Langsung ke konten utama

Metode Pressure Flaking Pembuatan Alat Batu di Gua Blombos Afrika Selatan

loading...
bisnis online
KeSimpulan.com - Kecanggihan Afrika untuk metode toolmaking. Teknik pemangkasan batu muncul lebih awal dari yang diduga sebelumnya.

Pembuat peralatan batu yang hidup di Afrika selatan 75.000 tahun yang lalu membuat ujung tombak lebih dari satu tahap. Masyarakat ini menerapkan tips mempertajam ujung tombak dengan menggunakan teknik memanaskan paling tidak 20.000 tahun yang lalu. Metode pembuatan batu yang disebut pressure flaking diciptakan dan digunakan secara sporadis di Afrika sebelum menyebar ke benua lain, demikian saran sebuah tim yang dipimpin oleh Vincent Mourre, arkeolog dari University of Toulouse-Le Mirail di Perancis.

Metode pembuatan alat membantu kelangsungan hidup manusia modern yang meninggalkan Afrika dimulai sekitar 60.000 tahun yang lalu. Temuan ini relevan dengan hipotesis seni simbolis, ritual dan bentuk-bentuk lain dari perilaku manusia modern yang berkembang secara bertahap selama ratusan ribu tahun. Jadi tidak dalam ledakan inovasi budaya yang ditandai dengan lukisan gua yang muncul setelah 50.000 tahun yang lalu di Eropa Barat, para ilmuwan melaporkan ke Science 29 Oktober:

Pressure flaking has been considered to be an Upper Paleolithic innovation dating to ~20,000 years ago (20 ka). Replication experiments show that pressure flaking best explains the morphology of lithic artifacts recovered from the ~75-ka Middle Stone Age levels at Blombos Cave, South Africa. The technique was used during the final shaping of Still Bay bifacial points made on heat-treated silcrete. Application of this innovative technique allowed for a high degree of control during the detachment of individual flakes, resulting in thinner, narrower, and sharper tips on bifacial points. This technology may have been first invented and used sporadically in Africa before its later widespread adoption.

Mourre dan rekan-rekannya mengatakan penggalian sedimen mematok tanggal hingga 75.000 tahun yang lalu di situs Blombos Cave, Afrika Selatan, menghasilkan artefak batu dengan tanda-tanda pressure flaking.

"Bukti Blombos tentang pressure flaking menjadi tertua yang kita tahu," kata Paola Villa, antropolog dari University of Colorado Museum of Natural History di Boulder. Sebelumnya, Gua Blombos dan situs-situs di dekatnya menghasilkan potongan pigmen terukir menghiasi kulit telur burung unta. Villa mengatakan Afrika Selatan kadang-kadang memunculkan item dengan makna simbolis dan bentuk khusus yang digunakan pada awal toolmaking 100.000 tahun yang lalu atau lebih. Praktek ini berkembang dan keluar dari Afrika dimulai sekitar 40.000 tahun lalu.

Temuan ini lebih banyak memberi bukti bahwa manusia Gua Blombos memiliki perilaku modern, kata Bruce Bradley dari University of Exeter di Inggris. Mereka juga menghasilkan alat-alat tulang dan ukiran perhiasan dari cangkang moluska.

Proses pressure flaking terdiri dari pemangkasan tepi alat, menekan titik-titik tulang batu dengan cukup keras untuk menghapus irisan tipis batuan. Proses ini menciptakan alur spasi sempit dan merata ditemukan pada alat-alat batu dari Solutrean culture dan prasejarah masyarakat asli Benua Amerika pada 20.000 tahun lalu. Lebih lebar dengan 36 alur teratur, alat Blombos terbuat dari silcrete kaya material bahan silika sehingga memiliki kualitas lebih rendah daripada batu api dan memerlukan pemanasan.

Villa dan rekan-rekannya mengidentifikasi glossy pada alat silcrete di Blombos tersebut, mereka menduga terbentuk ketika batu-batu sebelum dipanaskan. Tanda lainnya mengindikasikan artefak telah melekat mungkin sebagai ujung tombak. Dengan membuat replika pressure flaking yang dipanaskan terbuat dari silcrete yang dikumpulkan dari dekat gua Afrika Selatan, Mourre mereproduksi menyerupai artefak kuno.

Metode pressure flaking telah ada pada 100.000 tahun yang lalu di Afrika Timur, kata John Shea, arkeolog sepsialis alat batu dari Stony Brook University, New York. Beberapa situs terdapat banyak artefak batu yang terbuat dari obsidian. Shea mencatat pressure flaking dapat diajarkan dalam 30 menit pada pemula. "Secara harfiah mudah bagi manusia gua melakukannya," kata Shea.

Shea mengatakan pressure flaking tidak banyak menambah ketajaman atau kekuatan untuk alat pemotong. Pembuat alat Blombos mungkin menggunakan teknik ini untuk menunjukkan kemampuan dan identitas sosial penggunanya.

Curtis Marean, arkeolog dari Arizona State University di Tempe mengatakan bukti pressure flaking di Blombos "sugestif dan tidak sepenuhnya meyakinkan." Dibutuhkan analisis lebih lanjut untuk mengkonfirmasikan bahwa pressure flaking artefak silcrete dapat direplikasi secara konsisten untuk menghasilkan tanda seperti temuan di Blombos. Pengetahuan tentang pressure flaking tidak menyiratkan kemampuan mental atau toolmaking khusus, kata Marean.

Marean menganggap pressure flaking merupakan cara sederhana untuk menyelesaikan alat terbuat dari jenis batu tertentu. "Jika para peneliti benar bahwa pressure flaking terjadi di Gua Blombos, implikasinya menjadi penting dalam rentang waktu teknik pembuatan alat. Tetapi tidak merubah pemahaman kita tentang asal-usul kompleks kognisi," kata Marean.
  1. Vincent Mourre, Paola Villa, and Christopher S. Henshilwood. Early Use of Pressure Flaking on Lithic Artifacts at Blombos Cave, South Africa, Science 29 October 2010: Vol.330. no.6004, pp.659-662, DOI: 10.1126/science.1195550
  2. Paola Villaa, Marie Soressic, Christopher S. Henshilwoodf, and Vincent Mourreh. The Still Bay points of Blombos Cave (South Africa), Journal of Archaeological Science, Volume 36, Issue 2, February 2009, Pages 441-460, DOI:10.1016/j.jas.2008.09.028
  3. Paola Villa ~ http://cumuseum.colorado.edu/Research/Paleo/paleo_woc.html
  4. Bruce Bradley ~ http://humanities.exeter.ac.uk/archaeology/staff/bradley/
bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Komentar