Skip to main content

Tepung Tanaman Ditemukan pada Peralatan Masak Zaman Batu di Eropa

loading...
Tinuku
KeSimpulan.com - Nenek moyang kita menyukai burger. Buanglah mindset anda bahwa pemburu-pengumpul itu murni pemakan daging rendah karbohidrat.

Residu tepung pada alat-alat batu manusia purba menyarankan pola diet seimbang. Setelah lama dianggap mendekati karnivora total, nenek moyang kita makan tepung pada 20.000 tahun sebelum fajar pertanian. Residu tepung pada batu gerinda berdating 30.000 tahun yang ditemukan di Italia, Rusia dan beberapa spot di Republik Ceko menunjukkan pengolahan secara luas dan konsumsi biji-bijian, demikian laporan edisi minggu ini di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Ide dari "manusia pemburu dan pengumpul" mendominasi pra-konsepsi populer tentang manusia purba. Hal ini terlalu disederhanakan, kata Anna Revedin, arkeolog dari Istituto Italiano di Preistoria e Protostoria, yang memimpin penelitian.

"Ini adalah paku lain di peti mati dari ide bahwa pemburu-pengumpul tidak menggunakan tanaman untuk makanan," kata Ofer Bar-Yosef, arkeolog dari Harvard University di Cambridge, Massachusetts, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Penelitian yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir juga menemukan beberapa situs Zaman Batu di Eropa Timur dengan bukti untuk aktivitas dapur. Pandangan meat-centric pada manusia modern awal sebagian berasal dari fakta memakan daging daripada daun lebih tercatat sebagai omnivory, kata Laura Longo, arkeolog dari University of Siena di Italia dan anggota tim peneliti.

Batu bilah yang digunakan untuk berburu dan bantalan pemotong tulang hewan ditemukan secara umum, sedangkan tanaman meninggalkan beberapa fragmen. Masalah rumit yang dihadapi para arkeolog biasanya alat-alat penggilingan tersebut dicuci setelah digunakan untuk memproses tanaman sehingga menghapus setiap materi tanaman sebagai fosil, kata Longo.

Ini temuan penting dan secara umum penelitian ini sangat padat, kata Lisa Kealhofer, antropolog dari Santa Clara University di California. Tetapi ia memperingatkan kata "tepung" adalah agak keliru karena butir tepung pada abad ke-21 biasanya diasosiasikan dengan membuat roti. Kealhofer juga mengatakan tanpa mengetahui jumlah tepung di tanah sekitarnya maka sulit untuk memastikan butiran berasal dari aktivitas manusia dan tidak hanya menempel pada batu setelah tertimbun.

Longo mengatakan dirinya cukup yakin hal itu tidak terjadi, biji-bijian telah cacat dan cenderung mengelompok di sekitar bagian dari alat yang digunakan untuk grinding.

Dimulai pada awal 2000-an, Longo dan rekan-rekannya mulai menganalisis alat-alat batu dari pemukiman manusia pada 28.000 tahun lalu di situs Bilancino, Italia. Pola alat batupasir menunjukkan mereka menggunakan untuk menggiling seperti lesung dan alu. Batu-batu juga dilapisi butiran fosil mikroskopis beberapa jenis tepung biji-bijian. Longo dan rekan-rekannya mengidentifikasi berdasarkan bentuk butiran milik akar dari spesies Cattail dan butir rumput yang disebut Brachypodium.

Para peneliti juga menemukan alat-alat penggilingan terlapisi residu Cattail dan pakis di situs Moravia selatan (Republik Ceko) dan Moskow selatan, semua berdating hingga kira-kira 30.000 tahun.

Tidak seperti manusia Neolitik menanam dan membudidayakan biji-bijian seperti gandum dan jelai karena pemburu-pengumpul ini bergantung pada vegetasi liar. Namun, banyak tanaman yang ditemukan oleh Longo dan timnya didistribusikan secara luas, menawarkan sumber makanan yang dapat diandalkan sebagai makanan bergizi. Contoh, para peneliti menghitung biji-bijian Cattail mengandung energi sebanyak sereal yang dibudidayakan.

Bar-Yosef mengatakan penelitian ini membuktikan pembuatan tepung adalah umum untuk manusia modern awal. "Saya cukup yakin bahwa Anda akan memiliki lebih banyak kasus di mana terdapat bukti pemanfaatan tanaman oleh manusia," kata Bar-Yosef.

Steven Kuhn, antropolog dari University of Arizona di Tucson, mengatakan lebih terkesan dengan usia lokasi artefak. Manusia adalah pengumpulan dan penggiling tanaman sejauh Eropa utara, ketika tanaman lebih umum di selatan yang lebih hangat, ini sedikit mengejutkan. Kuhn juga mengatakan meskipun usia alat relevan, "aturan dalam bidang studi ini yaitu apa pun yang Anda klaim tertua, pada akhirnya seseorang selalu akan menemukan yang lebih tua."

Bruce Hardy, paleoantropolog dari Kenyon College di Gambier, Ohio, berharap temuan pembuatan tepung datang lebih jauh dari 30.000 tahun. "Ini bukan terisolasi pada sekelompok kecil orang. Bagian rutin penghidupan manusia," kata Hardy. Semua, manusia yang purba atau modern tidak lengkap menjalani untuk hidup hanya dengan makanan daging saja. "Jika Anda mendapatkan bahwa banyak daging dalam diet tidak diimbangi dengan nutrisi lain, Anda akan diseleksi keracunan protein," kata Hardy.
  1. Anna Revedin, Roberto Becattini (Istituto Italiano di Preistoria e Protostoria, Florence 50121, Italy); Biancamaria Aranguren (Soprintendenza per i Beni Archeologici per la Toscana, Florence 50121, Italy); Laura Longo (Dipartimento di Scienze Ambientali “G. Sarfatti”–Unità di Ricerca Ecologia Preistorica); Emanuele Marconi (Scienze e Tecnologie Alimentari, Facoltà di Agraria, University of Molise, Società Italiana di Scienze e Tecnologie Alimentari, Campobasso 86100, Italy); Marta Mariotti Lippi (Dipartimento di Biologia Evoluzionistica-Biologia Vegetale, University of Florence, Florence 50121, Italy); Natalia Skakun, Andrey Sinitsyn (Institute for the History of Material Culture, Russian Academy of Sciences, Saint Petersburg 191186, Russia); Elena Spiridonova (Institute of Archaeology, Russian Academy of Sciences, Moscow 140127, Russia); and Jiří Svoboda (Department of Anthropology, Faculty of Science, Masaryk University, Kotlarska 2, Brno, Czech Republic; Institute of Archaeology, Academy of Science of Czech Republic, Kralovopolska 147, Brno, Czech Republic). Thirty thousand-year-old evidence of plant food processing, Proceedings of the National Academy of Sciences, October 18, 2010, DOI:10.1073/pnas.1006993107
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian
Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.

Comments