Wabah Virus Rinderpest Dunia Telah Dinyatakan Kalah oleh GREP

Tinuku
KeSimpulan.com - Mission completed. Penyakit mematikan telah diberantas. Rinderpest, penyakit menular telah dihapuskan di perternakan.

Wabah Rinderpest yang menyerang ternak selama ribuan tahun sudah pergi. The United Nations Food and Agricultural Organization (FAO), kemarin, mengumumkan di Roma bahwa upaya pemberantasan secara besar-besaran yang digalakan pada tahun 1994 telah mencapai tujuan dan misi telah selesai.

"Ini mungkin merupakan pencapaian paling luar biasa dalam sejarah ilmu kedokteran hewan," kata Peter Roeder, dokter hewan dari Inggris terlibat dengan program FAO Global Rinderpest Eradication Programme (GREP) yang diluncurkan pada tahun 1994 sampai ia pensiun pada tahun 2007.

Keberhasilan pemberantasan Rinderpest tidak resmi, namun organisasi dunia yang berbasis di Paris, Organisation for Animal Health (OIE) menyatakan status bebas Rinderpest. Ini kedua kalinya dalam sejarah malapetaka penyakit virus telah terhapus dari muka bumi, yang pertama adalah penyakit cacar manusia yang dinyatakan telah kalah pada tahun 1980.

Meskipun hampir terlupakan di banyak negara-negara di Barat, pada awal tahun 1900-an, wabah Rinderpest "cattle plague" dari Jerman melanda kawanan ternak di seluruh Eurasia, Timur Tengah dan Afrika. Virus ini adalah kerabat distemper anjing dan campak manusia, menyebar melalui tetesan air liur dan kotoran hewan yang sakit, menyebabkan demam, diare, dehidrasi, dan kematian dalam hitungan hari. Dampak terutama hewan muda, sedangkan hewan yang dapat bertahan infeksi akan kebal seumur hidup. Wabah Rinderpest di Eurasia adalah endemik sepanjang sejarah, beberapa laporan menyatakan lebih dari sepertiga anak sapi dari seluruh populasi mati mendadak.

Dosa paling besar ketika secara naif virus ini sengaja ditularkan di tanduk Afrika pada tahun 1889 menyebabkan malapetaka mengerikan. Dalam waktu kurang dari satu dekade, virus telah mencapai Afrika Selatan. Di sepanjang sub-Sahara Afrika membunuh 90% sapi dan proporsi terbesar sapi di negera-negara yang menggunakan sapi untuk menarik bajak. Selain itu kerbau liar, jerapah, dan populasi rusa musnah. Aktivitas pertanian dan perburuan hancur menyebabkan kelaparan yang diperkirakan dialami sepertiga penduduk Ethiopia dan dua pertiga orang-orang Maasai di Tanzania.

Negara-negara Eropa secara bertahap mengeliminasi Rinderpest pada tahun-tahun awal abad ke-20 melalui kontrol dan pemusnahan hewan sakit secara terbuka. Namun, wabah ini terus menimpa Asia dan Afrika pada paruh kedua abad ke-20, kemudian kembali muncul ketika beberapa kampanye pemberantasan dihentikan dengan keyakinan keliru bahwa virus telah musnah.

Pada tahun 1994, FAO menyatukan beberapa program pengendalian Rinderpest regional ke GREP dengan tujuan untuk menghapus penyakit hingga 2010. "Saat ini, saya pesimis bahwa kami akan mendapatkan penyakit lagi," kata Roeder. Terobosan teknis utama adalah memahami epidemiologi virus kembali muncul. Pada awal program mulai menunjukkan kemajuan, meskipun banyak negara awalnya skeptis atau enggan untuk berbagi informasi tentang kerjasama Rinderpest.

Virus terakhir terdeteksi pada tahun 2001 pada ternak kerbau liar di Meru National Park di Kenya. "Dari sudut pandang ketahanan pangan, ini adalah prestasi yang luar biasa," kata Juan Lubroth dari FAO dalam konferensi pers. Permasalahan lain yang dihadapi FAO selanjutnya adalah memastikan sampel virus dan vaksin yang disimpan di laboratorium di seluruh dunia dijaga dengan aman.
  1. The United Nations Food and Agricultural Organization (FAO) ~ http://www.fao.org
  2. Global Rinderpest Eradication Programme (GREP) ~ http://www.fao.org/ag/AGAInfo/programmes/en/grep/home.html
  3. Organisation for Animal Health (OIE) ~ http://www.oie.int/eng/en_index.htm
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment