yang dapat menyebabkan penularan dari manusia dan pandemi. Flu burung (H5N1 bird flu) membunuh 60 persen masyarakat yang terinfeksi. Namun, sebagian besar infeksi terjadi setelah kontak langsung dengan burung yang terinfeksi dan penyakit tidak muncul oleh penularan antar manusia. Selama penularan antar manusia masih langka, virus tidak dapat menyebabkan pandemi.

Hal ini bisa berubah. Salah satu cara, virus bisa mengembangkan kemampuan untuk menyebar ke manusia adalah menginfeksi babi untuk pertama kali yang memiliki banyak kesamaan biokimia dengan manusia. Virus flu telah beradaptasi diri kepada babi yang kurang adaptif dibanding manusia yang beradaptasi dengan virus flu burung (satu babi diadaptasi virus menyebabkan memicu pandemi flu babi pada tahun 2009).

Chairul Nidom dari Universitas Airlangga di Surabaya, Indonesia, dan koleganya di Jepang, telah melacak H5N1 pada babi sejak tahun 2005 di Indonesia (negara yang paling terpukul oleh virus flu burung). Mereka kini melaporkan bahwa antara tahun 2005 hingga tahun 2007 ketika flu burung mencapai puncaknya, sebanyak 7,4 persen dari 700 babi yang mereka uji juga terinfeksi H5N1. Ada laporan sporadis H5N1 pada babi, tetapi ini adalah pertama kalinya masalah ini diukur.

Dalam setiap kasus, virus pada babi mirip H5N1 pada wabah unggas di sekitarnya, sehingga menyarankan telah terjadi lompatan dari populasi burung ke populasi babi. Namun, proporsi kecil dari babi yang terinfeksi virus menunjukkan belum dapat menyebar di antara babi.

"Jika virus itu lebih baik dalam menyesuaikan diri dengan babi maka akan menyebar seperti api," kata Ab Osterhaus, virulog dari University of Rotterdam di Belanda yang tidak terlibat dalam penelitian.

Sejak tahun 2007, wabah flu burung telah berkurang pada unggas dan pada manusia di Indonesia dan para peneliti menemukan bahwa laju infeksi pada babi juga telah turun. Namun, babi masih membawa tanda-tanda infeksi baru. Ini berarti virus masih bisa menyebar dan berkembang karena tim menemukan (dan ini mengejutkan) bahwa babi yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala.

"Virus H5N1 dengan mudah bisa menghindari deteksi saat mereka menyebar ke seluruh Indonesia pada babi asimtomatik," kata Nidom dan rekan-rekannya.

Dan ada indikasi yang mengkhawatirkan bahwa H5N1 sudah berkembang. Nidom mengatakan bahwa dalam satu babi, virus tersebut telah mengembangkan kemampuan untuk mengikat molekul dalam hidung babi dan manusia. Suatu tipe perubahan yang dapat memungkinkan untuk menyebar di antara manusia. "Ini menunjukkan kita harus terus mencermati flu babi karena dapat berubah dengan cepat," kata Osterhaus.

Uni Eropa menekan saklar warning atas panggilan tersebut dan mendanai sebuah kolaborasi ilmiah yang disebut FLUPIG untuk mempelajari bagaimana adaptasi flu burung ke babi dan bagaimana flu babi menyebar ke manusia. Mereka akan bertemu untuk pertama kalinya pada akhir bulan ini.
  1. Chairul A. Nidom (Airlangga University, Surabaya, East Java, Indonesia); Ryo Takano, Shinya Yamada, Yuko Sakai-Tagawa, Kiyoko Iwatsuki-Horimoto, Yukiko Muramoto (University of Tokyo, Tokyo, Japan; Kobe University, Kobe, Japan; University of Wisconsin, Madison, Wisconsin, USA); Yoshihiro Kawaoka (University of Tokyo, Tokyo, Japan); Syafril Daulay (Ministry of Agriculture, Jakarta, Indonesia); Didi Aswadi (Agriculture and Livestock Agency, Tangerang, Indonesia); Takashi Suzuki (University of Shizuoka, Shizuoka City, Japan); Yasuo Suzuki (University of Shizuoka, Shizuoka City, Japan; Chubu University, Kasugai City, Japan) and Kyoko Shinya (Kobe University, Kobe, Japan). Influenza A (H5N1) Viruses from Pigs, Indonesia, DOI:10.3201/eid1610.100508 Emerging Infectious Diseases: http://www.cdc.gov/eid/content/16/10/PDFs/10-0508.pdf (download)
  2. FAO: http://www.fao.org/avianflu/en/news/indo_hpai.html
  3. UPI.com: http://www.upi.com/Health_News/2010/08/12/Outbreak-of-bird-flu-reported-in-Indonesia/UPI-16041281627378
  4. European Commission Research: http://ec.europa.eu/research/index.cfm?pg=newsalert&lg=en&year=2010&na=na-090310-annexes
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment