Relung Ekologis Mendorong Ukuran Tubuh Mamalia Pasca Dinosaurus

Tinuku
News KeSimpulan.com - Ukuran tubuh mamalia tak terkendali pasca pemerintahan dinosaurus berakhir. Relung ekologi dengan booming ukuran tubuh di seluruh dunia.

Mengapa mamalia tumbuh besar dan kemudian berhenti? Ada perdebatan tentang bagaimana mamalia tumbuh dari makhluk kecil seukuran tikus yang bersembunyi di kaki para dinosaurus menjadi ukuran yang jauh lebih besar seperti behemoths atau woolly mammoth. Satu dekade yang lalu, John Alroy, sekarang di University of California, Santa Barbara, melaporkan mamalia Amerika Utara berkembang dengan konstan menjadi lebih besar setelah kepunahan massal yang mengakhiri era dinosaurus. Setelah dinosaurus musnah 65 juta tahun lalu, mamalia darat cenderung supersize dengan kurun waktu sama di seluruh dunia.

Sekarang Felisa A. Smith dari University of New Mexico, Albuquerque, dan 19 rekannya menyisir fosil mamalia dari Afrika, Eurasia dan Amerika Selatan untuk melihat bagaimana maksimum ukuran tubuh berubah seiring waktu. "Secara global ada pola yang muncul," kata Smith. Survei luas ukuran tubuh besar mamalia, Smith dan rekannya menemukan kelompok-kelompok mamalia di seluruh dunia cenderung muncul menjadi spesies raksasa pada waktu yang sama, misalnya hornless rhinoceros seperti Indricotherium transouralicum yang pernah berjalan di muka Bumi dengan berat badan sekitar 17 ton.

Para peneliti telah melihat petunjuk dalam studi sebelumnya booming ukuran terjadi serempak di seluruh benua pada saat itu. Bahkan di tempat-tempat yang sangat luas. "Karnivora memiliki kesamaan jangkauan dan ukuran tubuh yang benar-benar aneh karena mereka spesies yang sangat berbeda," kata Smith.

Supersizing tersebut terjadi hanya dalam kurun 20 juta tahun. Sekitar 40 juta tahun yang lalu, tren melambat dan ukuran mencapai rata-rata tinggi, para peneliti melaporkan dalam edisi 26 November 26 Science. "Memahami ukuran tubuh sangat penting untuk memahami dunia hewan. Jika Anda memberi saya hewan untuk menceritakan seberapa besar, saya dapat memprediksi tingkat metabolisme mereka. Saya bisa memprediksi fekunditas-nya. Bahkan sirkulasi darah, fungsi ginjal dan apa yang dimakan terkait dengan ukuran tubuh," kata Smith.

Smith dan rekan-rekannya mencari spesies yang terkenal terbesar dari 32 kelompok atau ordo sejak kematian dinosaurus. Fokus pada spesies terbesar karena tercermin tren dalam evolusi ukuran secara keseluruhan dan memiliki keuntungan praktis yang tersedia dalam literatur ilmiah. Beberapa spesies mamalia yang selamat dari bencana yang menyapu dinosaurus, dimulai dari kecil, "ukuran bola bisbol tentu tidak sebesar sepak bola," kata Smith. Dengan lenyapnya dinosaurus maka terjadi diversifikasi kelompok mamalia untuk mengisi relung baru dan ukuran meningkat.

"Pada dasarnya dinosaurus menghilang dan tiba-tiba ada orang lain yang memakan tumbuhan," kata Jessica Theodor dari University of Calgary, Alberta, Kanada. Semua mamalia terbesar adalah pemakan tumbuhan. "Ini lebih efisien untuk menjaga vitalitas bagi seorang predator saat memangsa anda yang bertubuh besar," kata Theodor. Mamalia predator tidak pernah berkembang dengan ukuran ton atau seukuran beruang kutub modern. Ukuran dapat menjadi masalah bagi predator karena mangsa lebih mudah untuk menghindar.

Sebelumnya Smith berpikir suhu dan energi menetapkan batas atas karena mamalia besar memiliki waktu yang sulit menghilangkan panas tubuh di iklim hangat. Bahkan megafaunal terbesar tidak akan sebesar dinosaurus dan Smith percaya dinosaurus bisa tumbuh jauh lebih besar karena mereka menghasilkan lebih sedikit panas internal.

Smith dan rekan mendaftar hewan dengan periode waktu yang lebih lama daripada penelitian sebelumnya dan menemukan kecenderungan yang sama. Ukuran tubuh berkorelasi secara kasar dengan jumlah luas lahan yang tersedia dan suhu pada saat itu. Faktor-faktor itu mungkin menjadi kendala utama yang mengatur ukuran maksimal tubuh.

"Mereka tentu benar bahwa ukuran tubuh maksimum berevolusi sampai limit dan tinggal periode," kata John Alroy dari Macquarie University di Sydney yang telah mempelajari tren ukuran tubuh pada mamalia di Amerika Utara. Alroy mengatakan bagaimanapun khawatirkan penggunaan metode statistik dan seberapa baik para peneliti dapat menyesuaikan efek pembaur yang mereka gunakan. Sebagai contoh analisis pembatasan lingkungan oleh para peneliti terhadap ukuran untuk "menemukan kecocokan kurva karena tren cenderung tidak terbatas."

Pertanyaan metodologis semacam ini memang isu utama dalam paleontologi, Smith mengatakan bahwa analisis mereka tidak akan terpengaruh oleh kendala tersebut dalam mendiskripsikan hasil.

Peneliti lainnya juga tidak yakin. "Saya tidak berpikir mengapa kita memiliki hewan yang lebih besar pada waktu tertentu," kata Donald Prothero, paleontolog dari Occidental College di Los Angeles. Sementara itu, Alroy mengatakan bahwa tren evolusi lebih tepat diungkapkan oleh perubahan garis genetik daripada dengan melihat hanya pada spesies terbesar.
  1. Felisa A. Smith, Alison G. Boyer, James H. Brown, Daniel P. Costa, Tamar Dayan, S. K. Morgan Ernest, Alistair R. Evans, Mikael Fortelius, John L. Gittleman, Marcus J. Hamilton, Larisa E. Harding, Kari Lintulaakso, S. Kathleen Lyons, Christy McCain, Jordan G. Okie, Juha J. Saarinen, Richard M. Sibly, Patrick R. Stephens, Jessica Theodor, and Mark D. Uhen. The Evolution of Maximum Body Size of Terrestrial Mammals, Science 26 November 2010: Vol.330 no.6008 pp.1216-1219 DOI: 10.1126/science.1194830
Felisa A. Smith http://biology.unm.edu/fasmith/research.html
John Alroy http://www.nceas.ucsb.edu/~alroy/
Donald Prothero http://faculty.oxy.edu/prothero/

Credit : The largest land mammals, Indricotherium (grey) and Deinotherium (blue), would have towered over the living African Elephant. Indricotherium, which lived between 23 and 37 million years ago, weighed in at 15,000 kilograms, and Deinotherium, which lived between 2.7 and 8.5 million years ago, reached as much as 17,000 kilograms. (IMPPS)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment