Langsung ke konten utama

Protein RANKL Kekebalan Tubuh dan Regenerasi Pemicu Kanker Payudara

loading...
Tinuku
KeSimpulan.com - Obat penyakit tulang dapat mengobati kanker payudara. Terapi hormon menyebabkan kanker melalui sebuah molekul yang terlibat dalam osteoporosis.

Sejak efek samping dari hormone-replacement therapy (HRT) dilaporkan pada tahun 2002, bukti telah meningkat bahwa treatment menopause meningkatkan risiko seorang wanita terhadap kanker payudara. Menjadi tugas bagi peneliti hingga sekarang adalah apa dan bagaimana ini terjadi.

Dua penelitian dilaporkan pekan lalu di Nature menunjukkan bagaimana salah satu bahan HRT, versi sintetis dari hormon progesterone yang disebut progestin dapat menyebabkan kanker payudara pada tikus yang mengaktifkan protein RANKL. Temuan juga menunjukkan bahwa menghalangi jalur ini dengan obat yang sudah disetujui untuk osteoporosis dapat mengobati kanker payudara.

Setelah banyak diresepkan pada 1960-an hingga 1970-an untuk memerangi gejala-gejala menopause, HRT mulai mengobarkan api, awalnya hanya berisi suatu bentuk estrogen. Namun, setelah penelitian menunjukkan bahwa pengobatan estrogen saja meningkatkan risiko seorang wanita pada endometrial cancer, produsen obat menambahkan progestin ke dalam campuran. Jutaan perempuan mengambil terapi kombinasi baru.

Semua berubah setelah peneliti mempelajari pasien yang terdaftar di Women's Health Initiative dan menyimpulkan bahwa wanita HRT sekitar 25% lebih mungkin untuk mengembangkan kanker payudara dalam waktu 5 tahun daripada wanita placebo. Kemudian, para wanita yang meninggalkan HRT maka tingkat kanker payudara merosot, di Amerika Serikat turun lebih dari 6% pada tahun 2003.

"Saya memandang studi HRT benar-benar menjadi validasi tentang peran progestin pada manusia dalam perkembangan kanker," kata William Dougall, direktur ilmiah hematologi onkologi dan penelitian di perusahaan bioteknologi Amgen yang berbasis di Seattle , Washington, dan memimpin salah satu tim yang terkait RANKL dengan kanker payudara.

Protein RANKL yang merupakan bagian dari keluarga protein sinyal kekebalan tubuh dikenal karena perannya dalam regenerasi tulang. RANKL mengaktifkan sel-sel khusus disebut osteoclasts yang memecah tulang dan memungkinkan kalsium diserap kembali.

Namun, ini bukan hanya peran RANKL dalam sel. Pada tahun 2000, sebuah tim yang dipimpin oleh Josef Penninger, di University of Toronto di Ontario, Kanada, menemukan bahwa tikus yang tidak memiliki RANKL memiliki masalah pengembangan jaringan payudara baru ketika hamil, sebuah proses yang bergantung pada hormon seks, termasuk progesterone.

Tim yang dipimpin oleh Penninger yang sejak itu pindah ke Austrian Academy of Science di Wina, bersama Dougall, sekarang menunjukkan bahwa RANKL juga terlibat dalam kanker payudara tikus yang didorong oleh progestin. Dua tim bekerja secara independen tetapi saling berkomunikasi satu sama lain tentang hasil mereka. "Kami berdua merasa bahwa sangat penting untuk memiliki sebuah konfirmasi independen," kata Penninger.

Ketika tim Penninger memperlakukan tikus dengan progestin yang disebut MPA, ekspresi RANKL di langit jaringan susu binatang meningkat pesat. Sementara itu, tikus yang direkayasa secara genetis kekurangan reseptor RANKL dalam jaringan mammary mereka yang diberi baik progestin dan bahan kimia yang merangsang kanker memiliki tumor mammae lebih sedikit dari pada tikus normal setelah delapan minggu. Penninger juga menunjukkan bahwa RANKL memacu sel-sel epitel susu untuk membagi dan membantu untuk mempertahankan sel yang menimbulkan tumor payudara.

Tim yang dipimpin Dougall mengambil pendekatan yang sedikit berbeda untuk menetapkan peran RANKL dalam progestin pendorong kanker payudara. Jangankan menggunakan tikus yang kekurangan protein, para peneliti memberi tikus obat antibodi yang mencegah RANKL dalam berkomunikasi dengan reseptor (pengobatan yang memiliki efek sama). Tikus diobati dengan obat, serta MPA dan karsinogen, mengembangkan lebih sedikit tumor jaringan mammary daripada tikus yang tidak menerima obat.

Dougall dan Penninger sependapat bahwa memblokir RANKL dapat mencegah kanker payudara atau memperlakukannya pada tahap awal. Namun tidak seperti kebanyakan temuan penelitian dasar dengan signifikansi medis, aplikasi dari temuan RANKL bisa dilakukan dengan cepat.

RANKL-blocking antibodi oleh Amgen dipasarkan sebagai Denosumab, mendapat persetujuan untuk mengobati osteoporosis dari US Food and Drug Administration pada bulan Juni lalu. Perusahaan biotek ini belum meluncurkan uji klinis untuk melihat secara khusus apakah Denosumab dapat mencegah atau mengobati tumor payudara primer, tetapi saat ini sedang menguji apakah obat tersebut mencegah metastase tulang pada kanker payudara dan tumor lainnya.

Jane Visvader, kepala Breast Cancer Laboratory di Institute of Medical Research of Parkville, Australia, mengatakan bahwa obat memiliki "potensi besar" untuk mencegah atau mengobati kanker payudara.

"Ini sangat mudah untuk di bawa ke klinik. Pasti pantas untuk dicoba," kata Cathrin Briskin, biolog molekuler dari Swiss Federal Institute of Technology di Lausanne. Namun, Briskin mencatat bahwa kanker payudara manusia terkenal heterogen dan beberapa terus bergantung pada hormon seks untuk tumbuh, sedangkan yang lainnya tidak. "Fakta bahwa pada tikus tidak berarti akan bekerja pada manusia, ketika kita sampai ke manusia perlu untuk membedakan dengan subtipe kanker yang berbeda," kata Briskin.
  1. Daniel Schramek, Andreas Leibbrandt, Verena Sigl, Lukas Kenner, John A. Pospisilik, Heather J. Lee, Reiko Hanada, Purna A. Joshi, Antonios Aliprantis, Laurie Glimcher, Manolis Pasparakis, Rama Khokha, Christopher J. Ormandy, Martin Widschwendter, Georg Schett and Josef M. Penninger. Osteoclast differentiation factor RANKL controls development of progestin-driven mammary cancer, Nature, 29 September 2010, DOI:10.1038/nature09387
  2. Eva Gonzalez-Suarez, Allison P. Jacob, Jon Jones, Robert Miller, Martine P. Roudier-Meyer, Ryan Erwert, Jan Pinkas, Dan Branstetter and William C. Dougall. RANK ligand mediates progestin-induced mammary epithelial proliferation and carcinogenesis, Nature, 29 September 2010, DOI:10.1038/nature09495
  3. Rossouw, J. E. et al. J. Am. Med. Assoc. 288, 321-333 (2002)
  4. Fata, J. et al. Cell 103, 41-50 (2000)
  5. Ewen Callaway, Nature, DOI:10.1038/news.2010.504
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian
Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Komentar