Teknologi Human++ BAN Kirim Status Organ Tubuh ke Ponsel Anda

Tinuku
KeSimpulan.com - Bagi pasien jantung, gembiraan yang berlebihan bisa berubah menjadi kejutan serangan buruk.

Jika detak jantung terlalu tinggi, defibrilator yang tertanam di dada akan berpikir bahwa kita mengalami serangan jantung dan memberi alarm dengan ramah. Namun kejutan tersebut akan segera terlupakan dengan memberi alamat IP untuk jantung kita.

Sebuah organisasi penelitian di Belanda yaitu IMEC berbasis di Eindhoven, pekan ini menunjukkan jenis baru jaringan wireless di area tubuh atau Body Area Networks (BAN). Platform BAN yang dijuluki the Human++ BAN, sistem mengkonversi sensor electrocardiogram rendah daya ke node di dalam jaringan nirkabel jarak pendek, transmisi data fisiologis ke hub ponsel pasien.

Dari sini dapat diteruskan ke dokter melalui Wi-Fi atau koneksi 3G. Juga dapat ditampilkan pada telepon atau suara alarm ketika ada gerakan yang salah, pasien seperti diberi kesempatan untuk mencoba memperlambat denyut jantung dan menghindari kejutan yang tidak perlu.

Julien Penders yang mengembangkan sistem ini mengatakan perangkat juga dapat bekerja dengan sensor medis rendah daya lainnya seperti electroencephalograms (EEG) untuk memonitor kondisi neurologis atau electromyograms untuk mendeteksi penyakit neuromuscular.

Selain membantu pasien yang telah didiagnosis dengan kondisi kronis, "warning" juga bisa digunakan oleh orang yang beresiko terkena masalah medis yang disebut "kekhawatir baik" atau penggemar kebugaran dan atlet yang ingin mengawasi proses fisiologis mereka selama pelatihan.

Teknologi IMEC tersebut bukan BAN pertama, tetapi berupaya mengintegrasikan lebih baik dari versi sebelumnya dengan gadget yang banyak di sekitar kita. IMEC telah menciptakan dongle dengan plugin antarmuka kartu memori SD standar ponsel untuk data stream dari sensor secara real time dan memungkinkan telepon untuk mengkonfigurasi ulang frekuensi sampling sensor yang ada. Software berjalan pada sistem operasi ponsel Google Android.

Namun, IMEC menghindari standar umum wireless jarak pendek seperti Bluetooth tetapi didukung sistem yang disebut nRF24L01+ radio yang dirancang oleh Nordic Semiconductor di Oslo, Norwegia. "Masalah dengan Bluetooth yaitu meningkatkan konsumsi daya di sisi sensor," kata Penders. Menggunakan sistem Nordic, sensor IMEC bisa terus berjalan, transmisi setiap 100 milidetik dengan masa recharges sekitar 7 hari (sistem Bluetooth hampir tidak akan dapat bertahan sehari).

Desain saat ini, elektroda EKG tersambung ke kalung kecil yang berisi pemancar dan baterai. Langkah selanjutnya menggunakan pemancar ultra radio rendah daya yang masih dalam pengembangan di IMEC untuk meningkatkan stamina dan portabilitas sensor.

Dengan sekitar 18 juta orang di Inggris yang hidup dengan penyakit kronis, pemantauan "telehealth" seperti ini adalah cara untuk mengetahu apa yang terjadi, kata Mike Knapton, direktur asosiasi medis di British Heart Foundation. Perangkat yang sudah ada memungkinkan orang menggunakan alat pacu jantung dan defibrillator untuk mengirim telemetri dari implan melalui darat ke dokter. Tetapi menggunakan ponsel akan menjadi langkah berikutnya, kata Knapton.
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment