Kebijakan Euro Biofuels 2020 Tidak Mengurangi Emisi Rumah Kaca

Tinuku
News KeSimpulan.com - Euro Biofuels akan meningkatkan emisi rumah kaca. Rencana biofuel Eropa justru menghasilkan emisi rumah kaca, bukan mengurangi.

Demikian analisis independen pertama tentang bagaimana memenuhi target Eropa 2020 terkait bagaimana jutaan hektar lahan harus dibersihkan untuk ditanami bahan biofuel untuk memenuhi rencana Eropa. Pembabatan lahan menyebabkan lebih dari dua kali lipat emisi karbon yang dihasilkan dari kendaraan di Eropa jika mereka menggunakan bahan bakar fosil.

Uni Eropa para tahun 2007 memutuskan untuk memotong emisi rumah kaca sebesar 20 persen hingga tahun 2020, sebagian dengan mengganti 10 persen bahan bakar transportasi dengan biofuel. Organisasi-organisasi lingkungan memprotes kalkulasi ini karena tidak memperhitungkan dampak tidak langsung dari kebutuhan lahan untuk menanam tanaman sebagai bahan biofuel serta pupuk yang juga bersaing dengan tanaman pangan untuk mendapat nutrisi tanah.

Sekarang 23 dari 27 negara Uni Eropa telah mengeluarkan rencana mereka dalam mendeskripsikan bagaimana langkah-langkah untuk memenuhi target 2020 dan Institute for European Environmental Policy (IEEP) yang berbasis di London dan Brussels telah menghitung bagaimana dampak yang akan terjadi oleh penggunaan lahan.

Tim ini menghitung sekitar 4,1 hingga 6,9 juta hektar lahan vegetasi harus dibersihkan untuk menanam tanaman biofuel sekaligus untuk tanaman pangan di Uni Eropa. Artinya menebang hutan dan membajak padang rumput akan melepaskan karbon yang tersimpan di dalam tanah. IEEP menghitung jumlah lahan yang dibuka untuk biofuel akan membatalkan usaha penggurangan emisi karbon dari fosil. Sekitar 80% hingga 167% emisi rumah kaca akan dilepas ke atmosfir selama tahun 2011-2020 dibandingkan jika Uni Eropa tetap dengan bahan bakar fosil. Ini setara dengan 12 juta hingga 26 juta mobil di jalan.

Meskipun proses telah dilakukan Eropa yang telah membeli lahan di Afrika untuk memenuhi kebutuhan biofuel yang diproyeksikan. Jika tidak cukup, maka akan mengalihkan lahan pertanian yang ada, mendorong kebijakan harga pangan sama seperti kebijakan Amerika Serikat tentang bioetanol dengan harga jagung pada tahun 2008.

Catherine Bowyer, anggota tim laporan, mengatakan generasi biofuel berikutnya terbuat dari limbah atau kayu daripada tanaman dalam mengurangi dampak penggunaan lahan untuk biofuel yang terbuat dari tanaman, tetapi "kebijakan tersebut juga tidak efektif merangsang kemajuan dalam teknologi biofuel".
  1. Institute for European Environmental Policy (IEEP) ~ http://www.ieep.eu/
  2. IEEP’s press release ~ http://www.ieep.eu/publications/press/iluc.pdf
  3. Full report ~ http://www.ieep.eu/publications/pdfs/2010/iluc_analysis.pdf
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment