Skip to main content

Monyet Rhesus Dalam Cermin Implikasi Evolusi Pengakuan Diri

loading...
Tinuku
KeSimpulan.com - Eksperimen memberi tawaran kepada Macaca mulatta untuk turut bergabung dengan spesies klub elit kesadaran diri.

Eksperimen pada monyet menunjukkan bahwa hewan dapat mengenali dan bereaksi terhadap citra mereka sendiri di cermin. Mereka melihat alat kelamin mereka sendiri dan bagian tubuh lainnya yang tidak bisa dilihat secara langsung. Eksperimen pada Rhesus macaques dapat memberitahu kita bahwa "standar emas" saat menguji self-awareness tidak cukup sensitif untuk mengidentifikasi semua hewan yang self-aware, meskipun metode ini tenggelam dalam kontroversi.

Bukti untuk kesadaran diri sejauh ini dibatasi hanya pada spesies elit termasuk manusia, simpanse, orangutan, bonobo, gorila, gajah, lumba-lumba serta burung gagak. Semua hewan ini telah "lulus uji bercak" (mark test) di mana mereka ditidurkan, wajah diberi bercak zat pewarna untuk mengubah penampilan mereka, kemudian bagaimana saat terbangun. Apakah mereka bereaksi ketika melihat diri sendiri di cermin. Kera sebelumnya telah gagal tes.

Tetapi secara kebetulan terungkap bahwa mereka memang mengakui dirinya dalam cermin. Bakat mereka terungkap dalam penelitian yang sama sekali tidak berhubungan. Sebuah penelitian yang dimaksudkan untuk mempelajari bagaimana obat-obatan yang diberikan kepada anak-anak dalam memerangi attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD) untuk mengubah sinyal otak. Untuk mengetahui, dua kera diberi cap implan untuk memantau sinyal-sinyal listrik di otak mereka.

Kejutan bagi para peneliti, monyet-monyet mulai berinteraksi dengan cermin mereka yang sebenarnya murni hanya untuk hiburan. Firasat para peneliti muncul, tidak seperti pewarna yang digunakan dalam uji bercak, implan cukup besar dan invasif pada monyet menyadarkan bahwa mereka melihat dirinya sendiri di cermin, bukan melihat monyet-monyet lain.

"Kami pikir cap setara dengan 'supermark' bahwa mereka pasti memberitahu," kata Luis Populin dari University of Wisconsin-Madison yang memimpin penelitian dan melaporkan di PLOS ONE 29 September.

Populin mengatakan bahwa rekannya Abigail Rajala memperhatikan ketika dua hewan dikembalikan ke kandang untuk pertama kalinya setelah cap penutup dipasang, mereka bermanuver di cermin. "Ini perilaku berdandan yang tidak konsisten dengan literatur," kata Populin sehingga ia dan rekan-rekannya memutuskan untuk meneliti lebih lanjut.

Pertama, memberi uji bercak dua kali, semuanya gagal. Lalu diperpanjang eksperimen mencakup lima monyet cap implan secara total, semua diberi cermin kecil dan mengamati apa yang terjadi. Kelima monyet memanipulasi dan menggerakkan cermin mereka untuk melihat dirinya baik tubuhnya yang terlihat maupun bidang-bidang badan yang "tidak terlihat" seperti di sekitar alat kelamin. Ketika mereka bisa menggunakan cermin mereka menyentuh daerah-daerah tersebut 10 kali lebih sering daripada sebelum mengenal cermin.

Selanjutnya, monyet-monyet diberi cermin yang jauh lebih besar, memungkinkan untuk melihat diri secara penuh. Kali ini, mereka bahkan lebih penasaran, melihat diri mereka sendiri dua kali lebih sering daripada cermin yang lebih kecil dan melakukan presentasi senam untuk melihat refleksi bagian tubuh yang sebelumnya tidak dapat diakses terutama alat kelamin. Perilaku tersebut hilang sepenuhnya ketika cermin ditutup dengan kain hitam.

Populin mengatakan bahwa perilaku tersebut memenuhi dua standar emas sebagai bukti uji tanda: pertama, kera cepat menyadari refleksi tidak seperti monyet lainnya, kedua, mereka menggunakan cermin untuk melihat bagian lain yang tidak dapat diakses dari tubuh mereka. "Ini mirip dengan perilaku yang ditunjukkan oleh simpanse ketika mereka berhadapan dengan cermin," kata Populin.

Populin menunjukkan penggunaan "supermarks" dan bukan tanda pewarna biasa yang memungkinkan untuk mengidentifikasi kesadaran diri bahkan pada hewan yang gagal uji bercak. "Ini tidak lagi uji tanda, tetapi juga terasa," kata Frans de Waal dari Yerkes National Primate Research Center di Emory University, Atlanta, Georgia, yang pernah meneliti kesadaran diri pada lumba-lumba, gajah serta kera. "Hasilnya, monyet memiliki dua sumber umpan balik pada waktu yang sama: Gambar di cermin dan sensasi baru di atas kepala mereka."

Diana Reiss dari City University di New York yang telah menunjukkan bahwa lumba-lumba memiliki kesadaran diri, sependapat bahwa informasi tambahan mungkin penting. "Uji bercak mungkin tidak cukup untuk beberapa spesies," kata Reiss. Jadi, seperti kera mungkin perlu lebih cepat.

Apapun penjelasannya, Populin mengatakan bahwa hasil ini jelas menunjukkan bahwa ada bagian yang kurang dari asumsi sebelumnya diantara spesies "cerdas", seperti kera.

Penelitian ini dibantah oleh penggagas uji bercak yaitu Gordon Gallup dari State University of New York di Albany. Seperti de Waal, Gallup mengatakan bahwa isyarat sentuhan bersamaan dengan merasakan, menyentuh dan penempatan cap implan memungkinkan monyet untuk mengidentifikasi objek, tetapi pengakuan objek tidak berarti mereka mengakui diri sendiri.

"Ada banyak bukti monyet rhesus yang tidak bisa mengenali diri dalam cermin namun tetap dapat dengan mudah belajar menggunakan cermin sebagai isyarat untuk mencari objek yang tersembunyi," kata Gallup.
  1. Abigail Z. Rajala (Neuroscience Training Program, University of Wisconsin-Madison, Madison, Wisconsin, United States of America); Katharine R. Reininger, Kimberly M. Lancaster (Department of Anatomy, University of Wisconsin-Madison, Madison, Wisconsin, United States of America); Luis C. Populin (Neuroscience Training Program, University of Wisconsin-Madison, Madison, Wisconsin, United States of America; Department of Anatomy, University of Wisconsin-Madison, Madison, Wisconsin, United States of America; Eye Research Institute, University of Wisconsin-Madison, Madison, Wisconsin, United States of America; Department of Psychology, University of Wisconsin-Madison, Madison, Wisconsin, United States of America). Rhesus Monkeys (Macaca mulatta) Do Recognize Themselves in the Mirror: Implications for the Evolution of Self-Recognition, PLoS ONE 5(9): e12865. September 29, 2010 DOI:10.1371/journal.pone.0012865
  2. Luis C. Populin ~ http://www.anatomy.wisc.edu/faculty_populin.html
  3. Abigail Zdrale Rajala ~ http://ntp.neuroscience.wisc.edu/students/rajala.html
  4. Frans B.M. de Waal ~ http://www.emory.edu/LIVING_LINKS/dewaal.html
  5. Diana Reiss ~ http://www.hunter.cuny.edu/psychology/faculty/the-faculty-folder/reiss
  6. Gordon G. Gallup ~ http://www.albany.edu/psychology/gallup.html
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Comments