Sebaran Partikel Sulfur Dioksida Gunung Merapi di Stratosfer, November 2010

Tinuku
News KeSimpulan.com - Pada akhir Oktober dan awal November 2010, letusan di Gunung Merapi memproduksi bulu abu, lahar, dan aliran piroklastik (pyroclastic flows).

Gunung berapi juga mengeluarkan belerang dioksida (sulfur dioxide), gas berwarna yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan mendinginkan iklim Bumi. Gambar (klik gambar untuk memperbesar) ini menunjukkan konsentrasi sulfur dioksida pada tanggal 4-6 November 2010 seperti yang diamati oleh Ozone Monitoring Instrument (OMI) pada pesawat ruang angkasa NASA Aura.

Sulfur dioksida diukur di Dobson Unit yaitu konsentrasi terbesar muncul dalam gelap merah-coklat, sedangkan terendah dengan cahaya persik. Dobson biasanya digunakan untuk mengukur ozon dimana jumlah molekul gas yang akan membuat lapisan tebal 0,01 mm pada temperatur 0 derajat Celcius dan tekanan 1 atmosfer (tekanan udara di permukaan Bumi).

Pada tanggal 9 November 2010, Volcanic Ash Advisory Centre di Darwin, Australia, melaporkan awan belerang dioksida di Samudera Hindia pada ketinggian antara 40.000 hingga 50.000 kaki (12.000 hingga 15.000 meter) di troposfer atas.

Pengaruh belerang dioksida bervariasi tergantung pada jumlah yang dipancarkan, garis lintang di mana emisi terjadi, ketinggian di mana gas terkonsentrasi, dan angin regional serta pola cuaca. Pada tingkat dasar, belerang dioksida menyebabkan iritasi kulit, mata, dan saluran pernapasan bagian atas.

Pada ketinggian yang lebih tinggi, belerang dioksida dapat menjalani serangkaian reaksi kimia yang mempengaruhi lingkungan. Misalnya, Ketika bereaksi dengan uap air, sulfur dioksida membuat ion sulfat, prekursor menjadi asam sulfat. Selain risiko terjadinya hujan asam, ion-ion juga dapat bereaksi membentuk partikel cerminkan sinar matahari.

Jika sebuah gunung berapi di dekat khatulistiwa menyuntikkan jumlah yang cukup besar belerang dioksida ke stratosfer, reaksi kimia yang dihasilkan dapat membuat aerosol reflektif dimana melekat selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sehingga terjadi pendinginan iklim karena merefleksikan sinar matahari. Gunung Merapi hanya 7,5 derajat selatan khatulistiwa diprediksi akan memiliki dampak tersebut.

Namun pada awal November, Merapi hanya mengeluarkan 1 persen dari apa yang dikeluarkan oleh Gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1991 dimana letusan ini memiliki efek yang dapat diukur pada suhu global, kata Simon Carn, ilmuwan OMI dari Michigan Technological University.
  1. Darwin Volcanic Ash Advisory Center. (2010, November 9). Volcanic ash advisory: Merapi. Accessed November 9, 2010. http://www.bom.gov.au/products/IDD65295.shtml
  2. Klemetti, E. (2010, November 8). Merapi update for 11/8/2010: Death toll climbs as activity calms. Eruptions. Accessed November 9, 2010. http://bigthink.com/ideas/24861
  3. Volcanic Hazards Program. (2010, June 11). Volcanic gases and their effects. U.S. Geological Survey. Accessed November 9, 2010. http://volcanoes.usgs.gov/hazards/gas/index.php
  4. Ozone Monitoring Instrument (OMI). http://aura.gsfc.nasa.gov/instruments/omi.html
  5. Ash plumes. http://volcanoes.usgs.gov/images/pglossary/ash.php
  6. Lahar. http://volcanoes.usgs.gov/images/pglossary/lahar.php
  7. Pyroclastic flows. http://volcanoes.usgs.gov/images/pglossary/PyroFlow.php
  8. Dobson Unit. http://ozonewatch.gsfc.nasa.gov/facts/dobson.html
  9. Troposphere. http://www.windows2universe.org/earth/Atmosphere/troposphere.html
  10. Mount Pinatubo in 1991. http://earthobservatory.nasa.gov/Features/Volcano/
  11. Aerosols: Tiny Particles, Big Impact. http://earthobservatory.nasa.gov/Features/Aerosols/
Credit : NASA Earth Observatory. http://earthobservatory.nasa.gov
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment